gerakan mahasiswa sebagai solusi

Press Release Sumpah Pemuda

Generasi baru, gerakan mahasiswa sebagai solusi

Sumpah Pemuda:

Pertama
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kedua
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Refleksi Sumpah Pemuda yang telah bergema 84 tahun yang lalu, tepatnya pada 28 Oktober 1928. Ada makna agung di balik Sumpah Pemuda. Salah satu diantaranya adalah penyatuan perjuangan dari beberapa perkumpulan Jong/ pemuda dari berbagai daerah Nusantara yang sebelumnya berdasarkan asas perjuangan kedaerahan dan kesukuan. Sebuah rasa memiliki ke-Indonesiaan, tanah air perjuangan. Sebuah visi pembangunan dan merasa senasib sepenanggungan. Hidup untuk memperoleh kemakmuran bersama.

Sungguh, merupakan perjuangan sejarah yang dramatis dari pemuda Indonesia dahulu. Pemuda yang memiliki potensi semangat, ikhlas, pengorbanan tiada tara. Pemuda yang kuat ruh keimanannya dan menjadikannya sebagai landasan perjuangan –bahwa mereka semua tercipta untuk memimpin urusan mahluk di bumi. Pemuda-pemuda visioner yang melabuhkan cintanya pada kesejahteraan bangsanya, pada kemandirian bangsanya.

Semangat perjuangan pemuda Indonesia dahulu haruslah selalu mengalir pada semangat perjuangan pemuda Indonesia masa kini. Terlebih kepada para mahasiswa.

Kepada para mahasiswa

Yang merindukan kejayaan

Kepada rakyat yang kebingungan

Di persimpangan jalan

Kepada pewaris peradaban

Yang telah menggoreskan

Sebuah catatan kebanggaan

Di lembar sejarah manusia

Wahai kalian yang rindu kemenangan

Wahai kalian yang turun ke jalan

Demi mempersembahkan jiwa dan raga

Untuk negeri tercinta

Pemuda, sang pewaris peradaban. Apa yang harus kita lakukan?

Kondisi mahasiswa kini

Masa reformasi 1998, sebuah masa yang membuktikan kekuatan mahasiswa bahwa merekalah pengatur haluan bangsa. Masa pasca reformasi merupakan masa tantangan bagi para pemuda. Jika seorang bijak pernah berkata, “keadaan bangsa itu dilihat dari keadaan pemudanya”. Tentunya, ada satu pertanyaan besar untuk kita semua (pemuda, terutama mahasiswa), “bagaimana kondisi kita sekarang?”

Stagnasi gerakan yang seringkali dirasakan, ataupun berubahnya orientasi pergerakan mahasiswa adalah tantangan harus dipecahkan oleh mahasiswa kini untuk memecah kebuntuan pasca reformasi. Banyak ahli yang memandang bahwa era pasca reformasi merupakan era kebingungan. Maka, tak pelak lagi, mahasiwa harus menjawabnya.

Gerakan mahasiswa: solusi final pengawalan reformasi yang sesungguhnya

Kondisi mahasiswa sekarang dapat dibilang pada era ‘kegalauan’. Mahasiswa beserta gerakannya terpecah. Ketidakpercayaan antar gerakan mahasiswa yang disusul dengan sikap ‘merasa berjasa dalam sejarah gerakan mahasiswa’.Di lain hal, gerakan moral dalam bentuk aksi turun ke jalan masih merupakan sarana efektif untuk menyampaikan suatu aspirasi rakyat dan sebagai ‘pengingat’ pemerintah yang sedang berkuasa, namun di sisi yang lain tak jarang juga gerakan moral dalam bentuk aksi turun ke jalan ini mendapat cibiran oleh berbagai pihak dan beberapa mahasiswa lainnya karena dianggap tidak solutif dan hanya bisa bicara. Akibatnya, dalam gerakan moral selain aksi turun ke jalan seperti gerakan sosial, pencerdasan masyarakat, kewirausahaan, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mahasiswa sepakat, namun enggan untuk turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi dan mengawal pemerintahan.

