Sekolah bisnis terbaik dunia!

Si anu punya warung makan. Itu bisnis. Si anu jualan make up di olshop. Itu bisnis. Si itu punya perusahaan supplier alat. Itu bisnis. Si itu punya pabrik kertas. Itu bisnis. Benarkan kesemuanya itu adalah pebisnis seperti yang dikategorikan Robert Kiyosaki dalam Cashflow Quadrant nya?

Begini. Secara gamblang, R Kiyosaki membagi setiap orang dalam 4 kategori, yakni E (employee), S (Self-employee), B (business owner), dan I (investor). Dan ternyata, dalam menjabarkan tentang pemilik bisnis, Kiyosaki memaparkan bahwa seorang B itu ialah yang memang memiliki sebuah usaha yang meski ia tinggalkan selama satu tahun atau lebih, pendapatannya tidak berubah dan justru naik. Ingat, seorang B tidak perlu sama sekali mengurus usahanya sendiri!

Berbeda dengan seorang S. mereka memang pekerja keras. Sangat ulet dan tahan banting serta tekun. Namun, ia masih saja terus menerus harus menjalankan usahanya dan tidak bisa meninggalkan usahanya tersebut. Jadi, selama sebuah usahanya masih melibatkan pemiliknya secara langsung, ia memang pebisnis, namun masih berkategory S. (panjang lebar penjabaran E-S-B-I ini dapat dibaca di buku Cashflow Quadrant nya Robert T Kiyosaki)

Mari sekarang kita berfikir untuk bertindak bagaimana caranya dapat memiliki bisnis kuadran B. maksudnya, kita nantinya kita punya bisnis yang ketika telah berjalan tidak memerlukan campur tangan kita sama sekali. Kita bisa bebas jalan-jalan bahkan melakukan apa pun yang kita suka. Lebih banyak menolong orang, dan sebagainya.

Untuk menjadi orang dengan golongan kuadran B, ternyata ada tiga tipe bisnis yang dapat kita jalani. Pertama memiliki sebuah usaha besar seperti Rahmat Gobel dengan Panasonicnya, atau Chairul Tanjung dengan CT Corp nya, maupun Mochtar Riady dengan Lippo Group nya. Bisnis tipe ini memang membutuhkan waktu (yang lama), sekaligus siap harus jatuh bangun dengan investasi yang besar dan juga risiko yang tidak kecil. Dibutuhkan mental, fisik, emosi, dan spiritual yang sangat kuat untuk menjalani proses menuju bisnis ini.

Selanjutnya, ada tipe bisnis yang kedua. Apa itu? Yakni bisnis model franchise atau waralaba. Seorang pebisnis tipe ini memang harus sama-sama berjuang untuk membuat system dalam usaha. Tentunya, modal yang dibutuhkan lebih kecil dari tipe bisnis yang pertama di atas, meski risiko nya juga tidak jauh berbeda dan memang harus berjuang dari bawah dengan usaha membentuk pasar dan juga persaingan yang lumayan ketat. Ketika system di usahanya telah berhasil dan menghasilkan, maka bisnis ini akan mencari mitra dan membukan cabang di berbagai daerah dan akhirnya akan tumbuh besar.

Dan apa yang ketiga itu?

Ialah bisnis pemasaran jaringan, atau disebut multi-level marketing (MLM). Pasti ada yang berkata dalam hatinya,”anda tidak salah? Bahwa MLM anda sebut sebagai bisnis yang dapat mengantarkan setiap orang memasuki kuadran B?” sebuah pertanyaan dalam hati yang bagus. Tentu saja, tentu saja saya dengan yakin akan menjawabnya “Iya!”. Bisnis pemasaran jaringan adalah sebuah bisnis yang dapat mengantarkan setiap orang memasuki kuadran B.

Bisnis pemasaran jaringan adalah sebuah pembaruan dalam dunia bisnis yang begitu mengguncang dunia. Ia menyajikan cara-cara dan memberikan setiap orang kesempatan untuk menjadi kaya, menjadi pribadi layaknya orang kaya. Bayangkan saja, dengan modal yang sangat kecil, setiap orang berkesempatan untuk menjadi orang kaya. Dan tidak hanya itu. Setiap mereka dididik untuk memiliki sikap-sikap orang kaya yang selama ini hanya diketahui oleh mereka yang kaya saja.

