Pandangan Hidup seorang kader gerakan

Setiap manusia memiliki tugas kader. Adapun pengertian kader adalah sekelompok kecil orang atau anggota masyarakat yang mampu menjadi tulang punggung masyarakat yang lebih besar, atau yang mampu menggerakkan masyarakat yang lebih besar. Dalam artian, oleh merekalah (kader), masyarakat itu bertindak secara bersama.

Maka, sebagai seorang kader gerakan seperti penjelasan di atas, wajib memiliki sebuah pandangan hidup. Namun seringkali, kita sebagai manusia terjebak dengan jargon atau sebutan atau istilah pandangan hidup itu sendiri, bukan terhadap makna berikut penjelasannya. Misalkan bahwa seorang itu pandangan hidupnya Pancasila, Islam, Sosialis, ataupun yang lainnya. Ketika ditanya, apa pandangan hidupnya, maka dengan tegas dan tanpa ragu menjawab: “Pancasila”, yang lain menjawab: “Islam”, dan sisanya menjawab: “Sosialis”.

Namun sayang, ketika ditanya pandangan hidup Pancasila itu yang seperti apa, apa yang menjadi dasar pandangan hidup tersebut, dan apa yang harus dilakukan selama hidupnya ketika menjadikan Pancasila sebagai pandangan hidupnya. Dihadapkan pada berbagai rangkaian pertanyaan tersebut, penganut pandangan hidup Pancasila sebagian besar terdiam, dan kurang mampu menjelaskan. “Pokoknya Pancasila, kekal, dan abadi!” Maka dalam hal ini, Pancasila sekadar menjadi Simbol tanpa nyawa.

Demikian pula yang terjadi pada sebagian penganut pandangan hidup “Islam”, “Sosialis”, ataupun lainnya.

Islam, sebagai agama kaum berpikir, mengajak kita menggali makna-makna kehidupan, terkait juga cara kita memaknai agama dan menjalankan hidup dengan semestinya.

Pernah ada suatu masa pedoman-pedoman pemaknaan hidup yang menjadi pegangan begitu banyak kaum muda, sebut saja Pustaka Kecil Marxis, Fundamental Value of Social Democratic, Nilai Dasar Perjuangan, Kredo Gerakan.

Dari kesemuanya itu, saya paling puas kepada Khittah Perjuangan Himmpunan Mahasiswa Islam. Silakan download dan baca di link berikut:

Pandangan Hidup Kader Gerakan

Pembahasan dan perbandingannya menyusul.

Oleh:
Arynazzakka

ttd zakka

Iklan

Kesediaan untuk memulai

logo LabOr

Suatu kali saya ingin menerbitkan sebuah media mass berupa Koran bertemakan mahasiswa sebagai subjek dan masyarakat Indonesia sebagai pokok bahasan. Media itu rencananya bernama Koran Mahasiswa yang mengambil inspirasi persis dengan media mingguan KAMI “Mahasiswa Indonesia”, satu-satunya media hasil kelolaan mahasiswa yang bisa dibilang dikelola secara “serius” dan memiliki kekuatan dan posisi tawar yang cukup tinggi di pemerintah Indonesia.

Saya ingin mencari percetakan. Bersama seorang kawan bernama Berry, ketemulah tempat percetakan yang bersedia mencetak media massa saya tersebut di suatu tempat di Bogor. Berry yang memiliki teman kuliah (yang kini telah lulus) ternyata memiliki usaha yang sama, yakni percetakan. Uniknya, tempat percetakan itulah tempat temannya belajar membuat usaha yang serupa. Kabar baiknya, mereka tidak berkeberatan membagi “rahasia dapur” usahanya kepada beberapa anak muda yang berniat “menduplikasi usaha serupa” yang bisa jadi di masa depan akan dapat merebut pelanggannya (atau menjadi saingannya).