Perlu kita renungi bersama, permasalahan bangsa yang kompleks tentunya juga memerlukan solusi yang tidak sederhana. Gerakan mahasiswa tidak boleh ditafsirkan secara sempit, hanya turun ke jalan saja misalnya. Atau aksi sosial saja, bahkan hanya gerakan pengembangan ilmu pengetahuan. Gerakan mahasiswa merupakan perpanduan seluruh kompetensi mahasiswa yang peduli akan kemashlahatan bangsanya tanpa memparsialkan salah satu dari bentuk gerakan yang ada. Sinergitas dan pemahaman penuh terhadap gerakan mahasiswa sebagai sebuah solusi final pengawalan reformasi yang sesungguhnya sangat diperlukan, agar kompleksitas permasalahan bangsa dapat dipecahkan, oleh generasi-generasi muda yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat dan martabat bangsa di mata dunia.

Bagaimanapun, kemerdekaan Indonesia terwujud akibat andil yang besar dari para pemuda Indonesia. Kau kah itu?

Tak perlu saling menunjuk, pastikanlah kita turut dalam perjuangan yang panjang ini. Karena seorang dinilai bodoh bukan karena kebodohannya, tapi lebih kepada sikap masa bodohnya.

Bogor, 28 Oktober 2012

Salam Cinta dan Perjuangan

Hidup Mahasiswa!

Presiden mahasiswa IMAKA 2012-2013

Arynazzakka

Iklan

Hubungan mahasiswa-direktorat AKA

Seringkali menjadi suatu permasalahan dalam bertindak, yakni hubungan seperti apa yang seharusnya dibangun antara mahasiswa (dalam hal ini lembaga mahasiswa) dengan direktorat. Dalam sejarahnya, hubungan ini sangat variatif dan cenderung mengikuti sikap dari pimpinan lembaga kemahasiswaan menghadapi variasi kepemimpinan direktorat.

Hubungan yang dijalin bisa digambarkan dengan hubungan ‘perang-damai’. Dalam artian, kadangkala mahasiswa menekan dan di lain hal mahasiswa mendukung. Meskipun demikian, hubungan ini seringkali dapat berupa ‘perang’ berkepanjangan ketika cara pandang mahasiswa terhadap kebijakan yang tidak pro mahasiswa. Juga, hubungan ini tak jarang ‘damai’ karena kemampuan mahasiswa menjalin hubungan ini dan juga kondisi dari pihak direktorat yang dinilai tidak ‘bermasalah’.

Namun, bagaimanapun hubungan ‘perang-damai’ ini telah lama terjalin, nampaknya juga belum muncul suatu kesadaran akan hubungan sinergis yang tidak saling mencurigai, dan sikap mau dikritik untuk kinerja lebih baik. Sampai saat ini pun, mahasiswa dan pihak direktorat masih saja dengan pandangannya sendiri. Pihak mahasiswa yang menginginkan ormawa (baca: Organisasi Mahasiswa) tidak dicampuri sedikitpun oleh pihak direktorat dan menuntut juga keterbukaan direktorat terkait hal-hal yang berkaitan dengan ormawa, sementara pihak direktorat memandang dirinya sebagai pihak yang berkuasa penuh karena merupakan pemegang kebijakan institusi dimana mahasiswa ada di dalamnya. Akhirnya, tak jarang pandangan hubungan direktorat-mahasiswa lebih kepada pengusaha dan buruh, mengutip pendapat Muhammad Syaiful Anam, Presiden KM ITB 2005-2006 (dalam artikel Ridwansyah Yusuf Achmad Presiden KM ITB 2009-2010, hubungan mahasiswa dengan rektorat). Pihak direktorat dalam hal ini berperan sebagai pengusaha dan mahasiswa sebagai buruhnya, dalam artian buruh harus mentaati semua peraturan dari pengusaha tempat ia bekerja. Jika buruh dinilai kerjanya buruk, maka sah-sah saja pengusaha menghukum sesuai kebijakannya.

