Pandangan Hidup seorang kader gerakan

Setiap manusia memiliki tugas kader. Adapun pengertian kader adalah sekelompok kecil orang atau anggota masyarakat yang mampu menjadi tulang punggung masyarakat yang lebih besar, atau yang mampu menggerakkan masyarakat yang lebih besar. Dalam artian, oleh merekalah (kader), masyarakat itu bertindak secara bersama.

Maka, sebagai seorang kader gerakan seperti penjelasan di atas, wajib memiliki sebuah pandangan hidup. Namun seringkali, kita sebagai manusia terjebak dengan jargon atau sebutan atau istilah pandangan hidup itu sendiri, bukan terhadap makna berikut penjelasannya. Misalkan bahwa seorang itu pandangan hidupnya Pancasila, Islam, Sosialis, ataupun yang lainnya. Ketika ditanya, apa pandangan hidupnya, maka dengan tegas dan tanpa ragu menjawab: “Pancasila”, yang lain menjawab: “Islam”, dan sisanya menjawab: “Sosialis”.

Namun sayang, ketika ditanya pandangan hidup Pancasila itu yang seperti apa, apa yang menjadi dasar pandangan hidup tersebut, dan apa yang harus dilakukan selama hidupnya ketika menjadikan Pancasila sebagai pandangan hidupnya. Dihadapkan pada berbagai rangkaian pertanyaan tersebut, penganut pandangan hidup Pancasila sebagian besar terdiam, dan kurang mampu menjelaskan. “Pokoknya Pancasila, kekal, dan abadi!” Maka dalam hal ini, Pancasila sekadar menjadi Simbol tanpa nyawa.

Demikian pula yang terjadi pada sebagian penganut pandangan hidup “Islam”, “Sosialis”, ataupun lainnya.

Islam, sebagai agama kaum berpikir, mengajak kita menggali makna-makna kehidupan, terkait juga cara kita memaknai agama dan menjalankan hidup dengan semestinya.

Pernah ada suatu masa pedoman-pedoman pemaknaan hidup yang menjadi pegangan begitu banyak kaum muda, sebut saja Pustaka Kecil Marxis, Fundamental Value of Social Democratic, Nilai Dasar Perjuangan, Kredo Gerakan.

Dari kesemuanya itu, saya paling puas kepada Khittah Perjuangan Himmpunan Mahasiswa Islam. Silakan download dan baca di link berikut:

Pandangan Hidup Kader Gerakan

Pembahasan dan perbandingannya menyusul.

Oleh:
Arynazzakka

ttd zakka

Iklan

Pembelajar seumur hidup (1)

Oleh: Arynazzakka*

Untukmu yang sedang mencari jati diri, atau yang sedang mengembangkan kapasitas dan kualitas diri, tulisan ini tertuju padamu, juga pada diriku

Menengok diri

siapa kenal dirinya, maka kenal Tuhannya

Mendengar kata ‘belajar’, sebagian besar dari kita langsung akan tertuju pada sekolah.Sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dan juga perguruan tinggi. Dalam kondisi ini, kita mendefinisikan belajar sama dengan sekolah, atau  kita membatasi bahwa belajar itu hanyalah hal-hal yang berhubungan dengan pelajaran-pelajaran yang diajarkan di sekolah untuk diujikan dalam ujian.

“ujian tulisan hanya bagian kecil dari ujian kehidupan”

Sebagai contohnya, ketika menjelang ujian tengah dan akhir semester, seringkali kita mengeluh, “ah, belum belajar, euy? Mana nilai ujian kemaren kecil lagi.” Namun ketika menghadapi persoalan kehidupan, baik itu masalah kepribadian diri tentang masalah sosial, finansial, ataupun agama, jarang sekali dan bahkan tidak pernah kita anggap sebagai bahan belajar.

Kita tengok sholat kita. Misalkan sholat subuh sering kesiangan, kita tidak menjadikan hal itu sebagai sesuatu yang harus kita perbaiki di subuh berikutnya, layaknya belajar kita dari ujian tengah semester ke ujian akhir semester. Atau juga misalkan kepribadian diri kita yang tertutup dan kurang suka bergaul (lebih suka menyendiri), jarang sekali kita berfikir bagaimana caranya dari hari ke hari kita belajar untuk semakin pandai bergaul.