Bukankah sebuah bisnis pemasaran jaringan adalah sebuah bisnis yang sangat menarik dan merupakan alternative? Tentu saja. Di dunia ini, betapa banyak orang yang mengeluhkan pendapatannya yang kecil, tidak mampu menutupi kebutuhannya yang kian waktu kian besar. Sementara pada tipe bisnis pertama dan kedua setiap orang yang menjalankannya harus purna waktu, menginggalkan pekerjaan utamanya. Tipe bisnis ketiga ini, yakni bisnis pemasaran jaringan dapat dikerjakan secara paruh waktu. Bukankah ini adalah sebuah solusi?

Coba kita fikirkan dengan seksama.

note: tulisan ini adalah hasil pemahaman dari buku Rich Dad’s Business School: For People Who Like Helping People Karya Robert T Kiyosaki.

 

Spektro Raman Progeny: Sebuah Revolusi Pengujian pada Industri Farmasi

ProgenyIndustry farmasi merupakan industry vital yang menyokong kehidupan umat manusia. Perkembangan dalam dunia yang semakin modern ini menimbulkan semakin banyaknya industry farmasi. Persaingan antar industry farmasi pun menjadi sangat ketat. Meski beberapa tahun terakhir, gerakan back to nature mulai berkembang, namun dalam dunia sintesa kimia, penggunaan “bahan kimia” (sebuah istilah yang menurut persepsi umum merupakan bahan yang tidak alami berasal dari alam) masih saja tetap memainkan peranan penting sekaligus dominan.

Poin penting dalam industry farmasi adalah bahwa produk yang dihasilkan aman dikonsumsi (sesuai kadar/takaran), tidak terlalu melihat sumbernya (herbal/tidak). Produk yang aman tentunya akan melewati sebuah proses produksi. Proses produksi sebuah industry dapat digambarkan sebagai berikut:

alur pengujian RMID

Ilustrasi rangkaian proses produksi di atas, untuk membuat produk yang aman, bahan baku yang aman mutlak diperlukan. Artinya, dengan memastikan pada tahap awal bahwa bahan baku aman, maka produk juga akan aman dengan catatan bahwa proses produksi berjalan lancer sebagaimana mestinya. Bahan baku, proses produksi, produk jadi memerlukan tahap pengujian dan pengukuran sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh setiap industry.

Khusus untuk bahan baku, prinsip pengujiannya kini berubah. Apabila dahulu bahan baku yang begitu banyak jumlahnya disampling (tentunya sesuai dengan teknik sampling/SOP yang benar), maka kini pengujian bahan baku harus 100%. Artinya, bahan baku farmasi tidak boleh disampling. Dasar dari peraturan ini pun karena teknik sampling tidak dapat menjamin 100% bahwa hasil sampling mewakili seluruh sampel.

“The identity of a complete batch of starting materials can normally only be ensured if individual samples are taken from all the containers and an identity test performed on each sample. It is permissible to sample only a proportion of the containers where a validated procedure has been established to ensure that no single container of starting material will be incorrectly identified on its label.” Starting Materials, Annexe 8-Sampling of Starting and Packaging Materials

Tantangan selanjutnya adalah dengan tidak diperbolehkannya sampling bahan baku farmasi dalam pengujiannya, jumlah sampel menjadi berlipat. Biaya pengujian menjadi bertambah, waktu pengujianpun menjadi semakin lama, dan tenaga analis yang dibutuhkan harus ditambah lebih banyak. Hal ini tentu kurang efisien bagi sebuah industry untuk jangka panjang. Selain itu,menurut data WHO 30-50% obat tidak autentik, atau palsu. Beredarnya obat palsu tentunya dapat berdampak pada brand sekaligus profit perusahaan. Bagaimana memastikan bahwa produk asli atau palsu?

Pengujian-pengujian sebelumnya tidak mampu menjawab persoalan di atas.

Disinilah sebuah teknik pengujian baru diperkenalkan, dan mulai dijadikan standar (USP 1120, EP 2.2.48): Spektro-Raman (Raman). Raman dalam hal ini memang handal, yakni cepat dan sangat selektif.

fake ori drug

Kelebihan dari analisa raman ini adalah tidak diperlukannya membuka kemasan pada sampel (sehingga mencegah kontaminasi), pengukuran hanya dalam beberapa detik, prosedur yang ringkas (point and shoot), dan mengurangi biaya pengujian.

 

Arynazzakka

Rigaku Raman Application/Sales

PT Lab Sistematika Indonesia

zakka@labsystematic.com

Advokasi anggaran sebagai masa depan gerakan

anggaranParadox alokasi APBD untuk kongres HMI

Kongres HMI ke 29 yang menggunakan anggaran pemda Riau sebesar 3 Milyar mendapat kecaman dari berbagai pihak. Alasan-alasan dikemukakan baik atas dalih tidak mampunya mahasiswa dalam mempertanggungjawabkan dana yang besar itu, adanya isu penggelapan dana, bahkan sampai pada tidak etisnya penggunaan dana untuk kongres tersebut yang nominalnya jauh di atas alokasi anggaran untuk menghadapi “bencana nasional” kabut asap beberapa waktu yang lalu.