Ditanya mengenai alasan kesediaan membagi rahasia dapurnya, pemiliknya pun berbicara santai (kira-kira begini), “saya dulunya juga seperti kamu. Dan saya suka apabila ada pemuda yang memiliki semangat dan usaha yang sama. Saya tidak perlu khawatir apabila nanti usahamu sudah besar, atau banyaknya usaha serupa, atau bahkan karyawan yang pindah, karena saya punya banyak tunas. Dan tunas itu banyak dari sekolah”.

**

Ada beberapa kata kunci yang dapat kami ambil dari pernyataan di atas. Pemuda, tunas, keseriusan. Begini kami menjabarkan: bahwa segala usaha apapun baik yang hanya bermotif ekonomi, atau ditambah motif lain seperti social, politik, pemuda selalu memiliki potensi yang lebih besar apabila mau memulainya dengan segera dan keseriusan. Dan kunci kontinuitas atau keberlangsungan usaha yang telah dibangunnya itu adalah selalu memiliki stok (tunas) dari lembaga pendidikan karena ini akan menjamin keberlangsungan usaha yang telah dibangun.

**

Lantas dari cerita di atas, kemana saya akan membawa pembicaraan?

Kawan. Kita sebagai alumni AKA Bogor terbagi dalam dua segmen, yakni Regular dan TPL. Regular dalam hal ini objeknya adalah industry besar atau universitas sedangkan TPL adalah IKM. Pekerjaan yang dilakoni Regular secara umum memang menjadi Buruh sedangkan TPL pada awalnya sebagai pegawai yang diharapkan menjadi wirausahawan.

Regular dan Buruh. Saya melihat potensinya ada di kekuatan jumlah massa. Bukan untuk mendemo, melancarkan tuntutan-tuntutan layaknya gerakan buruh pada umumnya. Saya melihat potensinya pada kecakapan/keterampilan yang dimiliki dalam menunjang berjalannya industry. Kecakapan/keterampilan tersebut sebenarnya merupakan ilmu yang mahal. Maka, sayang sekali apabila tidak dibagi, apalagi pengumpulan kekuatan hanya diarahkan pada aksi massa demonstrasi yang terkadang hanya dimanfaatkan para petinggi organisasi buruh untuk kepentingan pribadinya.

Secara sederhana, alumni AKA yang rata-rata menjadi analis kimia di indutri seharusnya dapat mencatat kegiatan hariannya dan memformulasikannya menjadi serangkaian ilmu. Apalagi, tempat bekerja yang beragam yakni bidang polimer, tambang, oil n gas, lingkungan, food and bavarages, farmasi, dll akan menjadi ilmu yang bermanfaat dan dapat dikonversi menjadi ladang penghasilan apabila diorganisir dengan baik. Sayangnya, belum ada yang serius melakukannnya.

TPL dan IKM. Saya melihat potensinya karena jaringan IKM tersebar di seluruh Indonesia. IKM yang tersebar itu seharusnya mampu memperluas jangkauan pasar tiap IKM daerah yang biasanya jangkauannya hanya di daerahnya sendiri. Sebagai contoh acara INACRAFT yang tiap tahun diadakan oleh beberapa kementrian. Pada suatu saat, apabila IKM ini diorganisir dengan baik, maka akan mampu mengadakan acara serupa INACRAFT sendiri dengan tempat yang bisa bergantian antar daerah.

**

Saya sudahi dulu karena memang tujuan awal tulisan saya ini memberi gambaran awal. Apabila ada keseriusan mewujudkan, maka selalu akan ada jalan. Disinilah saya memulai. Berniat ikut berpartisipasi?

