Pembelajar seumur hidup (1)

Oleh: Arynazzakka*

Untukmu yang sedang mencari jati diri, atau yang sedang mengembangkan kapasitas dan kualitas diri, tulisan ini tertuju padamu, juga pada diriku

Menengok diri

siapa kenal dirinya, maka kenal Tuhannya

Mendengar kata ‘belajar’, sebagian besar dari kita langsung akan tertuju pada sekolah.Sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dan juga perguruan tinggi. Dalam kondisi ini, kita mendefinisikan belajar sama dengan sekolah, atau  kita membatasi bahwa belajar itu hanyalah hal-hal yang berhubungan dengan pelajaran-pelajaran yang diajarkan di sekolah untuk diujikan dalam ujian.

“ujian tulisan hanya bagian kecil dari ujian kehidupan”

Sebagai contohnya, ketika menjelang ujian tengah dan akhir semester, seringkali kita mengeluh, “ah, belum belajar, euy? Mana nilai ujian kemaren kecil lagi.” Namun ketika menghadapi persoalan kehidupan, baik itu masalah kepribadian diri tentang masalah sosial, finansial, ataupun agama, jarang sekali dan bahkan tidak pernah kita anggap sebagai bahan belajar.

Kita tengok sholat kita. Misalkan sholat subuh sering kesiangan, kita tidak menjadikan hal itu sebagai sesuatu yang harus kita perbaiki di subuh berikutnya, layaknya belajar kita dari ujian tengah semester ke ujian akhir semester. Atau juga misalkan kepribadian diri kita yang tertutup dan kurang suka bergaul (lebih suka menyendiri), jarang sekali kita berfikir bagaimana caranya dari hari ke hari kita belajar untuk semakin pandai bergaul.

Sekolah (institusi pendidikan) hanya sekedar alat

“sekolah sejatinya adalah alat untuk mensistematisasi pengetahuan agar pengetahuan itu mudah dipahami dan dimengerti”

Penting bagi kita memahami bahwa insitusi pendidikan (SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, dan PT) hanyalah alat untuk mendekatkan kita pada ilmu –agar kita memahami ilmu. Maka, ketika kita telah memandang institusi pendidikan bukan satu-satunya alat, kita akan mencari ‘alat-alat’ lain yang mampu mendekatkan kita pada sumber ilmu. Prinsipnya sederhana: murid-guru. Kita sebagai murid dan selanjutnya kita butuh guru, guru yang mengajari ilmu yang kita butuhkan.

“….institusi pendidikan bukan satu-satunya alat, maka kita mencari ‘alat-alat’ lain lain yang mampu mendekatkan kita pada sumber ilmu. Sederhana: cari guru!”

Selanjutnya, sebagai pembelajar seumur hidup, kita tidak lagi memperdulikan guru dari segi umur, dari segi jenis kelamin, namun dari segi kapasitas –belajar dari ahlinya agar tidak sesat karenanya. Meski, sebagai pembelajar seumur hidup, kita juga harus pandang ilmu sebagai objek (apa yang dibicarakan) bukan subjek (siapa yang berbicara. Pada kondisi ini, bisa jadi seseorang pada satu waktu menjadi murid dan pada waktu yang lain menjadi guru. Misalkan, si A berguru bahasa Arab pada si B pada satu waktu, dan si B pun berguru pidato (public speaking) pada si A karena si A pandai pidato dan si B pandai bahasa Arab.

“…bisa jadi di kelas kita sebagai guru yang mengajar murid,namun ketika di luar kelas kita belajar dari murid kita karena kita tahu ia lebih mengetahui. Karena tidak ada keangkuhan dalam jiwa pembelajar seumur hidup”

Alat-alat untuk mendekatkan sumber ilmu yang lain adalah perkumpulan-perkumpulan baik yang bersifat mengikat (seperti organisasi) atau tidak mengikat (komunitas). Maka dalam jiwa pembelajar seumur hidup, tidaklah menjadi soal ketika dalam sekolah formal ia menuntut ilmu kimia di kelas sementara cita-citanya adalah Presiden direktur percetakan buku dan media masa. Atau juga, tidak menjadi soal jika seseorang terdaftar di sebuah perguruan tinggi dengan jurusan matematika namun ia mencurahkan sebagian besar waktunya mempelajari dan mempraktikan ilmu-ilmu manajemen dan sosial, karena cita-citanya adalah gubernur –yang akan memimpin dan mengatur masyarakat menuju adil sejahtera.

Maka dari itu, sudah saatnya kita pandang seluruh lingkungan sekitar kita adalah medan belajar. Insitusi pendidikan yang berwujud sekolahan hanyalah satu diantara banyak alat yang dapat kita gunakan untuk mendekatkan diri pada ilmu –sehingga belajar bukan lagi diartikan sebatas di ruang kelas, di laboratorium. Apa yang kita jumpai dan dimanapun kita, itulah laboratorium dan ruang kelas kita sebagai medah belajar. Saya selalu mencoba untuk melakukannya, kamu?

Salam pembelajar seumur hidup!

*penulis merupakan mahasiswa AKA Bogor angkatan 2010, sangat berminat dalam hal #Kepemimpinan dan Pengembangan diri dan semua bidang ilmu pengetahuan, bercita-cita menjadi ketua IKA-AKAB 2032 dan mendirikan Masyarakat Analis Kimia Indonesia, Ahli Teknik Kimia 2021 (akademis), Menteri Penerapan Teknologi 2039 (politik), Menteri Perindustrian 2044 (politik), Presiden Direktur Koran Mahasiswa Indonesia (wirausaha). Berniat mengajar di AKA Bogor  pada 2022 bidang Fisika, Capita Selecta Kimia, dan Eksperimen Kimia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s