Macendalaka, riwayatmu kini…

Macendalaka,

Riwayatmu kini

semakin sibuk sendiri

dengan urusan pribadi

Macendalaka,

pintu gerbang terbuka

sayang masih mempermasalahkan

siapa yang harus duluan

Macendalaka,

Riwayatmu kini

hanya menjadi sebuah kenangan,

jiwamu kau hilangkan

dengan saling bermusuhan

mengurusi masalah yang

tak kunjung berkesudahan

Macendalaka,

masa mu telah berakhir

sedang kau belum memulai

Macendalaka,

alangkah sedihnya dirimu

mereka bilang SOLID

padahal itu hanya BULSHIT

tapi,

kau masih punya pejuang

yang akan terus bertahan

walaupun nantinya kau kan jumpai pecundang

yang lari dari medan perang

karena tak mendapat jabatan

Macendalaka,

kau masih punya kawan

kau akan kuat bertahan

kau pasti akan menang

kau pasti akan menang, dan

kau pasti akan menang

Iklan

Surat Cinta Pertama (Jilid I)

Kepada yang aku kasihi, jiwaku yang berada dalam genggamanNya.

Wahai diriku, ketahuilah, selama hidup di dunia ini, dirimu ada tiga (3) macam. Tiga macam itu ialah dalam bentuk Fisikmu (Jasad) , Akalmu (Aqli) , dan Jiwa (Ruh).

Ketiga macam rupa dirimu ini akan saling mendukung, tetapi juga bisa saling menjatuhkan (baca; membohongi). Wahai diriku, sesungguhnya kamu dapat aku katakan baik sampai kamu menyeimbangkan ketiganya. Ketahuilah, ketiga dari rupamu mempunyai kebutuhan, baik kebutuhan yang bersifat primer, sekunder, maupun tersier seperti kebutuhan hidupmu sehari-hari.

Wahai Jasad

Wahai diriku yang tercipta dalam bentuk Jasad (lahiriah; tampak), sesungguhnya engkau wajib mengakui dan bersyukur atas ni’mat Dzat Yang Telah Menciptakanmu. Dia menciptakan sesuai yang Dia Kehendaki, dan Dia lebih tahu segalanya. Ketahuilah, bahwa engkau telah diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya, oleh Dia Yang Maha Menciptakan.

Mungkin suatu ketika engkau tak puas terhadap pemberian yang Dia berikan terhadap dirimu, tetapi ketahuilah wahai diriku, bahwa yang engkau pikir baik menurut dirimu belum tentu baik menurut Dia Yang Menciptakanmu.

“Ingatlah selalu, mengeluh dengan kondisimu sekarang bukanlah hal yang akan mengubah dirimu, apalagi menyalahkanNya bukanlah dirimu termasuk orang yang bijak.”

Wahai Jasad, jika engkau masih tidak bersyukur dengan semua pemberian yang Ia berikan, ada yang salah mengenai cara pandangmu selama ini. Jiwamu ini merasakan bahwa cara pandang yang engkau pakai selalu ke atas hingga engkau lupa untuk melihat ke bawah. Engkau selalu menginginkan hal yang lebih dari yang engkau terima, padahal jika engkau mau sejenak melihat ke bawah, masih banyak dari saudara-saudaramu yang tidak mendapatkan ni’mat seperti yang engkau terima.

Wahai Jasad, engkau memang diciptakan dengan sifat keluh kesah. Tetapi, Dia tidaklah menginginkan itu darimu. Jika dilihat dari ni’mat yang telah engkau terima, mulai dari ni’mat penglihatan -misalnya-, jika engkau selalu menengok ke atas, pasti engkau akan mengeluh dan meminta dengan permintaan yang aneh-aneh, -mungkin warna lensa mata yang bewarna ataupun yang lain-. Berbeda halnya jika engkau melihat ke bawahmu, coba perhatikan -Berapa banyak dari saudaramu yang tidak diberi ni’mat penglihatan olehNya sejak lahir?- Belum bersyukurkah kamu dengan ni’mat penglihatan yang engkau punyai? Masihkah engkau menggunakannya untuk hal-hal yang tidak dibenarkan olehNya? apakah engkau meminta Ia untuk mencabut ni’mat penglihatan yang telah Ia titipkan untukmu?

Wahai Jasad, engkau juga telah diberi ni’mat olehNya untuk bertutur kata melalui lisan. Lisan yang Ia titipkan kepadamu bukanlah agar engkau menghujat saudaramu dengan itu, bukan juga untuk mendustai saudaramu, bukan untuk berkata kotor, bukan untuk mengumpat cela saudaramu, bukan untuk bercanda-tawa berlebihan, bukan untuk pamer bicara di depan umum sehingga engkau disegani, dan bukan juga agar engkau menjadi pelontar amanah dan sumpah dengan lisan yang mulia. Ia, yang Jasadmu berada dalam genggamanNya, memberi lisan kepadamu agar engkau bertutur kata yang baik, agar engkau menyampaikan kebenaran, agar engkau menyampaikan risalah, agar engkau saling nasehat-menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Sudahkah engkau -wahai jasadku- melakukan apa yang Ia perintahkan kepadamu melalui ni’mat lisan yang diberikan untuk tutur katamu?