Sekolah (institusi pendidikan) hanya sekedar alat

“sekolah sejatinya adalah alat untuk mensistematisasi pengetahuan agar pengetahuan itu mudah dipahami dan dimengerti”

Penting bagi kita memahami bahwa insitusi pendidikan (SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, dan PT) hanyalah alat untuk mendekatkan kita pada ilmu –agar kita memahami ilmu. Maka, ketika kita telah memandang institusi pendidikan bukan satu-satunya alat, kita akan mencari ‘alat-alat’ lain yang mampu mendekatkan kita pada sumber ilmu. Prinsipnya sederhana: murid-guru. Kita sebagai murid dan selanjutnya kita butuh guru, guru yang mengajari ilmu yang kita butuhkan.

“….institusi pendidikan bukan satu-satunya alat, maka kita mencari ‘alat-alat’ lain lain yang mampu mendekatkan kita pada sumber ilmu. Sederhana: cari guru!”

Selanjutnya, sebagai pembelajar seumur hidup, kita tidak lagi memperdulikan guru dari segi umur, dari segi jenis kelamin, namun dari segi kapasitas –belajar dari ahlinya agar tidak sesat karenanya. Meski, sebagai pembelajar seumur hidup, kita juga harus pandang ilmu sebagai objek (apa yang dibicarakan) bukan subjek (siapa yang berbicara. Pada kondisi ini, bisa jadi seseorang pada satu waktu menjadi murid dan pada waktu yang lain menjadi guru. Misalkan, si A berguru bahasa Arab pada si B pada satu waktu, dan si B pun berguru pidato (public speaking) pada si A karena si A pandai pidato dan si B pandai bahasa Arab.

“…bisa jadi di kelas kita sebagai guru yang mengajar murid,namun ketika di luar kelas kita belajar dari murid kita karena kita tahu ia lebih mengetahui. Karena tidak ada keangkuhan dalam jiwa pembelajar seumur hidup”

Alat-alat untuk mendekatkan sumber ilmu yang lain adalah perkumpulan-perkumpulan baik yang bersifat mengikat (seperti organisasi) atau tidak mengikat (komunitas). Maka dalam jiwa pembelajar seumur hidup, tidaklah menjadi soal ketika dalam sekolah formal ia menuntut ilmu kimia di kelas sementara cita-citanya adalah Presiden direktur percetakan buku dan media masa. Atau juga, tidak menjadi soal jika seseorang terdaftar di sebuah perguruan tinggi dengan jurusan matematika namun ia mencurahkan sebagian besar waktunya mempelajari dan mempraktikan ilmu-ilmu manajemen dan sosial, karena cita-citanya adalah gubernur –yang akan memimpin dan mengatur masyarakat menuju adil sejahtera.

Maka dari itu, sudah saatnya kita pandang seluruh lingkungan sekitar kita adalah medan belajar. Insitusi pendidikan yang berwujud sekolahan hanyalah satu diantara banyak alat yang dapat kita gunakan untuk mendekatkan diri pada ilmu –sehingga belajar bukan lagi diartikan sebatas di ruang kelas, di laboratorium. Apa yang kita jumpai dan dimanapun kita, itulah laboratorium dan ruang kelas kita sebagai medah belajar. Saya selalu mencoba untuk melakukannya, kamu?

Salam pembelajar seumur hidup!

*penulis merupakan mahasiswa AKA Bogor angkatan 2010, sangat berminat dalam hal #Kepemimpinan dan Pengembangan diri dan semua bidang ilmu pengetahuan, bercita-cita menjadi ketua IKA-AKAB 2032 dan mendirikan Masyarakat Analis Kimia Indonesia, Ahli Teknik Kimia 2021 (akademis), Menteri Penerapan Teknologi 2039 (politik), Menteri Perindustrian 2044 (politik), Presiden Direktur Koran Mahasiswa Indonesia (wirausaha). Berniat mengajar di AKA Bogor  pada 2022 bidang Fisika, Capita Selecta Kimia, dan Eksperimen Kimia.

Perempuan: Pendidik Sejati Generasi Penerus Bangsa

karena perempuan adalah ibu bangsa

karena perempuan adalah ibu bangsa

Sejatinya, pembangunan Indonesia adalah pembangunan atas sumber daya manusianya. Indonesia memang negeri yang berlimpah ruah sumber daya alamnya. Namun selama ini, 67 tahun setelah kemerdekaan, dengan berbagai program pembangunannya, belumlah menunjukkan kemajuan yang signifikan.

