Platform Mahasiswa AKA

 

 

Kaderisasi Mahasiswa

Kaderisasi Mahasiswa

 

Pada dasarnya, Organisasi Mahasiswa (ormawa) adalah wahana penempaan diri. Penempaan diri ini diharapkan menghasilkan suatu Profil/Platform yang akan bermanfaat untuk masyarakat jika mahasiswa telah memasuki kehidupan realnya sebagai masyarakat.

Secara umum, profil mahasiswa akan mengacu pada spesialisasi keahlian masing-masing, sesuai dengan basis keilmuan yang mahasiswa pelajari. Meskipun akan terspesialisasi pada keahlian masing-masing, tempaan softskill lain juga sangat diperlukan sehingga tercipta kepemimpinan yang komprehensif (Syamil-mutakamil).

Proses penempaan diri ini kemudian disebut kaderisasi.

4 Profil Mahasiswa utuh

4 Profil Mahasiswa utuh

Dari ke empat profil mahasiswa tersebut, Leadership-Analyst-Jurnalism-Enterpreneur merupakan suatu karakter yang mewakili kepemimpinan komprehensif mahasiswa yang diharapkan akan menjadi profil/produk dari proses kaderisasi.

Dibentuklah IMAKA Life School -Academy of Leader- untuk mengawali proses tersebut:

IMAKA Life School

IMAKA Life School

IMAKA Life School (ILS)  menampung 4 komunitas, diantaranya Komunitas IT AKA, Komunitas Diplomat, Komunitas IMAKA Peduli Masyarakat, dan Komunitas Wirausaha Muda. ILS tidak menutup kemungkinan membuka komunitas baru yang mampu menaungi bakat dan kompetensi mahasiswa AKA yang belum mampu terwadahi Ormawa (Organisasi Mahasiswa) AKA.

Dalam sebuah kaderisasi mahasiswa, track record kaderisasi haruslah sistematis dan berkelanjutan. Dalam artian, profil mahasiswa yang diharapkan adalah grade jenjang bertahap, misalkan profil mahasiswa tahun pertama seperti apa, begitupun tahun kedua, ketiga, hingga menjadi mahasiswa paripurna (utuh) ketika lulus dan mempersiapkan diri menjadi bagian dari masyarakat yang sesungguhnya.

Akan diperlukan perasan pikiran dari berbagai elemen.

 

“Untuk mereka yang terus memikirkan bangsanya

untuk mereka yang ingin terus berkontribusi meskipun masih dalam penempaan diri…

HIDUP MAHASISWA,

Presiden Mahasiswa Ikatan Mahasiswa AKA Bogor 2012-2013,

Arynazzakka.

 

 

 

Iklan

tanggapan terkait komti

Salam untuk semuanya. Luarbiasa diskusinya. Menanggapi beberapa hal bahasan di atas,  tentang komti –peran, fungsi dan kedudukannya, digolongkan termasuk komponen IMAKA atau tidak, pertama saya akan berbicara tentang komponen. Di dalam AD/ART kita, memang kata-kata komponen muncul dalam pasal-pasal tertentu (ART BAB 1 KELENGKAPAN ORGANISASI pasal 5, BAGIAN V BAB PROKER pasal 16, pasal 29 BAB II TENTANG PENERIMAAN DAN PEMECATAN ANGGOTA, bab 3 tata urutan perundangan pasal 40) ,dan dalam beberapa pasal dibarengi dengan komti. Hal ini memang dapat diambil kesimpulan sementara bahwa komti bukan merupakan komponen. Tapi yang menjadi kerancuan adalah kemunculan secara tiba-tiba kata-kata “komponen” tanpa definisi yang jelas.

Padahal jelas tertulis dalam bab tentang alat kelengkapan organisasi (ART BAB 1KELENGKAPAN ORGANISASI pasal 5) bahwa kelengkapan organisasi IMAKA ada 4: DPM, BEM, UKM, dan Komti. Dalam kamus bahasa indonesia, pengertian dari komponen adalah bagian dari keseluruhan, ini berarti secara definisi, alat kelengkapan organisasi dapat disamakan dengan komponen. Menelaah  kesimpulan sementara di atas bahwa komti bukan merupakan komponen, hal ini akan menyalahi bab kelengkapan organisasi.

