Dakwah is Bullshit…….

 

Dakwah secara singkat  bermakna mengajak pada manusia kepada kebaikan dan mencegahnya dari yang munkar. Roda kehidupan berjalan dan masa pun mengalami suatu perubahan yang luar biasa, dari lingkungan maupun dari keadaan manusia. Akhlak dan moral menjadi perhatian yang serius dalam pendidikan akhir-akhir ini, disamping intelektualitas dan kecakapan.

Kondisi manusia yang sekarang dengan degradasi akhlak yang begitu luar biasa tentunya membutuhkan suatu petunjuk jalan. Pemuda pun menjadi sasaran utama mengingat keadaan bangsa itu dilihat dari generasi penerusnya, khususnya mahasiswa yang merupakan insan intelektual. Kemudian suatu ketika, muncullah apa yang disebut pengemban dakwah.

Para pengemban dakwah

Persepsi kita selama ini tentang pengemban dakwah ialah ustadz, kiai atau urusan para alumni pesantren.  Nahnu du’at qobla kulli syai’i, kita adalah dai sebelum apapun. Ya, kawan, membaca kata-kata tersebut, ketika kita adalah seorang muslim, iman Islam telah menancap di sanubari kita, konsekuensinya kita semualah, masing-masing dari kita adalah para pengemban dakwah. Bagaimana tidak, Allah tidaklah menurunkan kita ke muka bumi, melainkan sebagai hambaNya dan sebagai khalifah, sebagai para penjaga bumi, pemelihara bumi dari kemaksiatan, dan akhlak-akhlak tercela -disamping tentunya kita memelihara alam-.

Mengetahui kenyataan demikian, kawan, dakwah ini bukan berarti selalu mengajak kalian untuk pengajian tiap waktu, atapun dzikir bersama semalam suntuk, dakwah adalah -sekali lagi- mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari yang munkar. Kita mengajak kawan kita sholat berjama’ah di masjid ketika telah masuk waktu sholat, itu adalah dakwah. Kita mengingatkan kawan kita yang baru saja mencibir orang lain, itu adalah dakwah, dan kita pun saling mengoreksi diri, itu adalah dakwah. Jadi, masihkah kalian anggap diri kalian bukan pengemban dakwah?

“Kawan, konsekuensi dari keislaman kita mengajarkan kita tidak boleh Sholeh sendiri, tetapi kita harus mengajak kawan kita yang lain agar kembali kepada Islam, dan kita semua adalah para pengemban dakwan”

 Dakwah kita di kampus

Setelah mengetahui jati diri sesungguhnya -masing-masing dari kita adalah pengemban dakwah- kita pun tidak boleh memparsialkan arena dakwah kita. Kampus, adalah salah satu arena yang harus dibentuk sedemikian rupa sehingga kampus kita dapat menjadikan diri kita nyaman dan setiap kita memasukinya dan belajar disana dalam kondisi yang tenteram.

Bagaimana kampus seharusnya kita bentuk? kawan, sebagai seorang muslim, dalam keadaan apapun kita harus dapat menciptakan kondisi yang Islami. Sebagai contoh konkrit kehidupan kampus, ialah seringnya beberapa jam mata kuliah yang menerobos waktu sholat. Ini tentunya harus kita benahi. Sholat merupakan pondasi utama dari Ibadah kita, dan esensi dari sholat juga melatih kita ketepatan waktu, sholat adalah ibadah pertama yang akan ditanya oleh Allah, kelak. “jika sholatmu baik, maka baiklah seluruh amal perbuatanmu, dan jika sholatmu buruk, maka buruklah amal perbuatanmu”. Kembali lagi ke persoalan, beberapa jam mata kuliah yang menerobos waktu sholat hendaknya tidak diteruskan dengan alasan “tanggung, sebentar lagi”, tetapi sebaiknya ditunda untuk beberapa saat dan diteruskan kembali ketika kewajiban sholat selesai ditunaikan. Beberapa kegiatan pembelajaran kampus seperti tilawah sebelum mulai pelajaran juga sebaiknya dapat dilakukan. Pembelajaran yang menghubungkan ilmu alam yang sedang dipelajari dengan Kitab Suci -Al-Qur’an yang kita yakini kebenarannya juga perlu dilakukan. Tidak ada sekularitas dalam menuntut ilmu, itu yang perlu ditegakkan kembali.

Semua cita-cita yang akan membawa kampus kepada kampus yang Islami, kampus yang madani tentu tidak akan terwujud dengan perilaku ‘bekerja sendiri’ dari para pengemban dakwahnya, Lantas?

Harus ada kerjasama dan saling memahami.

Yups, dakwah kampus yang kita jalankan haruslah ada kerjasama atau koordinasi yang baik dari para pengemban dakwah. Di samping itu, Saling mengenal, mengetahui memahami, dan bisa mendahulukan kepentingan dakwah juga harus ditumbuh-suburkan. Banyak ‘cidera dakwah’ terjadi bukan karena kekurangan para pengemban dakwah, melainkan belum tumbuhkan sikap saling memahami dan beberapa sifat yang baru dipaparkan.

Saling memahami antar pengemban dakwah akan mewujudkan sebuah empati, atau menurut teman saya ‘compession’, sebuah rasa dalam diri untuk merasakan perasaan orang lain. Yups kawan, inilah ukhuwah Islamiyah, inilah yang harus kita tumbuhkan, bukan hanya sekadar berbagai agenda dakwah yang hanya memenuhi ‘jadwal’ dan ‘menjaga tradisi’.

“Kawan, dakwah ini bukan hanya menjalankan agenda bersama untuk memenuhi jadwal dan menjaga tradisi, lebih dari itu, kita harus saling memahami, kita harus mengerti apa  (kebutuhan) yang diinginkan objek dakwah, maupun pengemban dakwah, Ya, kita harus saling memahami, bukan sekedar saling mengenal. Tanpa itu semua, dakwah yang dijalankan akan terasa hambar dan hanya memenuhi ‘amanah agenda’, Yups anda benar, DAKWAH is BULLSHIT without Understanding”

Jadi, masihkah kalian ragu untuk berdakwah dan menjalin Ukhuwah Islamiyah?