Analis: betapa bodohnya kita (bagian 1)

 

Eksploitasi

“sejak kapan ada seorang pembeli dapat menentukan harga dan kualitas sesuai kemauannya sendiri? Ya, miris, itu terjadi di negara kita yang dibodohi”

Terjajah, ya, terjajah. Bangsa Indonesia yang sampai saat ini terjajah dalam semua Sumber Daya Alam (SDA) yang dimiliki sampai dengan aspek kehidupan. Renungkan saja, dari bangun tidur sampai dengan tidur lagi kita terjajah. Bagaimana tidak, air minum Aqua, teh Sariwangi, pasta gigi Pepsodent, baju Cardinal, nasi hasil impor, gula impor, buah impor, dan seabrek -di sekeliling kita-semua ada milik asing. Lagi-lagi kita terjajah, dan malangnya juga, kita tidak merasa dijajah.

Berbicara tentang SDA, apalagi. Pembodohan dan penjajah kian menjadi-jadi. Lihat saja PT Freeport yang telah mengeruk Emas (bukan hanya Tembaga!), Chevron dan Exxon Mobil yang mengeruk gas alam dan geotermal kita, termasuk juga minyak yang juga jadi rebutan CNOOC, Petro Cina, Shell, Total.

Berbicara tentang PT Freeport, sangat lucu kawan. Kau tahu suatu tempat di Papua bernama “Tembagapura”? ya, dinamakan Tembagapura karena tempat tersebut menyimpan cadangan Tembaga yang begitu besar. Kita pasti kagum akan hal itu. Namun sampai disitu saja? sekali lagi kita sungguh dibodohi. Ternyata daerah tersebut sebetulnya penghasil Emas! (lebih patut dinamakan Emaspura). Melalui pipa-pipa raksasa dari Grasberg-Tembagapura, sekitar 6 milyar ton pasir Tembaga digerus dan disalurkan sejauh 100 km ke Laut Arafuru, dimana telah menunggu kapal-kapal besar. Apa yang disalurkan? Bukan lagi tembaga, tetapi Emas! Ya, dengan 6 milyar ton pasir setidaknya menghasilkan 6 ribu ton emas mengalir ke luar indonesia (Di bawah Cengkeraman Asing. Diambil dari Riswanda Himawan, artikel opini kompas, 13 Maret 2006)

Tahun 1995 saja, eksekutif Freeport menyebut area tersebut menyimpan cadangan tembaga sebesar 40,3 milyar pon dan emas 52,1 juta ons. Buku George A. Mealey yang berjudul “Grasberg” menyebutkan bahwa Freeport McMoran merupakan tambang tembaga yang memiliki deposit terbesar ketiga di dunia, sedang untuk emas menempati urutan pertama! Sungguh mencengangkan. Lantas apa hubungannya?

Mahasiswa Analis: kemana dirimu?

Mahasiswa, mungkin saja saat ini hanya sebuah kenangan masa lalu. Telah hilang nilai perjuangan mahasiswa. Telah hilang nilai kritis, budaya kajian, perbincangan ringan tentang gerakan, tentang negara, tentang solusi permasalahan negara, tentang peran keprofesian masing-masing setelah lulus untuk negara. Ya, barangkali itu hanya masa lalu.

Belum lagi masalah mahasiswa yang dihadapkan pada program-program wirausaha, kuliah singkat cepat kerja, ataupun prestasi akademis normatif yang dipuji sesaat dan kurang mendapat follow up yang nyata.

Mahasiswa analis, pola pembentukan pikiran kita adalah berfikir sistematis (terstruktur), memahami dasar masalah dan mengupayakan sebuah solusi. Apakah lantas cara pandang kita terhadap suatu permasalahan adalah dengan mendiamkannya? Apakah juga kita hanya menjadi mahasiswa yang kerjaannya menghibur diri tidak jelas? Atau menghibur orang lain dengan orientasi materi? Atau masih saja kita terlalu sibuk berkutat dengan teks akademik, menjadi ‘pembeo-pembeo’ agar ujian lancar, nilai bagus, lulus cumlaude, kerja cepat, segera nikah, memiliki anak, menikmati hari tua dan mati begitu saja tanpa sedikitpun menghasilkan karya untuk bangsa dan negara –apalagi agama?

Mahasiswa analis, dimana dirimu? Saat bangsa ini membutuhkanmu. Saat sekarang dan kelak, nanti. Apakah dirimu belum mengetahui bahwa pada awal tahun 2000 ekspor produk sayuran petani asal Karo ditolak oleh Malaysia dan Singapura karena adanya isu pestisida yang melampaui ambang batas padahal hasil pengujian Laboratorium Pestisida Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Sumatera Utara menunjukkan bahwa residu pestisida dalam produk sayuran dan holtikultura para petani Karo masih jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan dan hasil ini telah diakui oleh lembaga Agrifood and Veterinary Authority (AVA) Singapura.