(jika alat kelengkapan organisasi yang empat ini dibedah, maka masing-masing akan memiliki seperempat porsi, khusus untuk UKM dan komti, porsi yang telah terbagi, untuk masing-masing UKM dan komti dibagi menurut banyaknya  jumlah UKM dan komti, bukannya masing-masing UKM memiliki suara yang porsinya sama dengan lembaga, atau komti yang cukup menjadi ‘pelengkap’ –satu pun sudah mewakili, contohnya, dari 4 alat kelengkapan organisasi, masing-masing akan memiliki suara seperempat. BEM seperempat, DPM seperempat, UKM seperempat, dan komti seperempat. UKM ada lima, maka dari seperempat suara UKM tersebut masing-masing memiliki suara: seperempat dibagi lima, artinya seperduapuluh. Begiupun dengan komti. Hal ini bukan merupakan porsi suara mutlak, hanya tinjauan menurut definisi dari pembagian alat kelengkapan organisasi IMAKA)

Ingat juga, kelas juga merupakan organisasi. Jadi yang namanya organisator, bukan hanya mahasiswa yang menjadi pengurus atau anggota lembaga dan ukm saja. Organisasi mahasiswa dari, oleh, dan untuk mahasiswa (prinsip demokrasi mahasiswa, dapat dilihat dalam kepmendikbud tentang pedoman organisasi intra kampus dan juga statuta AKA). Dan jikalau mendapat aliran danapun, melihat kedudukan dan statusnya, komti pun berhak mendapatkannya. Jelas. Tugasnya sudah sangat jelas, selain bersama DPM mensosialisasikan AD/ART, menyusun GBPO, menampung dan menyalurkan aspirasi mahasiswa (bersama BEM juga), ada tugas tak tertulis yang merupakan tanggungjawab moral dan kepemimpinan dari komti, yakni mengorganisir kelas. Bahkan kalau ditinjau dari segi pemilihan, meskipun tidak melalui mekanisme yang rumit, pemilihan komti demokratis, hampir selevel pemilihan ketua ukm. Basis masanya pun tidak main-main, setara dengan ukm/lembaga bahkan lebih besar.

Jikalau komti mendapat dana IMAKA? Tidak harus organisasi kelas yang dimotori komti melakukan mekanisme organisasi yang sama kakunya dengan organisasi yang lainnya, seperti harus adanya visi-misi, GBPO. Dan juga, kita tidak harus menunggu ‘kemauan’ dari komti untuk membahas GBPO. Kalaulah membahas GBPO adalah tugas, saya sebut dengan kewajiban, itu harus dilaksanakan. Inilah tugas kita untuk menyadarkan semuanya.

Terkait pandangan kedudukan komti, dalam struktur seolah-olah komti adalah perpanjangan tangan presma (yang dalam pembahasan di atas disebut Gubernur).  Tapi  kalau kita melihat fungsinya (sesuai dengan AD/ART bab komti pasal 14), dari ketiga fungsi yang tercantum lebih sesuai jika simpulan kedudukan komtj merupakan perpanjangan dari DPM. Sekali lagi karena fungsinya: membahas GBPO, mensosialisasikan AD/ART, dan menampung aspirasi, komti lebih merupakan perpanjangan tangan DPM. Dan secara langsung, komti adalah anggota DPM sendiri. Ia merupakan legislator yang menangani dan mengaspirasikan suara kelasnya.

Tak ada salahnya jika komti mendapat aliran dana. Komti adalah mahasiswa. Memiliki kewajiban yang sama, sama pula hak yang seharusnya diperoleh. Kedaulatan demokrasi mahasiswa, yang disebut pemerintahan mahasiswa: dari, oleh, dan untuk mahasiswa haruslah secara berangsur-angsur kita terapkan dan sempurnakan.

Ayo jalankan hal yang telah terkonsep sambil memperbaikinya.