***bersambung***

Oleh: Arynazzakka, AKA 2010-2013

ttd zakka

Pekerjaan jaringan

Connecting the dot

Connecting the dot

menjadi manusia sebelum apapun

Manusia terlebih dahulu harus menyadari bahwa sebelum apapun ia adalah manusia. Bukan yang ia anggap seperti dirinya kini: dokter, sales, teknisi, guru, dosen, office boy, satpam, dan lainnya. Kita seringkali terjebak mengidentikkan diri dimanapun, kapanpun, dan kepada siapapun sesuai profesi utama yang sedang kita jalani. Akibatnya kita seringkali terjebak hanya belajar dan tertarik pada hal-hal mendukung profesi utama kita saja. Padahal, seandainya saja kita sadar bahwa kita adalah manusia sebelum apapun, maka dalam hal apapun kita akan tertarik dan belajar. Belajar dari mana saja dan apa saja meski kita juga terus mempertajam terhadap hal yang berkaitan dengan profesi utama.

jaringan

Jaringan, bahasa kerennya networking. Seorang menjadi mahasiswa bertemu dengan mahasiswa lainnya, itu jaringan. Ia bertemu banyak dosen, itu jaringan. Ia mengikuti wadah organisasi minat bakat, lembaga, organisasi daerah, organisasi lintas wilayah, itu jaringan. Ia mengikuti pengajian yang disitu ada berbagai peserta dari berbagai background profesi, itu jaringan. Ia menjadi seorang analis di laboratorium, memiliki atasan, itu jaringan. Ia ingin memiliki website dan menghubungi temannya meminta tolong membuatkan website dan dikenalkan dengan seorang web designer, itu jaringan. Ia belanja ke pasar dan mengetahui berbagai produk beserta perbandingan harga antar pedagang, itu jaringan. Ia terlibat dalam perpolitikan daerah, berinteraksi dengan berbagai kelompok kepentingan, itu jaringan.

Dan jaringan adalah kekuatan.

Jaringan adalah titik temu antar manusia dalam beragam aspek atau segi. Bisa satu, dua, tiga, ataupun lebih. Manusia memang memiliki beragam pandangan. Namun, keberagaman pandangan atau perbedaan itu bukanlah sebuah halangan untuk menjalin jaringan karena dibalik perbedaan, selalu ada persamaan atau titik temu dalam hal-hal lain.

perihal ekonomi

Pertumbuhan ekonomi dunia begitu pesat. Disamping adanya gap lebar antara si kaya dan si miskin ataupun masih banyak masyarakat yang memiliki penghasilan rendah, namun untuk jalan untuk mencari tambahan penghasilan begitu banyak dan ‘mudah’.

Revolusi teknologi informasi menyajikan suatu profesi baru yang menjanjikan: pengerjaan cepat dengan hasil yang ‘besar’. Misalkan saja webdesigner. Profesi lain yang bisa dikerjakan paruh waktu dan menjanjikan penghasilan yang besar ialah sales and marketing, terutama sales asuransi dan sales property. Disamping itu ada tantangan menggiurkan dari berbagai brand produk dengan mengandalkan sistem MLM yang menjanjikan passive income. Ya, rasanya hanya dibutuhkan kunci tekun dan kerja keras untuk menjalaninya: ketahanan.

sales

Sebagian besar masyarakat kita sampai sekarangpun (apalagi di pedesaan) masih menganggap miring profesi sales. Dalam benak mereka, sales adalah seorang yang dari pintu ke pintu menawarkan barang yang kadang dapat terjual dan selebihnya menghadapi penolakan, atau terkadang cacian.

Sales adalah bisnis penolakan. Namun profesi ini bagi banyak orang adalah kunci percepatan dari penghasilan, apalagi jika didukung sistem passive income. Sekali closing langsung mendapat sekian persen selama sekian tahun.

Profesi sales memang membutuhkan berbagai macam ilmu (teori dan nantinya akan matang di lapangan/praktek). Mulai dari pengetahuan umum menjual, negosiasi, product knowledge sampai hal-hal yang bersifat psikologis: menghadapi bermacam karakter manusia.

Teknik menjual di setiap segmen berbeda: direct selling (face to face), selling to distributor, ataupun business to bussines.

