Laporan Praktikum: ‘Pengantar menuju degradasi Pemahaman’

Praktikum di AKA mendapatkan perlakuan yang tidak main-main. Setiap mahasiswa dituntut untuk dapat terampil di laboratorium. Hampir semua mata kuliah kimia terwujudkan dalam sebuah praktik, selain tentunya teori.

Konsekuensi dari calon Analis, dituntut untuk menyajikan data yang akurat dari setiap analisis yang dilakukan. Praktikum disini merupakan latihan untuk bekerja, yang juga mempunyai konsekuensi penyajian data, yups anda benar, laporan praktikum. Laporan praktikumpun telah ditentukan format yang sesuai atau berlaku dan biasanya dari tahun ke tahun sama.

Praktikum yang dilakukan dari tahun ke tahun pun tidak lah berbeda bahkan sama. Bisa anda tebak? Yups, Anda benar, hal ini pun menimbulkan konsekuensi adanya laporan-laporan para pendahulu yang terkenal dengan ‘Laporan turunan’. Laporan turunan dari para pendahulu pun bermacam-macam versinya (baca: nilainya). Sehingga mahasiswa yang ingin memperoleh gambaran praktikum dan data yang diperlukan, otomatis memilih yang bagus.

Pengantar menuju degradasi

Alih-alih ingin mengetahui gambaran praktikum yang akan dilakukan dan perkiraan data yang akan diperoleh, banyak dari mahasiswa yang dengan malasnya menyalin begitu saja laporan turunan yang mendapat nilai bagus tanpa peduli mencari referensi yang lain untuk menguatkan dan juga ‘sedikit’ berfikir. Hal ini tentunya juga memalukan, mengingat posisinya sebagai seorang mahasiswa (yang lebih dari sekedar siswa).

Dan kemudian, degradasi pengetahuan dan pemahamanpun terjadi. Laporan yang ditulis dengan rapinya menjadi sebuah ‘kegiatan’ sebagai mahasiswa penulis laporan (baca: kuli tulis, karena hanya menyalin). Jiwa pencari ilmu pun agaknya telah terhempas dari setiap mahasiswa yang melakukan praktik seperti ini. Sebagai kuli tulis, tentunya tidak akan ada pengetahuan baru yang didapat, selain terampil menulis cepat

“Kawan, menulis laporan-laporan secara detail dengan tulisan tangan seperti yang dialami para pendahulu kita, sangat menghabiskan waktu sehingga kita dapat dikatakan menghambur-hamburkan waktu. Mengapa tidak kita fokus saja pada makna praktikum, tentang pembahasannya misalnya, atau tentang korelasi praktikum yang telah kita lakukan dengan teknologi yang sedang berkembang sekarang ini?”

Pembahasan: Intisari sebuah Laporan Praktikum

Banyak yang menganggap remeh dari sub-bab laporan yang satu ini, anda benar, Pembahasan. Kebanyakan dari para mahasiswa sudah cukup puas dengan data praktikum yang diperoleh. Padahal, data praktikum yang diperoleh tanpa adanya pembahasan ‘kenapa dan kenapa’, terkesan tiada guna praktikum yang dilakukan, bak robot yang telah di program untuk bekerja.

Ironi lagi, banyak dari mahasiswa dengan masing-masing data praktikum yang berbeda, “menyamakan persepsinya’ sehingga terlihat pembahasan yang dilakukan mendapat banyak dukungan dan terkesan meyakinkan untuk dinilai. padahal?

Kawan, menyamakan persepsi bukan berarti kita menyamakan seluruh pendapat yang akan kita curahkan lewat pembahasan, kita seharusnya menyamakan persepsi menurut acuan-acuan yang benar dan tentunya menurut data yang kita miliki. Bukan masalah benar atau salah, tetapi masalah ‘kenapa ini begini dan kenapa ini begitu’, OK?

Solusi: Untuk Mahasiswa dan Dosen, tentunya

Omar Khayyam, seorang ulama besar muslim pernah berkata, “Jika aku mengulangi apa yang telah dilakukan para pendahuluku, maka aku termasuk melakukan pekerjaan yang sia-sia”.

Bukan berarti dengan ekstrim saya secara pribadi mengutuk penulisan laporan ini, tetapi alangkah baiknya jika:

Praktikum-praktikum yang telah dilakukan didokumentasikan dalam bentuk video, yang disitu telah lengkap sesuai prosedur kerja yang disisipi juga prinsip praktikum yang dilakukan. Kemudian bagikan kepada mahasiswa untuk dapat dilihat sehingga tergambar jelas apa yang ingin dipraktikkan. Kita hanya perlu menulis data pengamatan dari praktikum yang kita lakukan disertai PEMBAHASAN, tentunya.

“Kawan, mengingkari teknologi dan aplikasinya termasuk kufur ni’mat dan bisa jadi kita menginginkan menjadi manusia yang tertinggal, mau dukung solusi yang kuberikan? Ayooo kita bergegas”