IMAKA: menunggu kudeta

Ikatan Mahasiswa Akademi Kimia Analisis, sebuah wadah organisasi mahasiswa AKA Bogor yang telah lama berdiri, sejak 1959 . Wadah DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa), BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), dan seluruh mahasiswa AKA tentunya. Selama perjalanannya dari masa ke masa, IMAKA  telah menorehkan para pejuangnya, jiwa herois yang telah terbentuk dan akhirnya diturunkan kepada generasi penerusnya. Sama halnya dengan berbagai masalah yang dari tahun ke tahun cenderung sama sehingga dapat disebut masalah klasik yan g ternyata tidak sesederhana seperti yang  dibayangkan. Masalah seputar koordinasi antar pejuang, pudarnya semangat, belum punya pijakan yang kuat, tidak punya visi bersama, dan masalah internal seakan terlihat hal yang perlu ‘dipersengketakkan’

Perlu ada konsolidasi

Konsolidasi secara umum (menurut KBBI, versi offline 1.2) didefinisikan sebagai penguatan atau peneguhan. Berkaitan dengan kampus yang mempunyai beberapa organisasi yang bergerak dalam ranahnya masing-masing, akan mustahil cita-cita/harapan/visi akan terwujud bila saling bekerja sendiri-sendiri. Perlunya koordinasi antar organisasi akan mematangkan visi maupun pergerakannya karena masing-masing dari organisasi akan mendapatkan masukan, kritik membangun, maupun kerjasama yang baik dari organisasi yang berjalan.

Peneguhan dan penguatan visi bersama sangat diperlukan dalam organisasi kampus. Bagaimana tidak, -menyambung apa yang telah diungkapkan di atas- organisasi yang hanya merasa berperan sendiri dalam kampus, melalui proker-prokernya, atau melalui tindakan tertentu untuk eksistensi diri, tidak akan berkembang selain dari sikap yang merasa unggul sendiri (dan meremehkan yang lain), maupun sikap antipasti bekerja sama.

Kudeta IMAKA

Fakta menunjukkan, degradasi pergerakan IMAKA yang kian hari kian berkembang disertai dengan tumbuhnya sikap pragmatis mahasiswa –yang disibukkan dengan beban akademiknya- menandakan bahwa IMAKA terkesan kian renta dalam usianya yang tidak lagi muda.

Fakta ini juga diperkuat dengan disertai labilnya semangat pejuang IMAKA itu sendiri. Apabila kondisi yang demikian berlangsung berlarut-larut, IMAKA seolah menunggu dan mengharapkan kudeta. Matinya pergerakan dan hilangnya kabut perjuangan mahasiswa yang –seharusnya- dibawa oleh pemerintahan mahasiswa merupakan sebuah tanda bahwa IMAKA telah terkudeta. Terkudeta oleh para pejuangnya sendiri, atau nantinya terkudeta oleh waktu yang akan menampakkan IMAKA yang telah renta.

“Kawan, si bijak selalu berkata: Bukan masalah besarnya masalah yang engkau peroleh, tapi bagaimana engkau selalu berupaya menyelesaikan sekuat tenaga, dan engkau ambil pelajaran dari situ.”

Keadaan generasi penerus

Sebagai generasi penerus yang menentukan bangkitnya Indonesia yang dimulai dengan bangkitnya IMAKA, tidaklah dibutuhkan banyaknya keluhan, apalagi kritikan yang tidak menghasilkan solusi maupun tindak nyata. Generasi penerus yang dipercaya untuk meneruskan estafet kepemimpinan tidak boleh luntur jiwa juangnya menghadapi kondisi yang ada dan ‘disediakan’ ini.

Kawan, sebagai pejuang yang telah digariskan, yang terlahir dari keturunan para pejuang sejati, hendaklah tidak perlu gentar. Visi yang besar harus kita punya dan harus kita lihat secara jelas agar kita menikmati perjuangan. Bukankah telah dikatakan kepadamu, “Setiap masa ada masalahnya, dan setiap masalah ada pahlawannya”. Dari kata-kata bijak tersebut dapat diambil pelajaran sekaligus timbul pertanyaan, “Apakah kita mau jadi pahlawan itu? ataukah kita hanya sebagai penonton yang ‘cuci tangan’ setiap ada permasalahan, lari dari masalah, bahkan merasa tidak mampu dan menganggap diri sendiri rendah?”

Konsep yang harus ditanamkan kepada  para pejuang adalah harus ‘berani’ menghadapi tantangan, menyemai kebaikan, dan memberantas kedzoliman.

Degradasi yang terjadi akan semakin menguat apabila dari pejuang penerus cenderung menyalahkan keadaan dan menganggap perjuangan berat. Sama halnya jika kita selalu berkeluh kesah dan tidak mempunyai pandangan ke depan/Visi yang indah. Walaupun sebuah Visi, milikilah kawan, agar kau punya target dan penyuplai semangat. Seperti halnya mimpi, kita seolah tak akan pernah lelah berjuang karena dalam perjuangan yang kita lakukan, kita merasakan suatu kenikmatan dalam penggapaian tujuan.

“Kawan, milikilah visi, dengan visi perjuanganmu akan berarti, tanpa visi, perjuanganmu hanyalah mimpi.”

Indonesia bangkit, melalui mereka (yang berjuang)

Ketika mendengar kebangkitan Indonesia, banyak yang berteriak dan dengan menggebu-gebunya menceramahi khalayak bahwa perjuangan bangsa Indonesia dahulu dalam menegakkan kemerdekaan harus mereka tebus sampai titik darah penghabisan. Banyak juga yang meneriakkan jargon “SEMANGAT 45”, semangat tertinggi yang pernah dimiliki bangsa ini, maupun yang berteriak, “HIDUP MAHASIWA” semangat yang membawa Indonesia menuju Reformasi. Ironinya, banyak dari yang berteriak demikian, hanya mempunyai dan menyelami maknanya sekadar batas tenggorokan. Ketika terjadi permasalahan, SOLUSI hanya sekedar suara-suara tanpa eksekusi.

Pejuang tangguh pernah berujar, “Sesungguhnya dari semua manusia yang terlahir di muka bumi, hanya sedikit yang sadar dan memikirkan keadaan bangsanya, dari yang sedikit itu lebih sedikit lagi yang berjuang mewujudkannya, kemudian lebih sedikit lagi yang bersabar untuk tetap berjuang, dan akhirnya lebih sedikit lagi yang sampai pada cita-cita yang pernah diimpikannya”. Begitu dalam makna dari kata-kata itu. Kau kah, kawan, yang berada dalam barisan yang sedikit itu?

Bahkan Umar Ibn Khattab pun pernah berujar pada pejuangnya, “Seandainya ada 1000 pejuang tangguh, maka kalian harus berlomba-lomba menjadi 1000 pejuang itu,dan seandanya hanya ada 100 pejuang tangguh, maka kalian harus masuk dalam kategori itu, dan seandainya 10 pejuang tangguh  juga harus berjuang menjadi yang 10 itu, dan jika hanya ada 1 Pejuang tangguh, kalian harus berebut untuk menjadi yang satu itu.”

“Kawan, waktu tidak akan pernah menunggu karena ia setiap saat berjalan, bahkan berlari. Tetapi aku melihatnya bahwa ia menanti kita untuk menjadi pejuang itu, siapkan kita?” WUJUDKAN JIWA PEJUANG KITA!! We think that we  can, yes, we can, believe it”