Wahai Jasad, Sesungguhnya ni’mat tangan dan kaki yang Ia berikan untukmu juga semua Ia tujukan agar engkau menggunakannya dengan baik. Sudahkah engkau gunakan ni”mat tangan untuk membantu saudaramu? atau malah engkau gunakan untuk mendzoliminya? Sudahkah engkau gunakan kakimu untuk memperbanyak mendatangi kebaikan untuk engaku kerjakan dan mendatangi keburukan untuk engkau luruskan? Sudahkah kau gunakan ni’mat itu untuk bersilaturrahmi sejenak kepada saudaramu?

Wahai Jasad, bagaimana hubunganmu dengan akal?

bersambung ketulisan : Wahai akal

Satu Minggu Efektif

Kuliah oh kuliah, aktivitas yang senantiasa menjadi rutinitas kita. Dari hari senin sampai jum’at, kegiatan bernama kuliah ini tak pernah alpa dari agenda kita.  Setiap hari selama kuliah selalu diwarnai dengan materi yang berbeda-beda. Dari rutinitas yang kita jalani ini, seolah kegiatan ‘masuk kelas dan mendengarkan materi dari dosen’ ini menjadi sebuah kewajiban yang wajib dilaksanakan (tentang wajibnya masuk kelas…, lihat catatan “Dosa mahasiswa”).

Dalam satu semester perkuliahan, biasanya terbagi dalam delapan minggu yang dijabarkan menjadi enam minggu sampai tujuh minggu perkuliahan masuk kelas ‘tatap muka’ dan satu minggu tenang dilanjutkan dengan ujian, Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS). Seluruh kegiatan dari enam sampai tujuh minggu kuliah ‘tatap muka’  terdiri dari penjabaran materi  awal sampai akhir yang akhirnya pada minggu-minggu terakhir sebelum ujian disebut kisi-kisi materi.

Perkuliahan tatap muka 

Dengan adanya perkuliahan tatap muka ini, diharapkan antara mahasiswa dan dosen dapat menjalin tukar-menukar informasi efektif. Yang biasa terjadi -dan menjadi acuan- adalah dosen memberikan secara penuh -atau sebagian saja- inti dari materi perkuliahan yang dibahas. Selanjutnya sesi diskusi berlangsung, dan pertanyaan demi pertanyaan pun terlontar dari beberapa mahasiswa -yang haus akan pengetahuan-, ataupun tidak ada pertanyaan sama sekali sehingga dosen mengakhiri kuliah dengan ucapan pamungkas, “baik, kalau tidak ada pertanyaan, maka kuliah pada hari ini kita akhiri, wassalamu’alaikum wr. wb.”

Minggu demi minggu berjalan, diiringi dengan perkembangan materi perkuliahan yang kian rumit, menurut sebagian besar mahasiswa. Dalam perjalanannya, banyak juga yang sedikit -atau bahkan  banyak- putus asa karena mengganggap dirinya tidak mampu melanjutkan materi kuliah yang kian melesat dengan cepatnya. Masalah ini pun kian merebak, dari mata kuliah satu ke  mata kuliah lainnya sehingga terbesit ide kreatif mahasiswa, -mengandalkan kawanyang faham untuk mengajari-.

Kawan, buat aku mengerti seperti engkau mengerti

“Tadi caranya gimana ya?” “ia..ia…gue juga ga ngerti ni…!” “susah banget ni materi, ajarin gue dong!” Begitulah kiranya sepenggal dialog yang terjadi antara mahasiswa-mahasiswa yang belum faham materi yang telah disampaikan dosen dengan kawannya yang -dianggap- faham.

Dari kejadian yang baru saja dipaparkan, muncul pertanyaan unik, ” kalau akhirnya materi-materi yang disampaikan dosen tidak kita fahami, dan kita cenderung faham ketika yang mengajar adalah kawan kita, lantas apa peran dosen di kelas yang dengan powerful menjelaskan kepada kita?”

Terjawab oleh hati nurani kalian sendiri, kuliah yang selama ini kita lakukan hanya bertujuan mencegah bangku kosong dan mencegah absen bolong. Ya, benar kawan, tanpa kalian memberitahukan secara langsung, itulah kenyataannya. Dengan hadirnya kita di kelas, mungkin, kita berusaha menghormati dosen dan memberikan sumbangan tertawa ketika dosen kita sedang melawak. ha…ha..