Pembangunan sumber daya manusia, seakan terlupakan atau terpinggirkan. Basis yang selama ini menjadi motor adalah ekonomi yang masih juga ditunggangi kepentingan politik. Hakikat dari kemerdekaan seperti yang dicitakan para founding father kita adalah negeri yang adil dan makmur. Sayangnya, sampai sekarang kemiskinan di Indonesia masih merebak. Bahkan, penyakit ini menjangkiti berbagai lapis kalangan, dari yang tidak pernah mendapatkan kesempatan pendidikan sama sekali sampai yang telah menempuh pendidikan tinggi hingga sebutan pengangguran terdidik tidak asing lagi di telinga.

Berbagai persoalan lain, yakni merosotnya moral pelajar dari waktu ke waktu mendapat perhatian besar dari masyarakat. Mengingat bahwa pelajar pada khususnya dan pemuda pada umumnya adalah cadangan masa depan bangsa, merekalah yang akan memegang tonggak peradaban Indonesia. Namun kenyataan pendidikan Indonesia, sebagai salah satu pilar pembangunan SDM Indonesia masih saja mencari format ideal. Disatu sisi pendidikan yang diselenggarakan pemerintah belum mendapatkan bentuk finalnya, juga peran serta orangtua dan masyarakat dewasa ini seolah terkikis. Atau bahkan, seolah orangtua terutama dengan adanya sistem pendidikan formal menganggap tanggungjawab pendidikan sudah ada pada guru.

“…seolah orangtua terutama dengan adanya sistem pendidikan formal menganggap tanggungjawab pendidikan sudah ada pada guru….”

Mengingat perannya, orangtua sebagai orang yang paling dekat dengan pelajar, sebagai anaknya, tentunya sangat memegang peranan besar. Dalam hal ini, ibu sangat memiliki peranan yang besar terhadap tumbuhnya pendidikan yang sebenarnya kepada anaknya. Sikap moral, semangat berprestasi dan belajar tidak mengenal waktu dan tempat adalah sangat besar bergantung dari upaya orangtua dalam hal ini ibu kepada anaknya.

Sampai saat inipun, rasanya dosa turunan mencontek saat pelajaran adalah hal lumrah yang seakan dimafhumi oleh semua pihak. Padahal jika ditilik dari segi fungsi dari ujian adalah mengukur kemampuan diri menyerap pelajaran yang diberikan, hal ini sangat jauh bertentangan dari tujuan yang diharapkan. Sikap menyontek salah satunya dapat diredam dengan sikap orangtua yang selalu menanamkan pikiran bahwa ujian bukan hanya karena pengharapan terhadap nilai yang tinggi, melainkan adalah melihat keberhasilan belajar. Kalaupun hasil belajar kurang, maka pola atau sistem belajar harus diperbaiki sehingga wejangan belajar seumur hidup akan berjalan. Dan stigma bahwa ujian hanya untuk dapat dilewati akan pupus perlahan-lahan. Sikap penanaman pola pikir seperti ini tentu saja bukan saja teman, guru ataupun yang lainnya. Hanya ada satu kata untuk mendidik anak, ibu.

……Hanya ada satu kata untuk mendidik anak, ibu…..

surga di telapak kaki ibu

surga di telapak kaki ibu

Dalam perannya kekinian, peranan perempuan Indonesia memang semakin luas karena mengikuti perkembangan pembangunan. Jika tugas mendidik anak adalah tugas wajib sejak dulu, maka kini ranah garapan perempuan Indonesia memang semakin bervariasi dan mulai masuk disegala bidang yang awalnya hanya menjadi ranah laki-laki. Wilayah ekonomi, politik, bahkan pertahanan tidak asing lagi diisi oleh perempuan. Dalam hal ekonomi misalnya, banyak sekali sekarang pemimpin bisnis perempuan. Pertahanan dan keamanan juga, misalnya polisi wanita juga tidak menjadi suatu yang aneh. Bahkan dalam konteks perpolitikan kekinian, perempuan mendapatkan porsi 30%. Yakni dalam kursi DPR/DPRD, atau juga dapat suatu struktural partai politik yang mengharuskan keberadaan perempuan dari tingkat daerah hingga pusat diisi oleh minimal 30% perempuan.

Melihat realitas yang telah bergeser, sempat beberapa waktu yang lalu muncul pembahasan rancangan Undang-Undang tentang kesetaraan gender yang mengatur tentang perempuan. Atau dalam bahasa yang digunakan adalah keadilan dari segala hal kepada perempuan dan kesejajaraanya dengan laki-laki.

