Tentang seminar PKL (24/9)

sampah pemikiran mahasiswa

Selalu ada tantangan dalam hidup., dan ini sangat menyenangkan. Seminar kemaren (24/9) yang merupakan proses akhir diri menuju kelulusan padahal diri masih ingin jadi mahasiswa.

Tentang PKL, kadang kita berfikir bahwa apa yang nantinya kita kerjakan HARUS benar. Kadang juga kita bingung menghadapi realita perusahaan atau instansi tempat PKL menerapkan metode yang sangat berbeda dengan yang diajarkan ketika kuliah. Bahkan tidak jarang memiliki metode modifikasi dengan standar keberterimaan yang telah ditetapkan sendiri pula. Jangan bingung, intisari kita PKL adalah mengerjakan apa adanya, dan laporkan sesuai data yang kita peroleh. Mengenai perbedaan, jikalau perlu hanya kita tambahkan saran. Cukup. Tidak perlu pusing.

“PKL=kerjakan apa adanya, laporkan apa adanya”

Selama masa PKL sampai dengan persiapan seminar, saya mendapat pelajaran betapa pentingnya ternyata komunikasi antarpersonal. Bisa jadi sebagian besar dari kita yang punya IP pas-pasan atau bahkan minder dengan kemampuan diri merasa malu-malu –atau takut untuk menghadapi pembimbing dari instansi atau perusahaan. Ingat, dengan komunikasi yang baik dan jujur berbagai hambatan seolah selalu ada jalan. Sikap kita akan lebih diperhatikan daripada apa yang kita kerjakan. Diri kita akan memiliki ‘nilai jual’ lebih pada kemampuan kita belajar dan mempelajari sehingga mampu memecahkan masalah yang ada. Semuanya adalah belajar.

Terimakasih kepada pembimbing SEAMEO BIOTROP –ibu Santi dan pembimbing AKA bapak Zakaria yang telah menyetujui pengambilan judul Verifikasi Unjuk Kerja (VUK) Instrumen. Sebenarnya juga judul ini tidak sengaja didapat. Karena awal “ingin beda”, dan ternyata cocok bahwa pengerjaan VUK sangat jarang dikerjakan (lepas kontrol) karena menganggap ketika sudah dilakukan kalibrasi di awal seakan tidak perlu dilakukan VUK secara berkala. BIOTROP menjadi tempat yang bagus buat kita yang ingin tahu lebih dalam instrumen. Oprek-oprek sampai copot perangkat instrumen dipersilakan –asal jangan sembrono.

seameo

Balik kepada seminar, utamanya seminar sekaligus TA  saya tujukan sebagai pengkayaan referensi AKA. Apalagi mulai angkatan 2011 ternyata ada mata kuliah Verifikasi Unjuk Kerja (meskipun sebenarnya bisa dimasukkan dalam bab Kalibrasi dan perawatan instrumen).

Untuk persiapannya, luar biasa lembur –bukan TA atau slide, tapi untuk menyelesaikan buku. Apalagi waktu mikir souvenir apa yang akan diberi untuk penguji dan pembimbing saat seminar. Harus beda, pokoknya. Walah. Sebenarnya sudah direncanakan sejak setahun lalu ingin launching buku buatan sendiri yang isinya pemikiran pribadi tentang AKA, organisasi, dan cara pandang terhadap hidup. Alhamdulillah terealiasasi. Untuk persiapan yang satu ini, saya berterimakasih pada sahabat saya, ILHAM, dari mulai beli kue, fotokopi sampai jilid buku. Luar biasa memang orang yang satu ini –mau diajak diskusi kiri-kanan ayo, mau diajak kemanapun juga mau.  Maaf kalau tidak bisa berbuat apa-apa saat persiapan seminar antum.

Tentang buku yang jadi souvenir, sebenarnya ingin cetak banyak –sekitar 15, namun karena keterbatasan waktu pengerjaan, jadinya hanya 3 yang dibagi. insyaAllah akan diusahakan dicetak lagi, dan juga dibagi versi PDF nya.

