Sekedar cerita (bagian 1)

Mari kita bicara tentang kehidupan.

Ada banyak sekali tujuan ketika manusia merasakan dirinya hidup. Sukses, kaya, ataupun yang lainnya. Bukan ingin berfilsafat, tapi agaknya memang dalam setiap sisi kehidupan kita menarik untuk di bahas.

Masa bermain

Masa ini sangat kental dengan identias anak-anak (jadi yang merasa masih dominan ingin main terus-terusan berarti?). Ingat ketika dahulu kita selalu bermain, tidak mengenal waktu entah itu pagi, siang, atau sore. Kalau mengingat masa-masa itu, seakan ingin sekali kembali karena di kehidupan itu, seolah tidak ada beban kehidupan. Sekedar cerita, dahulu, saya menjalani kehidupan masa kecil diwarnai dengan pembelajaran intensif. Diluar permainan tak kenal waktu itu juga ada waktu menuntut ilmu. Bukan saja di sekolah dasar berbasis pengetahuan duniawi, namun juga sekolah madrasah berbasis ukhrowi (akhirat/agama). Pagi untuk sekolah dasar, siang sampai sore untuk sekolah madrasah. Bosen? Tidak pada saat itu.

Tentang belajar

Dalam perjalanan hidup, makna dari belajar selalu bergeser, yah ini ceritaku. Dahulu waktu sekolah dasar, belajar ya bagaimana caranya kita dapat rangking, kita dapat unjuk gigi dengan teman-teman lainnya. Walau terkadang karena terbujuk teman, akhirnya saling contek-mencontek asal nilai baik. Alhamdulillah, dalam sekolah dasar, kelas 1 SD mendapat rangking 5, kelas 2 SD mendapat rangking 4, dan pada kelas 3 SD mendapatkan juara 1. Ini berlanjut sampai dengan lulus SD.  Dalam pembelajaran selanjutnya, makna bergeser. Dari hanya mendapat rangking ke dapat mengikuti berbagai kompetisi atau perlombaan. Maka pada saat itu, tepatnya kelas 5 SD diamanhi untuk mengikuti perlombaan. Ingat pada saat itu lomba Bahasa Indonesia, membuat cerpen dan bercerita. Begitu bahagianya pada saat itu. Pada saat bercerita, saatnya menunjukkan kemampuan kita walau jantung dag-dig-dug tak karuan. Setelah itu juga diberi kesempatan mengikuti lomba agama tingkat kecamatan. Kompetisi dan berbaur dengan siswa lain sekolah memang sesuatu yang menarik. Setelah mengikuti perlombaan, pemaknaan pembelajaran juga bergeser. Yaitu, bagaimana caranya kita juga bisa aktif mengikuti kegiatan-kegiatan lain. Organisasi, itu kini aku kenal. Nah, pada saat itu tepatnya juga kelas 5 SD mulai aktif ikut pramuka. Latihan baris-berbaris setiap hari minggu, belajar berbagai sandi, tali-temali, mendirikan tenda, sampai lagu-lagu yang bisa bikin kita semangat.

Pembelajaran bukan sampai disini saja. Berlanjut ke SMP, kompetisi semakin ketat. Jaringan teman mulai luas. Mulai kenal dengan Masa Orientasi Sekolah (MOS). Dikerjain kakak kelas ini itu. Tapi alhamdulillah, SMP tempat saya belajar memiliki kakak kelas yang baik. Tidak ada senioritas yang keterlaluan. Sikap terbuka menerima segala pendapat. Saya suka. Nah, disini juga semangat belajar semakin tinggi. Terpacu, karena baru pertama kalinya setiap mata pelajaran diajar oleh guru yang berbeda. Apalagi di SMP, kondisi sekolahan yang lebih baik dengan pernak-pernik tertentu, taman, mading sekolah, semakin menawan dan menarik. Melihat mading sekolah membayangkan diri kalau suatu saat tulisan sendiri akan tertempel dan dibaca oleh seluruh pelajar. Indah memang.

