Pekerjaan jaringan

Connecting the dot

Connecting the dot

menjadi manusia sebelum apapun

Manusia terlebih dahulu harus menyadari bahwa sebelum apapun ia adalah manusia. Bukan yang ia anggap seperti dirinya kini: dokter, sales, teknisi, guru, dosen, office boy, satpam, dan lainnya. Kita seringkali terjebak mengidentikkan diri dimanapun, kapanpun, dan kepada siapapun sesuai profesi utama yang sedang kita jalani. Akibatnya kita seringkali terjebak hanya belajar dan tertarik pada hal-hal mendukung profesi utama kita saja. Padahal, seandainya saja kita sadar bahwa kita adalah manusia sebelum apapun, maka dalam hal apapun kita akan tertarik dan belajar. Belajar dari mana saja dan apa saja meski kita juga terus mempertajam terhadap hal yang berkaitan dengan profesi utama.

jaringan

Jaringan, bahasa kerennya networking. Seorang menjadi mahasiswa bertemu dengan mahasiswa lainnya, itu jaringan. Ia bertemu banyak dosen, itu jaringan. Ia mengikuti wadah organisasi minat bakat, lembaga, organisasi daerah, organisasi lintas wilayah, itu jaringan. Ia mengikuti pengajian yang disitu ada berbagai peserta dari berbagai background profesi, itu jaringan. Ia menjadi seorang analis di laboratorium, memiliki atasan, itu jaringan. Ia ingin memiliki website dan menghubungi temannya meminta tolong membuatkan website dan dikenalkan dengan seorang web designer, itu jaringan. Ia belanja ke pasar dan mengetahui berbagai produk beserta perbandingan harga antar pedagang, itu jaringan. Ia terlibat dalam perpolitikan daerah, berinteraksi dengan berbagai kelompok kepentingan, itu jaringan.

Dan jaringan adalah kekuatan.

Jaringan adalah titik temu antar manusia dalam beragam aspek atau segi. Bisa satu, dua, tiga, ataupun lebih. Manusia memang memiliki beragam pandangan. Namun, keberagaman pandangan atau perbedaan itu bukanlah sebuah halangan untuk menjalin jaringan karena dibalik perbedaan, selalu ada persamaan atau titik temu dalam hal-hal lain.

perihal ekonomi

Pertumbuhan ekonomi dunia begitu pesat. Disamping adanya gap lebar antara si kaya dan si miskin ataupun masih banyak masyarakat yang memiliki penghasilan rendah, namun untuk jalan untuk mencari tambahan penghasilan begitu banyak dan ‘mudah’.

Revolusi teknologi informasi menyajikan suatu profesi baru yang menjanjikan: pengerjaan cepat dengan hasil yang ‘besar’. Misalkan saja webdesigner. Profesi lain yang bisa dikerjakan paruh waktu dan menjanjikan penghasilan yang besar ialah sales and marketing, terutama sales asuransi dan sales property. Disamping itu ada tantangan menggiurkan dari berbagai brand produk dengan mengandalkan sistem MLM yang menjanjikan passive income. Ya, rasanya hanya dibutuhkan kunci tekun dan kerja keras untuk menjalaninya: ketahanan.

sales

Sebagian besar masyarakat kita sampai sekarangpun (apalagi di pedesaan) masih menganggap miring profesi sales. Dalam benak mereka, sales adalah seorang yang dari pintu ke pintu menawarkan barang yang kadang dapat terjual dan selebihnya menghadapi penolakan, atau terkadang cacian.

Sales adalah bisnis penolakan. Namun profesi ini bagi banyak orang adalah kunci percepatan dari penghasilan, apalagi jika didukung sistem passive income. Sekali closing langsung mendapat sekian persen selama sekian tahun.

Profesi sales memang membutuhkan berbagai macam ilmu (teori dan nantinya akan matang di lapangan/praktek). Mulai dari pengetahuan umum menjual, negosiasi, product knowledge sampai hal-hal yang bersifat psikologis: menghadapi bermacam karakter manusia.