Terimakasih pada kawan-kawan yang telah hadir menyempatkan waktunya dikala dalam kesibukan, angkatan 2010, Density, organisator/aktivis IMAKA, kos reptil, angkatan 2011 (atau ada juga angkatan 2012 dan 2013?). Mendengar presentasi yang lumayan lama (kata penguji), tanya jawab yang searah (forum kebanyakan terdiam dan ternyenyak, karena ada AC). Pokoknya terimakasih semuanya. Juga tak lupa pada Bapak dan Ibu yang turut mendoakan “jagoannya” yang satu ini. He.he.he. Mohon maaf untuk yang tidak mendapat info sehingga tidak bisa datang di seminar, masih ada wisuda yang dapat kita rencanakan. Apa yang ingin kita perbuat di wisuda?

Lancar untuk kawanku semuanya, yang telah bersidang dan lulus, yang masih masuk dalam daftar tunggu seminar, yang masih bergulat dengan organisasi kampus dan pembelajaran di AKA, pengkaderan dan pembinaan diri sendiri, dan lainnya. Patut bersyukur bagi kita yang masih berstatus mahasiswa dan merasakan aura kemahasiswaan.

Semoga kala kita telah lulus nanti, masih mampu mempertahankan idealisme yang telah kita bina dan tidak terlena dengan materi, fulus, atau uang. Kalau saat mahasiswa mungkin saja kita tidak ada uang namun punya waktu, jangan sampai setelah bekerja kita punya uang dan kehilangan waktu. Penghasilan yang kita peroleh sejatinya sangat bermacam-macam, dan yang paling mahal adalah investasi ilmu. Terus bina diri.

Dan akhirnya beberapa mimpi tertulis tercoret. Tinggal mengejar beberapa yang lain sambil terus membina diri. Dan pada nantinya, saya menantang kamu semua untuk berhimpun dalam kebaikan dan menegakkan kebenaran, entah dalam wadah apa. Ada ide?

Hormat saya, Arynazzakka*

*)saat ini menjadi pengajar di JIBBS (Jakarta Islamic Boys Boarding School), masih dan akan terus berorganisasi, jalan hidup akan membawanya pada dua pilihan akademis: teknik kimia dan ilmu hukum dan pemerintahan. HIDUP MAHASISWA!!

 

ini tulisan C.I.N.T.A

cintaCinta: bermula di pikiran, berujung pada tindakan
“bagaikan ia menenun sebuah kain yang benangnya ditarik dari jantungmu, itulah cinta” Khalil Gibran

Ini bukan tulisan melow tentang cinta sederhana dua orang manusia, bukan juga bukan pengartian cinta yang menekankan kepuasan lahiriyah.
Ini bukan seputar pembicaraan ikhwan atau akhwat mengenai masa depannya yang malu-malu tapi menjurus, yang selalu menuliskan dalam status, “lelaki baik untuk perempuan baik” atau juga pengharapan seorang khadijah –yang mengarah pada dirinya- terhadap seorang muhammad yang mengacu lelaki impiannya. Bukan, sekali kali bukan.
Cinta seorang pemuda
Pemuda memiliki hakikat pencarian kebenaran yang tinggi. Saat-saat dimana terhimpunnya 4 kekuatan yang tidak akan pernah ada di masa-masa sebelum atau setelahnya. Adalah keyakinan. Adalah kekuatan. Adalah keikhlasan. Adalah pengorbanan dan kesediaan berbuat.
Kekuatan-kekuatan tersebut akan tercurahkan oleh pemuda untuk mengejar apa yang diinginkannya. Selain pencarian kebenaran, sebagian besar dari pemuda akan mencurahkannya untuk kekayaan yang ia kejar, meningkatkan kadar intelektual, kedudukan atau jabatan, dan juga wanita.
Antara memberi dan menerima
“ia memberi, bukan meminta” Anonim, tentang cinta

Adalah hal klasik mengartikan cinta adalah pengharapan akan pemberian. Pemberian ‘balasan’ dari yang ia cintai terhadap dirinya. Padahal sejatinya, cinta itu bukan mengharapkan pemberian, justru ialah yang memberi.
Pemberian itu berari pengorbanan. Seperti yang dijabarkan di atas, ketika pemuda menginginkan sesuatu, maka ia akan kejar sampai dapat dengan cara apapun, dengan pengorbanan.