“Kawan, dengan hadirnya diri kita di kelas dengan kekosongan jiwa, memang betul kita telah menghargai dosen kita, tetapi kita melalaikan satu hal, kita tidak menghargai diri kita sendiri.”

Satu minggu efektif

Kejadian di atas dapat penulis ambil kesimpulan bahwa kuliah tatap muka yang selama berminggu-minggu dijalani dinyatakan kurang efektif (jika keadannya demikian, seperti apa yang telah dipaparkan). Jika kuliah tatap muka berakhir, tibalah saat yang ditunggu-tunggu, Ujian. Pada saat-saat seperti ini, timbul gejolak yang sangat dinamis dari para mahasiswa. Bagaimana tidak, belum dikuasainya materi sementara ujian -yang dapat didefinisikan sebagai  ajang pembuktian pemahaman melalui nilai yang nantinya tercetak dalam sebuah transkrip- haruslah menuntut para mahasiswa untuk mengerti materi (walaupun secara paksa).

Jurus pamungkas pun dipakai sebagai satu-satunya jurus ampuh untuk menannggulangi ini semua. Jurus itu dapat penulis sebut, Satu minggu efektif belajar. Dengan pemberdayaaan kawan yang dianggap telah menguasai materi, minggu-

Yang harus diperbaiki

Absah saja jika kita menggunakan metode satu minggu efektif, tetapi kekurangan dari metode ini, kita terlalu mengandalkan kawan kita sehingga kita mencerna mentah-mentah materi yang diberikannya. Jika hal ini berlangsung secara terus-menerus, kita hanya akan membuang waktu kita dalam pertemuan tatap muka. Dan akhirnya, validitas ilmu kita kurang kuat (namanya juga dari kawan sendiri yang sama-sama baru belajar).

“Kawan, mari kita buat bumi pertiwi ini bangga pada kita. Bangga bahwa generasi penerusnya adalah orang-orang yang haus akan ilmu dan menghormati para gurunya”

Sukses untuk kita semua. Karena kita adalah generasi penerus bangsa. Karena kita peduli akan bangsa ini, dan karena kita cinta Ilmu pengetahuan, cinta Indonesia.

Penulis: Arynazzakka

(mahasiswa AKA Bogor)

IMAKA: menunggu kudeta

Ikatan Mahasiswa Akademi Kimia Analisis, sebuah wadah organisasi mahasiswa AKA Bogor yang telah lama berdiri, sejak 1959 . Wadah DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa), BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), dan seluruh mahasiswa AKA tentunya. Selama perjalanannya dari masa ke masa, IMAKA  telah menorehkan para pejuangnya, jiwa herois yang telah terbentuk dan akhirnya diturunkan kepada generasi penerusnya. Sama halnya dengan berbagai masalah yang dari tahun ke tahun cenderung sama sehingga dapat disebut masalah klasik yan g ternyata tidak sesederhana seperti yang  dibayangkan. Masalah seputar koordinasi antar pejuang, pudarnya semangat, belum punya pijakan yang kuat, tidak punya visi bersama, dan masalah internal seakan terlihat hal yang perlu ‘dipersengketakkan’

Perlu ada konsolidasi

Konsolidasi secara umum (menurut KBBI, versi offline 1.2) didefinisikan sebagai penguatan atau peneguhan. Berkaitan dengan kampus yang mempunyai beberapa organisasi yang bergerak dalam ranahnya masing-masing, akan mustahil cita-cita/harapan/visi akan terwujud bila saling bekerja sendiri-sendiri. Perlunya koordinasi antar organisasi akan mematangkan visi maupun pergerakannya karena masing-masing dari organisasi akan mendapatkan masukan, kritik membangun, maupun kerjasama yang baik dari organisasi yang berjalan.

Peneguhan dan penguatan visi bersama sangat diperlukan dalam organisasi kampus. Bagaimana tidak, -menyambung apa yang telah diungkapkan di atas- organisasi yang hanya merasa berperan sendiri dalam kampus, melalui proker-prokernya, atau melalui tindakan tertentu untuk eksistensi diri, tidak akan berkembang selain dari sikap yang merasa unggul sendiri (dan meremehkan yang lain), maupun sikap antipasti bekerja sama.

Kudeta IMAKA

Fakta menunjukkan, degradasi pergerakan IMAKA yang kian hari kian berkembang disertai dengan tumbuhnya sikap pragmatis mahasiswa –yang disibukkan dengan beban akademiknya- menandakan bahwa IMAKA terkesan kian renta dalam usianya yang tidak lagi muda.

Fakta ini juga diperkuat dengan disertai labilnya semangat pejuang IMAKA itu sendiri. Apabila kondisi yang demikian berlangsung berlarut-larut, IMAKA seolah menunggu dan mengharapkan kudeta. Matinya pergerakan dan hilangnya kabut perjuangan mahasiswa yang –seharusnya- dibawa oleh pemerintahan mahasiswa merupakan sebuah tanda bahwa IMAKA telah terkudeta. Terkudeta oleh para pejuangnya sendiri, atau nantinya terkudeta oleh waktu yang akan menampakkan IMAKA yang telah renta.

