Orang-orang hebat di sekitar kita

*tulisan ini merupakan selipan dari judul tulisan interdependence

Begitu banyak orang hebat di sekitar kita jika kita menyadarinya. Terlebih apabila kita mau bersilaturahmi dengan mereka. (tulisan ini untuk sementara mengesampingkan teman-teman seumuran kita).

Bp Wuri. Beliau tetangga kita. Kita tidak pernah menyangka bahwa beliau adalah aktivis HMI pada mudanya. Sekarang beliau turut aktif dalam kepengurusan Muhammadiyah tingkat daerah dan berencana membuat perguruan tinggi Muhammadiyah di Bogor. “Biar Bogor tidak kalah dengan Malang dan Solo” ucapnya. Dua tahun lagi memang beliau akan pensiun jika tidak naik tingkat/jabatan. Jabatan saat ini beliau merupakan kepala bagian perencana dan anggaran Balai Besar Industri Agro Kemenperin.

Pesan beliau begitu sederhana, dan mendalam. “mengabdikan hidup pada ummat (masyarakat) akan selalu menyulut semangat dan membuat hidup bergairah”. “maka beruntunglah orang sepertimu, dik, yang telah aktif dalam kegiatan bermasyrakat, berorganisasi semenjak muda” pesannya. Dalam persepsi umum masyarakat memang beliau bisa dibilang sukses (dalam timbangan materi): memiliki SPBU, pesantren yang dilengkapi dengan pertanian. Saya pun juga memandang demikian. Namun tetap saja, di umur yang sudah tidak lagi muda, beliau mengatakan bahwa belum banyak hal yang bisa beliau lakukan.

Pernyataan terakhir “belum banyak hal yang bisa beliau lakukan”, coba kita renungkan, betapa pernyataan tersebut bertanya pada kita “apa yang sudah kamu lakukan?”

Sekedar cerita (bagian 1)

Mari kita bicara tentang kehidupan.

Ada banyak sekali tujuan ketika manusia merasakan dirinya hidup. Sukses, kaya, ataupun yang lainnya. Bukan ingin berfilsafat, tapi agaknya memang dalam setiap sisi kehidupan kita menarik untuk di bahas.

Masa bermain

Masa ini sangat kental dengan identias anak-anak (jadi yang merasa masih dominan ingin main terus-terusan berarti?). Ingat ketika dahulu kita selalu bermain, tidak mengenal waktu entah itu pagi, siang, atau sore. Kalau mengingat masa-masa itu, seakan ingin sekali kembali karena di kehidupan itu, seolah tidak ada beban kehidupan. Sekedar cerita, dahulu, saya menjalani kehidupan masa kecil diwarnai dengan pembelajaran intensif. Diluar permainan tak kenal waktu itu juga ada waktu menuntut ilmu. Bukan saja di sekolah dasar berbasis pengetahuan duniawi, namun juga sekolah madrasah berbasis ukhrowi (akhirat/agama). Pagi untuk sekolah dasar, siang sampai sore untuk sekolah madrasah. Bosen? Tidak pada saat itu.

Tentang belajar

Dalam perjalanan hidup, makna dari belajar selalu bergeser, yah ini ceritaku. Dahulu waktu sekolah dasar, belajar ya bagaimana caranya kita dapat rangking, kita dapat unjuk gigi dengan teman-teman lainnya. Walau terkadang karena terbujuk teman, akhirnya saling contek-mencontek asal nilai baik. Alhamdulillah, dalam sekolah dasar, kelas 1 SD mendapat rangking 5, kelas 2 SD mendapat rangking 4, dan pada kelas 3 SD mendapatkan juara 1. Ini berlanjut sampai dengan lulus SD.  Dalam pembelajaran selanjutnya, makna bergeser. Dari hanya mendapat rangking ke dapat mengikuti berbagai kompetisi atau perlombaan. Maka pada saat itu, tepatnya kelas 5 SD diamanhi untuk mengikuti perlombaan. Ingat pada saat itu lomba Bahasa Indonesia, membuat cerpen dan bercerita. Begitu bahagianya pada saat itu. Pada saat bercerita, saatnya menunjukkan kemampuan kita walau jantung dag-dig-dug tak karuan. Setelah itu juga diberi kesempatan mengikuti lomba agama tingkat kecamatan. Kompetisi dan berbaur dengan siswa lain sekolah memang sesuatu yang menarik. Setelah mengikuti perlombaan, pemaknaan pembelajaran juga bergeser. Yaitu, bagaimana caranya kita juga bisa aktif mengikuti kegiatan-kegiatan lain. Organisasi, itu kini aku kenal. Nah, pada saat itu tepatnya juga kelas 5 SD mulai aktif ikut pramuka. Latihan baris-berbaris setiap hari minggu, belajar berbagai sandi, tali-temali, mendirikan tenda, sampai lagu-lagu yang bisa bikin kita semangat.

Pembelajaran bukan sampai disini saja. Berlanjut ke SMP, kompetisi semakin ketat. Jaringan teman mulai luas. Mulai kenal dengan Masa Orientasi Sekolah (MOS). Dikerjain kakak kelas ini itu. Tapi alhamdulillah, SMP tempat saya belajar memiliki kakak kelas yang baik. Tidak ada senioritas yang keterlaluan. Sikap terbuka menerima segala pendapat. Saya suka. Nah, disini juga semangat belajar semakin tinggi. Terpacu, karena baru pertama kalinya setiap mata pelajaran diajar oleh guru yang berbeda. Apalagi di SMP, kondisi sekolahan yang lebih baik dengan pernak-pernik tertentu, taman, mading sekolah, semakin menawan dan menarik. Melihat mading sekolah membayangkan diri kalau suatu saat tulisan sendiri akan tertempel dan dibaca oleh seluruh pelajar. Indah memang.

SMP, dengan variasi pelajaran dan pendalaman materi agaknya ada kesulitan tersendiri. Namun, ini adalah tantangan. Hebatnya orangtuaku, dalam memacu semangat belajar dengan menawari hadiah yang kumahu jika bisa mendapatkan juara pertama. Semester satu, masih ingat, aku masuk SMP dengan peringkat 49, kemudian pengumuman rapor menunjukkan bahwa raporkulah yang memiliki nilai tertinggi, bukan hanya di kelas, tapi seangkatan. Uniknya, di SMP ku dulu, kelas dibagi dalam kasta, artinya kelas A dianggap kelas terbaik, kelas B baik, dan seterusnya. Karena peringkat masukku 49 sementara jumlah siswa tiap kelas kalau tidak salah 45 atau 48, maka aku masuk kelas B. Namun, hasil rapor semester awal nampaknya meruntuhkan dogma kasta tersebut. Bayangkan, siswa yang masuk dalam kelas B menjuarai peringkat pertama. Luar biasa dan betapa bersyukurnya aku pada saat itu. Teringat pada saat itu, proses pembelajaran di SMP lumayan ketat dengan guru yang tegas dan kadang ‘ganas’. Namun, ketegasan dan keganasannya itulah yang membuat siswa memacu belajarnya…

(bersambung)