“…Wanita Indonesia, kewajibanmu telah terang! Sekarang ikutlah serta mutlak dalam usaha menyelamatkan Republik, dan jika Republik telah selamat, ikutlah serta mutlak dalam usaha menyusun Negara Nasional” Bung Karno dalam buku Sarinah: Kewajiban Wanita Dalam Perjoangan Republik Indonesia

Dalam pembangunan Republik ini, dengan perannya yang luas ini, pemberdayaan perempuan Indonesia memang mutlak diperlukan dan harus menyasar dalam semua aspek pembangunan dengna catatan perempuan Indonesia tidak menghilangkan jatidirinya. Jati diri dalam konteks sifat asasinya sebagai perempuan.

Dalam tatarannya di kehidupan kaum intelektual (terutama mahasiswa), pemberdayaan ini mulai digalakkan dan dapat dikatakan memadai. Sebagai contohnya berbagai kompetisi ataupun komunitas wirausaha untuk perempuan, terlibatnya perempuan dalam sektor pergerakan, baik berbasis keilmuan, sosial, dan politik (etis). Di bidang keilmuan, peneliti-peneliti perempuan semakin banyak menunjukkan karyanya, begitupun juga pemberdayaan masyarakat oleh perempuan.

Dalam kendalanya, permasalahan sosial berupa pemberdayaan praktis perempuan (ibu-ibu) di masyarakat sangat memerlukan perhatian lebih. Karena dalam perannya, masih banyak perempuan yang melakukan tugas ganda, yakni sebagai pendidik anak dan juga tulangpunggung keluarga. Hal ini biasanya terjadi di desa tertinggal atau dalam masyarakat pinggiran perkotaan. Belum lagi dalam kondisi yang demikian, akhirnya para ibu ini juga menuntut anaknya untuk lebih memprioritaskan hidupnya untuk memenuhi kehidupan pokoknya –makan, agar dapat bertahan hidup. Ini tentunya membutuhkan solusi nyata.

“…….akhirnya para ibu ini juga menuntut anaknya untuk lebih memprioritaskan hidupnya untuk memenuhi kehidupan pokoknya –makan………”

Tuntutan pembangunan semakin membutuhkan aktor pembangunan yang banyak. Peran perempuan sudah tidak dapat dipungkiri. Solusi dari segala permasalahan bangsa juga membutuhkan langkah bertahap dan komprehensif sehingga dalam menjalankan perannya, selayaknya perempuan tetap menjadikan prioritas pendidikan kepada generasi penerus sebagai yang utama bagaimanapun background dan spesialisasi bidang keahlian yang ditekuni. Maka, kesataaraan yang kini diperdebatkan sudah tidak perlu diperpanjang karena hakikat dari perempuan sebagai partner atau pasangan dari laki-laki adalah sama-sama berkontribusi dalam pembangunan dengan karakter dan jatidirinya masing-masing.

Pendidikan adalah kunci. Semakin luas sektor pembangunan negeri ini, mempersiapkan generasi tangguh dan unggul adalah solusi nyata, dan peran itu terutama ada di tangan perempuan Indonesia. Bagaimanapun, kejayaan atau kebobrokan suatu negeri dilihat dari pemudanya. Semoga perempuan Indonesia adalah perempuan yang melahirkan dan mempersiapkan generasi-generasi tangguh itu.

Oleh: Arynazzakka, mahasiswa Akademi Kimia Analisis bogor.

ditulis dalam rangka WomenPreneur Summit 2013@UI

idealisme yang tergadai

 

Sebuah pengakuan

Sifat dasar manusia adalah ingin diperhatikan, ingin dihormati, dan salah satunya lagi adalah ingin diakui. Baik itu secara kekhasan yang dimiliki, kemampuan, ataupun prestasi.

Memang benar, yang namanya pengakuan merupakan salah satu wujud eksistensi yang salah satunya adalah untuk diteladani kebenarannya dan kebaikannya. Maka, ini pun dari dahulu manusia mengorganisasi dirinya dalam bentuk masyarakat, godaan akan perlunya pengakuan dari orang lain nyata adanya

sebuah Idealisme: gelora muda?