…nampaknya juga belum muncul suatu kesadaran akan hubungan sinergis yang tidak saling mencurigai, dan sikap mau dikritik untuk kinerja lebih baik…

Disini, perlu ditegaskan bahwasannya mahasiswa dalam perannya dalam sistem akademis dan secara kelembagaan mahasiswa dengan pihak direktorat jika diumpamakan merupakan dua buah bola yang saling beririsan. Irisan ini merupakan irisan kepentingan dimana memang ada hal-hal yang terkait kebijakan direktorat yang tidak bisa diganggu gugat oleh mahasiswa, pun sama dengan ada hal-hal yang terkait kebijakan lembaga kemahasiswaan (dalam hal ini ormawa) yang juga tidak bisa diganggu gugat oleh pihak direktorat. Namun selain dua hal tersebut, ada sebuah irisan yang mempertemukan dua buah kepentingan antara pihak mahasiswa dan direktorat yang dapat dikompromikan.

 ……. Irisan ini merupakan irisan kepentingan…..

1.       Kebijakan direktorat yang tidak dapat diganggu gugat oleh mahasiswa

Ini memiliki arti bahwasannya mahasiswa memiliki hak untuk menyuarakan pendapat –pendapat perspektif mahasiswa, sementara keputusan akhir tetap berada pada pimpinan direktorat. Jadi, secara kekuatan dalam mempengaruhi keputusan, mahasiswa disini hanya menyalurkan pendapat. Contohnya adalah perubahan kurikulum akademik.

2.       Kebijakan ormawa yang tidak dapat diganggu gugat oleh direktorat

Sama dengan kondisi di atas, setiap kebijakan mahasiwa dalam menentukan sikap dan arah organisasinya sama sekali bebas dari tekanan direktorat. Direktorat diperkenankan untuk memberikan masukan, namun hasil akhir tetap pada mahasiswa melalui pimpinan kelembagaannya atau musyawarah antar mahasiswa. Contohnya dalam kebijakan menjalin hubungan dengan organisasi mahasiswa lain, organisasi daerah ataupun lainnya yang menyangkut sistem internal organisasi mahasiswa.

3.       Kepentingan mahasiswa dan direktorat yang dapat dikompromikan

Kepentingan mahasiswa dan direktorat dalam hal ini menyangkut urgensinya pada suatu hal yang sama namun ada dua hal berupa kepentingan yang diusahakan tercapai. Disini perlunya komunikasi yang intens yang disertai kelegowoan saling memahami dan upaya agar dua kepentingan ini sama-sama dapat tercapai tanpa mengesampingkan kepentingan yang lain. Tentunya kepentingan ini bukan suatu kong-kalikong berstatus negatif. Contoh dalam hal ini adalah pengenalan kampus. Dalam hal ini ormawa berkepentingan dalam kaderisasi mahasiswa dan di lain pihak, direktorat mengupayakan pembentukan mahasiswa yang sesuai dengan dasar kompetensi awal yang diharapkan (di lain pihak, juga direktorat menghindari perpeloncoan yang biasa terjadi pada pengenalan kampus).

 

Taat bukan berarti tidak menentang

Cinta bukan berarti tanpa kritik dan cela

Diam bukan berarti tak bertindak, kami tegaskan bahwa:

Yang kami benci adalah ketidakjelasan

Yang kami musuhi adalah penindasan

Yang kami lakukan hanya mengingatkan

Sedikitpun kami tidak berharap pujian

Hadiah dan sanjungan, apalagi

Sekedar ucapan terimakasih

 

Oleh: Arynazzakka, Presiden Mahasiswa AKA 2012-2013

 

Inilah medan yang sebenarnya: kritik moral untuk alumni AKA

Wisuda, sebuah perayaan luar biasa tentunya bagi para mahasiswa yang akhirnya menanggalkan status mahasiswanya, setelah menempuh pendidikan tinggi dengan segala dinamika yang ada dan merupakan transformasi kehidupan dari kehidupan yang homogen menjadi heterogen.