Presiden Mahasiswa IMAKA 2012-2013, Arynazzakka

Membumilah

-Gagasan itu setinggi langit-

Gagasan

“Sebuah pemikiran akan terwujud manakala kuat rasa keyakinannya, ikhlas berjuang di jalannya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya. Semuaitu hanya ada dalam diri seorang pemuda.” -H. al Bana

Pemikiran dan tindakan merupakan sebuah karya. Hanya perbedaannya terletak pada tempatnya, pemikiran masih berada di ruang non materiil dan tindakan berada di ruang real. Tindakan adalah buah dari pemikiran. “saya berfikir, maka saya ada” begitulah kira-kira Descartes memberi petunjuk pada kita.

Pemikiran juga dapat disebut dengan gagasan. Gagasan yang baik akan menimbulkan tindakan yang baik. Meskipun biasanya, hasil dari sebuah tindakan yang berlandaskan gagasan tersebut tidak akan 100% sesuai dengan ekspektasi (harapan) dari gagasan awal.

Melihat kondisi kekinian, karena disebabkan seringnya tindakan (atau action) yang kurang sesuai dengan gagasan, kita menjadi takut untuk menelurkan gagasan atau pemikiran yang WAH, melangit. Sehingga dikarenakan orientasi dari tindakan adalah agar sesuai dengan gagasan, kita menjadi menurunkan grade gagasan/pemikiran kita sejauh pertimbangan apa yang bisa kita lakukan dan realitas optimalisasi kerja yang dapat kita lakukan.

Hal demikian sah-sah saja, namun bila sampai hanya karena alasan kesesuaian tindakan dan gagasan awal tadi menjadikan kita takut mengeluarkan gagasan yang tinggi, jangka panjang, atau yang biasa disebut dengan gagasan tinggi membumbung ke langit, ada yang salah dengan pemikiran kita.

-Rekonstruksi kepemimpinan-

Dimulai dengan model kepemimpinan merakyat prophetic (kepemimpinan nabi), model kepemimpinan berkembang menjadi kepemimpinan bertingkat yang kita kenal dengan birokrasi. Melihat hal ini, dua model kepemimpinan di atas tidak ada yang salah.

Model kepemimpinan merakyat prophetic merupakan model kepemimpinan yang memandang bahwasannya pemimpin juga bagian dari rakyat, maka secara kedudukan juga sama –tidak ada yang istimewa. Hanya secara tanggungjawab pemimpin model ini mempunyai hal lebih. Menurut model kepemimpinan ini, jika ada suatu keadaan yang harus dikerjakan atau diselesaikan, selagi masih bisa dan sesuai kemampuannya, pemimpin juga akan melaksanakannya. Tentunya bukan pemimpin saja yang menyelesaikan, tetapi rakyat bersama pemimpin sama-sama terjun langsung.

Dalam hal ini, penulis mencontohkan peristiwa penggalian parit pada perang Khandaq. Pada perang tersebut, Muhammad sang nabi sekaligus pemimpin negara dan perang ketika menerima siasat penggalian parit sebagai pertahanan kota madinah dari serangan jahiliyah Mekah, beliau langsung terjun bersama prajurit dan masyaraktnya untuk menggali parit pertahanan. Bahkan ketika beliau sempat terlelap dan pada saat itu prajuritnya tidak enak hati membangunkannya, ketika beliau terbangun, malahan menegur prajuritnya tadi yang tidak enak hati membangunkannya. Beliau ingin bersama merasakan kelelahan bersama rakyat untuk sebuah peradaban kebaikan.

Model kepemimpinan bertingkat atau birokrasi merupakan model kepemimpinan secara umum sama dengan model kepemimpinan kerakyatan prophetic, hanya saja dikarenakan masyarakatnya yang begitu luas dan juga kompetensi kepemimpinan yang tidak sempurna –dalam hal ini kompetensi suatu bidang hanya dimiliki oleh individu-individu tertentu. Maka, untuk mengoptimalkan sekaligus memberdayakan individu-individu dengan kompetensi khusus tadi, dibuatlah penanggungjawab suatu bidang tertentu yang dimandatkan kepada individu-individu tadi. Kewenangan ini bermacam-macam, ada yang diberikan wewenang penuh, ada juga sebagian, atau bisa saja hanya sebagai bahan pertimbangan utama.

