Satu Minggu Efektif

Kuliah oh kuliah, aktivitas yang senantiasa menjadi rutinitas kita. Dari hari senin sampai jum’at, kegiatan bernama kuliah ini tak pernah alpa dari agenda kita.  Setiap hari selama kuliah selalu diwarnai dengan materi yang berbeda-beda. Dari rutinitas yang kita jalani ini, seolah kegiatan ‘masuk kelas dan mendengarkan materi dari dosen’ ini menjadi sebuah kewajiban yang wajib dilaksanakan (tentang wajibnya masuk kelas…, lihat catatan “Dosa mahasiswa”).

Dalam satu semester perkuliahan, biasanya terbagi dalam delapan minggu yang dijabarkan menjadi enam minggu sampai tujuh minggu perkuliahan masuk kelas ‘tatap muka’ dan satu minggu tenang dilanjutkan dengan ujian, Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS). Seluruh kegiatan dari enam sampai tujuh minggu kuliah ‘tatap muka’  terdiri dari penjabaran materi  awal sampai akhir yang akhirnya pada minggu-minggu terakhir sebelum ujian disebut kisi-kisi materi.

Perkuliahan tatap muka 

Dengan adanya perkuliahan tatap muka ini, diharapkan antara mahasiswa dan dosen dapat menjalin tukar-menukar informasi efektif. Yang biasa terjadi -dan menjadi acuan- adalah dosen memberikan secara penuh -atau sebagian saja- inti dari materi perkuliahan yang dibahas. Selanjutnya sesi diskusi berlangsung, dan pertanyaan demi pertanyaan pun terlontar dari beberapa mahasiswa -yang haus akan pengetahuan-, ataupun tidak ada pertanyaan sama sekali sehingga dosen mengakhiri kuliah dengan ucapan pamungkas, “baik, kalau tidak ada pertanyaan, maka kuliah pada hari ini kita akhiri, wassalamu’alaikum wr. wb.”

Minggu demi minggu berjalan, diiringi dengan perkembangan materi perkuliahan yang kian rumit, menurut sebagian besar mahasiswa. Dalam perjalanannya, banyak juga yang sedikit -atau bahkan  banyak- putus asa karena mengganggap dirinya tidak mampu melanjutkan materi kuliah yang kian melesat dengan cepatnya. Masalah ini pun kian merebak, dari mata kuliah satu ke  mata kuliah lainnya sehingga terbesit ide kreatif mahasiswa, -mengandalkan kawanyang faham untuk mengajari-.

Kawan, buat aku mengerti seperti engkau mengerti

“Tadi caranya gimana ya?” “ia..ia…gue juga ga ngerti ni…!” “susah banget ni materi, ajarin gue dong!” Begitulah kiranya sepenggal dialog yang terjadi antara mahasiswa-mahasiswa yang belum faham materi yang telah disampaikan dosen dengan kawannya yang -dianggap- faham.

Dari kejadian yang baru saja dipaparkan, muncul pertanyaan unik, ” kalau akhirnya materi-materi yang disampaikan dosen tidak kita fahami, dan kita cenderung faham ketika yang mengajar adalah kawan kita, lantas apa peran dosen di kelas yang dengan powerful menjelaskan kepada kita?”

Terjawab oleh hati nurani kalian sendiri, kuliah yang selama ini kita lakukan hanya bertujuan mencegah bangku kosong dan mencegah absen bolong. Ya, benar kawan, tanpa kalian memberitahukan secara langsung, itulah kenyataannya. Dengan hadirnya kita di kelas, mungkin, kita berusaha menghormati dosen dan memberikan sumbangan tertawa ketika dosen kita sedang melawak. ha…ha..

“Kawan, dengan hadirnya diri kita di kelas dengan kekosongan jiwa, memang betul kita telah menghargai dosen kita, tetapi kita melalaikan satu hal, kita tidak menghargai diri kita sendiri.”

Satu minggu efektif

Kejadian di atas dapat penulis ambil kesimpulan bahwa kuliah tatap muka yang selama berminggu-minggu dijalani dinyatakan kurang efektif (jika keadannya demikian, seperti apa yang telah dipaparkan). Jika kuliah tatap muka berakhir, tibalah saat yang ditunggu-tunggu, Ujian. Pada saat-saat seperti ini, timbul gejolak yang sangat dinamis dari para mahasiswa. Bagaimana tidak, belum dikuasainya materi sementara ujian -yang dapat didefinisikan sebagai  ajang pembuktian pemahaman melalui nilai yang nantinya tercetak dalam sebuah transkrip- haruslah menuntut para mahasiswa untuk mengerti materi (walaupun secara paksa).

Jurus pamungkas pun dipakai sebagai satu-satunya jurus ampuh untuk menannggulangi ini semua. Jurus itu dapat penulis sebut, Satu minggu efektif belajar. Dengan pemberdayaaan kawan yang dianggap telah menguasai materi, minggu-

Yang harus diperbaiki

Absah saja jika kita menggunakan metode satu minggu efektif, tetapi kekurangan dari metode ini, kita terlalu mengandalkan kawan kita sehingga kita mencerna mentah-mentah materi yang diberikannya. Jika hal ini berlangsung secara terus-menerus, kita hanya akan membuang waktu kita dalam pertemuan tatap muka. Dan akhirnya, validitas ilmu kita kurang kuat (namanya juga dari kawan sendiri yang sama-sama baru belajar).

“Kawan, mari kita buat bumi pertiwi ini bangga pada kita. Bangga bahwa generasi penerusnya adalah orang-orang yang haus akan ilmu dan menghormati para gurunya”

Sukses untuk kita semua. Karena kita adalah generasi penerus bangsa. Karena kita peduli akan bangsa ini, dan karena kita cinta Ilmu pengetahuan, cinta Indonesia.

Penulis: Arynazzakka

(mahasiswa AKA Bogor)