Idealisme, sebuah konsep ideal yang dicitakan dan menjadi sebuah orientasi dari kaum muda. Memang, kaum muda adalah mereka yang secara nyata dalam tindakan mengupayakan sikapnya yang bersih demi terwujudnya keadilan.

beberapa kali jika kita belajar dari sejarah, tak jarang dalam pihaknya sebagai pemuda penggerak perubahan yang anti kemapanan, idealisme adalah cita mutlak yang harus dicapai. Tapi sayang, seringkali, Idealisme ini hanya bertempat pada jiwa-jiwa yang muda.

Idealisme yang tergadai

Sistem yang berdosa akan melahirkan para pendosa yang masuk ke dalamnya, mulai dari merasa risih ketika di luar sampai pada menikmati ketika sudah sampai ke dalam. Begitu kiranya hal yang dapat menggambarkan sebuah sistem kotor dan penuh kepalsuan.

jika dikorelasikan dengan idealismenya pemuda, tentu akan sangat bertentangan. sementara sistem kotor tersebut ingin selalu berkubang dengan kepalsuaanya -tentunya dengan bantuan kroni-kroninya dan idealisme tetap dengan orientasi ingin membersihkan kotoran tersebuh.

Sayang, apalah daya, seringkali kita jumpai seorang yang telah memasuki sistem kotor dan berdosa itu akan mengikuti sistem tersebut dan menjadi pendosa baru -meskipun nurani menolak. Ya, nurani menolak, tapi raga tak bertindak melawan kelaliman.

Arynazzakka, analis Pergerakan Mahasiswa

Hidup Mahasiswa!!

Ex-Kim, technopreneur AKA

Enterpreneur, atau wirausaha memang kian populer di telinga kita. Bukan saja kata enterpreneur dikenal oleh kalangan elit atau pebisnis, namun juga marak dalam pembicaraan mahasiswa. Umumnya enterpreneur ini, seseorang dalam bahasa sederhanya menjual atau memasarkan sesuatu untuk mengambil keuntungan. Namun dunia kian maju, dan enterpreneur ini berkembang, mulai ada istilah writepreneur, yakni orang yang  menjadikan tulisan sebagai lahan memperoleh penghasilan, dan kini kita juga mengenal sebuah varian enterpreneur yang tidak asing lagi, technopreneur.

Apa sih technopreneur itu?

Technopreneur, gabungan dua kosa kata yaitu technology dan enterpreneur yang dipadukan kemudian membentuk kata technopreneur. Teknologi dan wirausaha, terlihat selama ini menjadi dua profesi yang berbeda. Bukan manusia kalau tidak bisa berkreasi dan menemukan celah untuk membuat dunia kita indah. Teknologi yang sarat dengan ilmu pengetahuan, bahkan umumnya hanya bisa dilakukan oleh orang yang telah merasakan pendidikan tinggi. Teknolog yang menjajakan barang hasil atau produknya. Ya, itulah technopreneur. Orang-orang yang berkreasi menghasilkan produk teknologi yang mampu diaplikasikan atau diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Suatu produk yang mampu mempermudah pekerjaan, suatu produk hasil olahan baru, suatu produk yang benar-benar menjadikan kenyataan apa yang sebelumnya hanya tervisualisasi di otak.

Analis, apa hubungannya?

Analis kimia, belajar bermacam-macam ilmu pengetahuan. Mulai dari analisa produk jadi sampai terkadang terkait ke proses pembuatan. Ini yang menjadi kunci. Pekerjaan analis yang menelusuri proses pembuatan suatu produk adalah potensi besar untuk menghasilkan produk lebih baik, lebih praktis.

Bidang ini tentunya sangat menyangkut banyak cabang ilmu pengetahuan, mulai dari fisika, biologi, lingkungan, pangan, dan kemudian sampai pula pada energi.

Analis, bisa buat produk apa?

Dari ilmu yang telah didapat, dari tingkat awal sampai tingkat akhir, kita diajarkan berbagai macam sub bidang dari ilmu kimia itu sendiri. Mulai dari kimia organik, kimia anorganik, kimia lingkungan, mikrobiologi, analisis fisik, kimia pangan, kimia farmasi, kimia polimer sampai pada kimia petroleum. Ini semua, sekali lagi, merupakan bahan mentah yang variatif yang cukup untuk diolah menjadi sebuah produk tepat guna dan aplikatif.