Alokasi APBD untuk kongres HMI memang paradox, sebuah prestasi sekaligus ironi. Disebut prestasi karena untuk menggoalkan alokasi dana untuk kongres yang hasilnya tidak dapat dinikmati langsung, angka “dana rakyat” 3 Milyar terbilang fantastis. Apalagi ditambah fakta bahwa tidak semua organ pergerakan kemahasiswaan memiliki kompetensi untuk “mengakses dana” seperti itu. Di lain pihak, disebut ironi karena  justru “kompetensi mengakses dana” tersebut, atau yang lebih elegan disebut dengan “advokasi anggaran” justru senyap dalam permasalahan-permasalahan nyata yang sedang dihadapi oleh masyarakat, sebagai contoh kabut asap, kekeringan lahan pertanian, perang terhadap rentenir dengan melakukan pendampingan usaha bersama ahli, ataupun kolaborasi dengan para pakar atau peneliti yang hasil penelitiannya sebetulnya sangat bermanfaat dan penting untuk masyarakat namun terganjal birokrasi ataupun kurangnya dukungan dari negara (mobil listrik sebagai salah satu contohnya).

Kebekuan wacana dan aksi pergerakan

Saya yakin, tidak sedikit yang mendukung pernyataan saya bahwa pergerakan mahasiswa di Indonesia beberapa tahun terakhir sampai saat ini mengalami kebekuan wacana dan aksi pergerakan. Kebekuan wacana dan aksi pergerakan ini dapat dilihat dari tidak adanya SATU pun tokoh pergerakan mahasiswa yang muncul dengan membawa solusi-solusi dan ide-ide untuk perbaikan bangsa. Dua tahun terakhir saya coba ketikkan di Google keyword “tokoh muda Indonsia”, ternyata yang muncul adalah nama Anies Baswedan, atau Budiman Sudjatmiko, dan nama-nama yang justru dianggap “senior”. Lebih parah lagi ketika diketikkan keyword “tokoh mahasiswa”, yang muncul lagi-lagi justru tokoh masa lalu, “Soe Hok Gie”. Tes kecil tersebut memang tidak representative, namun dapat dianggap tes kecil yang menunjukkan bahwa pergerakan mahasiswa masih mengalami kebekuan dan “linglung”.

Membicarakan pergerakan mahasiswa, nama-nama besar organisasi di kalangan aktivisnya pasti sudah saling mengenal, baik organisasi intrakampus BEM maupun nama besar organisasi ekstrakampus HMI, GMNI, KAMMI, PMKRI, GMKI, dan lain-lain. Dalam kondisi sekarang, memang pada faktanya organisasi-organisasi besar tersebut tidak “diam”. Ada yang masih berorasi di jalan sebagai parlemen jalanan. Ada juga yang berkeliaran dan membangun relasi dengan para birokrat, politisi, atau dengan LSM lainnya. Namun sekali lagi, nyaringnya bunyi-bunyian di jalan, ataupun lekatnya jalan-jalan bersama para birokrat dan politisi tersebut, tidak membuat aktivis dari organisasi-organisasi besar tersebut melakukan sesuatu yang berpengaruh bagi masyarakat, lebih-lebih berpengaruh pada kebijakan negara.

Hal ini sungguh berbeda dengan “perjuangan nyata” para pendahulunya. Sebagai contoh saya sebutkan Bp Alm Koesnadi Hardjosoemantri. Ketika beliau aktif dalam Dewan Mahasiswa 1955, melihat kondisi daerah-daerah masih banyak tertinggal dalam hal pendidikan, maka beliau bersama rekan-rekannya mengusulkan kepada pemerintah waktu itu untuk menyebar mahasiswa tingkat menengah atau akhir untuk pergi dan mengajar di daerah-daerah sebagai wujud bakti Tri Dharma Perguruan Tinggi juga pengabdian langsung untuk masyarakat yang telah membantunya sehingga dapat mengenyam pendidikan tinggi. Ide cemerlang tersebut lantas dijadikan program nasional untuk perguruan tinggi yang kini dikenal dengan nama Kuliah Kerja Nyata (KKN). Program nasional ini tentunya menggunakan anggaran nasional. Dalam tindakan seperti inilah (meski yang dilakukan oleh alm Prof Koesnadi Hardjosoemantri secara tidak langsung), “advokasi anggaran” oleh para kaum pergerakan menjadi penting, dan membela kepentingan rakyat.