Tepat 24 Oktober 2012, AKA mengadakan wisuda bagi mahasiswanya angkatan ke-50. Seperti tahun-tahun sebelumnya, rona bahagia, perasaan yang membuncah dan lega, dan banyak perasaan yang tak terungkap dalam sebuah kata hadir. Kebanggaanpun tersemat tatkala mengikuti sidang terbuka wisuda yang akhirnya dapat mengakhiri status mahasiswanya. Dikabarkan bahwasannya untuk AKA 50 ini telah menghasilkan lulusan yang 65% telah bekerja, sementara sisanya masih dalam status tunggu kerja. Adapula dari lulusan yang telah terdaftar di Perguruan tinggi lagi untuk meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Tahun inipun, wisudawan regular dan TPL digabung dalam satu prosesi. Ada juga semangat kebersamaan dapat dirasa. Beranjak dari semua itu, ada hal yang selama mengikuti prosesi sidang ini perlu direnungkan baik-baik:

1. Tentang TPL: kontribusi, dan masa depan Indonesia

TPL yang kita kenal dengan Tenaga Penyuluh Lapangan merupakan Program Beasiswa yang diberikan oleh Kementrian Perindustrian Indonesia melalui DirJen IKMnya untuk mencetak para wirausaha dan membantu mewujudkan cita-cita pendidikan tinggi bagi kader bangsa dari daerah yang secara ekonomi tidak mampu. Pun saya merinding ketika mendengar mars TPL dinyanyikan. Bagaimana tidak, dalam baitnya, ada dua poin penting tugas lulusan TPL yang harus diemban, yakni mewujudkan IKM mandiri dan menjadi wirausaha untuk turut serta memberantas kemiskinan.

IKM mandiri, tentunya bukan hal yang main-main tugas ini diberikan kepada TPL yang selama tiga tahun dibiayai pendidikannya oleh Pemerintah (Kemenprin melalui dirjen IKM). Mewujudkan Industri Kecil Menengah yang mandiri, sungguh mulia dan luar biasa jika hal itu bisa tercipta –melalui kontribusi TPL. Melihat kondisi IKM di negeri ini yang semakin lama dirasa semakin tergerus, apalagi dalam era globalisasi ini (China dengan produknya yang membuat banyak usaha kecil gulung tikar) belum lagi ditambah dengan pasar bebas yang akan memicu dan memacu persaingan tanpa batas industri dunia. Siapkah lulusan TPL dengan itu semua?

Yang kedua adalah wirausaha. Banyak yang mengatakan bahwa jika ingin menjadi wirausaha, maka kita harus langsung memulainya dengan terjun ke lapangan. Mencoba, mencoba, dan terus mencoba. Bahkan Bob Sadino, seorang dedengkot wirausahawan sukses membenarkannya. Namun, wirausaha yang dicetak melalui program TPL memang beda. Dalam artian para lulusan TPL sebelumnya harus menempuh pendidikan dahulu selama tiga tahun. Untuk di AKA, TPL diharuskan mengikuti perkuliahan yang kebanyakan bermuatan kimia. Sekali lagi, wirausaha versi TPL memang beda. Setelah luluspun, para lulusan TPL wajib mengabdi selama dua tahun guna menambah kemampuannya sambil mengaplikasikan secara langsung ilmu yang telah di dapat, baru setelah mengabdi dua tahun, para lulusan ini diberikan otoritas untuk menentukan nasibnya sendiri meskipun ‘diharapkan’ menjadi wirausahawan. Bertitik tolak pada tujuannya untuk mencetak wirausaha, tentunya dalam pelaksanaan dan evaluasinya, lulusan TPL harus benar-benar diawasi. Dalam artian jika kita bedah sedikit antara orientasi lulusan TPL dan orientasi yang diharapkan dirjen IKM, dapat terjadi hal yang blur diantara keduanya.

