Sekolah bisnis terbaik dunia!

Si anu punya warung makan. Itu bisnis. Si anu jualan make up di olshop. Itu bisnis. Si itu punya perusahaan supplier alat. Itu bisnis. Si itu punya pabrik kertas. Itu bisnis. Benarkan kesemuanya itu adalah pebisnis seperti yang dikategorikan Robert Kiyosaki dalam Cashflow Quadrant nya?

Begini. Secara gamblang, R Kiyosaki membagi setiap orang dalam 4 kategori, yakni E (employee), S (Self-employee), B (business owner), dan I (investor). Dan ternyata, dalam menjabarkan tentang pemilik bisnis, Kiyosaki memaparkan bahwa seorang B itu ialah yang memang memiliki sebuah usaha yang meski ia tinggalkan selama satu tahun atau lebih, pendapatannya tidak berubah dan justru naik. Ingat, seorang B tidak perlu sama sekali mengurus usahanya sendiri!

Berbeda dengan seorang S. mereka memang pekerja keras. Sangat ulet dan tahan banting serta tekun. Namun, ia masih saja terus menerus harus menjalankan usahanya dan tidak bisa meninggalkan usahanya tersebut. Jadi, selama sebuah usahanya masih melibatkan pemiliknya secara langsung, ia memang pebisnis, namun masih berkategory S. (panjang lebar penjabaran E-S-B-I ini dapat dibaca di buku Cashflow Quadrant nya Robert T Kiyosaki)

Mari sekarang kita berfikir untuk bertindak bagaimana caranya dapat memiliki bisnis kuadran B. maksudnya, kita nantinya kita punya bisnis yang ketika telah berjalan tidak memerlukan campur tangan kita sama sekali. Kita bisa bebas jalan-jalan bahkan melakukan apa pun yang kita suka. Lebih banyak menolong orang, dan sebagainya.

Untuk menjadi orang dengan golongan kuadran B, ternyata ada tiga tipe bisnis yang dapat kita jalani. Pertama memiliki sebuah usaha besar seperti Rahmat Gobel dengan Panasonicnya, atau Chairul Tanjung dengan CT Corp nya, maupun Mochtar Riady dengan Lippo Group nya. Bisnis tipe ini memang membutuhkan waktu (yang lama), sekaligus siap harus jatuh bangun dengan investasi yang besar dan juga risiko yang tidak kecil. Dibutuhkan mental, fisik, emosi, dan spiritual yang sangat kuat untuk menjalani proses menuju bisnis ini.

Selanjutnya, ada tipe bisnis yang kedua. Apa itu? Yakni bisnis model franchise atau waralaba. Seorang pebisnis tipe ini memang harus sama-sama berjuang untuk membuat system dalam usaha. Tentunya, modal yang dibutuhkan lebih kecil dari tipe bisnis yang pertama di atas, meski risiko nya juga tidak jauh berbeda dan memang harus berjuang dari bawah dengan usaha membentuk pasar dan juga persaingan yang lumayan ketat. Ketika system di usahanya telah berhasil dan menghasilkan, maka bisnis ini akan mencari mitra dan membukan cabang di berbagai daerah dan akhirnya akan tumbuh besar.

Dan apa yang ketiga itu?

Ialah bisnis pemasaran jaringan, atau disebut multi-level marketing (MLM). Pasti ada yang berkata dalam hatinya,”anda tidak salah? Bahwa MLM anda sebut sebagai bisnis yang dapat mengantarkan setiap orang memasuki kuadran B?” sebuah pertanyaan dalam hati yang bagus. Tentu saja, tentu saja saya dengan yakin akan menjawabnya “Iya!”. Bisnis pemasaran jaringan adalah sebuah bisnis yang dapat mengantarkan setiap orang memasuki kuadran B.

Bisnis pemasaran jaringan adalah sebuah pembaruan dalam dunia bisnis yang begitu mengguncang dunia. Ia menyajikan cara-cara dan memberikan setiap orang kesempatan untuk menjadi kaya, menjadi pribadi layaknya orang kaya. Bayangkan saja, dengan modal yang sangat kecil, setiap orang berkesempatan untuk menjadi orang kaya. Dan tidak hanya itu. Setiap mereka dididik untuk memiliki sikap-sikap orang kaya yang selama ini hanya diketahui oleh mereka yang kaya saja.

Bukankah sebuah bisnis pemasaran jaringan adalah sebuah bisnis yang sangat menarik dan merupakan alternative? Tentu saja. Di dunia ini, betapa banyak orang yang mengeluhkan pendapatannya yang kecil, tidak mampu menutupi kebutuhannya yang kian waktu kian besar. Sementara pada tipe bisnis pertama dan kedua setiap orang yang menjalankannya harus purna waktu, menginggalkan pekerjaan utamanya. Tipe bisnis ketiga ini, yakni bisnis pemasaran jaringan dapat dikerjakan secara paruh waktu. Bukankah ini adalah sebuah solusi?

Coba kita fikirkan dengan seksama.

note: tulisan ini adalah hasil pemahaman dari buku Rich Dad’s Business School: For People Who Like Helping People Karya Robert T Kiyosaki.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s