Membumilah

-Gagasan itu setinggi langit-

Gagasan

“Sebuah pemikiran akan terwujud manakala kuat rasa keyakinannya, ikhlas berjuang di jalannya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya. Semuaitu hanya ada dalam diri seorang pemuda.” -H. al Bana

Pemikiran dan tindakan merupakan sebuah karya. Hanya perbedaannya terletak pada tempatnya, pemikiran masih berada di ruang non materiil dan tindakan berada di ruang real. Tindakan adalah buah dari pemikiran. “saya berfikir, maka saya ada” begitulah kira-kira Descartes memberi petunjuk pada kita.

Pemikiran juga dapat disebut dengan gagasan. Gagasan yang baik akan menimbulkan tindakan yang baik. Meskipun biasanya, hasil dari sebuah tindakan yang berlandaskan gagasan tersebut tidak akan 100% sesuai dengan ekspektasi (harapan) dari gagasan awal.

Melihat kondisi kekinian, karena disebabkan seringnya tindakan (atau action) yang kurang sesuai dengan gagasan, kita menjadi takut untuk menelurkan gagasan atau pemikiran yang WAH, melangit. Sehingga dikarenakan orientasi dari tindakan adalah agar sesuai dengan gagasan, kita menjadi menurunkan grade gagasan/pemikiran kita sejauh pertimbangan apa yang bisa kita lakukan dan realitas optimalisasi kerja yang dapat kita lakukan.

Hal demikian sah-sah saja, namun bila sampai hanya karena alasan kesesuaian tindakan dan gagasan awal tadi menjadikan kita takut mengeluarkan gagasan yang tinggi, jangka panjang, atau yang biasa disebut dengan gagasan tinggi membumbung ke langit, ada yang salah dengan pemikiran kita.

-Rekonstruksi kepemimpinan-

Dimulai dengan model kepemimpinan merakyat prophetic (kepemimpinan nabi), model kepemimpinan berkembang menjadi kepemimpinan bertingkat yang kita kenal dengan birokrasi. Melihat hal ini, dua model kepemimpinan di atas tidak ada yang salah.

Model kepemimpinan merakyat prophetic merupakan model kepemimpinan yang memandang bahwasannya pemimpin juga bagian dari rakyat, maka secara kedudukan juga sama –tidak ada yang istimewa. Hanya secara tanggungjawab pemimpin model ini mempunyai hal lebih. Menurut model kepemimpinan ini, jika ada suatu keadaan yang harus dikerjakan atau diselesaikan, selagi masih bisa dan sesuai kemampuannya, pemimpin juga akan melaksanakannya. Tentunya bukan pemimpin saja yang menyelesaikan, tetapi rakyat bersama pemimpin sama-sama terjun langsung.

Dalam hal ini, penulis mencontohkan peristiwa penggalian parit pada perang Khandaq. Pada perang tersebut, Muhammad sang nabi sekaligus pemimpin negara dan perang ketika menerima siasat penggalian parit sebagai pertahanan kota madinah dari serangan jahiliyah Mekah, beliau langsung terjun bersama prajurit dan masyaraktnya untuk menggali parit pertahanan. Bahkan ketika beliau sempat terlelap dan pada saat itu prajuritnya tidak enak hati membangunkannya, ketika beliau terbangun, malahan menegur prajuritnya tadi yang tidak enak hati membangunkannya. Beliau ingin bersama merasakan kelelahan bersama rakyat untuk sebuah peradaban kebaikan.

Model kepemimpinan bertingkat atau birokrasi merupakan model kepemimpinan secara umum sama dengan model kepemimpinan kerakyatan prophetic, hanya saja dikarenakan masyarakatnya yang begitu luas dan juga kompetensi kepemimpinan yang tidak sempurna –dalam hal ini kompetensi suatu bidang hanya dimiliki oleh individu-individu tertentu. Maka, untuk mengoptimalkan sekaligus memberdayakan individu-individu dengan kompetensi khusus tadi, dibuatlah penanggungjawab suatu bidang tertentu yang dimandatkan kepada individu-individu tadi. Kewenangan ini bermacam-macam, ada yang diberikan wewenang penuh, ada juga sebagian, atau bisa saja hanya sebagai bahan pertimbangan utama.

Dalam perjalanannya, kepemimpinan bertingkat inilah yang dipakai karena kondisi yang menuntut demikian dan secara konsep akan dapat berjalan optimal. Seiring berjalannya waktu, kepemimpinan bertingkat ini menemui banyak kendala, beberapa diantaranya adalah lambatnya mekanisme pengambilan keputusan, dan juga pemimpin yang terlalu menjaga jarak dengan bawahan. Kendala ini terakumulasi sehingga menimbulkan kesan bahwa kepemimpinan ini dinilai tidak pro-rakyat. Sehingga perlu model kepemimpinan yang dekat dengan rakyat sehingga diharapkan kendala-kendala akibat model kepemimpinan yang diterapkan akan terminimalisir.