Advokasi anggaran sebagai masa depan pergerakan

Perihal advokasi anggaran, buku dan pedoman yang ditulis sudah sangat banyak.  Baik advokasi anggaran tingkat daerah, nasional, bahkan sampai pada desa. Para kaum pergerakan pun sudah banyak yang mempraktikan, memberikan teladan, dan tulus dalam membela kepentingan rakyat. Meski sayangnya, kaum pergerakan yang saya maksud terakhir adalah para aktivis LSM.

Adapun, pergerakan mahasiswa masih sedikit yang memahami lebih-lebih menjalankan tipe gerakan advokasi anggaran. Diantara alasan-alasan yang menyelimuti antara lain tuduhan-tuduhan masuknya pergerakan mahasiswa dalam ranah politik, indikasi pergerakan mahasiswa yang haus akan uang, main proyek, dan lain sebagainya.

Gerakan advokasi anggaran disebut-sebut adalah tawaran medan baru yang tak pernah dijumpai pada masa lalu, sebut saja Soe Hok Gie, Cosmas Batubara, Akbar Tandjung, Hariman Siregar, Rizal Ramli, Anies Baswedan, Budiman Sudjatmiko, Anas Urbaningrum, hingga Anis Matta sekalipun. Gerakan advokasi anggaran adalah identias baru, demikian dalam pandangan Alamsyah Saragih (mantan KIP).

Penutup untuk KAMMI

Indonesia sebagai negara terbesar ASEAN dan negara yang paling diperhitungkan dunia sedang mengalami perkembangan kelas menengah yang signifikan, juga ditandai dengan banyaknya para professional yang kompeten di bidangnya, pembangunan infrastruktur yang luar biasa, geliat peneliti yang tak kalah semangatnya, masyarakat yang semakin melek teknologi dan informasi, juga diiringi oleh jutaan informasi yang saling bertentangan, kehebohan politik di pemerintahan, masih kurangnya support untuk riset, ketimpangan social ekonomi yang masih tinggi, disertai dengan “kebekuan wacana dan aksi pergerakan mahasiswa” karena dinilai tidak membumi, dan tidak memiliki solusi-solusi real dalam mengatasi persoalan.

Seluruh program pemerintah baik pusat ataupun daerah selalu identik dengan anggaran yang memiliki siklus tetap meski dengan rangkaian proses yang panjang dan melelahkan untuk diikuti. Semakin terprogramnya pemerintah dalam melaksanakan program berdasarkan perencanaan yang sistematis harus diiringi dengan kemampuan aktivis pergerakan untuk mengawasi secara sistematis pula, serta memberikan solusi yang tepat guna bagi permasalahan daerah maupun nasional sehingga basis DATA yang dimiliki menjadi dasar kuat untuk sebuah perjuangan yang mengatasnamakan rakyat.

Cara-cara bergerak bukan lagi hanya dari sumbangan donatur, aksi galang dana di jalan, dana kepemudaan pemda.

Mahasiswa-mahasiswa yang tidak pernah tergabung dalam pergerakan mahasiswa (sebagai individu) kini sudah banyak yang mampu menciptakan solusi-solusi real di masyarakat dengan kemampuan cipta intelektual berupa teknologi yang ekonomis, ataupun kemampuan menggerakkan masyarakat untuk bangkit bersama mengatasi masalah yang dialami masyarakat itu sendiri. Jangan sampai justru para aktivis pergerakan terjebak dengan gerakan “konvensional” membuatnya kalah saing dalam memberikan solusi dari individu-individu seperti tersebut di atas.

Buku “Ijtihad membangun Basis Gerakan” sejak 2010 telah menawarkan solusi sedemikian rupa sebagai bentuk pergerakan, lantas kenapa masih terombang-ambing?

Jakarta, 22 November 2015

ZK

KP PD KAMMI Bogor 2013-2015

SUDUT PANDANG

“the illiterate of the 21th century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn, and relearn” Alvin Toffler dalam Future Shock, futurist

illiterate of 21 century

Alkisah, ada seorang mahasiswa di suatu kampus ternama. Ia mahasiswa biasa. Ya, hanya mahasiswa biasa yang tidak ingin sekedar melalui proses kuliah layaknya dulu ia sekolah. Masuk di kelas, praktikum, dan menjadikan organisasi hanya sekedar tempat berkumpul dan mencari pertemanan, atau yang lebih menarik, mencari pasangan.