Kita cermati kembali, dirjen IKM menekankan bahwa lulusan ‘diharapkan’ menjadi wirausaha guna mewujudkan IKM yang mandiri dan juga wirausahawan. Ada pertanyaan yang akan keluar dari statemen tersebut, yakni “lulusan TPL akan menjadi wirausahawan  seperti apa?” “apa parameter peran TPL mewujudkan IKM yang madiri?” dan akan masih banyak tanda tanya yang muncul dan harus dijawab.

Lulusan TPL akan menjadi wirausahawan seperti apa?……

2. IKA-AKAB menyambut: mempertanyakan peran riil

Ketika  masih mahasiswa, organisasi internal mahasiswa bernama IMAKA yang terdiri dari dua lembaga (BEM-DPM) dan beberapa UKM dapat diikuti, bukan berarti ketika lulus dan menjadi alumni AKA tidak dapat berorganisasi. IKA-AKAB, merupakan organisasi alumni AKA. Dan kabar baik dari IKA-AKAB, telah dicanangkan sebuah Himpunan Profesi Analis yang akan menaungi keprofesian Analis bernama HIMPAKI.

Satu pertanyaan tersemat, akankah IKA-AKAB hanya berkontribusi dalam bidang keprofesian saja?

Melihat kondisi alumni, orientasi ketika baru lulus –alamiah, adalah kerja. Ya, adalah hal yang wajar dan manusiawi dari seorang yang baru saja lulus ingin mengabdikan ilmunya, mengembangkan (baca: bekerja) industri, atau paling tidak memiliki penghasilan sendiri setelah sekian lama bergantung pada orang tua. Bukan menyoalkan apa kontribusi alumni yang baru saja lulus tentang IKA-AKAB, namun adalah lebih kepada adakah sebuah gagasan untuk mendaya-fungsikan organisasi tersebut sehingga tidak hanya sekadar terdaftar sebagai anggota.

IKA-AKAB sebagai organisasi alumni yang telah lama dirintis dengan kepengurusan yang lebih panjang dari organisasi mahasiswa (Ormawa) AKA (IMAKA) seharusnya lebih tangguh dan bisa memberikan manfaat nyata secara lebih. Bukan hanya finansial. Mencontoh dari beberapa kampus besar, ikatan alumni merupakan organisasi yang vital untuk mendorong perkembangan Ormawa dan AKA sendiri. Bagaimana tidak, kecintaan pada almamater tentunya akan mendorong suatu rasa, daya, dan kerja yang menyatu untuk memberikan yang terbaik dengan sinergitas dan program nyata.  Sekali lagi, memang sangatlah disayangkan, IKA-AKAB belum bisa demikian. Bukan karena sistem organisasi yang buruk ataupun SDM yang tidak berkompeten, namun lebih kepada kurangnya gagasan (semacam blueprint) dari IKA-AKAB sendiri (atau bahkan peduli!).

…Bukan karena sistem organisasi yang buruk ataupun SDM yang tidak berkompeten, namun lebih kepada kurangnya gagasan (semacam blueprint)….

Ini sangat penting untuk para alumni –semoga idealisme masih melekat- untuk berkontribusi di bidang ini. Bukannya menuntut untuk bersegera detik ini juga untuk berkecimpung dan meninggalkan pekerjaan, mimpi pribadi, ataupun hal lainnya.

Pertemuan antara tiga belah pihak, IKA-AKAB –pimpinan direktorat AKA – pimpinan lembaga mahasiswa perlu dilaksanakan sehingga menjadi mahasiswa AKA bukan hanya sekedar numpang lewat, dan numpang terdaftar diri dalama organisasi mahasiswa, apalagi organisasi alumni.

Beranjak dari dua statement besar di atas, bukan bermaksud mengkerdilkan para alumni (yang baru lulus), namun ini semua adalah ungkapan cinta dan ajakan untuk sama-sama membesarkan organisasi yang telah membesarkan kita. Untuk AKA, IMAKA, dan IKA-AKAB. Kau ingin berkontribusi?