“Kawan, si bijak selalu berkata: Bukan masalah besarnya masalah yang engkau peroleh, tapi bagaimana engkau selalu berupaya menyelesaikan sekuat tenaga, dan engkau ambil pelajaran dari situ.”

Keadaan generasi penerus

Sebagai generasi penerus yang menentukan bangkitnya Indonesia yang dimulai dengan bangkitnya IMAKA, tidaklah dibutuhkan banyaknya keluhan, apalagi kritikan yang tidak menghasilkan solusi maupun tindak nyata. Generasi penerus yang dipercaya untuk meneruskan estafet kepemimpinan tidak boleh luntur jiwa juangnya menghadapi kondisi yang ada dan ‘disediakan’ ini.

Kawan, sebagai pejuang yang telah digariskan, yang terlahir dari keturunan para pejuang sejati, hendaklah tidak perlu gentar. Visi yang besar harus kita punya dan harus kita lihat secara jelas agar kita menikmati perjuangan. Bukankah telah dikatakan kepadamu, “Setiap masa ada masalahnya, dan setiap masalah ada pahlawannya”. Dari kata-kata bijak tersebut dapat diambil pelajaran sekaligus timbul pertanyaan, “Apakah kita mau jadi pahlawan itu? ataukah kita hanya sebagai penonton yang ‘cuci tangan’ setiap ada permasalahan, lari dari masalah, bahkan merasa tidak mampu dan menganggap diri sendiri rendah?”

Konsep yang harus ditanamkan kepada  para pejuang adalah harus ‘berani’ menghadapi tantangan, menyemai kebaikan, dan memberantas kedzoliman.

Degradasi yang terjadi akan semakin menguat apabila dari pejuang penerus cenderung menyalahkan keadaan dan menganggap perjuangan berat. Sama halnya jika kita selalu berkeluh kesah dan tidak mempunyai pandangan ke depan/Visi yang indah. Walaupun sebuah Visi, milikilah kawan, agar kau punya target dan penyuplai semangat. Seperti halnya mimpi, kita seolah tak akan pernah lelah berjuang karena dalam perjuangan yang kita lakukan, kita merasakan suatu kenikmatan dalam penggapaian tujuan.

“Kawan, milikilah visi, dengan visi perjuanganmu akan berarti, tanpa visi, perjuanganmu hanyalah mimpi.”

Indonesia bangkit, melalui mereka (yang berjuang)

Ketika mendengar kebangkitan Indonesia, banyak yang berteriak dan dengan menggebu-gebunya menceramahi khalayak bahwa perjuangan bangsa Indonesia dahulu dalam menegakkan kemerdekaan harus mereka tebus sampai titik darah penghabisan. Banyak juga yang meneriakkan jargon “SEMANGAT 45”, semangat tertinggi yang pernah dimiliki bangsa ini, maupun yang berteriak, “HIDUP MAHASIWA” semangat yang membawa Indonesia menuju Reformasi. Ironinya, banyak dari yang berteriak demikian, hanya mempunyai dan menyelami maknanya sekadar batas tenggorokan. Ketika terjadi permasalahan, SOLUSI hanya sekedar suara-suara tanpa eksekusi.

Pejuang tangguh pernah berujar, “Sesungguhnya dari semua manusia yang terlahir di muka bumi, hanya sedikit yang sadar dan memikirkan keadaan bangsanya, dari yang sedikit itu lebih sedikit lagi yang berjuang mewujudkannya, kemudian lebih sedikit lagi yang bersabar untuk tetap berjuang, dan akhirnya lebih sedikit lagi yang sampai pada cita-cita yang pernah diimpikannya”. Begitu dalam makna dari kata-kata itu. Kau kah, kawan, yang berada dalam barisan yang sedikit itu?

Bahkan Umar Ibn Khattab pun pernah berujar pada pejuangnya, “Seandainya ada 1000 pejuang tangguh, maka kalian harus berlomba-lomba menjadi 1000 pejuang itu,dan seandanya hanya ada 100 pejuang tangguh, maka kalian harus masuk dalam kategori itu, dan seandainya 10 pejuang tangguh  juga harus berjuang menjadi yang 10 itu, dan jika hanya ada 1 Pejuang tangguh, kalian harus berebut untuk menjadi yang satu itu.”

