Condrodimuka saat bertahta

rampok mahasiswa

Condrodimuka dahulu adalah seorang mahasiswa. Ia bercita kelak mengabdi di kampusnya. Entah dengan tujuan apa.

Akhirnya, cita-cita itu terwujud juga. Condrodimuka telah mengabdi di tempat ia dahulu pernah dididik. Bahkan, sekarang memiliki jabatan yang tinggi dan sangat dekat dengan rektor. Menjadi kunci peraturan-peraturan kepada mahasiswa yang berkaitan dengan akademik.

Entah karena obsesi atau niat apa, ia begitu bersemangat membangun. Tapi entah apa yang dibangun, tidak pernah jelas. Ia hanya mengikuti apa yang dalam pikirannya anggap benar dan baik. Sebelum mengabdi, ia sempat melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi. Ya, di sana dia mendapat banyak inspirasi. Tapi tetap, ia adalah anak yang rajin. Tidak mau ikut organisasi, hanya mengamati dan menyimpulkan menurut persepsi yang dia miliki. Mungkin ini sebab ia sinis pada para candu organisasi.

Sudah dua tahun ini dia menjadi pejabat tinggi. Peraturan yang menurutnya baik dan benar pun mulai satu persatu dijalani. Namun sayang, itu semua tanpa komunikasi, tukar pikiran dan informasi. Hanya taktik jitu yang dia pakai dan pelajari, “sebarkan informasi pada orang-orang yang masih polos, dan sedang mencari jati diri”.

Kini, ia mengeluarkan peraturan yang aneh dan nyeleneh, gagap dan compang-camping. Kondisi tiap tahun pasti ada anak didiknya yang mempersiapkan kelulusan. Maka ini ia manfaatkan. Benar-benar Ia memanfaatkan kesempatan. Dasar otak sudah dirasuki uang, atau apalah motif tak jelas. Coba saja bayangkan, anak didiknya yang sedang bersusah payang berjuang untuk kelulusan dimanfaatkan. Ditariklah uang-uang karena ia tahu pasti anak didiknya rela mengeluarkan berapapun uang asal bisa lancar kelulusan. Dibuatlah kemudian peraturan di tengah jalan, bagi yang begini-begitu, maka dikenakan bayar uang.

Tapi anak didiknya juga tidak bodoh-bodoh amat. Mereka tanyakan apa sebab dibuat peraturan pengerek uang. Dia sudah tahu, dan persiapkan jawaban. Katanya agar anak didiknya tidak malas-malasan. Katanya itu peraturan pemerintah tapi entah nomor berapa. Katanya itu denda karena langgar peraturan. Anak didiknya pun lanjut mengadakan klarifikasi bersama. Apa jawab dia beserta teman sekomplotannya.  Malahan curhatan atas kondisi kampus yang kini ia jadi pejabatnya. Katanya banyak yang mundur dari karyawannya. Katanya THR lebaran belum dibayarkan, malahan ia bersama kawan sekomplotan harus iuran.

Anak didiknya tidak lugu-lugu amat. Jangan-jangan uang yang dibayarkan untuk menutup bolong-bolong kas iuran bersama komplotan. Jangan-jangan ia rayakan panen uang setiap kelulusan. Kabarnya juga akan diberlakukan mulai dari sekarang hingga ke depan. Waduh, condrodimuka memang pintar berkilah, atau memang licik karena orientasi uang.

Buru-buru setelah acara klarifikasi bersama anak didik dilakukan, digantilah pengumuman-pengumuman yang dulu telah ditempelkan. Digantilah tulisan dari denda menjadi kewajiban bayar. Ya, sebisa-bisanya  agar “rasional” dan “ilmiah” menurut pandangan para komplotan. Anak didik akhirnya terpaksa bayar. Namun ada kejanggalan dalam kuitansi pembayaran. Anak didik sadar ini penyelewengan. Kuitansi bukti pembayaran tertulis bahwa yang anak didik bayarkan itu adalah uang untuk semester yang jelas-jelas dia sudah lalui. Anak didik berpikir ia seolah-olah hutang. Ini yang membuat rencana si komplotan ketahuan.

Anak didik tidak rela dibodohi komplotan. Maka, ia buat tulisan perlawanan, surat tembusan dan tuntutan pada pejabat bersangkutan, agar penyelewengan ini dituntaskan. Agar para komplotan diberi teguran. Namun, condrodimuka tetap senang sekarang. Mungkin dipikirnya ini hanya gertak sambal. Tunggu saja. Akankah ada tangisan?

#sastraPerjuangan

2 thoughts on “Condrodimuka saat bertahta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s