Dalam perjalanannya, kepemimpinan bertingkat inilah yang dipakai karena kondisi yang menuntut demikian dan secara konsep akan dapat berjalan optimal. Seiring berjalannya waktu, kepemimpinan bertingkat ini menemui banyak kendala, beberapa diantaranya adalah lambatnya mekanisme pengambilan keputusan, dan juga pemimpin yang terlalu menjaga jarak dengan bawahan. Kendala ini terakumulasi sehingga menimbulkan kesan bahwa kepemimpinan ini dinilai tidak pro-rakyat. Sehingga perlu model kepemimpinan yang dekat dengan rakyat sehingga diharapkan kendala-kendala akibat model kepemimpinan yang diterapkan akan terminimalisir.

Suara rakyat mewakili suara Tuhan, begitu kiranya demokrasi mengajarkan kita. Efek dari hal ini, rakyat ibarat raja. Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Jika dahulu orang engan mengambil kepemimpinan karena besarnya amanah yang harus dipikul (bukan saja di dunia, tapi juga ada pertanggungjawaban akhirat), maka kini malahan kepemimpinan menjadi suatu perebutan. Hal ini tidak menjadi masalah, selama niat memimpin* adalah menebar kebaikan, mencegah kemungkaran, dan membuat kemashlahatan (dalam bahasa kerennya, kesholehan sosial).

-Membumilah…-

Membumi, dekat dengan rakyat, mendengar suara rakyat, begitu kiranya jargon atau harapan kita kepada pemimpin. Pemimpin yang dekat adalah pemimpin yang mengayomi rakyatnya. Tahu kondisi permasalahan rakyatnya dan berusaha mencari jalan keluarnya. Dan masih banyak lagi harapan-harapan kita kepada pemimpin.

Jelas sekali, penerapan model kepemimpinan bertingkat ala birokrat sekarang cenderung tidak disukai karena image yang terlanjur negatif. Model kepemimpinan kekinian akan kembali kepada model kepemimpinan kerakyatan prophetic. Artinya, sifat dari pemimpin yang sangat diharapkan adalah yang bersama-sama dengan rakyat menyelesaikan permasalahan bersama, bukan hanya sekedar memberi klu-klu yang seringkali tidak dipahami rakyat. Juga pemimpin yang berbicara dengan bahasa kaumnya, bukan bahasa langitan yang seringkali digunakan dalam forum-forum temu dengan pemimpin lainnya. Ya, pemimpin perlu membumi, maka membumilah.

-Semua butuh kejelasan-

Era informasi memang merupakan suatu keuntungan sendiri disamping efek negatif yang ditimbulkan. Dengan penyebaran informasi yang begitu cepat, muatan informasi dapat menjadi tersebar lebih merata. Maka, kejelasan dalam era ini adalah hal mutlak yang dibutuhkan, selama itu juga merupakan kepentingan rakyat atau bersama.

Dalam banyak hal, kejelasan sangat diperlukan. Dalam konteks ini (kepemimpinan), kejelasan mengenai perbaikan apa yang akan dilakukan atau yang biasa kita sebut dengan program adalah mutlak diketahui rakyat sehingga rakyat juga tahu apa yang akan dilaksanakan pemimpin. Dengan ini, pemimpin tidak akan bekerja sendirian layaknya Superman, tapi kerjasama pemimpin dan rakyatlah yang sesungguhnya akan membuahkan hasil yang baik, sebuah peradaban kebaikan.

-Jangan hanya berharap pemimpin yang baik-

Sebagai rakyat, wajar bila kita sangat mendambakan dan berharap bahwa pemimpin yang memimpin kita adalah pemimpin yang baik. Sebagai rakyat, tentunya wajib pula kita menyiapkan diri kita untuk menjadi rakyat yang baik.