SMP, dengan variasi pelajaran dan pendalaman materi agaknya ada kesulitan tersendiri. Namun, ini adalah tantangan. Hebatnya orangtuaku, dalam memacu semangat belajar dengan menawari hadiah yang kumahu jika bisa mendapatkan juara pertama. Semester satu, masih ingat, aku masuk SMP dengan peringkat 49, kemudian pengumuman rapor menunjukkan bahwa raporkulah yang memiliki nilai tertinggi, bukan hanya di kelas, tapi seangkatan. Uniknya, di SMP ku dulu, kelas dibagi dalam kasta, artinya kelas A dianggap kelas terbaik, kelas B baik, dan seterusnya. Karena peringkat masukku 49 sementara jumlah siswa tiap kelas kalau tidak salah 45 atau 48, maka aku masuk kelas B. Namun, hasil rapor semester awal nampaknya meruntuhkan dogma kasta tersebut. Bayangkan, siswa yang masuk dalam kelas B menjuarai peringkat pertama. Luar biasa dan betapa bersyukurnya aku pada saat itu. Teringat pada saat itu, proses pembelajaran di SMP lumayan ketat dengan guru yang tegas dan kadang ‘ganas’. Namun, ketegasan dan keganasannya itulah yang membuat siswa memacu belajarnya…

(bersambung)

Iklan

Perempuan: Pendidik Sejati Generasi Penerus Bangsa

karena perempuan adalah ibu bangsa

karena perempuan adalah ibu bangsa

Sejatinya, pembangunan Indonesia adalah pembangunan atas sumber daya manusianya. Indonesia memang negeri yang berlimpah ruah sumber daya alamnya. Namun selama ini, 67 tahun setelah kemerdekaan, dengan berbagai program pembangunannya, belumlah menunjukkan kemajuan yang signifikan.

Pembangunan sumber daya manusia, seakan terlupakan atau terpinggirkan. Basis yang selama ini menjadi motor adalah ekonomi yang masih juga ditunggangi kepentingan politik. Hakikat dari kemerdekaan seperti yang dicitakan para founding father kita adalah negeri yang adil dan makmur. Sayangnya, sampai sekarang kemiskinan di Indonesia masih merebak. Bahkan, penyakit ini menjangkiti berbagai lapis kalangan, dari yang tidak pernah mendapatkan kesempatan pendidikan sama sekali sampai yang telah menempuh pendidikan tinggi hingga sebutan pengangguran terdidik tidak asing lagi di telinga.

Berbagai persoalan lain, yakni merosotnya moral pelajar dari waktu ke waktu mendapat perhatian besar dari masyarakat. Mengingat bahwa pelajar pada khususnya dan pemuda pada umumnya adalah cadangan masa depan bangsa, merekalah yang akan memegang tonggak peradaban Indonesia. Namun kenyataan pendidikan Indonesia, sebagai salah satu pilar pembangunan SDM Indonesia masih saja mencari format ideal. Disatu sisi pendidikan yang diselenggarakan pemerintah belum mendapatkan bentuk finalnya, juga peran serta orangtua dan masyarakat dewasa ini seolah terkikis. Atau bahkan, seolah orangtua terutama dengan adanya sistem pendidikan formal menganggap tanggungjawab pendidikan sudah ada pada guru.

“…seolah orangtua terutama dengan adanya sistem pendidikan formal menganggap tanggungjawab pendidikan sudah ada pada guru….”

Mengingat perannya, orangtua sebagai orang yang paling dekat dengan pelajar, sebagai anaknya, tentunya sangat memegang peranan besar. Dalam hal ini, ibu sangat memiliki peranan yang besar terhadap tumbuhnya pendidikan yang sebenarnya kepada anaknya. Sikap moral, semangat berprestasi dan belajar tidak mengenal waktu dan tempat adalah sangat besar bergantung dari upaya orangtua dalam hal ini ibu kepada anaknya.

Sampai saat inipun, rasanya dosa turunan mencontek saat pelajaran adalah hal lumrah yang seakan dimafhumi oleh semua pihak. Padahal jika ditilik dari segi fungsi dari ujian adalah mengukur kemampuan diri menyerap pelajaran yang diberikan, hal ini sangat jauh bertentangan dari tujuan yang diharapkan. Sikap menyontek salah satunya dapat diredam dengan sikap orangtua yang selalu menanamkan pikiran bahwa ujian bukan hanya karena pengharapan terhadap nilai yang tinggi, melainkan adalah melihat keberhasilan belajar. Kalaupun hasil belajar kurang, maka pola atau sistem belajar harus diperbaiki sehingga wejangan belajar seumur hidup akan berjalan. Dan stigma bahwa ujian hanya untuk dapat dilewati akan pupus perlahan-lahan. Sikap penanaman pola pikir seperti ini tentu saja bukan saja teman, guru ataupun yang lainnya. Hanya ada satu kata untuk mendidik anak, ibu.