“Kawan, waktu tidak akan pernah menunggu karena ia setiap saat berjalan, bahkan berlari. Tetapi aku melihatnya bahwa ia menanti kita untuk menjadi pejuang itu, siapkan kita?” WUJUDKAN JIWA PEJUANG KITA!! We think that we  can, yes, we can, believe it”

Institut Analisis Indonesia

Akademi Kimia Analisis: Berbenah Diri

Akademi Kimia Analisis (AKA) yang terletak di Bogor, telah 52 tahun berdiri. Di umur yang bisa dikatakan tidak muda lagi untuk sebuah perguruan tinggi, AKA dapat menunjukkan eksistensinya di lingkungan industri. Keunggulan yang lain bisa disurvei dengan banyaknya alumni yang tersebar di lingkungan industri se-Nusantara. Namun, diantara banyak keunggulan yang telah ditaburkan, ada satu sisi yang terlupakan oleh AKA sendiri, masa depan.

Dengan pergerakan sekarang, yang masih saja selalu berusaha menjaga kualitas lulusannya sebagai analis yang memiliki kompeten, yakni terampil bekerja dan cepat beradaptasi dengan lingkungan pekerjaan, agaknya merupakan pergerakan yang klasik dan tidak menyesuakan zaman.

Fakta menunjukkan bahwa era globalisasi yang kian membuat dunia tanpa sekat, AKA terkesan lambat dan kurang peka keadaan dengan dunia yang seperti sekarang ini. Globalisasi menuntut suatu standar bermutu dari suatu produk, artinya peran penjaga kualitas sangatlah vital, dan tidak dapat tidak ada alias -wajib ada-. Analis, sebagai orang yang bertanggung jawab sebagai penjaga kualitas (salah satunya) tidak dapat ditampik keberadaannya. AKA sendiri, salah satu perguruan tinggi yang menghasilkan Analis sebagai produk utamanya, yang juga merupakan perguruan tinggi pertama di Indonesia yang menyelenggarakan pendidikan analisis kimia haruslah menjadi motor dari kebangkitan di era globalisasi ini.

Mengapa bisa begitu?

Dengan dukungan dosen-dosen yang berkompeten di dalamnya, serta peralatan yang cukup memadahi, AKA harus membuktikan eksistensinya sebagai perguruan tinggi pelopor analis. Peran dan tanggungjawab yang besar ini selalu dikritisi dengan sebuah argumen tentang kedudukan AKA sendiri yang masih dalam tingkatan Diploma. Maksudnya, Diploma hanya menyelenggaran pendidikan dan pelatihan untuk para mahasiswa yang nantinya dipersiapkan untuk menjadi teknisi.

Cerminan pola produk yang dihasilkan, sebagai Diploma, AKA yang telah tersaingi oleh perguruan tinggi sekawannya, seperti IPB dan ITS yang nyata-nyata lahir setelah AKA sendiri, haruslah berbenah diri. Berbenah diri untuk masa depan dirinya sendiri dan berkembang menjadi perguruan tinggi sekawannya, IPB dan ITS yang kini menjadi salah satu perguruan tinggi unggul di Indonesia.

Sudah lelah menjadi kepompong

Kalau diibaratkan sebagai kupu-kupu, sebagai proses metamorfosisnya, AKA masih segan berada dalam zona kepompong. Kenyamanan menjadi kepompong ini -jika dibiarkan begitu saja- akan menjadi bom waktu tersendiri bagi AKA sendiri. Bagaimana tidak, sementara perguruan tinggi lain mempersiapkan masa depannya bergelut dalam kancah internasional -menjadi perguruan tinggi riset dunia, salah satu motonya-. AKA masih saja dalam taraf kenyamanannya (baca: masih puas)  menjadi perguruan tinggi yang menghasilkan teknisi suplai industri.

Berbicara tentang industri, yang tentu saja berkaitan tentang kemajuan peradaban, merupakan pola pikir yang sempit jika kita hanya memaknainya dengan hubungan -majikan dan buruh-. Sekali lagi, ini bukan masalah -majikan dan buruh-. Secara kasar, teknisi disepadankan dengan buruh (dalam kaitannya dengan hubungan majikan dan buruh) memang benar. Tetapi kita tidak sedang memperbicangkan itu, kita berbicara tentang AKA dan produknya yang seharusnya bisa menjadi lebih dari itu. Alumni AKA tidaklah selalu orang yang diharuskan menjadi teknisi industri. Sekali lagi saya tegaskan, -kita kurang layak menjadi teknisi-. Tapi apa daya, ganjalan itu muncul lagi. Kita menuntut keterampilan (baca: keterampilan) di Akademi yang menghasilkan Diploma, gelar para teknisi.

Kembali ke bahasan tentang zona nyaman menjadi kepompong, didalam bilik kenyamanan yang mengurungnya, harusnya AKA harus sedikit lebih berani untuk keluar dari kepompongnya. Keberanian lebih sangat dibutuhkan untuk menghadapi dunia luar dengan pesona sekaligus tantangan barunya. Ya, benar, AKA sudah lelah menjadi kepompong. Dan, Ya, benar, sudah saatnya AKA keluar dari kepompongnya, menjadi kupu-kupu.