Teknik menjual di setiap segmen berbeda: direct selling (face to face), selling to distributor, ataupun business to bussines.

Hal yang membuat saya tertarik dengan profesi ini adalah karena baru diprofesi ini saya menemukan orang-orang sangat antusias menjalani hidup, saling memompa semangat, memberi masukan dan pengembangan karakter diri secara tim. Ya, bisa jadi hal ini tidak akan saya temukan di tempat lazimnya seorang lulusan analis.

Dan sales adalah pekerjaan jaringan.

organisasi

Bahwa segala tujuan bersama akan lebih mudah tercapai jika diorganisasi dengan baik. Dari hal tersebut, organisasi  menawarkan harapan, bagi anggotanya ataupun simpatisannya.

Organisasipun kemudian melakukan branding: profit dan non-profit, yang orientasinya keuntungan (materi) dan bukan orientasi keuntungan. Biasanya organisasi non-profit berorientasi sosial. Sebutlah contoh organisasi mahasiswa. Organisasi yang diisi oleh darah-darah segar para pemuda.

Namun meski sama-sama diiisi oleh darah segar pemuda, organisasi non-profit terlihat lebih “susah” mencapai target dan tujuannya dari pada organisasi profit. Malahan, organisasi profit sering lebih mendominasi dalam hal pengaruh: bahkan sampai tingkat dunia.

Sebagai contoh organisasi profit ini (saya ambil yang popular) adalah Apple dan Microsoft. Dua buah organisasi yang sama-sama didirikan dan dipimpin oleh seorang yang sangat muda. Apalagi kalau sekarang kita sebut tokoh-tokoh revolusioner dalam perkembangan teknologi informasi yakni Google, Yahoo, Facebook, Instagram, Twitter, Xiaomi dan masih banyak lagi. Dan saya belum mendengar gaung dari organisasi non-profit yang dipimpin oleh seorang muda, kalaupun ada terdengar lirih dan itu hanya menjadi cerita.

Apakah memang lebih berat untuk menjalankan organisasi non-profit daripada organisasi profit?

Padahal jika dilihat dari segi modal (capital), organisasi non-profit sangat mengutamakan modal manusia (atau sebutan kader): social capital. Dalam pandangan klasik, organisasi profit cukuplah kalau ada modalnya berupa materi meski juga tidak abai dalam hal SDM (namun mengikuti perkembangan organisasi).

Di zaman ini, modal sosial menjadi sama-sama penting bagi organisasi profit dan non-profit, bahkan ketika organisasi baru dimulai. Lantas, dimanakah letak masalahanya sehingga organisasi non-profit cenderung lambat berkembang jika tidak dipimpin oleh superman?

……………..bersambung……………….

Membangunkan motivasi pemuda dan karakter keIndonesiaan: sebuah upaya menaklukkan globalisasi

Oleh: Arynazzakka*, Presiden Mahasiswa Ikatan Mahasiswa AKA Bogor

 

Globalisasi, sebagai tantangan zaman perlu disadari oleh kita semua, terutama pemuda Indonesia. Sebagai tonggak runtuh-jayanya bangsa, globalisasi menyadarkan bahwasannya kita adalah warga dunia secara keseluruhan (Robertson, 1992).  Dalam pandangan Anthony Giddens (1992), globalisasi merupakan satu kekuatan sosial dunia, yang mempengaruhi sektor kehidupan manusia dari aspek ekonomi sampai sektor pribadi.

Namun dibalik itu semua, globalisasi dapat menjadi serangan balik umat manusia (Richard Branson, 2000). Itu yang terjadi di banyak negeri berkembang, termasuk Indonesia. Mempersiapkan ketangguhan suatu bangsa dalam menaklukkannya, bukan hanya dilihat dari segi kompetensi, teknologi atau keterampilan semata. namun, ini semua adalah tentang karakter dan
jati diri bangsa.