Hal yang membuat saya tertarik dengan profesi ini adalah karena baru diprofesi ini saya menemukan orang-orang sangat antusias menjalani hidup, saling memompa semangat, memberi masukan dan pengembangan karakter diri secara tim. Ya, bisa jadi hal ini tidak akan saya temukan di tempat lazimnya seorang lulusan analis.

Dan sales adalah pekerjaan jaringan.

organisasi

Bahwa segala tujuan bersama akan lebih mudah tercapai jika diorganisasi dengan baik. Dari hal tersebut, organisasi  menawarkan harapan, bagi anggotanya ataupun simpatisannya.

Organisasipun kemudian melakukan branding: profit dan non-profit, yang orientasinya keuntungan (materi) dan bukan orientasi keuntungan. Biasanya organisasi non-profit berorientasi sosial. Sebutlah contoh organisasi mahasiswa. Organisasi yang diisi oleh darah-darah segar para pemuda.

Namun meski sama-sama diiisi oleh darah segar pemuda, organisasi non-profit terlihat lebih “susah” mencapai target dan tujuannya dari pada organisasi profit. Malahan, organisasi profit sering lebih mendominasi dalam hal pengaruh: bahkan sampai tingkat dunia.

Sebagai contoh organisasi profit ini (saya ambil yang popular) adalah Apple dan Microsoft. Dua buah organisasi yang sama-sama didirikan dan dipimpin oleh seorang yang sangat muda. Apalagi kalau sekarang kita sebut tokoh-tokoh revolusioner dalam perkembangan teknologi informasi yakni Google, Yahoo, Facebook, Instagram, Twitter, Xiaomi dan masih banyak lagi. Dan saya belum mendengar gaung dari organisasi non-profit yang dipimpin oleh seorang muda, kalaupun ada terdengar lirih dan itu hanya menjadi cerita.

Apakah memang lebih berat untuk menjalankan organisasi non-profit daripada organisasi profit?

Padahal jika dilihat dari segi modal (capital), organisasi non-profit sangat mengutamakan modal manusia (atau sebutan kader): social capital. Dalam pandangan klasik, organisasi profit cukuplah kalau ada modalnya berupa materi meski juga tidak abai dalam hal SDM (namun mengikuti perkembangan organisasi).

Di zaman ini, modal sosial menjadi sama-sama penting bagi organisasi profit dan non-profit, bahkan ketika organisasi baru dimulai. Lantas, dimanakah letak masalahanya sehingga organisasi non-profit cenderung lambat berkembang jika tidak dipimpin oleh superman?

……………..bersambung……………….

Kemenangan ide

kemenangan ide

Kemenangan, lazim dalam sebuah kompetisi. Ia juga tidak asing kita kenal dengan fastabiqul khoirot –berlomba dalam kebaikan.

Ada kemenangan, ada kekalahan. Kalah, suatu hal yang menyakitkan? Mungkin iya bagi sebagian orang. Menang mutlak dan kalah mutlak, hanya tepat berada dalam arena battle, pertarungan. Tapi tidak untuk war, pertempuran.

Battle (pertarungan) hanya satu lawan satu layaknya gulat. Tetapi war (pertempuran) melibatkan banyak orang, melibatkan pasukan. Dan di organisasi kita sekarang, kita bukan sedang melakoni battle, namun kita sedang dalam kondisi war.

Maka, pergantian kepengurusan baru bukan sekedar masalah terpilihnya ketua baru dan juga kesiapan anggota untuk dipimpin oleh ketua yang baru. Mengacu pada kondisi war, kondisi pertempuran tersebut di atas, hakikat kepengurusan baru (yang akan dijalankan) dimulai dengan adanya ‘pertempuran’ ide dari setiap kelompok kepentingan, adanya ‘pertempuran’ ide dari setiap anggota organisasi.

Adalah mustahil berbicara tentang kepengurusan baru –bahkan pembaharuan gerakan- apabila yang dipakai adalah ide-ide lama tanpa adanya pengembangan. Dan, siapa lagi yang mencetuskan ide-ide baru tersebut kalau tidak anggota organisasinya sendiri?