“…tidak ada jamaah (perkumpulan/ organisasi) tanpa pemimpin, tidak ada pemimpin tanpa rakyat yang taat” –Umar ibn Khattab

Suatu kesadaran bahwa kerja kebaikan ini bukan saja kerja pemimpin wajib kita ketahui. Pemimpin adalah pemandu rakyat. Dan pemimpin bersama rakyatlah yang mengerjakan. Bukan hanya pemimpin, bukan juga hanya rakyat. Tetapi adalah kebersamaan antara pemimpin dan rakyat.

Sebuah kisah menarik dari Shahabat nabi tentang masa kekhalifahan ‘Ali, pada saat itu ada rakyat yang mengadu dengan khalifah ‘Ali, “Hai khalifah ‘Ali, mengapa pada zaman kekhalifahanmu keadaan kacau balau sementara pada zaman Abu Bakar dan Umar keadaan begitu tenteram?” jawab sang khalifah dengan tenang, “bagaimana tidak tenteram pada saat zaman Abu Bakar dan Umar jika semua rakyatnya adalah seperti aku. Sementara  pada zaman ku sekarang, rakyatku adalah sepertimu”.

pemimpin-prajurit

Ini adalah sebuah pengingat, bahwa mengharapkan kepemimpinan yang baik, bukan saja mengandalkan seorang pemimpin yang baik, namun juga rakyat yang baik pula. Karena pemimpin adalah cerminan rakyatnya.

oleh: Arynazzakka, mahasiswa AKA Bogor 2010

Cita-Cita Sosial [yang Terlupakan]

Salam cinta dan persahabatan untuk para pemuda Indonesia

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

(Semoga keselamatan ada pada kalian, Allah merahmati dan memberkahi kebaikan yang kalian lakukan)

Orientasi Pemuda

Reality Dream

Setiap Pemuda yang sedang dalam jalannya mencari jati diri selalu berusaha maksimal untuk menemukan potensi besarnya yang sesungguhnya. Demi penggapaian itu, tak jarang ada semangat dan daya dorong yang luar biasa untuk segera menemukannya dan banyak cara yang dilakukan, mulai dari membaca buku tentang potensi dan motivasi, mengikuti perilaku figur yang dianggap pantas dijadikan contoh, ataupun memperluas jaringan pertemanan agar mampu menerima sudut pandang lain.

Terlepas dari beragam cara yang dilakukan, tujuan pertama dan yang utama adalah menemukan potensi diri sehingga penggapaian cita-cita pun mudah terlaksana. Di titik inilah muncul suatu orientasi untuk mewujudkan cita-cita pribadinya. Orientasi itu tentunya berkisar pada beberapa pertanyaan terhadap diri sendiri: -ingin jadi apa nantinya? apa yang bisa aku berikan agar orangtua bahagia?- Agaknya dua pertanyaan ini selalu menyelimuti pikiran semua manusia yang lahir ke muka bumi setelah ia beranjak dewasa.

Bukan sesuatu yang salah jika setiap diri dari kita menginginkan untuk mewujudkan cita-cita yang orientasinya pribadi -toh itu juga kebaikan-. Bangga rasanya punya bangsa yang pemudanya mempunyai cita-cita, sehingga dalam kehidupan sehari-seharinya tidak disertai rasa gundah gulana dan linglung. Namun tentu saja, adakah sesuatu yang masih kurang?

Ingat kembali: Manusia adalah makhluk sosial

Tak dapat ditampik kebenarannya bahwa kita, umat manusia, adalah makhluk sosial. Saling berinteraksi dengan sesama adalah suatu kebutuhan tak terelakkan dalam kehidupan. Karena pada dasarnya kita saling membutuhkan, jadi konsekuensinya?

dan Timbullah cita-cita sosial…

Jaringan Sosial

Disamping cita-cita (Orientasi) pribadi yang saya ceritakan di atas, sebagai konsekuensi interaksi sosialnya, sadar atau tidak timbullah beberapa kesamaan orientasi yang akhirnya berujung pada cita-cita bersama, atau kita sebut sebagai cita-cita sosial.

Kita maknai lagi arti dari perjuangan bangsa -dimanapun-, pastilah timbul dari suatu keinginan bersama untuk kebahagiaan bersama. Indonesia, sebagai contohnya, dari beberapa pergerakan yang dulunya bersifat kedaerahan kemudian membesar dalam skala Nusantara adalah bukti nyata adanya keinginan bersama untuk meraih kemerdekaan. Inilah cita-cita sosial. Suatu keinginan bersama secara alamiah untuk mewujudkan kebaikan bersama.

