Dilema pendidikan vokasi Indonesia

Indonesia memang unik. Bangsa yang pernah memimpin peradaban lewat Sriwijaya dan Majapahitnya ini selalu mempesona dari berbagai aspek. Dimulai dari aspek ekonomi terkait  dengan tingkat kemakmuran rakyatnya yang berbanding terbalik dengan sumberdaya yang dimiliki sampai pada system pendidikan yang sampai sekarang masih menyisakan PR besar untuk generasi penerus bangsa, dan salah satunya adalah pendidikan vokasi. Apa itu?

Jalur pendidikan vokasi dan sarjana

Sarjana, siapa yang tak kenal dengan gelar yang satu ini. Masyarakat Indonesia secara umum berpendapat bahwa jalur pendidikan tinggi bergengsi setelah pedidikan menengah adalah sarjana.

Perbedaan yang mencolok dalam dua bidang ini yaitu seorang sarjana yang lebih dituntut untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan seorang ahli madya yang dituntut untuk terampil dalam aplikasinya (baik dalam kehidupan sehari-hari atau industri). Jenjang keilmuan (sarjana) lebih menggariskan siswa SMA secara idealnya sedangkan vokasi lebih ke siswa SMK.

Pada kenyataannya sangat jauh dari ufuk. Jenjang pendidikan yang sesuai jalurnya sangat jarang. Banyak dari siswa SMK yang langsung terjun dalam jenjang sarjana sementara ada juga siswa SMA yang loncat jalur ke dalam jenjang vokasi.

Kompetisi: sebuah pembelajaran

Sejak SD, tentulah untuk meningkatkan dan mengetahui potensi dari para putra bangsa, pemerintah melalui dinas pendidikan menyelenggarakan berbagai kompetisi/perlombaan dalam banyak bidang, yakni yang berkaitan dengan agama, keilmuan, seni, olahraga, serta ketrampilan atau aplikasi.

Sampai pada jenjang SMA, kompetisi ini tidak menemukan masalah berarti (dalam hal keikutsertaan peserta), beranjak pada pendidikan tinggi, agaknya dari segi keikutsertaan mengalami masalah yang tidak bisa dikatakan sepele.

Tengok saja mengenai bidang ilmiah/ pembuatan karya cipta terapan/ aplikasinya –tanpa bermaksud menyudutkan berbagai pihak- pendidikan vokasi terutama mengalami permasalah internal dan juga eksternal. Dari segi internal agaknya menjadi kendala utama adalah soal pola pikir yang dibangun. Pola pikir itu adalah bahwa pendidikan vokasi hanya bertujuan untuk  lulus cepat dan kerja. Belajar 1, 2, atau tiga tahun (kursus), sudah itu kerja, makmur, nikah, selesai. Dan ternyata pola pikir itu begitu menancap kuat di benak mahasiswa vokasi, orang tua para siswa, dan masyarakat awam, bahkan seantero dunia

Akibatnya, menjadi sebuah kebiasaan yang akhirnya berujung pada tradisi bahwa kuliah adalah bagaimana mendapat nilai bagus, lulus cepat, dan langsung kerja. Sungguh naif mengingat Tri Dharma Perguruan tinggi yakni Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian yang selalu digembar-gemborkan ternyata dalam praktik nyatanya, hal yang terjadi adalah bertentangan.

Doktrin sesat dan menyesatkan

“kalau nanti kalian sudah bekerja di perusahaan A, maka kalian harus bekerja dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab”, begitulah kiranya pesan dosen dengan berbagai variasi pengucapan kepada mahasiswa vokasi didikannya. Dinilai dari segi pengaruh, kata-kata tersebut dapat dikategorikan pesimistis karena doktrin yang dibangun adalah doktrin pekerja. Entah sudah berapa banyak mahasiswa Indonesia yang tersihir oleh doktrin tersebut sehingga begitu kerasnya belajar sampai lupa perannya secara utuh.

Doktrin pesimistis, bangsa pekerja, selalu terhembus dalam benak mahasiswa vokasi. Melihat dari segi tujuan dibentuknya pendidikan ini yang bertujuan untuk menyuplay kebutuhan industri, dalam satu pihak memang tidak dapat disalahkan. Namun, berhenti pada tujuan suplay kebutuhan industri pada pendidikan vokasi tanpa mau berfikir lebih adalah pemikiran yang sempit dan menyesatkan. Bagaimana tidak, seandainya terus menerus bangsa ini hanya memikirkan bagaimana agar industri di indonesia bergerak (padahal sebagian besar industri besar indonesia adalah milik asing), maka selama itu pula bangsa kita selalu menjadi budak asing.

Membangun mindset positif, selain mahasiswa yang harus menyadarkan dirinya, peran pengajar dalam hal ini dosen juga sangat besar. Dosen, sebagai pengajar sehari-hari seharusnya memberi pengarahan dan motivasi untuk lebih –tidak sekadar menjadi pekerja. Dengan keahlian yang lebih ditekankan pada pendidikan vokasi, maka keyakinan untuk lebih dari seorang pekerja, menjadi wirausaha dan motivasi mandiri seharusnya lebih ditekankan, bukannya hanya sekadar pengantar akhir dari sebuah kuliah atau malah hanya selingan pengisi canda tawa.

…..pengarahan dan motivasi untuk lebih –tidak sekadar menjadi pekerja

Vokasi yang sebenarnya

alhamdulillah, Kementrian Pendidikan baru-baru ini telah ada kesepakatan dengan kementrian lain yang juga menyelenggarakan pendidikan tinggi. Ini merupakan momentum perubahan yang perlu diakomodir. Dalam artian, jangan sampai momentum ini hanya atas dasar kepentingan tertentu.  Keterampilan dan keahlian yang berujung pada profesi yang telah menjadi ciri khas pendidikan vokasi diharapkan menemukan ruh pembelajarannya. Pembelajaran yang bukan hanya orientasi pengejar nilai, pembelajaran yang bukan juga hanya orientasi kerja. Namun, ruh vokasi adalah pengkaryaan, dan kemandirian. Semoga pendidikan vokasi indonesia menemukan ruh pembelajarannya.

vokasi: ruh pengkaryaan, kemandirian

Oleh:

Arynazzakka

Analis, mahasiswa AKA, motivator Inspirasi Sukses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s