Ia yang sadar sebagai kelompok kecil yang merasa diuntungkan dengan pendidikan tinggi yang diperolehnya, dimana belum tentu pemuda sedesa atau sedaerahnya mendapatkan kesempatan sepertinya. Maka, ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Singkat cerita, sebagai bagian dari almamaternya, ia ingin kampus tempat ia belajar terus maju dan mengikuti perkembangan zaman. Ia dapati pemikiran tersebut karena ia mengetahui akan adanya pemilihan pimpinan baru di kampus ia belajar. “Ini momentumnya”, demikian ia berfikir. Ia pun mencari cara, bagaimana agar ia sendiri, teman-temannya dan seluruh civitas akademika bahkan alumninya memiliki peranan dalam kemajuan kampusnya dan tahu momentum tersebut. Ia sadar, yang paling tahu pokok permasalahan adalah pimpinan kampusnya. Namun ia tetap berfikir, berbicara kemajuan kampus tidak sekedar tanggungjawab orang-orang yang akan menduduki posisi struktural kampus, namun adalah tanggungjawab seluruh civitas akademika.

Ia memulai aksinya, bahwa banyak yang harus dibenahi di kampus tempat ia belajar baik dari realisasi dana kemahasiswaan yang diberikan oleh kampus (karena ia rasakan ini sebagai salah satu sumber utama pertikaian tak berujung pada pembagian dana antar organisasi mahasiswa tempat ia terlibat), realisasi pelayanan atau fasilitas kampus terhadap dana yang dibayarkan yang tak sesuai, kesesuaian visi pimpinan kampus baru terhadap grand design yang telah dibuat, integrasi peranan organisasi mahasiswa, organisasi alumni, dan organisasi kampus. Dan, masih banyak dari deretan hal yang ia nilai penting untuk dicarikan solusinya secara bersama.

Benar saja, ia memulainya. Segala media yang berlaku di zaman ini ia gunakan. Meski akhirnya beberapa mencibir, menafsirkan sendiri tanpa mau mencari tahu dari sumber aslinya dan apa sebenarnya tujuan beserta maksud pesan yang ingin disampaikan. Sayangnya, cibiran itu bukan saja oleh rekan mahasiswa dan organisasi yang ia perjuangkan bersama, namun juga para senior-seniornya.

***

Piramida. Apabila dilihat dari atas saja, ia akan terlihat persegi. Dilihat dari samping saja, ia justru terlihat segitiga. Dilihat dari bawah, ia juga terlihat persegi. Demikian terjadi karena sudut pandang yang berbeda akan menghasilkan penyimpulan yang berbeda pula. Lantas, bagaimana cara mencari tahu kebenarannya? Yakni dengan cara melihatnya secara keseluruhan. Bukan dari satu sisi, melainkan semua sisi.

Diantara kesemuanya itu, hal yang paling penting adalah kelangsungan tujuan yang diinginkan. Tujuan penyampaian informasi tidak boleh terhenti hanya karena cara penyampaian yang bagi sebagian besar orang kurang dimengerti atau disalahpahami. Apabila kita salah dalam penyampaian atau dengan kata lain salah “caranya”, maka yang dievaluasi adalah “cara penyampaiannya”, bukan tujuan. Cara sangat beragam: “seribu jalan menuju Roma”, demikian kata pepatah.

Buta huruf masa kini

Di masa kini, orang yang buta huruf bukanlah orang yang tidak mampu baca tulis, melainkan orang yang tidak mau belajar, berhenti belajar, ataupun mempelajari ulang (sesuatu sesuai dengan perkembangannya). Pendapat tersebut telah diramalkan oleh futurist kenamaan Alvin Toffler hampir 40 tahun yang lalu dalam bukunya Future Shock.

Pesannya demikian. Di masa kini, tidak dapat setiap orang hanya mengandalkan pengalamannya untuk dikatakan “lebih tahu” atau “lebih benar”. Tidak juga setiap orang “lebih benar dan lebih tahu” hanya karena “lebih tua dan lebih senior”. Siapapun orangnya yang berhenti belajar dan tidak memperbaharui pengetahuannya, ia tertinggal. Ia seperti seorang buta huruf yang sebenarnya tidak tahu apa-apa: hanya mengira-ngira menurut persepsi yang dibuatnya sendiri.

Setiap orang sekarang bisa belajar dari siapapun. Termasuk yang lebih muda. Tidak ada yang mutlak. Misalnya, si A menjadi “guru” si B dalam bidang Mikroskopi disatu waktu, namun di waktu yang lain justru si B yang menjadi “guru” si A dalam bidang Komunikasi. Dan sikap terbaik adalah tidak merasa “lebih tahu” dari yang lain. Semuanya saling belajar satu sama lain. Di atas semua manusia yang memiliki pengetahuan, ada Dia Yang Maha Tahu.

