Antara program dan cita-cita

“kita orang islam belum mampu menterjemahkan kebenaran ajaran Islam dalam suatu program pencapaian. Antara ultimate values dalam ajaran Islam dengan kondisi sekarang memerlukan peterjemahan-penterjemahan. Dan ini tidak disadari. Di situ mungkin kita akan banyak berjumpa dengan kelompok pragmatisme, tapi jelas arahnya lain. Karena seperti itulah kita menjadi orang yang selalu ketinggalan dalam usaha pencapaian dan cenderung eksklusif.

Penolakan kita terhadap progam oriented, sesungguhnya bersumber dari ketidakmampuan kita untuk berlomba dalam program secara tak langsung. Ini jelas menunjukkan betapa rendahnya kemampuan terjemah kita. Akibatnya kita hanya terpaku pada cita-cita akhir, tapi tidak ada sama sekali pada usaha atau program pencapaian. Bahkan menurut Iqbal, Islam itu adalah mementingkan karya dan bukan cita-cita. Tak bisa disangkal, realita selalu berubah dan berkembang. Perjuangan kita menjadi semacam emosional dan sloganistis.”

(17 Januari 1969, Catatan Harian Ahmad Wahib, Bagian 1)

Membaca tulisan awal dari catatan harian di atas (yang kemudian terbit dalam sebuah buku berjudul “Pergolakan Pemikiran Islam”) sangatlah menarik apabila kita menghubungkannya dengan kenyataan yang terjadi dalam organisasi kita sekarang.

Perjuangan, kata yang sering kita lontarkan atas nama organisasi itu kini menjadi emosional dan sloganistis, seperti kritik Ahmad Wahib di atas. Dan nampaknya, ini terjadi bukan saja dalam era kita, namun juga dalam waktu-waktu sebelumnya.

Kata perjuangan memang seolah menggambarkan sebuah tujuan akhir yang utopis, yang tidak dapat di ukur pencapaiannya. Dan ini yang menjadikan proses pencapaian tujuan dari organisasi islam, gerakan islam, atau katakanlah islam itu sendiri menjadi kabur. Kita tidak pernah tahu sampai dimana posisi kita terhadap tujuan yang ingin kita capai.

Islam mementingkan karya dan bukan cita-cita, pesan Iqbal yang merupakan jawaban dari persoalan di atas menjadi menarik untuk kita telaah lebih lanjut.  Karya merupakan suatu titik-titik tertentu dalam sebuah pencapaian. Dan ini memang lebih realistis dan terukur. Dengan karya melalui usaha atau program-program pencapaian, kita menjadi lebih tahu sejauh mana organisasi ini bergerak menuju cita-citanya?

Lantas, apa program pencapaian yang harus dilakukan dalam perioder-periode ke depan menurutmu?

*judul tulisan ini mengutip judul tulisan Ahmad Wahib dalam Catatan Hariannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s