Institut Analisis Indonesia

Akademi Kimia Analisis: Berbenah Diri

Akademi Kimia Analisis (AKA) yang terletak di Bogor, telah 52 tahun berdiri. Di umur yang bisa dikatakan tidak muda lagi untuk sebuah perguruan tinggi, AKA dapat menunjukkan eksistensinya di lingkungan industri. Keunggulan yang lain bisa disurvei dengan banyaknya alumni yang tersebar di lingkungan industri se-Nusantara. Namun, diantara banyak keunggulan yang telah ditaburkan, ada satu sisi yang terlupakan oleh AKA sendiri, masa depan.

Dengan pergerakan sekarang, yang masih saja selalu berusaha menjaga kualitas lulusannya sebagai analis yang memiliki kompeten, yakni terampil bekerja dan cepat beradaptasi dengan lingkungan pekerjaan, agaknya merupakan pergerakan yang klasik dan tidak menyesuakan zaman.

Fakta menunjukkan bahwa era globalisasi yang kian membuat dunia tanpa sekat, AKA terkesan lambat dan kurang peka keadaan dengan dunia yang seperti sekarang ini. Globalisasi menuntut suatu standar bermutu dari suatu produk, artinya peran penjaga kualitas sangatlah vital, dan tidak dapat tidak ada alias -wajib ada-. Analis, sebagai orang yang bertanggung jawab sebagai penjaga kualitas (salah satunya) tidak dapat ditampik keberadaannya. AKA sendiri, salah satu perguruan tinggi yang menghasilkan Analis sebagai produk utamanya, yang juga merupakan perguruan tinggi pertama di Indonesia yang menyelenggarakan pendidikan analisis kimia haruslah menjadi motor dari kebangkitan di era globalisasi ini.

Mengapa bisa begitu?

Dengan dukungan dosen-dosen yang berkompeten di dalamnya, serta peralatan yang cukup memadahi, AKA harus membuktikan eksistensinya sebagai perguruan tinggi pelopor analis. Peran dan tanggungjawab yang besar ini selalu dikritisi dengan sebuah argumen tentang kedudukan AKA sendiri yang masih dalam tingkatan Diploma. Maksudnya, Diploma hanya menyelenggaran pendidikan dan pelatihan untuk para mahasiswa yang nantinya dipersiapkan untuk menjadi teknisi.

Cerminan pola produk yang dihasilkan, sebagai Diploma, AKA yang telah tersaingi oleh perguruan tinggi sekawannya, seperti IPB dan ITS yang nyata-nyata lahir setelah AKA sendiri, haruslah berbenah diri. Berbenah diri untuk masa depan dirinya sendiri dan berkembang menjadi perguruan tinggi sekawannya, IPB dan ITS yang kini menjadi salah satu perguruan tinggi unggul di Indonesia.

Sudah lelah menjadi kepompong

Kalau diibaratkan sebagai kupu-kupu, sebagai proses metamorfosisnya, AKA masih segan berada dalam zona kepompong. Kenyamanan menjadi kepompong ini -jika dibiarkan begitu saja- akan menjadi bom waktu tersendiri bagi AKA sendiri. Bagaimana tidak, sementara perguruan tinggi lain mempersiapkan masa depannya bergelut dalam kancah internasional -menjadi perguruan tinggi riset dunia, salah satu motonya-. AKA masih saja dalam taraf kenyamanannya (baca: masih puas)  menjadi perguruan tinggi yang menghasilkan teknisi suplai industri.

Berbicara tentang industri, yang tentu saja berkaitan tentang kemajuan peradaban, merupakan pola pikir yang sempit jika kita hanya memaknainya dengan hubungan -majikan dan buruh-. Sekali lagi, ini bukan masalah -majikan dan buruh-. Secara kasar, teknisi disepadankan dengan buruh (dalam kaitannya dengan hubungan majikan dan buruh) memang benar. Tetapi kita tidak sedang memperbicangkan itu, kita berbicara tentang AKA dan produknya yang seharusnya bisa menjadi lebih dari itu. Alumni AKA tidaklah selalu orang yang diharuskan menjadi teknisi industri. Sekali lagi saya tegaskan, -kita kurang layak menjadi teknisi-. Tapi apa daya, ganjalan itu muncul lagi. Kita menuntut keterampilan (baca: keterampilan) di Akademi yang menghasilkan Diploma, gelar para teknisi.