Suara rakyat mewakili suara Tuhan, begitu kiranya demokrasi mengajarkan kita. Efek dari hal ini, rakyat ibarat raja. Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Jika dahulu orang engan mengambil kepemimpinan karena besarnya amanah yang harus dipikul (bukan saja di dunia, tapi juga ada pertanggungjawaban akhirat), maka kini malahan kepemimpinan menjadi suatu perebutan. Hal ini tidak menjadi masalah, selama niat memimpin* adalah menebar kebaikan, mencegah kemungkaran, dan membuat kemashlahatan (dalam bahasa kerennya, kesholehan sosial).

-Membumilah…-

Membumi, dekat dengan rakyat, mendengar suara rakyat, begitu kiranya jargon atau harapan kita kepada pemimpin. Pemimpin yang dekat adalah pemimpin yang mengayomi rakyatnya. Tahu kondisi permasalahan rakyatnya dan berusaha mencari jalan keluarnya. Dan masih banyak lagi harapan-harapan kita kepada pemimpin.

Jelas sekali, penerapan model kepemimpinan bertingkat ala birokrat sekarang cenderung tidak disukai karena image yang terlanjur negatif. Model kepemimpinan kekinian akan kembali kepada model kepemimpinan kerakyatan prophetic. Artinya, sifat dari pemimpin yang sangat diharapkan adalah yang bersama-sama dengan rakyat menyelesaikan permasalahan bersama, bukan hanya sekedar memberi klu-klu yang seringkali tidak dipahami rakyat. Juga pemimpin yang berbicara dengan bahasa kaumnya, bukan bahasa langitan yang seringkali digunakan dalam forum-forum temu dengan pemimpin lainnya. Ya, pemimpin perlu membumi, maka membumilah.

-Semua butuh kejelasan-

Era informasi memang merupakan suatu keuntungan sendiri disamping efek negatif yang ditimbulkan. Dengan penyebaran informasi yang begitu cepat, muatan informasi dapat menjadi tersebar lebih merata. Maka, kejelasan dalam era ini adalah hal mutlak yang dibutuhkan, selama itu juga merupakan kepentingan rakyat atau bersama.

Dalam banyak hal, kejelasan sangat diperlukan. Dalam konteks ini (kepemimpinan), kejelasan mengenai perbaikan apa yang akan dilakukan atau yang biasa kita sebut dengan program adalah mutlak diketahui rakyat sehingga rakyat juga tahu apa yang akan dilaksanakan pemimpin. Dengan ini, pemimpin tidak akan bekerja sendirian layaknya Superman, tapi kerjasama pemimpin dan rakyatlah yang sesungguhnya akan membuahkan hasil yang baik, sebuah peradaban kebaikan.

-Jangan hanya berharap pemimpin yang baik-

Sebagai rakyat, wajar bila kita sangat mendambakan dan berharap bahwa pemimpin yang memimpin kita adalah pemimpin yang baik. Sebagai rakyat, tentunya wajib pula kita menyiapkan diri kita untuk menjadi rakyat yang baik.

“…tidak ada jamaah (perkumpulan/ organisasi) tanpa pemimpin, tidak ada pemimpin tanpa rakyat yang taat” –Umar ibn Khattab

Suatu kesadaran bahwa kerja kebaikan ini bukan saja kerja pemimpin wajib kita ketahui. Pemimpin adalah pemandu rakyat. Dan pemimpin bersama rakyatlah yang mengerjakan. Bukan hanya pemimpin, bukan juga hanya rakyat. Tetapi adalah kebersamaan antara pemimpin dan rakyat.

Sebuah kisah menarik dari Shahabat nabi tentang masa kekhalifahan ‘Ali, pada saat itu ada rakyat yang mengadu dengan khalifah ‘Ali, “Hai khalifah ‘Ali, mengapa pada zaman kekhalifahanmu keadaan kacau balau sementara pada zaman Abu Bakar dan Umar keadaan begitu tenteram?” jawab sang khalifah dengan tenang, “bagaimana tidak tenteram pada saat zaman Abu Bakar dan Umar jika semua rakyatnya adalah seperti aku. Sementara  pada zaman ku sekarang, rakyatku adalah sepertimu”.

pemimpin-prajurit

Ini adalah sebuah pengingat, bahwa mengharapkan kepemimpinan yang baik, bukan saja mengandalkan seorang pemimpin yang baik, namun juga rakyat yang baik pula. Karena pemimpin adalah cerminan rakyatnya.

oleh: Arynazzakka, mahasiswa AKA Bogor 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s