Kupu-kupu itu: “INSTITUT

Institut, yang merupakan perguruan tinggi penyelenggara pendidikan untuk jenjang yang lebih tinggi dari Diploma. Institut menyelenggarakan pendidikan dalam kelompok disiplin ilmu yang bervariasi.

Berbeda halnya dengan Diploma, Institut tidaklah mempersiapkan produknya menjadi seorang teknisi, melainkan untuk menjadi ahli. Pengkajian materi secara mendalam pun menjadi sebuah pola pendidikan yang dilakukan untuk mewujudkan para ahli yang berkompeten. Mereka, para ahli, memang dipersiapkan untuk melakukan pengkajian ilmu secara mendalam.

Aku melihatnya; Institut Analis Indonesia (sebuah narasi)

Hari itu, ketika aku  bersantai menikmati hari libur sambil melihat pemandangan alam di sekitar rumah -ditemani istri tercinta dan anak tersayang-, terdengar kabar di radio yang saat itu aku nyalakan, mahasiswa Institut Analis Indonesia baru saja memenangkan juara 1 lomba dalam kancah internasional dengan kajian dan penelitian dengan tema: “Physicist-Chemist: Uji kebenaran dan ketepatan komposisi Alam Semesta sewaktu terjadinya Big Bang”. Diberitakan bahwa mahasiswaku, memenangkan perlombaan ini karena penjelasan mengenai komposisi alam semesta sewaktu terjadinya Big Bang -yang menurut Stephen Hawking berupa padatan sebesar kacang, bermassa tak hingga dan bervolume nol- disertai dengan runtutan peristiwanya dalam fungsi waktu, yang dikaji dengan teori elektromagnet, nuklir kuat-lemah, dan gravitasi. Analisis mereka pun semakin mantap mengingat pengkajian mereka tidak hanya dalam bidang fisika saja, melainkan mereka menyajikannya dalam bidang kimia.

Hal ini pun lantas menjadi sorotan media seantero Indonesia. Suatu pencapaian yang luar biasa dari sebuah perguruan tinggi yang baru saja bertransformasi belum sampai setengah abad. Ya, nama Institut Analis Indonesia pun mencuat menjadi perguruan tinggi favorit di Indonesia. Banyak kemudian dari siswa-siswa SMA yang ingin meneruskan kuliahnya di Institut Analis Indonesia.

Setelah dikaji, Institut Analis Indonesia (IAI)  bisa  maju dikarenakan Institut ini mempunyai fakultas dan disiplin ilmu yang berimbang. Diantaranya adalah Analisis Kimia, Analisis Fisika, Analisis Ekonomi, Analisis Seni, Analisis Budaya, Analisis Moral dan Spiritual, Analisis Teknologi masa depan, Analisis Pertahanan. Kolaborasi yang luar biasa yang digabungkan oleh IAI menjadi tatanan perguruan tinggi yang berimbang dari segi pembentukan produknya, baik sisi Spiritual, Intelektual sains, sosial, ekonomi dan seni budaya, teknologi, serta Pertahanan keamanan.

Bangga, tentu aku rasakan sebagai seorang pendidik. Spiritualitas dan antusiasme belajar merupakan aura yang tertanam kuat di kampus IAI.

Dakwah is Bullshit…….

 

Dakwah secara singkat  bermakna mengajak pada manusia kepada kebaikan dan mencegahnya dari yang munkar. Roda kehidupan berjalan dan masa pun mengalami suatu perubahan yang luar biasa, dari lingkungan maupun dari keadaan manusia. Akhlak dan moral menjadi perhatian yang serius dalam pendidikan akhir-akhir ini, disamping intelektualitas dan kecakapan.

Kondisi manusia yang sekarang dengan degradasi akhlak yang begitu luar biasa tentunya membutuhkan suatu petunjuk jalan. Pemuda pun menjadi sasaran utama mengingat keadaan bangsa itu dilihat dari generasi penerusnya, khususnya mahasiswa yang merupakan insan intelektual. Kemudian suatu ketika, muncullah apa yang disebut pengemban dakwah.

Para pengemban dakwah

Persepsi kita selama ini tentang pengemban dakwah ialah ustadz, kiai atau urusan para alumni pesantren.  Nahnu du’at qobla kulli syai’i, kita adalah dai sebelum apapun. Ya, kawan, membaca kata-kata tersebut, ketika kita adalah seorang muslim, iman Islam telah menancap di sanubari kita, konsekuensinya kita semualah, masing-masing dari kita adalah para pengemban dakwah. Bagaimana tidak, Allah tidaklah menurunkan kita ke muka bumi, melainkan sebagai hambaNya dan sebagai khalifah, sebagai para penjaga bumi, pemelihara bumi dari kemaksiatan, dan akhlak-akhlak tercela -disamping tentunya kita memelihara alam-.