Ya, kita: saya, kamu, dan semua yang masih menjadi bagian dari anggota organisasi harus berpikir dan melontarkan ide-ide kita. Kita harus jujur terhadap organisasi. Dan menurut hemat saya, salah satu tanda kita jujur terhadap organisasi adalah kemauan kita untuk melontarkan ide-ide kita demi kebaikan dan kemajuan organisasi ke depan.

Dalam skala daerah, kita memerlukan platform ekonomi daerah, platform kemuslimahan daerah, platform latihan kader daerah, platform pengelolaan asset organisasi, platform keuangan organisasi, platform komando pasukan daerah, platform social daerah, dan berbagai platform kebijakan public yang meliputi pendidikan, kesehatan, dan lainnya. Tiap partisi yang disebut di atas perlu menjadi pembahasan kader sebagai anggota organisasi yang akan turut serta dalam berhasil atau tidaknya pencapaian organisasi ke depan. Jangan kita tunggu terselenggaranya musyawarah baru berembug hal di atas yang nyata-nyata waktu yang ada singkat sementara kepala yang berpikir begitu banyak: tidak efektif.

Bagi saya, kemenangan pertempuran ini bukan masalah terpilihnya seseorang yang dianggap layak memimpin disertai dengan banyaknya pendukung. Kemenangan sesungguhnya dari kompetisi ini, dari war ini, adalah kemenangan ide dari tiap-tiap anggota yang terlibat dalam ide-ide pembaruan organisasi yang akan dijalankan dalam kepengurusan ke depan.

Maka, apa idemu?

2015: Apa yang bisa kita kerjasamakan di masa depan?

Theranos Lab

Theranos Lab

Ada sebuah kisah yang inspiratif dari seorang wanita muda dan cantik bernama Elizabeth Holmes. Ia merupakan Triliuner wanita paling muda di dunia saat ini setelah memutuskan keluar dari kampusnya Stanford University pada semester 3 (pada umur 19 tahun). Masuk dalam daftar orang terkaya nomor 111 di dunia dalam umurnya yang baru 30 tahun. Adalah perusahaan lab uji darah bernama Theranos yang mengantarkan dirinya seperti sekarang ini. Tujuan awalnya sangat mulia: ia ingin mempersingkat waktu pengujian darah dari pasien dari beberapa hari menjadi beberapa jam saja, dan yang biasanya mengambil darah dengan syringe (jarum suntik) yang membuat ngeri sebagian orang digantikan dengan satu kali jentikan yang hanya butuh 1-2 tetes darah saja untuk mengetahui hasil.

Seharusnya kita juga mampu. Bukan untuk menjadi Elizabeth Holmes selanjutnya, namun melampauinya. Satu-satunya jalan adalah membangun kerjasama di antara kita. Ya, kita harus merencanakan kerjasama untuk masa depan kita.

Masing-masing diantara kita telah memilih kegiatan atau pekerjaan yang berbeda, namun ada hal-hal yang membuat jalan hidup kita sama. Yang bekerja di laboratorium bagian Quality Control tentunya mendapatkan banyak pembelajaran mengenai teknik uji terkini dan lebih efisien dari yang pernah dipelajari sewaktu di kampus. Begitu pun bagian Quality Assurance, bagian Aplikasi, bagian operator alat, teknisi instrument, bahkan di bidang sales marketing.

Terkadang kita merasa nyaman dengan kondisi sekarang, yakni dengan pekerjaan yang kita jalani sekarang. Kesetiaan pada profesi, atau loyalitas perusahaan adalah penting. Hal lain yang juga lebih penting adalah kita juga bisa memberdayakan talenta-talenta masa depan: adik-adik kita yang juga akan menjalani profesi seperti kita sekarang. Sekali lagi, kita harus membuat kerjasama di masa depan: bisa jadi sebuah laboratorium uji, bisa jadi sebuah lembaga pelatihan kompetensi, bisa jadi sebuah lembaga sertifikasi, atau malahan sebuah industry.

