Orang-orang hebat di sekitar kita

*tulisan ini merupakan selipan dari judul tulisan interdependence

Begitu banyak orang hebat di sekitar kita jika kita menyadarinya. Terlebih apabila kita mau bersilaturahmi dengan mereka. (tulisan ini untuk sementara mengesampingkan teman-teman seumuran kita).

Bp Wuri. Beliau tetangga kita. Kita tidak pernah menyangka bahwa beliau adalah aktivis HMI pada mudanya. Sekarang beliau turut aktif dalam kepengurusan Muhammadiyah tingkat daerah dan berencana membuat perguruan tinggi Muhammadiyah di Bogor. “Biar Bogor tidak kalah dengan Malang dan Solo” ucapnya. Dua tahun lagi memang beliau akan pensiun jika tidak naik tingkat/jabatan. Jabatan saat ini beliau merupakan kepala bagian perencana dan anggaran Balai Besar Industri Agro Kemenperin.

Pesan beliau begitu sederhana, dan mendalam. “mengabdikan hidup pada ummat (masyarakat) akan selalu menyulut semangat dan membuat hidup bergairah”. “maka beruntunglah orang sepertimu, dik, yang telah aktif dalam kegiatan bermasyrakat, berorganisasi semenjak muda” pesannya. Dalam persepsi umum masyarakat memang beliau bisa dibilang sukses (dalam timbangan materi): memiliki SPBU, pesantren yang dilengkapi dengan pertanian. Saya pun juga memandang demikian. Namun tetap saja, di umur yang sudah tidak lagi muda, beliau mengatakan bahwa belum banyak hal yang bisa beliau lakukan.

Pernyataan terakhir “belum banyak hal yang bisa beliau lakukan”, coba kita renungkan, betapa pernyataan tersebut bertanya pada kita “apa yang sudah kamu lakukan?”

Interdependence, kesalingtergantungan

Independence, Kemandirian yang kini kita puji

Kemandirian adalah suatu kata yang menarik bagi siapapun. Bagi pemuda yang baru saja lulus kuliah, bagi organisasi yang sering anggotanya sering bertikai mengenai sikap organisasi, ataupun dalam wacana kebangsaan sebagai persepsi sebuah “keunggulan” ataupun kesejajaran dengan bangsa lain: kemandirian bangsa.

Bai seorang pemuda yang baru saja lulus kuliah, pilihan kemandirian biasa akan mengacu pada kemampuan diri untuk memiliki usaha sendiri sehingga juga mampu membuka lowongan pekerjaan, bukan mencari lowongan pekerjaan.

Bagi organisasi, kemandirian biasanya diukur dari upaya menentukan sikap dan arah organisasi tanpa dipengaruhi pihak manapun yang bukan berasal dari anggota organisasi (internal organisasi) sendiri. Kemandirian dilihat berdasarkan agenda-agenda yang dibuat dan diselenggarakan secara sendiri yang menunjukkan jati diri organisasi (atau simbol organisasi).

Bagi bangsa, kemandirian biasanya diidentikkan dengan kemampuan bangsa sendiri untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, dan hal-hal lain yang dibutuhkan dengan catatan: dikerjakan sendiri, selain juga penentuan sikap dan masa depan bangsa yang tidak mau dicampuri oleh “asing”.

Kemandirian, sebagai ekspresi dari “kemerdekaan” lantas mendapatkan tempat yang tinggi dalam persepsi kita. Seakan kemandirian adalah tujuan tertinggi, seakan kemandirian adalah bentuk utama dari sebuah perlawanan terhadap ketergantungan.

Bukankah kemandirian yang demikian adalah sebuah sikap yang reaktif? Sikap yang merupakan reaksi dari sebuah perlawanan terhadap ketergantungan? Lantas, sikap apalagi yang seharusnya kita miliki dan kita jadikan landasan efektif dalam pencapaian sebuah tujuan?

Interdependence, kesalingtergantungan yang sering kita abaikan

Secara umum usaha manusia memang diarahkan dari ketergantungan menuju kemandirian. Maka, setiap manusia yang lahir dan berusaha mencapai cita-citanya berusaha melepaskan diri dari ketergantungan-ketergantungan yang membelenggu hidupnya.

…..bersambung (dulu)