Mengetahui kenyataan demikian, kawan, dakwah ini bukan berarti selalu mengajak kalian untuk pengajian tiap waktu, atapun dzikir bersama semalam suntuk, dakwah adalah -sekali lagi- mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari yang munkar. Kita mengajak kawan kita sholat berjama’ah di masjid ketika telah masuk waktu sholat, itu adalah dakwah. Kita mengingatkan kawan kita yang baru saja mencibir orang lain, itu adalah dakwah, dan kita pun saling mengoreksi diri, itu adalah dakwah. Jadi, masihkah kalian anggap diri kalian bukan pengemban dakwah?

“Kawan, konsekuensi dari keislaman kita mengajarkan kita tidak boleh Sholeh sendiri, tetapi kita harus mengajak kawan kita yang lain agar kembali kepada Islam, dan kita semua adalah para pengemban dakwan”

 Dakwah kita di kampus

Setelah mengetahui jati diri sesungguhnya -masing-masing dari kita adalah pengemban dakwah- kita pun tidak boleh memparsialkan arena dakwah kita. Kampus, adalah salah satu arena yang harus dibentuk sedemikian rupa sehingga kampus kita dapat menjadikan diri kita nyaman dan setiap kita memasukinya dan belajar disana dalam kondisi yang tenteram.

Bagaimana kampus seharusnya kita bentuk? kawan, sebagai seorang muslim, dalam keadaan apapun kita harus dapat menciptakan kondisi yang Islami. Sebagai contoh konkrit kehidupan kampus, ialah seringnya beberapa jam mata kuliah yang menerobos waktu sholat. Ini tentunya harus kita benahi. Sholat merupakan pondasi utama dari Ibadah kita, dan esensi dari sholat juga melatih kita ketepatan waktu, sholat adalah ibadah pertama yang akan ditanya oleh Allah, kelak. “jika sholatmu baik, maka baiklah seluruh amal perbuatanmu, dan jika sholatmu buruk, maka buruklah amal perbuatanmu”. Kembali lagi ke persoalan, beberapa jam mata kuliah yang menerobos waktu sholat hendaknya tidak diteruskan dengan alasan “tanggung, sebentar lagi”, tetapi sebaiknya ditunda untuk beberapa saat dan diteruskan kembali ketika kewajiban sholat selesai ditunaikan. Beberapa kegiatan pembelajaran kampus seperti tilawah sebelum mulai pelajaran juga sebaiknya dapat dilakukan. Pembelajaran yang menghubungkan ilmu alam yang sedang dipelajari dengan Kitab Suci -Al-Qur’an yang kita yakini kebenarannya juga perlu dilakukan. Tidak ada sekularitas dalam menuntut ilmu, itu yang perlu ditegakkan kembali.

Semua cita-cita yang akan membawa kampus kepada kampus yang Islami, kampus yang madani tentu tidak akan terwujud dengan perilaku ‘bekerja sendiri’ dari para pengemban dakwahnya, Lantas?

Harus ada kerjasama dan saling memahami.

Yups, dakwah kampus yang kita jalankan haruslah ada kerjasama atau koordinasi yang baik dari para pengemban dakwah. Di samping itu, Saling mengenal, mengetahui memahami, dan bisa mendahulukan kepentingan dakwah juga harus ditumbuh-suburkan. Banyak ‘cidera dakwah’ terjadi bukan karena kekurangan para pengemban dakwah, melainkan belum tumbuhkan sikap saling memahami dan beberapa sifat yang baru dipaparkan.

Saling memahami antar pengemban dakwah akan mewujudkan sebuah empati, atau menurut teman saya ‘compession’, sebuah rasa dalam diri untuk merasakan perasaan orang lain. Yups kawan, inilah ukhuwah Islamiyah, inilah yang harus kita tumbuhkan, bukan hanya sekadar berbagai agenda dakwah yang hanya memenuhi ‘jadwal’ dan ‘menjaga tradisi’.

“Kawan, dakwah ini bukan hanya menjalankan agenda bersama untuk memenuhi jadwal dan menjaga tradisi, lebih dari itu, kita harus saling memahami, kita harus mengerti apa  (kebutuhan) yang diinginkan objek dakwah, maupun pengemban dakwah, Ya, kita harus saling memahami, bukan sekedar saling mengenal. Tanpa itu semua, dakwah yang dijalankan akan terasa hambar dan hanya memenuhi ‘amanah agenda’, Yups anda benar, DAKWAH is BULLSHIT without Understanding”

Jadi, masihkah kalian ragu untuk berdakwah dan menjalin Ukhuwah Islamiyah?