Kilasan-kilasan berita yang terpampang dalam media massa baik Kompas, Tempo, Bisnis, DW DE dan lainnya menunjukkan potensi hilirisasi industry sangatlah besar, dan ini belum termasuk inovasi pengolahan dan inovasi produk akhir yang bisa dibuat. Ini potensi besar.

Selentingan-selentingan wacana mungkin saja pernah kita dengar, atau kita tahu di media social, bahkan terkadang dalam hati sendiri. Meski kini baru wacana, namun apabila kita bangun upaya terus menerus, maka wacana akan menjadi kerja nyata.

Saat ini saya sedang focus belajar selling dan marketing instrument berikut aplikasi beberapa instrument analisis: Thermal Analyzer (TG-DTA, DSC, TMA, TG-DTA-GC-MS/PIMS), Raman, Particle Size Analyzer, XRF dan XRD. Di lain hal juga belajar perdagangan internasional (ekspor, impor dan kelengkapannya). Bagaimana denganmu kawan?

Maka, kapan kita akan memulainya?

Puji Syukur pada Allah yang telah memberikan segala nikmat tak terhitung pada kita. Semoga kita selalu dapat bersyukur dengan mengoptimalkan nikmat yang telah diberikan oleh-Nya.

Di sela-sela meeting awal tahun, Cisarua, 12 Januari 2015

Arynazzakka

Salam Analis, Salam Kerjasama.

Antara program dan cita-cita

“kita orang islam belum mampu menterjemahkan kebenaran ajaran Islam dalam suatu program pencapaian. Antara ultimate values dalam ajaran Islam dengan kondisi sekarang memerlukan peterjemahan-penterjemahan. Dan ini tidak disadari. Di situ mungkin kita akan banyak berjumpa dengan kelompok pragmatisme, tapi jelas arahnya lain. Karena seperti itulah kita menjadi orang yang selalu ketinggalan dalam usaha pencapaian dan cenderung eksklusif.

Penolakan kita terhadap progam oriented, sesungguhnya bersumber dari ketidakmampuan kita untuk berlomba dalam program secara tak langsung. Ini jelas menunjukkan betapa rendahnya kemampuan terjemah kita. Akibatnya kita hanya terpaku pada cita-cita akhir, tapi tidak ada sama sekali pada usaha atau program pencapaian. Bahkan menurut Iqbal, Islam itu adalah mementingkan karya dan bukan cita-cita. Tak bisa disangkal, realita selalu berubah dan berkembang. Perjuangan kita menjadi semacam emosional dan sloganistis.”

(17 Januari 1969, Catatan Harian Ahmad Wahib, Bagian 1)

Membaca tulisan awal dari catatan harian di atas (yang kemudian terbit dalam sebuah buku berjudul “Pergolakan Pemikiran Islam”) sangatlah menarik apabila kita menghubungkannya dengan kenyataan yang terjadi dalam organisasi kita sekarang.

Perjuangan, kata yang sering kita lontarkan atas nama organisasi itu kini menjadi emosional dan sloganistis, seperti kritik Ahmad Wahib di atas. Dan nampaknya, ini terjadi bukan saja dalam era kita, namun juga dalam waktu-waktu sebelumnya.

Kata perjuangan memang seolah menggambarkan sebuah tujuan akhir yang utopis, yang tidak dapat di ukur pencapaiannya. Dan ini yang menjadikan proses pencapaian tujuan dari organisasi islam, gerakan islam, atau katakanlah islam itu sendiri menjadi kabur. Kita tidak pernah tahu sampai dimana posisi kita terhadap tujuan yang ingin kita capai.