….cinta itu bukan mengharapkan pemberian, justru ialah yang memberi.

Contoh lain ketika berbicara tentang aktivis gerakan, bahwasannya keresahan terhadap kenyataan yang tidak sesuai dengan idealita yang menjadi landasan gerak aktivis gerakan. Dan kontribusi adalah adalah bahasa cinta mereka. Kontribusi adalah bentuk dari pemberian, bentuk dari pengorbanan, bukan permintaan. Itu menunjukkan bahasa cinta aktivis gerakan adalah pemberian ‘kontribusi’.
Begitupun dengan kekayaan, ia akan meminta kita untuk memberikan pengorbanan berupa usaha keras dan konsisten. Intelektualitas akan meminta kita untuk belajar sungguh-sungguh. Jabatan akan meminta dari kita konsistensi jejak rekam kepemimpinan, kemampuan dan tanggungjawab kita. Juga ketika kita menginginkan wanita yang baik, maka konsekuensinya kita pun harus berusaha menjadi baik pula.

Ukuran ketulusan dan kesejatian cintamu adalah apa yang kamu berikan padanya Untuk membuat kehidupannya menjadi lebih baik. Maka kamu adalah air, maka kamu adalah matahari. Ia tumbuh dan berkembang dari siraman airmu. Ia besar dan berbuah dari sinar cahayamu.”

(bersambung #1)

draft sudah lama, namun akhirnya keluar juga….
efek #MuktamarCinta KAMMI 30Mei – 5 Juni 2013

Pemimpin dan fungsi sosial

seri Khalifah fil ardh #3

teens-social-networking

Oleh: Arynazzakka*

Dalam sejarah, hampir tujuh ratus tahun umat islam dipimpin jazirah arab. Enam ratus tahun kemudian, kepemimpinan pindah kepada khilafah islamiyah dan sudah sembilan puluh tahun ini khilafah runtuh, artinya belum ada pemimpin pemersatu umat. Kepemimpinan berawal di tengah, kemudian bergerak ke barat dan sekarang yang kita nanti, tidak mustahil kepemimpinan akan bergerak ke timur. Dan indonesia memiliki peluang yang besar untuk itu.

Mari kita lihat karakter keindonesiaan kita. Yang paling mudah terlihat ketika kita sholat. Cenderung, ketika kita sholat memilih jamaah sendiri-sendiri. Bahkan seringkali malahan melakukan sholat secara sendiri, daripada bergabung dengan jamaah yang sudah ada. Nafsi-nafsi, itulah karakter kita. Dan juga, ketika kita ingin memulai sholat, cenderung enggan untuk menjadi imam dan malahan kita saling mengajukan orang lain. Namun ternyata, ketika orang yang telah ditunjuk tadi memimpin sholat, kadang kala bacaannya jadi ga karuan dan kita protes dalam hati. Mengambil pelajaran mengenai karakter kita ketika sholat, kita menyimpulkan bahwa pada dasarnya karakter indonesia kita adalah individual (nafsi-nafsi), namun ketika ada seorang yang maju memimpin, sebagian besar kita menerimanya dan senang hati kita menjadi ma’mum (pengikut).

“karakter kita memang individual, namun kita juga siap untuk mentaati pemimpin”

Lantas pertanyaannya, bagaimanakah karakter seorang pemimpin? Karakter seorang pemimpin ialah dia yang menyiapkan dirinya sebaik mungkin, sehingga layak memimpin. Ia memiliki prinsip dasar bahwa sejatinya kepemimpinan akan lebih memberi maslahat ketika dipimpin oleh orang-orang yang mampu memimpin (capable) dan tugas kita semua adalah berlomba untuk memiliki kualitas seorang pemimpin. Maka kita harus persiapkan diri sebaik mungkin.

