Hubungan mahasiswa-direktorat AKA

Seringkali menjadi suatu permasalahan dalam bertindak, yakni hubungan seperti apa yang seharusnya dibangun antara mahasiswa (dalam hal ini lembaga mahasiswa) dengan direktorat. Dalam sejarahnya, hubungan ini sangat variatif dan cenderung mengikuti sikap dari pimpinan lembaga kemahasiswaan menghadapi variasi kepemimpinan direktorat.

Hubungan yang dijalin bisa digambarkan dengan hubungan ‘perang-damai’. Dalam artian, kadangkala mahasiswa menekan dan di lain hal mahasiswa mendukung. Meskipun demikian, hubungan ini seringkali dapat berupa ‘perang’ berkepanjangan ketika cara pandang mahasiswa terhadap kebijakan yang tidak pro mahasiswa. Juga, hubungan ini tak jarang ‘damai’ karena kemampuan mahasiswa menjalin hubungan ini dan juga kondisi dari pihak direktorat yang dinilai tidak ‘bermasalah’.

Namun, bagaimanapun hubungan ‘perang-damai’ ini telah lama terjalin, nampaknya juga belum muncul suatu kesadaran akan hubungan sinergis yang tidak saling mencurigai, dan sikap mau dikritik untuk kinerja lebih baik. Sampai saat ini pun, mahasiswa dan pihak direktorat masih saja dengan pandangannya sendiri. Pihak mahasiswa yang menginginkan ormawa (baca: Organisasi Mahasiswa) tidak dicampuri sedikitpun oleh pihak direktorat dan menuntut juga keterbukaan direktorat terkait hal-hal yang berkaitan dengan ormawa, sementara pihak direktorat memandang dirinya sebagai pihak yang berkuasa penuh karena merupakan pemegang kebijakan institusi dimana mahasiswa ada di dalamnya. Akhirnya, tak jarang pandangan hubungan direktorat-mahasiswa lebih kepada pengusaha dan buruh, mengutip pendapat Muhammad Syaiful Anam, Presiden KM ITB 2005-2006 (dalam artikel Ridwansyah Yusuf Achmad Presiden KM ITB 2009-2010, hubungan mahasiswa dengan rektorat). Pihak direktorat dalam hal ini berperan sebagai pengusaha dan mahasiswa sebagai buruhnya, dalam artian buruh harus mentaati semua peraturan dari pengusaha tempat ia bekerja. Jika buruh dinilai kerjanya buruk, maka sah-sah saja pengusaha menghukum sesuai kebijakannya.

…nampaknya juga belum muncul suatu kesadaran akan hubungan sinergis yang tidak saling mencurigai, dan sikap mau dikritik untuk kinerja lebih baik…

Disini, perlu ditegaskan bahwasannya mahasiswa dalam perannya dalam sistem akademis dan secara kelembagaan mahasiswa dengan pihak direktorat jika diumpamakan merupakan dua buah bola yang saling beririsan. Irisan ini merupakan irisan kepentingan dimana memang ada hal-hal yang terkait kebijakan direktorat yang tidak bisa diganggu gugat oleh mahasiswa, pun sama dengan ada hal-hal yang terkait kebijakan lembaga kemahasiswaan (dalam hal ini ormawa) yang juga tidak bisa diganggu gugat oleh pihak direktorat. Namun selain dua hal tersebut, ada sebuah irisan yang mempertemukan dua buah kepentingan antara pihak mahasiswa dan direktorat yang dapat dikompromikan.

 ……. Irisan ini merupakan irisan kepentingan…..

1.       Kebijakan direktorat yang tidak dapat diganggu gugat oleh mahasiswa

Ini memiliki arti bahwasannya mahasiswa memiliki hak untuk menyuarakan pendapat –pendapat perspektif mahasiswa, sementara keputusan akhir tetap berada pada pimpinan direktorat. Jadi, secara kekuatan dalam mempengaruhi keputusan, mahasiswa disini hanya menyalurkan pendapat. Contohnya adalah perubahan kurikulum akademik.

2.       Kebijakan ormawa yang tidak dapat diganggu gugat oleh direktorat

Sama dengan kondisi di atas, setiap kebijakan mahasiwa dalam menentukan sikap dan arah organisasinya sama sekali bebas dari tekanan direktorat. Direktorat diperkenankan untuk memberikan masukan, namun hasil akhir tetap pada mahasiswa melalui pimpinan kelembagaannya atau musyawarah antar mahasiswa. Contohnya dalam kebijakan menjalin hubungan dengan organisasi mahasiswa lain, organisasi daerah ataupun lainnya yang menyangkut sistem internal organisasi mahasiswa.

3.       Kepentingan mahasiswa dan direktorat yang dapat dikompromikan

Kepentingan mahasiswa dan direktorat dalam hal ini menyangkut urgensinya pada suatu hal yang sama namun ada dua hal berupa kepentingan yang diusahakan tercapai. Disini perlunya komunikasi yang intens yang disertai kelegowoan saling memahami dan upaya agar dua kepentingan ini sama-sama dapat tercapai tanpa mengesampingkan kepentingan yang lain. Tentunya kepentingan ini bukan suatu kong-kalikong berstatus negatif. Contoh dalam hal ini adalah pengenalan kampus. Dalam hal ini ormawa berkepentingan dalam kaderisasi mahasiswa dan di lain pihak, direktorat mengupayakan pembentukan mahasiswa yang sesuai dengan dasar kompetensi awal yang diharapkan (di lain pihak, juga direktorat menghindari perpeloncoan yang biasa terjadi pada pengenalan kampus).

 

Taat bukan berarti tidak menentang

Cinta bukan berarti tanpa kritik dan cela

Diam bukan berarti tak bertindak, kami tegaskan bahwa:

Yang kami benci adalah ketidakjelasan

Yang kami musuhi adalah penindasan

Yang kami lakukan hanya mengingatkan

Sedikitpun kami tidak berharap pujian

Hadiah dan sanjungan, apalagi

Sekedar ucapan terimakasih

 

Oleh: Arynazzakka, Presiden Mahasiswa AKA 2012-2013

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s