 

Laporan Praktikum: ‘Pengantar menuju degradasi Pemahaman’

Praktikum di AKA mendapatkan perlakuan yang tidak main-main. Setiap mahasiswa dituntut untuk dapat terampil di laboratorium. Hampir semua mata kuliah kimia terwujudkan dalam sebuah praktik, selain tentunya teori.

Konsekuensi dari calon Analis, dituntut untuk menyajikan data yang akurat dari setiap analisis yang dilakukan. Praktikum disini merupakan latihan untuk bekerja, yang juga mempunyai konsekuensi penyajian data, yups anda benar, laporan praktikum. Laporan praktikumpun telah ditentukan format yang sesuai atau berlaku dan biasanya dari tahun ke tahun sama.

Praktikum yang dilakukan dari tahun ke tahun pun tidak lah berbeda bahkan sama. Bisa anda tebak? Yups, Anda benar, hal ini pun menimbulkan konsekuensi adanya laporan-laporan para pendahulu yang terkenal dengan ‘Laporan turunan’. Laporan turunan dari para pendahulu pun bermacam-macam versinya (baca: nilainya). Sehingga mahasiswa yang ingin memperoleh gambaran praktikum dan data yang diperlukan, otomatis memilih yang bagus.

Pengantar menuju degradasi

Alih-alih ingin mengetahui gambaran praktikum yang akan dilakukan dan perkiraan data yang akan diperoleh, banyak dari mahasiswa yang dengan malasnya menyalin begitu saja laporan turunan yang mendapat nilai bagus tanpa peduli mencari referensi yang lain untuk menguatkan dan juga ‘sedikit’ berfikir. Hal ini tentunya juga memalukan, mengingat posisinya sebagai seorang mahasiswa (yang lebih dari sekedar siswa).

Dan kemudian, degradasi pengetahuan dan pemahamanpun terjadi. Laporan yang ditulis dengan rapinya menjadi sebuah ‘kegiatan’ sebagai mahasiswa penulis laporan (baca: kuli tulis, karena hanya menyalin). Jiwa pencari ilmu pun agaknya telah terhempas dari setiap mahasiswa yang melakukan praktik seperti ini. Sebagai kuli tulis, tentunya tidak akan ada pengetahuan baru yang didapat, selain terampil menulis cepat

“Kawan, menulis laporan-laporan secara detail dengan tulisan tangan seperti yang dialami para pendahulu kita, sangat menghabiskan waktu sehingga kita dapat dikatakan menghambur-hamburkan waktu. Mengapa tidak kita fokus saja pada makna praktikum, tentang pembahasannya misalnya, atau tentang korelasi praktikum yang telah kita lakukan dengan teknologi yang sedang berkembang sekarang ini?”

Pembahasan: Intisari sebuah Laporan Praktikum

Banyak yang menganggap remeh dari sub-bab laporan yang satu ini, anda benar, Pembahasan. Kebanyakan dari para mahasiswa sudah cukup puas dengan data praktikum yang diperoleh. Padahal, data praktikum yang diperoleh tanpa adanya pembahasan ‘kenapa dan kenapa’, terkesan tiada guna praktikum yang dilakukan, bak robot yang telah di program untuk bekerja.

Ironi lagi, banyak dari mahasiswa dengan masing-masing data praktikum yang berbeda, “menyamakan persepsinya’ sehingga terlihat pembahasan yang dilakukan mendapat banyak dukungan dan terkesan meyakinkan untuk dinilai. padahal?

Kawan, menyamakan persepsi bukan berarti kita menyamakan seluruh pendapat yang akan kita curahkan lewat pembahasan, kita seharusnya menyamakan persepsi menurut acuan-acuan yang benar dan tentunya menurut data yang kita miliki. Bukan masalah benar atau salah, tetapi masalah ‘kenapa ini begini dan kenapa ini begitu’, OK?

Solusi: Untuk Mahasiswa dan Dosen, tentunya

Omar Khayyam, seorang ulama besar muslim pernah berkata, “Jika aku mengulangi apa yang telah dilakukan para pendahuluku, maka aku termasuk melakukan pekerjaan yang sia-sia”.

Bukan berarti dengan ekstrim saya secara pribadi mengutuk penulisan laporan ini, tetapi alangkah baiknya jika:

Praktikum-praktikum yang telah dilakukan didokumentasikan dalam bentuk video, yang disitu telah lengkap sesuai prosedur kerja yang disisipi juga prinsip praktikum yang dilakukan. Kemudian bagikan kepada mahasiswa untuk dapat dilihat sehingga tergambar jelas apa yang ingin dipraktikkan. Kita hanya perlu menulis data pengamatan dari praktikum yang kita lakukan disertai PEMBAHASAN, tentunya.

“Kawan, mengingkari teknologi dan aplikasinya termasuk kufur ni’mat dan bisa jadi kita menginginkan menjadi manusia yang tertinggal, mau dukung solusi yang kuberikan? Ayooo kita bergegas”