***

“Make mistakes faster”, buat kesalahan lebih cepat. Mahasiswa itu pun teringat pesan yang begitu populer yang dilontarkan oleh peletak budaya perusahaan chip terbesar dunia Intel Corp, Andrew Groove. Dan tetap saja, ia memiliki teman baik yang menasehatinya: bahwa setiap masukan itu baik baginya. Meski ia menyadari, terkadang hal baik yang dilakukannya tidak dipahami setiap orang. Meski ia menyadari, terkadang orang-orang yang mencibirnya karena telah memperoleh “kasta” yang lebih tinggi untuk ia sebut sebagai “senior” adalah orang-orang yang ketika dulunya berada pada posisi dia adalah orang yang tidak sedikitpun melakukan apa-apa. Yang tidak mau menanggung segala resiko untuk berurusan dengan pimpinan kampus (yang seringkali dianggap angker bagi sebagian besar mahasiswa). Seperti pula ia menyadari begitu banyaknya orang-orang dalam sidang-sidang mahasiswa berbicara keras-keras tanpa isi seolah ia telah melakukan begitu banyak hal. Seolah-olah ia telah berusaha membangun komunikasi dan bernegosiasi terhadap banyak pihak baik dari yang memiliki wewenang di kampusnya ataupun wewenang yang lebih tinggi di kampusnya, padahal sedikitpun ia tidak melakukan apa-apa, selain berkumpul dengan orang-orang sekomunitasnya.

***

Saudara, barangkali ada kemiripan kisah di atas dengan kejadian yang sekarang sedang dijalani. Hal terbaik yang bisa dilakukan alumni suatu perguruan tinggi (seperti saya ini) adalah menyambung kerjasama dengan rekan seluruh profesi yang bersangkutan baik dalam kerjasama bisnis, asosiasi, ataupun perhimpunan dengan tetap berusaha support almamater (apapun bentuknya). Industry apa saja yang akan kita realisasikan dan bertaraf dunia 10 sampai 20 tahun mendatang? Bagaimana cara untuk menjadi seperti Mochtar Riady ataupun Dr Tahir dalam membuat jaringan bisnis yang menggurita dan memiliki nilai social kemanusiaan? Tahap-tahap apa yang dibutuhkan untuk membangun bisnis seperti Filantrop Pangeran Al-Waleed yang kini secara bertahap menyedekahkan seluruh hartanya yang nilainya >400 Trilyun itu? Bagaimana cara membuat lab uji seperti Theranos yang membuat si cantik Elizabeth Holmes itu menjadi salah satu wanita muda terkaya di Amerika dengan usia <30 tahun? Nampaknya, bahasan-bahasan tersebut akan menjadi sangat menarik dan hidup dalam pandangan saya sebagai alumni.

Begitupun mahasiswa. Dalam pandangan saya, seringkali mahasiswa memiliki pandangan ke depan akan sebuah tujuan ideal, bahkan terkadang justru menjawab pertanyaan dari para orang-orang yang sedang memangku jabatan. Tetap ikutilah kata hatimu, wahai mahasiswa. Jangan bimbang hanya karena perkataan satu atau dua orang. Kebenaran atau kesalahan bukan sekedar banyak atau sedikitnya pendukung.

“Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life” (Steve Jobs)

Saudara, baik anda yang masih mahasiswa ataupun sudah menjadi alumni perguruan tinggi seperti saya, kita saling membutuhkan (we are interdependent). Atau paling tidak, saya membutuhkan anda untuk terus menerus saling menumbuhkan sikap hidup satu sama lain, ataupun membangun kerjasama-kerjasama bermanfaat di waktu-waktu mendatang.

Maka, apakah dengan mengatakan kebenaran aku harus menjadi musuhmu? (Galatia 4:16)

Bila Cinta

Bila Cinta

Ajari aku menggunakan pena

Akan kutulis gemercik air

Udara dingin

Kabut senja sampai daun gugur

***

Bila cinta

Ketika seorang anak manusia memilikii cinta kepada seseorang

Yang merasakan cinta tidak hanya hatinya

Tapi seluruh tubuh dan jiwanya

Hatinya akan meneruskan perasaan itu ke tangannya

Membuatnya selalu berupaya membantu memudahkan setiap urusan hidupnya

Hatinya akan meneruskan perasaan itu ke kakinya

Dan membuatnya bersedia berjalan beriringan dengan orang yang dicintai

Tidak berlari tidak juga terlalu lambat

Hatinya akan meneruskan perasaan itu ke matanya

Hingga tidak lagi fisik menjadi peyebab hilangnya cinta

Seseorang menjadi tampak mempesona

Dan mata yang selalu memandang dengan aman dan melindungi, tidak hanya nyaman

Bukankah pernah kamu temui tatapan mata yang merenggut dan menelanjangi dirimu

Membuattmu takut dan berusaha berlari

Ketika seorang anak manusia memiliki cinta

Maka hatinya akan meneruskan perasaan itu ke seluruh sendinya

Membuat seluruh manusia menjadi lebih ringan dan nyaman dalam menjalani hidupnya yang berat