Islam mementingkan karya dan bukan cita-cita, pesan Iqbal yang merupakan jawaban dari persoalan di atas menjadi menarik untuk kita telaah lebih lanjut.  Karya merupakan suatu titik-titik tertentu dalam sebuah pencapaian. Dan ini memang lebih realistis dan terukur. Dengan karya melalui usaha atau program-program pencapaian, kita menjadi lebih tahu sejauh mana organisasi ini bergerak menuju cita-citanya?

Lantas, apa program pencapaian yang harus dilakukan dalam perioder-periode ke depan menurutmu?

*judul tulisan ini mengutip judul tulisan Ahmad Wahib dalam Catatan Hariannya.

Titik temu diantara kita

Persamaan dan perbedaan, sebuah hal yang berpasangan seperti laki-laki dan perempuan. Persamaan dan perbedaan adalah suatu kepastian. Maka dalam firman-Nya, Allah menyebut bahwa perbedaan adalah suatu rahmat bagi umat manusia.

Organisasi memiliki tujuan-tujuan tertentu yang akan dicapai. Para anggotanya adalah orang-orang yang sepakat dengan tujuan-tujuan tersebut karena merupakan bagian dari cita-cita hidupnya, atau mereka adalah orang-orang yang terinspirasi, memandang bahwa tujuan organisasi tempat ia setuju untuk menjadi anggotanya memang patut diperjuangkan dan dicapai.

Semua anggota dalam organisasi dipastikan memiliki cita-cita hidup yang berbeda, meski tidak menutup kemungkinan adanya kesamaan. Salah satu kesamaan itulah yang merupakan alasan mereka bergabung dalam organisasi yang sama.

Dalam mencapai tujuannya, organisasi melalui berbagai proses yang dijalankan para angotanya, tentunya akan berakhir pada cara-cara mencapai tujuan. Adapun pandangan setiap anggota terkait dengan cara-cara mencapai tujuan adalah berbeda-beda. Dengan musyawarahlah akan dipilih pendapat yang terbaik yang akan disepakati oleh seluruh anggotanya agar menjalankan dengan cara-cara sesuai dengan hasil musyawarah itu.

Pada akhirnya, tolok ukur keberhasilan anggota dalam menjalani organisasi adalah pada hasilnya. Di sela-sela proses untuk menjalankan tindakan-tindakan yang diyakini semakin mendekatkan organisasi pada tujuannya, seringkali terjadi suatu dinamika. Dinamika ini terjadi karena banyak hal, mulai dari cara pandang tentang organisasi itu sendiri yang bersifat penting sampai pada yang tidak penting.

Maka, akan ada hal-hal yang penting untuk dibahas dan tidak penting untuk dibahas (dalam hal ini adalah konteksnya prioritas). Maka, adalah sebuah kesalahan apabila justru karena adanya potensi perbedaan diantara para anggota, pembahasan yang ada dif dalam organisasi adalah hal-hal yang tidak mendesak atau pun penting yang dengannya malahan tidak mendekatkan organisasi pada tujuannya.

Terhadap hal itu, maka kita perlu sebuah prinsip, yakni perlunya kita mencari titik temu atau persamaan lebih banyak.

Mencari titik temu atau persamaan lebih banyak bukan berarti tidak mengakui perbedaan ataupun bukan berarti tidak membuka ruang diskursus terkait hal-hal yang dapat diperdebatkan. Dialektika tetap berjalan, namun tugas utama berupa kerjasama untuk sebuah pencapaian tujuan organisasi haruslah tetap dilaksanakan.

Hal ini perlu ditegaskan kembali, karena seringkali konflik antar personal atau antar kubu dalam satu organisasi justru sering menimbulkan perdebatan panjang yang lebih dekat pada kesia-siaan karena tugas utama berupa pembagian kerja awal dalam upaya pencapaian tujuan tidak dilaksanakan. Sekali lagi, ini celakanya.

Maka adalah penting untuk mencari titik temu diantara kita, jauh melebihi mencari-cari titik perbedaan.