Perempuan: Pendidik Sejati Generasi Penerus Bangsa

karena perempuan adalah ibu bangsa

karena perempuan adalah ibu bangsa

Sejatinya, pembangunan Indonesia adalah pembangunan atas sumber daya manusianya. Indonesia memang negeri yang berlimpah ruah sumber daya alamnya. Namun selama ini, 67 tahun setelah kemerdekaan, dengan berbagai program pembangunannya, belumlah menunjukkan kemajuan yang signifikan.

Pembangunan sumber daya manusia, seakan terlupakan atau terpinggirkan. Basis yang selama ini menjadi motor adalah ekonomi yang masih juga ditunggangi kepentingan politik. Hakikat dari kemerdekaan seperti yang dicitakan para founding father kita adalah negeri yang adil dan makmur. Sayangnya, sampai sekarang kemiskinan di Indonesia masih merebak. Bahkan, penyakit ini menjangkiti berbagai lapis kalangan, dari yang tidak pernah mendapatkan kesempatan pendidikan sama sekali sampai yang telah menempuh pendidikan tinggi hingga sebutan pengangguran terdidik tidak asing lagi di telinga.

Berbagai persoalan lain, yakni merosotnya moral pelajar dari waktu ke waktu mendapat perhatian besar dari masyarakat. Mengingat bahwa pelajar pada khususnya dan pemuda pada umumnya adalah cadangan masa depan bangsa, merekalah yang akan memegang tonggak peradaban Indonesia. Namun kenyataan pendidikan Indonesia, sebagai salah satu pilar pembangunan SDM Indonesia masih saja mencari format ideal. Disatu sisi pendidikan yang diselenggarakan pemerintah belum mendapatkan bentuk finalnya, juga peran serta orangtua dan masyarakat dewasa ini seolah terkikis. Atau bahkan, seolah orangtua terutama dengan adanya sistem pendidikan formal menganggap tanggungjawab pendidikan sudah ada pada guru.

“…seolah orangtua terutama dengan adanya sistem pendidikan formal menganggap tanggungjawab pendidikan sudah ada pada guru….”

Mengingat perannya, orangtua sebagai orang yang paling dekat dengan pelajar, sebagai anaknya, tentunya sangat memegang peranan besar. Dalam hal ini, ibu sangat memiliki peranan yang besar terhadap tumbuhnya pendidikan yang sebenarnya kepada anaknya. Sikap moral, semangat berprestasi dan belajar tidak mengenal waktu dan tempat adalah sangat besar bergantung dari upaya orangtua dalam hal ini ibu kepada anaknya.

Sampai saat inipun, rasanya dosa turunan mencontek saat pelajaran adalah hal lumrah yang seakan dimafhumi oleh semua pihak. Padahal jika ditilik dari segi fungsi dari ujian adalah mengukur kemampuan diri menyerap pelajaran yang diberikan, hal ini sangat jauh bertentangan dari tujuan yang diharapkan. Sikap menyontek salah satunya dapat diredam dengan sikap orangtua yang selalu menanamkan pikiran bahwa ujian bukan hanya karena pengharapan terhadap nilai yang tinggi, melainkan adalah melihat keberhasilan belajar. Kalaupun hasil belajar kurang, maka pola atau sistem belajar harus diperbaiki sehingga wejangan belajar seumur hidup akan berjalan. Dan stigma bahwa ujian hanya untuk dapat dilewati akan pupus perlahan-lahan. Sikap penanaman pola pikir seperti ini tentu saja bukan saja teman, guru ataupun yang lainnya. Hanya ada satu kata untuk mendidik anak, ibu.

……Hanya ada satu kata untuk mendidik anak, ibu…..

surga di telapak kaki ibu

surga di telapak kaki ibu

Dalam perannya kekinian, peranan perempuan Indonesia memang semakin luas karena mengikuti perkembangan pembangunan. Jika tugas mendidik anak adalah tugas wajib sejak dulu, maka kini ranah garapan perempuan Indonesia memang semakin bervariasi dan mulai masuk disegala bidang yang awalnya hanya menjadi ranah laki-laki. Wilayah ekonomi, politik, bahkan pertahanan tidak asing lagi diisi oleh perempuan. Dalam hal ekonomi misalnya, banyak sekali sekarang pemimpin bisnis perempuan. Pertahanan dan keamanan juga, misalnya polisi wanita juga tidak menjadi suatu yang aneh. Bahkan dalam konteks perpolitikan kekinian, perempuan mendapatkan porsi 30%. Yakni dalam kursi DPR/DPRD, atau juga dapat suatu struktural partai politik yang mengharuskan keberadaan perempuan dari tingkat daerah hingga pusat diisi oleh minimal 30% perempuan.