Kondisi yang menjerat kemajuan kita adalah terjebaknya kita dalam rutinitas. Dalam keadaan ini, maka perlulah pikiran-pikiran yang meloncat-loncat dan kreativitas. Namun, tujuan mulia harus memiliki cara tempuh yang muliah pula. Maka, kita harus menjadi patron. Maka kita harus menjadi teladan. Maka kita harus menjadi orang yang dapat dipercaya. Al-amin, dan usahakan kita mengasah diri kita untuk menjadi orang yang mampu dipercaya –oleh banyak orang.

“kondisi yang menjebak bernama RUTINITAS…”

Konsepsi islam merupakan konsepsi yang baik –bahkan terbaik. Namun seringkali pemeluknyalah yang menjadikan citra islam menjadi buruk, karena adanya laku tindakan dengan konsepsi islam yang diyakini. “cahaya islam tertutupi sebagian perilaku umatnya”. Maka kita harus menyadari kita adalah bagian dari citra islam sehingga konsepsi islam yang ada harus kita manifestasikan dalam laku tindakan.

“sangat dicintai Allah orang-orang yang berbuat baik pada orang lain”

Seorang pemimpin adalah mereka yang bersabar karena orang besar adalah orang yang sabar. Sebagai teladan, Rasul Muhammad ketika beliau menyeru pada orang-orang Thaif, malahan dilempari batu. Namun, bukanlah seorang pemimpin yang membalas keburukan dengan keburukan yang setimpal. Bagai pohon mangga yang apabila dilempar dengan batu, malahan pohon itu membalasnya dengan mangga, Rasul pun mendoakan mereka, “Ya Allah, semoga ada anak cucu diantara mereka ada yang menerima Risalahku”. Betapa sabar, betapa pikiran Rasul memiliki jangkauan yang luas. Padahal saat itu, malaikat sangat geram dan menawarkan kepada rasul untuk menimpah penduduk Thaif dengan gunung. “sesungguhnya, mereka adalah orang yang tidak mengetahui”. Begitulah sifat seorang pemimpin.

“menyeru dengan memberi kefahaman, menyadarkan dengan santun, menyadarkan sampai kesadaran muncul dari diri sendiri, bukan karena suatu paksaan”

Potensi filantropi indonesia besar. Dari berbagai perbedaan yang ada, banyak persamaan-persamaan yang dapat dijadikan kekuatan besar sehingga alangkah lebih baiknya jika kita menyatukan persamaan-persamaan yang ada dari pada sibuk memperdebatkan perbedaan-perbedaan yang jumlahnya kecil –dan seharusnya tidak perlu diperdebatkan.

*: Arynazzakka, mantan ketua BEM AKA 2012-2013. Sangat tertarik di bidang #kepemimpinan, selain Politik-Teknologi-Sains dan Pemikiran. Ahli Teknik Kimia Spesialisasi Persenjataan 2022. Bercita-cita menjadi Menteri Penerapan Teknologi 2039.

Tulisan ini terinspirasi dari Kuliah Umum Menteri Sosial RI 2009-2014 dalam rangkaian agenda Muktamar VIII KAMMI 2013 @Universitas Terbuka Convention Center.

 

Budi Oetomo: Pelopor Kebangkitan Nasional?*

Oleh: Arynazzakka**

harkitnas #2013

 

Bulan Mei dapat dikatakan bulan spesial dalam hal peringatan hari nasional. Selain hari buruh yang jatuh pada 1 Mei, adapula hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei, kemudian disusul hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada tanggal 20 Mei. Dan, terakhir adalah hari Reformasi, yakni peringatan pengunduran Soeharto sebagai simbol runtuhnya era Orde Baru yang ‘diktator’ menuju era Reformasi, 21 Mei.