……Hanya ada satu kata untuk mendidik anak, ibu…..

surga di telapak kaki ibu

surga di telapak kaki ibu

Dalam perannya kekinian, peranan perempuan Indonesia memang semakin luas karena mengikuti perkembangan pembangunan. Jika tugas mendidik anak adalah tugas wajib sejak dulu, maka kini ranah garapan perempuan Indonesia memang semakin bervariasi dan mulai masuk disegala bidang yang awalnya hanya menjadi ranah laki-laki. Wilayah ekonomi, politik, bahkan pertahanan tidak asing lagi diisi oleh perempuan. Dalam hal ekonomi misalnya, banyak sekali sekarang pemimpin bisnis perempuan. Pertahanan dan keamanan juga, misalnya polisi wanita juga tidak menjadi suatu yang aneh. Bahkan dalam konteks perpolitikan kekinian, perempuan mendapatkan porsi 30%. Yakni dalam kursi DPR/DPRD, atau juga dapat suatu struktural partai politik yang mengharuskan keberadaan perempuan dari tingkat daerah hingga pusat diisi oleh minimal 30% perempuan.

Melihat realitas yang telah bergeser, sempat beberapa waktu yang lalu muncul pembahasan rancangan Undang-Undang tentang kesetaraan gender yang mengatur tentang perempuan. Atau dalam bahasa yang digunakan adalah keadilan dari segala hal kepada perempuan dan kesejajaraanya dengan laki-laki.

“…Wanita Indonesia, kewajibanmu telah terang! Sekarang ikutlah serta mutlak dalam usaha menyelamatkan Republik, dan jika Republik telah selamat, ikutlah serta mutlak dalam usaha menyusun Negara Nasional” Bung Karno dalam buku Sarinah: Kewajiban Wanita Dalam Perjoangan Republik Indonesia

Dalam pembangunan Republik ini, dengan perannya yang luas ini, pemberdayaan perempuan Indonesia memang mutlak diperlukan dan harus menyasar dalam semua aspek pembangunan dengna catatan perempuan Indonesia tidak menghilangkan jatidirinya. Jati diri dalam konteks sifat asasinya sebagai perempuan.

Dalam tatarannya di kehidupan kaum intelektual (terutama mahasiswa), pemberdayaan ini mulai digalakkan dan dapat dikatakan memadai. Sebagai contohnya berbagai kompetisi ataupun komunitas wirausaha untuk perempuan, terlibatnya perempuan dalam sektor pergerakan, baik berbasis keilmuan, sosial, dan politik (etis). Di bidang keilmuan, peneliti-peneliti perempuan semakin banyak menunjukkan karyanya, begitupun juga pemberdayaan masyarakat oleh perempuan.

Dalam kendalanya, permasalahan sosial berupa pemberdayaan praktis perempuan (ibu-ibu) di masyarakat sangat memerlukan perhatian lebih. Karena dalam perannya, masih banyak perempuan yang melakukan tugas ganda, yakni sebagai pendidik anak dan juga tulangpunggung keluarga. Hal ini biasanya terjadi di desa tertinggal atau dalam masyarakat pinggiran perkotaan. Belum lagi dalam kondisi yang demikian, akhirnya para ibu ini juga menuntut anaknya untuk lebih memprioritaskan hidupnya untuk memenuhi kehidupan pokoknya –makan, agar dapat bertahan hidup. Ini tentunya membutuhkan solusi nyata.

“…….akhirnya para ibu ini juga menuntut anaknya untuk lebih memprioritaskan hidupnya untuk memenuhi kehidupan pokoknya –makan………”

Tuntutan pembangunan semakin membutuhkan aktor pembangunan yang banyak. Peran perempuan sudah tidak dapat dipungkiri. Solusi dari segala permasalahan bangsa juga membutuhkan langkah bertahap dan komprehensif sehingga dalam menjalankan perannya, selayaknya perempuan tetap menjadikan prioritas pendidikan kepada generasi penerus sebagai yang utama bagaimanapun background dan spesialisasi bidang keahlian yang ditekuni. Maka, kesataaraan yang kini diperdebatkan sudah tidak perlu diperpanjang karena hakikat dari perempuan sebagai partner atau pasangan dari laki-laki adalah sama-sama berkontribusi dalam pembangunan dengan karakter dan jatidirinya masing-masing.

Pendidikan adalah kunci. Semakin luas sektor pembangunan negeri ini, mempersiapkan generasi tangguh dan unggul adalah solusi nyata, dan peran itu terutama ada di tangan perempuan Indonesia. Bagaimanapun, kejayaan atau kebobrokan suatu negeri dilihat dari pemudanya. Semoga perempuan Indonesia adalah perempuan yang melahirkan dan mempersiapkan generasi-generasi tangguh itu.