Melihat realitas yang telah bergeser, sempat beberapa waktu yang lalu muncul pembahasan rancangan Undang-Undang tentang kesetaraan gender yang mengatur tentang perempuan. Atau dalam bahasa yang digunakan adalah keadilan dari segala hal kepada perempuan dan kesejajaraanya dengan laki-laki.

“…Wanita Indonesia, kewajibanmu telah terang! Sekarang ikutlah serta mutlak dalam usaha menyelamatkan Republik, dan jika Republik telah selamat, ikutlah serta mutlak dalam usaha menyusun Negara Nasional” Bung Karno dalam buku Sarinah: Kewajiban Wanita Dalam Perjoangan Republik Indonesia

Dalam pembangunan Republik ini, dengan perannya yang luas ini, pemberdayaan perempuan Indonesia memang mutlak diperlukan dan harus menyasar dalam semua aspek pembangunan dengna catatan perempuan Indonesia tidak menghilangkan jatidirinya. Jati diri dalam konteks sifat asasinya sebagai perempuan.

Dalam tatarannya di kehidupan kaum intelektual (terutama mahasiswa), pemberdayaan ini mulai digalakkan dan dapat dikatakan memadai. Sebagai contohnya berbagai kompetisi ataupun komunitas wirausaha untuk perempuan, terlibatnya perempuan dalam sektor pergerakan, baik berbasis keilmuan, sosial, dan politik (etis). Di bidang keilmuan, peneliti-peneliti perempuan semakin banyak menunjukkan karyanya, begitupun juga pemberdayaan masyarakat oleh perempuan.

Dalam kendalanya, permasalahan sosial berupa pemberdayaan praktis perempuan (ibu-ibu) di masyarakat sangat memerlukan perhatian lebih. Karena dalam perannya, masih banyak perempuan yang melakukan tugas ganda, yakni sebagai pendidik anak dan juga tulangpunggung keluarga. Hal ini biasanya terjadi di desa tertinggal atau dalam masyarakat pinggiran perkotaan. Belum lagi dalam kondisi yang demikian, akhirnya para ibu ini juga menuntut anaknya untuk lebih memprioritaskan hidupnya untuk memenuhi kehidupan pokoknya –makan, agar dapat bertahan hidup. Ini tentunya membutuhkan solusi nyata.

“…….akhirnya para ibu ini juga menuntut anaknya untuk lebih memprioritaskan hidupnya untuk memenuhi kehidupan pokoknya –makan………”

Tuntutan pembangunan semakin membutuhkan aktor pembangunan yang banyak. Peran perempuan sudah tidak dapat dipungkiri. Solusi dari segala permasalahan bangsa juga membutuhkan langkah bertahap dan komprehensif sehingga dalam menjalankan perannya, selayaknya perempuan tetap menjadikan prioritas pendidikan kepada generasi penerus sebagai yang utama bagaimanapun background dan spesialisasi bidang keahlian yang ditekuni. Maka, kesataaraan yang kini diperdebatkan sudah tidak perlu diperpanjang karena hakikat dari perempuan sebagai partner atau pasangan dari laki-laki adalah sama-sama berkontribusi dalam pembangunan dengan karakter dan jatidirinya masing-masing.

Pendidikan adalah kunci. Semakin luas sektor pembangunan negeri ini, mempersiapkan generasi tangguh dan unggul adalah solusi nyata, dan peran itu terutama ada di tangan perempuan Indonesia. Bagaimanapun, kejayaan atau kebobrokan suatu negeri dilihat dari pemudanya. Semoga perempuan Indonesia adalah perempuan yang melahirkan dan mempersiapkan generasi-generasi tangguh itu.

Oleh: Arynazzakka, mahasiswa Akademi Kimia Analisis bogor.

ditulis dalam rangka WomenPreneur Summit 2013@UI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s