Hidup Mahasiswa ! (Untuk Tuhan, Bangsa Indonesia, dan Almamater tercinta)

Arynazzakka, mahasiswa AKA 2010

idealisme yang tergadai

 

Sebuah pengakuan

Sifat dasar manusia adalah ingin diperhatikan, ingin dihormati, dan salah satunya lagi adalah ingin diakui. Baik itu secara kekhasan yang dimiliki, kemampuan, ataupun prestasi.

Memang benar, yang namanya pengakuan merupakan salah satu wujud eksistensi yang salah satunya adalah untuk diteladani kebenarannya dan kebaikannya. Maka, ini pun dari dahulu manusia mengorganisasi dirinya dalam bentuk masyarakat, godaan akan perlunya pengakuan dari orang lain nyata adanya

sebuah Idealisme: gelora muda?

Idealisme, sebuah konsep ideal yang dicitakan dan menjadi sebuah orientasi dari kaum muda. Memang, kaum muda adalah mereka yang secara nyata dalam tindakan mengupayakan sikapnya yang bersih demi terwujudnya keadilan.

beberapa kali jika kita belajar dari sejarah, tak jarang dalam pihaknya sebagai pemuda penggerak perubahan yang anti kemapanan, idealisme adalah cita mutlak yang harus dicapai. Tapi sayang, seringkali, Idealisme ini hanya bertempat pada jiwa-jiwa yang muda.

Idealisme yang tergadai

Sistem yang berdosa akan melahirkan para pendosa yang masuk ke dalamnya, mulai dari merasa risih ketika di luar sampai pada menikmati ketika sudah sampai ke dalam. Begitu kiranya hal yang dapat menggambarkan sebuah sistem kotor dan penuh kepalsuan.

jika dikorelasikan dengan idealismenya pemuda, tentu akan sangat bertentangan. sementara sistem kotor tersebut ingin selalu berkubang dengan kepalsuaanya -tentunya dengan bantuan kroni-kroninya dan idealisme tetap dengan orientasi ingin membersihkan kotoran tersebuh.

Sayang, apalah daya, seringkali kita jumpai seorang yang telah memasuki sistem kotor dan berdosa itu akan mengikuti sistem tersebut dan menjadi pendosa baru -meskipun nurani menolak. Ya, nurani menolak, tapi raga tak bertindak melawan kelaliman.

Arynazzakka, analis Pergerakan Mahasiswa

Hidup Mahasiswa!!

Ex-Kim, technopreneur AKA

Enterpreneur, atau wirausaha memang kian populer di telinga kita. Bukan saja kata enterpreneur dikenal oleh kalangan elit atau pebisnis, namun juga marak dalam pembicaraan mahasiswa. Umumnya enterpreneur ini, seseorang dalam bahasa sederhanya menjual atau memasarkan sesuatu untuk mengambil keuntungan. Namun dunia kian maju, dan enterpreneur ini berkembang, mulai ada istilah writepreneur, yakni orang yang  menjadikan tulisan sebagai lahan memperoleh penghasilan, dan kini kita juga mengenal sebuah varian enterpreneur yang tidak asing lagi, technopreneur.

Apa sih technopreneur itu?

Technopreneur, gabungan dua kosa kata yaitu technology dan enterpreneur yang dipadukan kemudian membentuk kata technopreneur. Teknologi dan wirausaha, terlihat selama ini menjadi dua profesi yang berbeda. Bukan manusia kalau tidak bisa berkreasi dan menemukan celah untuk membuat dunia kita indah. Teknologi yang sarat dengan ilmu pengetahuan, bahkan umumnya hanya bisa dilakukan oleh orang yang telah merasakan pendidikan tinggi. Teknolog yang menjajakan barang hasil atau produknya. Ya, itulah technopreneur. Orang-orang yang berkreasi menghasilkan produk teknologi yang mampu diaplikasikan atau diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Suatu produk yang mampu mempermudah pekerjaan, suatu produk hasil olahan baru, suatu produk yang benar-benar menjadikan kenyataan apa yang sebelumnya hanya tervisualisasi di otak.