Oleh: Arynazzakka, mahasiswa Akademi Kimia Analisis bogor.

ditulis dalam rangka WomenPreneur Summit 2013@UI

AKA Fair 2013: tunjukkan peranmu, bahwa kamu benar mahasiswa

AKA fair 2013: tunjukan peranmu, bahwa kamu benar mahasiswa

“…awal 2011 kita mengenal Chemistry Fair, kemudian 2012 disusul dengan IMAKA Fair. Dan sekarang adalah AKA Fair 2013…”

AKA Fair 2013

AKA Fair 2013

Organisasi mahasiswa pada dasarnya bukan hanya wahana pengembangan diri, namun juga sarana kita berkontribusi. Salah satunya adalah mengangkat citra kampus. Dan sebagai mahasiswa AKA, wajib hukumnya mengangkat citra kampus AKA. Atas dasar itulah AKA Fair 2013 ada.

AKA Fair 2013, terdiri berbagai rangkaian agenda secara beruntut. Yaitu ada Lomba Karya Tulis Ilmiah, Lomba Karya Cipta bidang Kimia, Essay tentang Bogor, Pemilihan Mahasiswa Berprestasi AKA Bogor, Sarasehan Alumni-civitas akademika, Workshop IMAKA, Simposium Nasional Pendidikan Vokasi, IKM Expo, Bedah Buku, dan ada juga bazar buku Book Fair.

Acara utama adalah Simposium Nasional yang bertujuan sebagai wahana Pencerdasan untuk masyarakat terutama pelajar dan orangtua pelajar (calon mahasiswa terutama) agar mengetahui tentang perbedaan Pendidikan Vokasi/Diploma dan Sarjana sehingga dalam pemilihan melanjutkan ke pendidikan tinggi tidak salah. Juga, agar mahasiswa (vokasi terutama) tahu apa yang bisa diperbuat, misal karya cipta atau terapan ilmu dalam kehidupan sehari-hari, terutama untuk penyelesaian masalah-masalah umum dan sederhana. Sehingga menjadi mahasiswa tidak hanya berangkat kuliah, duduk manis di kelas, ujian, kemudian selesai begitu saja sampai lulus. Namun mahasiswa vokasi mampu membuat karya nyata sebagai terapan ilmu. Selain dari itu, juga pelajar/orangtua/mahasiswa/pendidik tahu prospek kerja mahasiwa vokasi, dan skill apa saja yang bakal di tempa mahasiswa vokasi dalam menjalani pendidikan tingginya.

Lomba Karya baik tulis maupun cipta di bidang Kimia dan Essay Bogor adalah salah satu upaya nyata dalam menghimpun pemikiran dan karya keilmuan dengan harapan mampu menginspirasi dan sedikitnya memberi solusi terhadap permasalahan Bogor dan kontribusi keilmuan di masyarakat. Sehingga kebermanfaatan ilmu jelas dan terasa.

Mahasiswa Berprestasi AKA, sebuah langkah awal untuk memulai ekspansi mahasiswa AKA dibidang prestasi. Program ini telah ada dan setiap tahun diadakan oleh Dinas Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan Nasional. Semoga mahasiswa AKA ke depan mampu menunjukkan karya nyatanya sekaligus prestasi keilmuannya sehingga mampu memberi inspirasi kepada mahasiswa yang lain.

Workshop IMAKA bertujuan untuk menyaring aspirasi mahasiswa AKA dalam menuangkan pemikirannya untuk kepengurusan organisasi satu tahun ke depan. Harapan besar menghasilkan satu program yang akan dijalankan secara bersama dengan rasa kepemilikan yang sama sehingga dalam program tersebut, kontribusi mahasiswa AKA dengan organisasinya benar-benar terasa dan menginspirasi.

Sarasehan Alumni-civitas akademik diharapkan mampu menjalin koordinasi dan saling mengisi lahan kontribusi masing-masing. Saling memberi masukan sehingga kejelasan kinerja ketiganya yang berwadah dalam IKA AKAB-AKA-IMAKA benar-benar nyata, transparan,  terstruktur, dan konstruktif.

Bedah buku sebagai wahana pencerdasan tentang isu terkini yang patut diketahui dan akan diramaikan dengan bazar buku Book Fair, karena sejatinya berpengetahuan dalam bentuk membaca adalah kebutuhan. Untuk itulah Book Fair adalah wahana apresiasi membaca agar semua masyarakat tetap dapat berpengetahuan (membaca) tanpa takut kehabisan dana.

Semoga AKA Fair 2013 sukses, mengena, dan bermanfaat.