Hatinya akan meneruskan perasaan itu ke pikirannya

Menjadikannya berifikir lebih jernih dan bijaksana

***

Hanya saja jika tidak berhati-hati, tidak hanya cinta yang jatuh

Tapi juga seluruh bagian diri yang ikut merasakannya

Tidak hanya cinta yang jatuh

Tapi juga logikanya

Mungkin juga impiannya

By: SuaraCerita, Kurniawan Gunadi

LAB.OR.ID: Kaum pekerja membangun asset

ILO LabOr“Regular dan Buruh. Saya melihat potensinya ada di kekuatan jumlah massa. Bukan untuk mendemo, melancarkan tuntutan-tuntutan layaknya gerakan buruh pada umumnya. Saya melihat potensinya pada kecakapan/keterampilan yang dimiliki dalam menunjang berjalannya industry. Kecakapan/keterampilan tersebut sebenarnya merupakan ilmu yang mahal. Maka, sayang sekali apabila tidak dibagi, apalagi pengumpulan kekuatan hanya diarahkan pada aksi massa demonstrasi yang terkadang hanya dimanfaatkan para petinggi organisasi buruh untuk kepentingan pribadinya.

Secara sederhana, alumni AKA yang rata-rata menjadi analis kimia di indutri seharusnya dapat mencatat kegiatan hariannya dan memformulasikannya menjadi serangkaian ilmu. Apalagi, tempat bekerja yang beragam yakni bidang polimer, tambang, oil n gas, lingkungan, food and bavarages, farmasi, dll akan menjadi ilmu yang bermanfaat dan dapat dikonversi menjadi ladang penghasilan apabila diorganisir dengan baik. Sayangnya, belum ada yang serius melakukannnya.”-Kutipan akhir pada tulisan “Kesediaan untuk memulai

Kita: Buruh atau kaum pekerja. Sebutlah saja kaum pekerja untuk selanjutnya karena lebih terkesan enak didengar. Kali ini saya tidak membicarakan pandangan hidup kaum pekerja yang sarat ideology dan pernah menjadi basis massa utama ideology sosialis/komunis hingga popular dengan sebutan proletar (kaum proletariat melawan kaum borjuasi/borjuis yang dianggap agen kapitalis). Saya berusaha menjalin sebuah tawaran perjuangan hidup kaum pekerja.

Kaum pekerja, seperti kita, bisa disebut golongan mayoritas masyarakat yang ada. Kaum pekerja setiap Negara manapun menyumbang peranan besar dalam menumbuhkan perekonomian dunia karena ditangan merekalah proses produksi yang berakhir pada pemenuhan kebutuhan hidup manusia dijalankan. Namun sayang, sampai sekarangpun, kompensasi kerja (upah/gaji) yang diberikan penuh waktu (dengan waktu kerja harian rata-rata 8 jam) tidak setimpal dengan tenaga dicurahkan. Dan sebagian besar kompensasi kerja tersebut habis untuk kebutuhan harian dan sedikit untuk cadangan (tabungan). **saya tidak akan membahas pertentangan kelas antara pekerja dan pemilik modal** (saat ini saya berusaha mengumpulkan data untuk membuat thesis besaran ketimpangan yang diperoleh kaum pekerja, pemilik usaha, dan investor dan menyajikannya dalam sebuah laporan)

Apa yang kemudian dilakukan kaum pekerja untuk memenuhi kebutuhan lain bahkan keinginan-keinginan hidup lain? Sebagian besar akan menjawab “kerja sampingan”. Kerja sampingan ini sangat bervariasi, mulai dari menggelar dagangan, menjadi sales freelance, dan lainnya. Disisi lain, dunia kaum pekerja yang sebagian besarnya juga berikat, artinya adanya sebuah keharusan tergabung dalam serikat pekerja, tidak mampu membangun solusi nyata sebuah usaha membangun ekonomi. Perjuangannya pun dari masa ke masa monoton, berkisar pada tuntutan kenaikan gaji, jaminan social, kesehatan, hari tua yang ekspresinya berupa demonstrasi rutin di hari besar, mogok kerja, dan propaganda di media. Perjuangan seperti tersebut di atas juga tidaklah gratis. Harus ada sumbangsih materi (iuran rutin) untuk memperpanjang nafas perjuangan.