Analis, apa hubungannya?

Analis kimia, belajar bermacam-macam ilmu pengetahuan. Mulai dari analisa produk jadi sampai terkadang terkait ke proses pembuatan. Ini yang menjadi kunci. Pekerjaan analis yang menelusuri proses pembuatan suatu produk adalah potensi besar untuk menghasilkan produk lebih baik, lebih praktis.

Bidang ini tentunya sangat menyangkut banyak cabang ilmu pengetahuan, mulai dari fisika, biologi, lingkungan, pangan, dan kemudian sampai pula pada energi.

Analis, bisa buat produk apa?

Dari ilmu yang telah didapat, dari tingkat awal sampai tingkat akhir, kita diajarkan berbagai macam sub bidang dari ilmu kimia itu sendiri. Mulai dari kimia organik, kimia anorganik, kimia lingkungan, mikrobiologi, analisis fisik, kimia pangan, kimia farmasi, kimia polimer sampai pada kimia petroleum. Ini semua, sekali lagi, merupakan bahan mentah yang variatif yang cukup untuk diolah menjadi sebuah produk tepat guna dan aplikatif.

Mengingat juga sebagai mahasiswa diploma yang diunggulkan kompetensinya atau keahliannya pada terapan produk –tidak sekadar teoritis, tentunya adalah sebuah harapan besar untuk bisa merealisasikannya. Dalam bidang pangan kita dapat mengambil contoh pembuatan yoghurt dari susu kedelai, yoghurt dari kulit pisang. Ataupun dalam lingkungan kita bisa mengaplikasikan teknik pengolahan limbah sehingga dengan demikian dapat mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Energipun begitu, secara praktis dan mudah ditiru kita mampu membuat suatu energi alternatif semisal briket ataupun metana hasil dari kotoran hewani sehingga yang tadinya limbah bisa menjadi rupiah.

Technopreneur, jalan tol menuju wirausaha intelektual

Sinergisme intelektual dan logika perut rakyat, begitulah kira-kira sebuah solusi yang dilontarkan oleh Arya Shandy Yuda, seorang aktivis tahun 2000-an. Tri Dharma perguruan tinggi mengarahkan kita dalam tiga hal yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Selama ini, dalam ranah pengabdian, pendekatan yang kita pakai cenderung klasik dan itu-itu saja. Misalkan dalam melakukan pendekatan kepada masyarakat dalam usaha membantu pula, seringkali kita hanya mampu mengadakan sembako gratis, pasar murah masyarakat, dan hal lain yang tentu bisa dibilang kurang kreatif. Pendekatan ini juga seringkali membuat masyarakat manja karena merasa diberi, tanpa ada titik tekan memacu kerja dan kreativ dari masyarakat.

Dengan semakin konsistennya mahasiswa terhadap gerakan technopreneur ini –tanpa memparsialkannya dengan gerakan sosial lain ataupun gerakan advokasi audiensi yang lebih menjurus aksi vertikal, keyakinan gerakan mahasiswa akan ruh gerakan barunya tidaklah khayal menjadi patron gerakan mahasiswa era ini.

Memang tak selamanya aksi harus turun ke jalan,

Tak dipungkiri juga untuk bisa menuntaskan permasalahan masyarakat,

Namun, kami –mahasiswa, adalah peduli

Kami coba apa yang dapat kami lakukan

Karena kontribusi adalah bahasa perjuangan kami,

Dimanapun itu, HIDUP MAHASISWA

Oleh: Arynazzakka (Presiden Mahasiswa IMAKA 2012-2013)

*penulis aktif menulis di blog wordpress, analis gerakan mahasiswa, koordinator BEM se-Bogor 2012