Belajar pada sejarah, bahwasannya sejarah adalah miliki pemenang. Artinya, siapapun yang berkuasa dapat saja membuat sejarah yang berpihak pada kepentingannya. Tak terkecuali dalam sejarah Indonesia. Begitu banyak hal-hal yang sebenarnya jauh dari fakta, namun dituliskan dalam sebuah lembaran sejarah hingga generasi penerus menganggap itulah sebenarnya yang terjadi, menurut sejarah-perspektif itu.

Hari Kebangkitan nasional selalu disandingkan dengan lahirnya Budi Oetomo. Sebuah organisasi yang dinilai memiliki peranan penting dalam mempelopori kebangkitan nasional. Benarkah?

 Syarekat Islam (1)

Gb. 01. Simbol Sarekat Islam

Budi Oetomo: menilik sejarah

Budi Oetomo merupakan organisasi yang didirikan oleh siswa STOVIA (Sekolah Kedokteran Jawan, cikal bakal UI) dengan dr. Soetomo sebagai pendirinya. Budi Oetomo didirikan pada 20 Mei 1908. Dari segi keanggotaan, Budi Oetomo hanya menerima dari kalangan suku Jawa (dan itupun bangsawan). Organisasi ini kental dengan Djawanisme, baik itu agama Kedjawen, atau menjunjung tinggi nilai-nilai Djawa.

Mengenai persatuan nasional, Budi Oetomo juga bersikap menolak. Lantas, siapakah sebenarnya pembangkit kesadaran nasional?

Indonesia, dengan mayoritas muslimnya tidak dapat dipungkiri peran dalam hal pembangkit kesadaran nasional. Tali islam merupakan pemersatu bangsa pada saat itu (meski belum berwujud negara). Masyarakat lebih memahami ikatan islamiyah sebagai simpul pemersatu daripada ikatan bangsa. Apalagi, muslim yang mayoritas ditindas oleh penjajah Kerajaan Protestan Belanda. Gerakan pembebasan penindasan lebih banyak dipelopori ulama dan semangat ini ditularkan kepada masyarakat melalui semangat jihadnya.

Jikalau yang dimaksud kebangkitan nasional adalah organisasi pelopor, maka patutlah kita tujukan pada Serikat Dagang Islam yang telah berdiri 3 tahun lebih awal dari Budi Oetomo, yakni pada 16 Oktober 1905. Mengingat, peran Serikat Dagang Islam yang besar, bahkan menjadi salah satu kekuatan politik-ekonomi yang ditakuti oleh penjajah karena jaringannya yang luas dan anggotanya yang besar (anggota SDI mencapai 2juta, bandingkan anggota Budi Oetomo yang hanya 10ribu).

De-Islamisasi sejarah

 muhammadiyah

Gb. 02. Achmad Dachlan, Pendiri Muhammadiyah

Adapun, mengenai keputusan kabinet Hatta yang menetapkan Hari Kebangkitan Nasional adalah kondisi kabinet Hatta (1948-1949) mendapat serangan dari pelaku Kudeta 3 Juli 1946 (Tan Malaka dari Marxist Moerba dan Mohammad Yamin di Pengadilan Tinggi). Pembelaan ini diangkat di media masa dan cetak maupun radio, dan dinilai kabinet Hatta dapat menumbuhkan perpeahan bangsa yang sedang menghadapi perang kemerdekaan (1945-1950). Maka, dengan demikian, kabinet Hatta memilih peringatan Budi Oetomo –sebagai organisasi yang telah mati- sebagai pembangun kesadaran sejarah nasional perlawanan kepada penjajah.