Pertanyaannya, apakah hal-hal diatas adalah satu-satunya cara efektif membangun kekuatan ekonomi yang merupakan salah satu hal pokok yang kaum pekerja perjuangkan? Saya menjawab tidak. Lantas, apa yang coba saya bangun, terutama untuk para pemuda kaum pekerja?

Mari kita bangun asset

Kaum pekerja harus membangun asset sedari muda. Asset apa? Membeli rumah memang merupakan asset, tanah, bangunan. Namun, karena focus saya sekarang adalah para analis ataupun pekerja laboratorium, asset yang paling nyata adalah menghimpun kompetensi/ilmu sesuai dengan bidang kerja yang ditekuni sekarang. Dan semua nantinya dapat dihimpun.

Bagaimana contohnya? Saya, di dunia kerja yang sekarang saya tekuni sebagai seorang sales application engineer instrument Raman, XRF, XRD, Thermal Analyzer, Particle Size Analyzer, dan seputar dunia sales marketing dan dunia pengujian atau analisis instrumental akan sharing terkait hal tersebut.

Sebagai informasi, saya telah membuatkan wadah sebagai asset digital kita di: www.lab.or.id, (meski dalam proses perbaikan tampilan dll, web tsb tetap bisa diakses) sehingga harapannya setiap sumbangsih kawan-kawan lintas kompetensi di dunia industry ataupun pendidikan bisa lebih terkoordinir dengan baik.

Maka, tugas pertama kita adalah: buat satu tulisan berisikan hal yang berkaitan dengan kompetensi kawan masing-masing. Suatu hal yang kawan-kawan tertarik dan merasa perlu untuk membaginya dengan yang lain. Bentuk tulisan bebas. Kalau sudah selesai kontak saya. Ingat, waktunya satu minggu ya, ditunggu hari sabtu depan. Saya juga mengerjakan hal yang sama sambil menyambung tulisan ini.

**

Bersambung…….

Sabtu, 27 Juni 2015, pkl 10.00-11.08

oleh:

Arynazzakka

ttd zakka

Pandangan Hidup seorang kader gerakan

Setiap manusia memiliki tugas kader. Adapun pengertian kader adalah sekelompok kecil orang atau anggota masyarakat yang mampu menjadi tulang punggung masyarakat yang lebih besar, atau yang mampu menggerakkan masyarakat yang lebih besar. Dalam artian, oleh merekalah (kader), masyarakat itu bertindak secara bersama.

Maka, sebagai seorang kader gerakan seperti penjelasan di atas, wajib memiliki sebuah pandangan hidup. Namun seringkali, kita sebagai manusia terjebak dengan jargon atau sebutan atau istilah pandangan hidup itu sendiri, bukan terhadap makna berikut penjelasannya. Misalkan bahwa seorang itu pandangan hidupnya Pancasila, Islam, Sosialis, ataupun yang lainnya. Ketika ditanya, apa pandangan hidupnya, maka dengan tegas dan tanpa ragu menjawab: “Pancasila”, yang lain menjawab: “Islam”, dan sisanya menjawab: “Sosialis”.

Namun sayang, ketika ditanya pandangan hidup Pancasila itu yang seperti apa, apa yang menjadi dasar pandangan hidup tersebut, dan apa yang harus dilakukan selama hidupnya ketika menjadikan Pancasila sebagai pandangan hidupnya. Dihadapkan pada berbagai rangkaian pertanyaan tersebut, penganut pandangan hidup Pancasila sebagian besar terdiam, dan kurang mampu menjelaskan. “Pokoknya Pancasila, kekal, dan abadi!” Maka dalam hal ini, Pancasila sekadar menjadi Simbol tanpa nyawa.

Demikian pula yang terjadi pada sebagian penganut pandangan hidup “Islam”, “Sosialis”, ataupun lainnya.

Islam, sebagai agama kaum berpikir, mengajak kita menggali makna-makna kehidupan, terkait juga cara kita memaknai agama dan menjalankan hidup dengan semestinya.

Pernah ada suatu masa pedoman-pedoman pemaknaan hidup yang menjadi pegangan begitu banyak kaum muda, sebut saja Pustaka Kecil Marxis, Fundamental Value of Social Democratic, Nilai Dasar Perjuangan, Kredo Gerakan.

Dari kesemuanya itu, saya paling puas kepada Khittah Perjuangan Himmpunan Mahasiswa Islam. Silakan download dan baca di link berikut:

Pandangan Hidup Kader Gerakan

Pembahasan dan perbandingannya menyusul.

Oleh:
Arynazzakka

ttd zakka