Apakah belum juga kita tahu bahwa  Ekspor kopi robusta Indonesia ke Jepang juga terhambat, menyusul rendahnya ambang batas residu pestisida karbaril yang diterapkan sejak 2009 oleh Pemerintah Jepang, yaitu sebesar 0,01%. Nilai ambang batas ini lebih rendah dari nilai ambang batas yang diterapkan Negara Uni Eropa yaitu sebesar 0,1%. Penolakan Jepang mengakibatkan sebanyak 20-30 kontainer biji kopi robusta per tahun yang memasuki pelabuhan Jepang terhambat. Setiap kontainer biji kopi bernilai US$45 ribu sehingga akumulasi per tahun merugikan Negara sebesar US$1,35 juta. [www.agroasianews.com, 10 Februari 2012]

Belum lagi Amerika yang sok hebat itu, dengan semena-menanya tanpa bukti ilmiah apapun menerapkan status automatic detention terhadap produk kakao Indonesia hanya karena setelah mengambil sampel satu kali di Makasar dan mengklaim begitu saja bahwa kakao Indonesia tidak diproses secara higienis? Dan kau tahu apa akibatnya? Akibat dari status ini, sampai beberapa tahun, Amerika Serikat dapat membeli produk kakao Indonesia dengan harga yang jauh lebih rendah dari harga pasaran dunia. Kakao  Indonesia yang diklaim tanpa bukti ilmiah apapun oleh Singapura mengandung residu herbisida 2,4 D [COPAL Cocoa Info, 2009]. Kita pun hanya terdiam dan mengangguk.

Menyedihkan? Siapa yang seharusnya bertanggungjawab atas ini semua? Dengan berat hati, saya mengatakan Analis! Betapa bodohnya kita.

(bersambung, next: “Bagaimana seharusnya mahasiswa Analis berperan?”)

Oleh: Arynazzakka. Mahasiswa yang berniat mengembangkan Analis Indonesia melalui sistem metrologi. Saat ini sedang menekuni Fisika Analitik dan Instrumentasi analitik, terutama spektrofotometri dan electrochemical analysis

Iklan

Etika profesi Analis kimia

Berbicara tentang sejarah

Berbicara tentang analis kimia, perlu ditinjau dari segi sejarahnya. Analis kimia, dahulu, muncul sejak adanya pertentangan antara pekerja dan pemilik tambang. Pekerja menginginkan hasil tambang sedikit mungkin yang dapat diberikan kepada pemiliki tambang, sementara itu pemilik tambang menginginkan hasil sebanyak mungkin dari tambang yang dihasilkan. Sebelum adanya analis, terjadi pertentangan antara dua belah pihak ini. Pekerja tentunya selalu berusaha meyakinkan bahwa memang tambang yang dihasilkan adalah sekian dan sekian, namun karena pemilik tambang menuntut hasil sebanyak mungkin hasil sementara ternyata hasil yang diberikan oleh pekerja tidak sesuai dengan harapannya, maka muncullah analis sebagai penengah.

Analis, yang merupakan pihak ketiga sebagai penengah berusaha netral dari kedua belah pihak yang sedang berselisih. Jadi, disinilah analis kimia benar-benar berperan untuk memberikan bukti secara nyata jumlah sebenarnya dari komposisi tambang yang dimiliki oleh pemilik tambang. Hasil yang apa adanya sangat ditekankan kepada kerja analis tanpa data yang diubah-ubah (manipulasi) karena hal ini merupakan jalan tengah perselisihan antara pekerja yang menginginkan hasil tambang sedikit mungkin yang dapat diberikan kepada pemilik tambang sementara tuntutan pemilik tambang yang menginginkan hasil sebanyak-banyaknya. Sejak itu, karena peran analis meyakinkan ke dua belah pihak untuk meyakini hasil sebenarnya yang sepatutnya diperoleh, profesi seorang analis sangat dibutuhkan1).

Analis merupakan penengah antara pekerja yang menginginkan hasil sesedikit mungkin dan pemilik yang menginginkan hasil sebanyak mungkin

 

 

 

 

 

Arti penting etika profesi analis kimia

Etika, dalam bahasa sederhanya merupakan tingkah laku perbuatan manusia yang dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal2).

Profesi, atau yang dapat disebut sebagai kelompok profesional merupakan kelompok yang berkeahlian dan kemahiran yang diperoleh dari proses pendidikan dan pelatihan yang berkualitas dan berstandar tinggi yang dalam menerapkan keahlian dan kemahirannya dikkontrol dan dinilai dari dalam oleh rekan sejawat, sesama profesi sendiri.

 

Etika profesi merupakan etika sosial, artinya tidak hanya menyangkut individu (diri sendiri) namun juga kedudukannya sebagai umat manusia. Kode etik profesi diperlukan untuk menjaga martabat serta kehormatan profesi dan di sisi lain melindungi masyarakat dari segala bentuk penyimpangan maupun penyalahgunaan keahlian3) . oleh karenanya, sebuah profesi hanya dapat memperoleh kepercayaan dari masyarakat, bilamana dalam diri para profesional tersebut ada kesadaran kuat untuk mengindahkan etika profesi pada saat memberikan jasa keahlian profesi kepada masyarakat yang memerlukannya.

Tanpa etika profesi profesi, semua yang dikenal sebagai sebuah profesi yang terhormat akan  jatuh terdegradasi menjadi sebuah pekerjaan pencari nafkah biasa (atau biasa disebut okupasi) yang sedikitpun tidak diwarnai dengan nilai-nilai idealisme dan ujung-ujungnya akan berakhir, atau setidak-tidaknya tidak adanya kepercayaan dari masyarakat kepada profesi tersebut.

 

 

Catatan kaki:

1) Diskusi dan Talkshow tentang Analis kimia beserta perkembangannya: dahulu dan sekarang, oleh Noviar Dja’var, AKA Bogor

2) Etika menurut Drs Sidi Gajalba dalam Sistematika Filsafat

3) Eignjosoebroto, 1990

 

Referensi:

R. Rizal Isnanto, ST, MM, MT. 2009. Buku Ajar Etika Profesi Program Studi Sistem Komputer Fakultas Teknik UNDIP

Oleh: Arynazzakka, mahasiswa AKA angkatan 2010 (AKA 52)