 Taman Siswo

Gb. 03. Taman Siswa

Kebijakan pemerintah indonesia ini memang mengindikasikan de-Islamisasi sejarah, seakan kebangkitan nasional tidak dipelopori Indonesia tidak dipelopori Islam, dan Islam tidak dapat mendapat tempat dalam sejarah meski nyata perannya. Ini pun terjadi pada kesalahan keputusan hari bersejarah lain, diantaranya Hari Pendidikan Nasional yang dialamatkan pada hari lahir Ki Hadjar Dewantoro –pendiri Taman Siswo- 1922 M. Padahal Achmad Dachlan dengan Perserikatan Muhammadiyahnya berdiri 10 tahun lebih awal, yakni pada 1912 M. Dan juga jelas, Muhammadiyah memiliki peran yang lebih luas, dan masih ada sampai sekarang.

Mari, tulis ulang sejarah Indonesia!

Sebagai catatan:

  1. Taman Siswo merupakan perkumpulan kebatinan Seloso Kliwon
  2. De-islamisasi sejarah terjadi karena nyata-nyata, sejarah indonesia seolah mengabaikan kekuasaan politik islam dengan kesultanannya (jumlahnya empat puluh). Ini akibat adanya Maklumat Presiden Nomor 1 Tahun 1946, bahwa kedaulatan politik dan ekonomi diambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia

*: Tulisan ini merupakan hasil bedah buku Api Sejarah karya A. Mansur Suyanegara dalam momentum Hari Kebangkitan Nasional versi pemerintah, bersama dengan kader KAMMI Komisariat AKA Bogor (Oki, Aldi, Manto, Falah, Ilham, Qurnia, Fikri, dan penulis)

**: Arynazzakka, sedang dalam pembelajaran Islam. Terlibat dalam pergerakan Islam KAMMI. mantan ketua BEM AKA 2012-2013. Sangat tertarik di bidang #kemandirian (bisnis), selain Politik-Teknologi-Sains dan Pemikiran. Ahli Teknik Kimia Spesialisasi Persenjataan 2022. Bercita-cita menjadi Menteri Penerapan Teknologi 2049.

Khalifah fil Ardh #2

Oleh: Arynazzakka*

leader movement

Great Leader is the great reader

Kapasitas kita adalah sebagai khalifah fil ardh (khalifah di muka bumi), bukan hanya sekedar khalifah fil Bogor, apalagi khalifah fil kampus. Jadi, jangan sekali-kali kita mengkerdilkan amanah yang diberikan sang Pencipta kita.

Kapasitas seorang khalifah fil ardh menuntut terkumpulnya berbagai keterampilan spesialis dan penguasaan mendalam dalam satu individu. Sebagai contoh, Muhammad Al-Fatih sebagai penakluk Konstantinopel sejak kecil ditanamkan sikap sebagai khalifah fil ardh, sehingga nyata sabda rasul bahwa ialah sebaik-baik pemimpin pada saat itu, dan prajuritnya adalah sebaik-baiknya prajurit.

Dalam memimpin sholat bahkan beliau tanyakan kepada prajuritnya, “siapa yang tidak pernah sekalipun meninggalkan sholat setelah baligh?” seluruh prajurit masih berdiri tanda bahwa tidak seorangpun yang pernah meninggalkan sholat. “siapa yang tidak pernah meninggalkan sholat berjamaah?” kemudian beberapa prajuritnya turun pertanda ada yang pernah terlewatkan sholat berjamaah. Hingga kemudian terlontar pertanyaan terakhir, “siapa yang semenjak baligh tidak pernah meninggalkan sholat tahajjud?” dan ternyata, semua prajurit turun hingga Al-Fatih lah sendiri yang masih tetap berdiri.

Gambaran dari cerita di atas menunjukkan bahwa betapa kapasitas khalifah fil ardh begitu mengagumkan.

Ia juga dapat diumpamakan bagai singa, yang tidurnya saja membuat orang berhati-hati jika berada di sekelilingnya, dan takut untuk mengganggunya. Ingat, diamnya saja sudah membuat orang takut, membuat orang enggan berbuat hal kemaksiatan.

Ia diumpamakan bagai singa, yang tidurnya saja membuat orang takut…

Menjadi khalifah fil ardh, juga membutuhkan kemampuan destroyer. Kemampuan penghancur, yang sekali diserang  mampu meluluhlantahkan lawan. Agar lawan tidak macam-macam dan menganggap kita remeh. Agar kita mampu melindungi saudara kita.