Kembali ke bahasan tentang zona nyaman menjadi kepompong, didalam bilik kenyamanan yang mengurungnya, harusnya AKA harus sedikit lebih berani untuk keluar dari kepompongnya. Keberanian lebih sangat dibutuhkan untuk menghadapi dunia luar dengan pesona sekaligus tantangan barunya. Ya, benar, AKA sudah lelah menjadi kepompong. Dan, Ya, benar, sudah saatnya AKA keluar dari kepompongnya, menjadi kupu-kupu.

Kupu-kupu itu: “INSTITUT

Institut, yang merupakan perguruan tinggi penyelenggara pendidikan untuk jenjang yang lebih tinggi dari Diploma. Institut menyelenggarakan pendidikan dalam kelompok disiplin ilmu yang bervariasi.

Berbeda halnya dengan Diploma, Institut tidaklah mempersiapkan produknya menjadi seorang teknisi, melainkan untuk menjadi ahli. Pengkajian materi secara mendalam pun menjadi sebuah pola pendidikan yang dilakukan untuk mewujudkan para ahli yang berkompeten. Mereka, para ahli, memang dipersiapkan untuk melakukan pengkajian ilmu secara mendalam.

Aku melihatnya; Institut Analis Indonesia (sebuah narasi)

Hari itu, ketika aku  bersantai menikmati hari libur sambil melihat pemandangan alam di sekitar rumah -ditemani istri tercinta dan anak tersayang-, terdengar kabar di radio yang saat itu aku nyalakan, mahasiswa Institut Analis Indonesia baru saja memenangkan juara 1 lomba dalam kancah internasional dengan kajian dan penelitian dengan tema: “Physicist-Chemist: Uji kebenaran dan ketepatan komposisi Alam Semesta sewaktu terjadinya Big Bang”. Diberitakan bahwa mahasiswaku, memenangkan perlombaan ini karena penjelasan mengenai komposisi alam semesta sewaktu terjadinya Big Bang -yang menurut Stephen Hawking berupa padatan sebesar kacang, bermassa tak hingga dan bervolume nol- disertai dengan runtutan peristiwanya dalam fungsi waktu, yang dikaji dengan teori elektromagnet, nuklir kuat-lemah, dan gravitasi. Analisis mereka pun semakin mantap mengingat pengkajian mereka tidak hanya dalam bidang fisika saja, melainkan mereka menyajikannya dalam bidang kimia.

Hal ini pun lantas menjadi sorotan media seantero Indonesia. Suatu pencapaian yang luar biasa dari sebuah perguruan tinggi yang baru saja bertransformasi belum sampai setengah abad. Ya, nama Institut Analis Indonesia pun mencuat menjadi perguruan tinggi favorit di Indonesia. Banyak kemudian dari siswa-siswa SMA yang ingin meneruskan kuliahnya di Institut Analis Indonesia.

Setelah dikaji, Institut Analis Indonesia (IAI)  bisa  maju dikarenakan Institut ini mempunyai fakultas dan disiplin ilmu yang berimbang. Diantaranya adalah Analisis Kimia, Analisis Fisika, Analisis Ekonomi, Analisis Seni, Analisis Budaya, Analisis Moral dan Spiritual, Analisis Teknologi masa depan, Analisis Pertahanan. Kolaborasi yang luar biasa yang digabungkan oleh IAI menjadi tatanan perguruan tinggi yang berimbang dari segi pembentukan produknya, baik sisi Spiritual, Intelektual sains, sosial, ekonomi dan seni budaya, teknologi, serta Pertahanan keamanan.

Bangga, tentu aku rasakan sebagai seorang pendidik. Spiritualitas dan antusiasme belajar merupakan aura yang tertanam kuat di kampus IAI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s