Apakah kita mempunyainya?

 

draft 19 Januari 2012 (16;48)

Arynazzakka, mahasiswa AKA 2010

Bangkit IMAKA, Bangkit Indonesia

Hari itu, terjadi perubahan luar biasa dengan kampusku. Bukan perubahan fisik bangunan yang menjadi besar.

Pagi hari saat kuinjakkan kaki di gerbang, tidak jauh kulihat banyak mahasiswa telah datang. Mereka membuat forum-forum berupa lingkaran. Sungguh berbeda dengan yang biasa aku liat. Aku mendekat ke salah satu forum, ternyata mereka sedang mendiskusikan tentang Pergerakan Pemuda dan Mahasiswa dalam rangka mempersiapkan kebangkitan INdonesia yang sesungguhnya. MEreka terlihat begitu bersemangat dan antusias. Auranya dapat aku rasakan. Merekalah calon revolusioner kebangkitan Indonesia.

Kemudian aku beranjak ke forum yang lain, ternyata setelah aku saling memberi salam, mereka sedang mendiskusikan tentang perkembangan Sains saat ini, terutama perkembangan kimia modern. Diskusi mereka sangat mengagumkan. Aku bergumam,”Inilah calon-calon  Ilmuwan Kimia yang akan memimpin dunia”.

Kawan, kampus yang aku jalani sekarang penuh dengan semangat bertukar pikiran dari mahasiswanya

Langkah kakiku pun berlanjut memasuki turunan jalan menuju ke lobi kampus. Lagi-lagi, sungguh luar biasa kampusku sekarang. di Lorong-lorong jalanan, kuliat banyak mading-mading tertempel dan isinya pun berbeda-beda. Tertulis jelas tema di beberapa mading “SAINS HARI INI”, “PERGERAKAN KITA”, “KOLOM RUHIYAH”, “SAHABAT ALAM”, “SASTRA dan SENI”. Kulihat para penyumbang artikelnya adalah mahasiswa yang berbeda. ku ambil kesimpulan sejenak, Mahasiswa AKA sekarang aktif dalam hal menulis.

Kawan,  efektif belajar melalui baca- dan menuliskannya telah menjadi kultur mahasiswa AKA

sebentar lagi masuk kuliah, terlihat banyak kawan-kawanku bergegas masuk ke ruang kuliah. tak berselang lama, dosenpun masuk. Kebetulan matakuliah yang aku ikuti hari ini adalah Sejarah dan FIlsafat Kimia. setelah berdoa, ada pertanyaan khas yang dilontarkan dosen, “Diskusi kita pada hari i ni adalah tentang Filsafat Elektrokimia, ada yang ingin me ngajukan argumen tentang ini?” “Waw, Dahsyat, sekarang sistem kita bukan diajar, tetapi DISKUSI, diskusi 2 arah”. setelah sekian waktu berselang, banyak dari kawan-kawanku yang mengajukan argumen luar biasa, kuliah ditutup dengan pengambilan kesimpulan.

kawan, kuliah efektif metode diskusi 2 arah telah menjadikan kita belajar cerdas mengikuti perkembangan zaman

setelah kuliah Sejarah dan Filsafat Kimia, ada waktu kosong 1 jam sebelum aku kuliah lagi. aku manfaatkan waktu itu untuk keluar dan menikmati suasana kampus yang kurasa semakin menyenangkan. setelah beberapa menit aku berjalan, kulihat perpustakaan, saat aku memasukinya, ternyata bukan perpustakaan yang biasa aku kunjungi. kuteliti lagi buku-buku yang ada, teryata berisi tentang sastra, novel, Agama, dan pengetahuan umum lain. saat aku tanyakan pegawai perpusnya, ternyata ini adalah hasil dari sumbangsih mahasiswa yang peka melihat kondisi mahasiswa yang butuh hiburan, butuh suplemen lain selain dari buku-buku eksak yang menguras otak.