Mengingat juga sebagai mahasiswa diploma yang diunggulkan kompetensinya atau keahliannya pada terapan produk –tidak sekadar teoritis, tentunya adalah sebuah harapan besar untuk bisa merealisasikannya. Dalam bidang pangan kita dapat mengambil contoh pembuatan yoghurt dari susu kedelai, yoghurt dari kulit pisang. Ataupun dalam lingkungan kita bisa mengaplikasikan teknik pengolahan limbah sehingga dengan demikian dapat mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Energipun begitu, secara praktis dan mudah ditiru kita mampu membuat suatu energi alternatif semisal briket ataupun metana hasil dari kotoran hewani sehingga yang tadinya limbah bisa menjadi rupiah.

Technopreneur, jalan tol menuju wirausaha intelektual

Sinergisme intelektual dan logika perut rakyat, begitulah kira-kira sebuah solusi yang dilontarkan oleh Arya Shandy Yuda, seorang aktivis tahun 2000-an. Tri Dharma perguruan tinggi mengarahkan kita dalam tiga hal yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Selama ini, dalam ranah pengabdian, pendekatan yang kita pakai cenderung klasik dan itu-itu saja. Misalkan dalam melakukan pendekatan kepada masyarakat dalam usaha membantu pula, seringkali kita hanya mampu mengadakan sembako gratis, pasar murah masyarakat, dan hal lain yang tentu bisa dibilang kurang kreatif. Pendekatan ini juga seringkali membuat masyarakat manja karena merasa diberi, tanpa ada titik tekan memacu kerja dan kreativ dari masyarakat.

Dengan semakin konsistennya mahasiswa terhadap gerakan technopreneur ini –tanpa memparsialkannya dengan gerakan sosial lain ataupun gerakan advokasi audiensi yang lebih menjurus aksi vertikal, keyakinan gerakan mahasiswa akan ruh gerakan barunya tidaklah khayal menjadi patron gerakan mahasiswa era ini.

Memang tak selamanya aksi harus turun ke jalan,

Tak dipungkiri juga untuk bisa menuntaskan permasalahan masyarakat,

Namun, kami –mahasiswa, adalah peduli

Kami coba apa yang dapat kami lakukan

Karena kontribusi adalah bahasa perjuangan kami,

Dimanapun itu, HIDUP MAHASISWA

Oleh: Arynazzakka (Presiden Mahasiswa IMAKA 2012-2013)

*penulis aktif menulis di blog wordpress, analis gerakan mahasiswa, koordinator BEM se-Bogor 2012

Bangga aku jadi aktivis

Bangga aku, kawan

Terhadap satu gelar ini

Aktivis, seorang yang aktif

Memberi dan menginspirasi

Memotivasi dan menunjukkan prestasi

 

Ya, aktif

Aktif adalah sifat aktivis

Bukan pasif, karena

Pasif adalah senang

Diberi, dan diinspirasi

Dimotivasi

 

Bangga aku, kawan ketika

Mahasiswa menjadi labelku

Dan kata aktivis mengikutiku

Aku bukan mahasiswa yang hanya berhura-hura

Bukan juga mahasiswa yang terlalu banyak waktu luang

Bukan juga mahasiswa yang terus-terusan diam dikosan

Karena tidak ada pekerjaan

Bangga aku kawan

Jika mahasiswa biasa begitu bangganya bertemu pejabat

Pejabat kampus dalam civitas akademika

Namun, ku dapat lebih dari itu

Pejabat daerah jadi kawanku setiap waktu

Bahkan pejabat nasional bersapa aku tebiasa

 

Bangga aku kawan

Ketika mahasiswa hanya bisa berjumpa Master atau magister

Maka aku dengan mudah berjumpa dengan doktor Profesor

 

Bangga aku kawan seandainya engkau tahu

Apa yang sedang aku pikirkan

Bahkan aku ingin engkau merasakan

Pengalaman positif yang aku alami

Berdebat dan diskusi tiada henti

Berbicara tentang rakyat yang nafasnya terengah

Menunggu sang pahlawan dunia

Meski pengetahuanpun belum seberapa

 

Tapi ini tentang rasa

Bagaimana jiwa ini ikut iba

Tentang penderitaan miskin papa

Oh, aku harap engkau segera tahu kawan

Ini bukan tentang ingin jadi jagoan

Bukan juga mengharap sebuah imbalan

Apalagi sekadar terima kasih sebagai ucapan

Ini tentang perjuangan

 

AKTIF itu BAIK, maka jadilah AKTIVIS!!

 

oleh: Arynazzakka

analis pergerakan mahasiswa, mahasiswa AKA Bogor