Kapasitas seorang khalifah fil ardh memandang bahwa perbedaan adalah keniscayaan. Konflik yang terjadi hanya berdasar pada perbedaan ideologi, kepentingan karena sejatinya “tidak ada lawan abadi”. Khalifah fil ardh adalah orang-orang yang mampu mengendalikan perbedaan-perbedaan itu. Mengendalikannya ke arah kebaikan. Menjauhkannya dari potensi perpecahan. Ia bagai penakluk kuda liar yang dapat ia gunakan sebagai kuda tunggangannya.

karakter destroyer harus juga dimiliki. khalifah fil ardh adalah pengendali

Khalifah fil ardh tidak memandang bahwa politik dan ekonomi (bisnis) adalah bagian yang terpisah dan harus diperjuangkan berdasarkan prioritas. Ia pandang bahwa politik dan ekonomi adalah bagai dua muka keping mata uang. Lekat. Dan tidak terpisahkan. Bisnis haruslah di back up dengan kebijakan. Sedangkan politik juga tidak dapat mengingkari peranan ekonomi. Keseimbangan politik-ekonomi inilah yang telah dibuktikan oleh SDI (Serikat Dagang Islam) dan SI (Serikat Islam) yang menjadi kekuatan politik dan ekonomi yang ditakuti oleh pemerintahan kolonial Protestan Belanda.

politik dan ekonomi adalah bagai dua muka keping mata uang

*: Arynazzakka, mantan Presiden BEM AKA 2012-2013. Sangat tertarik di bidang #kemandirian, selain Politik-Teknologi-Sains dan Pemikiran. Ahli Teknik Kimia Spesialisasi Persenjataan 2022. Bercita-cita menjadi Menteri Penerapan Teknologi 2049.

catatan: Tulisan ini merupakan Hasil kajian Manhaj Haroki (Pedoman Pergerakan Islam) oleh Ust. Nuruzzaaman (16 Mei 2013)

 

Analis: betapa bodohnya kita (bagian 1)

 

Eksploitasi

“sejak kapan ada seorang pembeli dapat menentukan harga dan kualitas sesuai kemauannya sendiri? Ya, miris, itu terjadi di negara kita yang dibodohi”

Terjajah, ya, terjajah. Bangsa Indonesia yang sampai saat ini terjajah dalam semua Sumber Daya Alam (SDA) yang dimiliki sampai dengan aspek kehidupan. Renungkan saja, dari bangun tidur sampai dengan tidur lagi kita terjajah. Bagaimana tidak, air minum Aqua, teh Sariwangi, pasta gigi Pepsodent, baju Cardinal, nasi hasil impor, gula impor, buah impor, dan seabrek -di sekeliling kita-semua ada milik asing. Lagi-lagi kita terjajah, dan malangnya juga, kita tidak merasa dijajah.

Berbicara tentang SDA, apalagi. Pembodohan dan penjajah kian menjadi-jadi. Lihat saja PT Freeport yang telah mengeruk Emas (bukan hanya Tembaga!), Chevron dan Exxon Mobil yang mengeruk gas alam dan geotermal kita, termasuk juga minyak yang juga jadi rebutan CNOOC, Petro Cina, Shell, Total.

Berbicara tentang PT Freeport, sangat lucu kawan. Kau tahu suatu tempat di Papua bernama “Tembagapura”? ya, dinamakan Tembagapura karena tempat tersebut menyimpan cadangan Tembaga yang begitu besar. Kita pasti kagum akan hal itu. Namun sampai disitu saja? sekali lagi kita sungguh dibodohi. Ternyata daerah tersebut sebetulnya penghasil Emas! (lebih patut dinamakan Emaspura). Melalui pipa-pipa raksasa dari Grasberg-Tembagapura, sekitar 6 milyar ton pasir Tembaga digerus dan disalurkan sejauh 100 km ke Laut Arafuru, dimana telah menunggu kapal-kapal besar. Apa yang disalurkan? Bukan lagi tembaga, tetapi Emas! Ya, dengan 6 milyar ton pasir setidaknya menghasilkan 6 ribu ton emas mengalir ke luar indonesia (Di bawah Cengkeraman Asing. Diambil dari Riswanda Himawan, artikel opini kompas, 13 Maret 2006)