Rendahnya motivasi dari pemuda juga menyumbang ketidaksigapan menyambut globalisasi –apalagi menaklukkannya. Penyebab dari semua ini karena pendidikan kita –dalam konteks yang luas- tidak mengajari kita akan hal itu. Yang ada hanyalah saling menjatuhkan motivasi satu sama lain, sehingga semangat saling menumbuhkan dengan saling memberi motivasi sangat kurang.

Bukti dari kompetensi saja bukanlah jaminan adalah pendidikan kita hari ini. Dari sekolah dasar sampai tingkat perguruan tinggi, secara formal kita banyak mendapatkan ilmu. Namun dari segi motivasi –apalagi mempelajari hakekat keilmuan, sama sekali tidak ditanamkan. Kalaupun ada, itu hanya sekedar selingan. Semangat berbagi akan cita-cita masih merupakan angan-angan. Bagaimana pemuda bangsa ini sigap menghadapi dunia global, jika motivasi bercita-cita saja masih dibatasi dan tidak mendapatkan perhatian?

Menjadi pemimpin harus memotivasi agar para bawahan dapat bekerja dengan ikhlas, senang hati sesuai bidangnya masing-masing (Jusuf Kalla, 2009). Inilah sebuah syarat mutlak.

Selain itu, para pemuda hendaknya menghilangkan prasangka terhadap dirinya sendiri. Waktu ini seringkali terjadi krisis kepercayaan terhadap diri pemuda sendiri. Apalagi ditambah sikap saling menyalahkan, dan cenderung tidak solutif –hanya berfokus mencari-cari masalah, bukannya menyelesaikannya.

Jika kita teliti dengan seksama, ini akan kembali pada karakter dan jati diri bangsa. Maka, setiap pemuda harus menghayati karakter dan jati dirinya ini sebagai bangsa Indonesia. Pancasila sebagai tonggak dasar, menegaskan pada 5 prinsip, yakni Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Musyawarah, dan Keadilan.

Founding father kita tidaklah main-main menyusun ke-5 prinsip ini. Ketuhanan atau dapat disebut agama ditempatkan pada posisi pertama karena bangsa ini adalah bangsa yang religius. Artinya, jati diri dan karakter keIndonesiaan kita adalah religius. Jika setiap dari kita berupaya untuk mengamalkan kebaikan dari ajaran agama yang kita anut, inilah solusi konkritnya.

Sayang, nilai agama dalam pendidikan hanya sebatas formalitas, dan dalam kehidupan sehari-hari hanya dijadikan ritual tanpa pemaknaan yang berarti. Inilah yang menyebabkan krisis multidimensi melanda bangsa ini. Kita mempercayai Tuhan, namun secara sadar kita mengingkari petunjuk hidupnya.

Jika karakter religius ini telah menyatu dalam diri kita, yakin, aspek spiritual ini akan membuat  kita sejajar dengan bangsa lain. Konkritnya, praktik keagamaan berupa mentor-mentor agama perlu digalakkan dalam setiap jenjang pendidikan, dan juga ditambah adanya kelas motivasi dan mimpi. Dengan itu, para pelajar dapat saling berbagai, mengingatkan, dan bersama mewujudkan cita. Bangsa ini butuh motivasi. Agar kita taklukkan globalisasi, bukannya takut menghindar!

Pustaka:

Cecep darmawan, merekonstruksi pendidikan di era global. Jurnal Negarawan 2009 No. 14

Kemerdekaan dan kemandirian bangsa, M. Jusuf Kalla. Jurnal Negarawan , Agustus 2009. No. 13

Jati diri, karakter, dan jati diri bangsa. H. Soemarno Sudarsono.Jurnal Negarawan, Februari 2010. No. 15

*dalam rangka Student CEO’s Summit 2012 @ITB.