kawan, kita butuh suplemen lain selain buku eksak agar otak kita senantiasa segar, ayo realisasikan

sejenak aku berada di dalam perpus, aku kembali mencari sumber inspirasi baru dengan kawan-kawankuSetiap langkah aku susuri jengkal kampusku, tak kutemui gurauan yang tak bermanfaat.  Baru saja aku temui kawanku TPL. Mereka yang menjadi “minoritas” di kampus seolah telah bangkit dari beberapa kepayahannya. Ya, kawan, baru saja mereka merasakan merdeka yang sesungguhnya. Mereka tidak mendapat “tekanan” akademik untuk membatasi diri dalam ranah Organisasi. Sekarang tidak ada larangan kawan-kawan TPL untuk memimpin sebuah organisasi kampus.

Ngomong-ngomong tentang ini kawan, aneh saja beberapa tahun ke belakang mahasiswa TPL yang notabenya perwakilan/utusan daerah, dengan sebuah ketidak jelasan tidak diperbolehkan memimpin organisasi, pindah jadwal, dan beberapa hal lain yang menurutku kurang jelas dan kuat alasannya. Tapi Syukur alhamdulillah, sekarang kendala itu sudah tertangani, bahkan aku dengar ada anak TPL yang berminat mencalonkan dirinya untuk memimpin kampus. Sebuah semangat yang patut di apreasi.

kulanjutkan alur hariku, bertemulah aku dengan kawan seperjuangan. diajaklah aku berdiskusi sejenak, tentang kampus, tentang indonesia…..

kuajukan argumen berikut:

“kawan, dulu sistem pembelajaran dan materi yang kurang relevan dengan perkembangan jaman, walaupun tidak sepenuhnya salah, agaknya kurang memacu kita untuk berkreasi. sistem ini, dulu telah mengungkung kita dan para pendahulu kita dengan membentuk kita menjadi pekerja keras, bukan pekerja cerdas.

kawan, dengan era globalisasi yang kian mempersempit ruang gerak kita seperti apa yang diungkapkan dalam buku “THe WOrld is flaT, menjadi pekerja keras hanya akan membuat kita sebagai budak iNdustri yang terus menerus akan bergantung padanya. Kemandirian kita tercekal. sifat kerjasama membangun bangsa sendiri kian jauh sehingga kita hanya memikirkan perut kita. Padahal jauh dari itu, kawan, bangsa ini membutuhkan kita sebagai pemudanya untuk membangun diri menuju bangsa madani.

Kawan, bangsa ini tidak akan pernah berteriak minta tolong kepada generasi penerusnya. bangsa dan tanah air ini malu dengan itu karena telah dilimpahi kekayaan alam yang luar biasa, sementara belum bisa memakmurkan kita.

Kawan, ingatkah kau ketika bangsa ini pernah sejajar dengan bangsa lain di dunia, kita pernah menjadi macan asia, gerak kita dinanti, langkah kita diwaspadai, kemajuan kita diawasi, kapan itu kan kembali?

Bukan aku mengajakmu bernostalgia dan bermimpi membumbung tinggi, aku ingin mengajakmu untuk mengajak yang lain juga untuk mempersiapkan diri kita, para generasi Soekarno, Natsir, HAMKA, Habibie, J.A Kattili dan masih banyak pejuang bangsa yang tidak muat apabila aku tulis satu persatu.

Ketika kita telah keluar dari kungkungan memikirkan diri sendiri, baik itu cita-cita sendiri ataupun kepentingan-kepentingan yang bersifat pribadi maupun kelompok dan beranjak ke zona yang lebih besar, memikirkan cita-cita Indonesia jauh ke depan, maka cita-cita dengan sendirinya telah terpenuhi.

 

Diskusi yang panjang lebar pun telah usai. kini beranjak aku berserah diri padaNya untuk menyegarkan nurani akal dan jasad.

 

tertanggal 25 Oktober 2011

telah dipublish di: http://www.facebook.com/notes/arynazzakka/bangkit-imaka-bangkit-indonesia/254250021288633

Presiden Mahasiswa IMAKA 2012-2013

Arynazzakka