Tahun 1995 saja, eksekutif Freeport menyebut area tersebut menyimpan cadangan tembaga sebesar 40,3 milyar pon dan emas 52,1 juta ons. Buku George A. Mealey yang berjudul “Grasberg” menyebutkan bahwa Freeport McMoran merupakan tambang tembaga yang memiliki deposit terbesar ketiga di dunia, sedang untuk emas menempati urutan pertama! Sungguh mencengangkan. Lantas apa hubungannya?

Mahasiswa Analis: kemana dirimu?

Mahasiswa, mungkin saja saat ini hanya sebuah kenangan masa lalu. Telah hilang nilai perjuangan mahasiswa. Telah hilang nilai kritis, budaya kajian, perbincangan ringan tentang gerakan, tentang negara, tentang solusi permasalahan negara, tentang peran keprofesian masing-masing setelah lulus untuk negara. Ya, barangkali itu hanya masa lalu.

Belum lagi masalah mahasiswa yang dihadapkan pada program-program wirausaha, kuliah singkat cepat kerja, ataupun prestasi akademis normatif yang dipuji sesaat dan kurang mendapat follow up yang nyata.

Mahasiswa analis, pola pembentukan pikiran kita adalah berfikir sistematis (terstruktur), memahami dasar masalah dan mengupayakan sebuah solusi. Apakah lantas cara pandang kita terhadap suatu permasalahan adalah dengan mendiamkannya? Apakah juga kita hanya menjadi mahasiswa yang kerjaannya menghibur diri tidak jelas? Atau menghibur orang lain dengan orientasi materi? Atau masih saja kita terlalu sibuk berkutat dengan teks akademik, menjadi ‘pembeo-pembeo’ agar ujian lancar, nilai bagus, lulus cumlaude, kerja cepat, segera nikah, memiliki anak, menikmati hari tua dan mati begitu saja tanpa sedikitpun menghasilkan karya untuk bangsa dan negara –apalagi agama?

Mahasiswa analis, dimana dirimu? Saat bangsa ini membutuhkanmu. Saat sekarang dan kelak, nanti. Apakah dirimu belum mengetahui bahwa pada awal tahun 2000 ekspor produk sayuran petani asal Karo ditolak oleh Malaysia dan Singapura karena adanya isu pestisida yang melampaui ambang batas padahal hasil pengujian Laboratorium Pestisida Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Sumatera Utara menunjukkan bahwa residu pestisida dalam produk sayuran dan holtikultura para petani Karo masih jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan dan hasil ini telah diakui oleh lembaga Agrifood and Veterinary Authority (AVA) Singapura.

Apakah belum juga kita tahu bahwa  Ekspor kopi robusta Indonesia ke Jepang juga terhambat, menyusul rendahnya ambang batas residu pestisida karbaril yang diterapkan sejak 2009 oleh Pemerintah Jepang, yaitu sebesar 0,01%. Nilai ambang batas ini lebih rendah dari nilai ambang batas yang diterapkan Negara Uni Eropa yaitu sebesar 0,1%. Penolakan Jepang mengakibatkan sebanyak 20-30 kontainer biji kopi robusta per tahun yang memasuki pelabuhan Jepang terhambat. Setiap kontainer biji kopi bernilai US$45 ribu sehingga akumulasi per tahun merugikan Negara sebesar US$1,35 juta. [www.agroasianews.com, 10 Februari 2012]

Belum lagi Amerika yang sok hebat itu, dengan semena-menanya tanpa bukti ilmiah apapun menerapkan status automatic detention terhadap produk kakao Indonesia hanya karena setelah mengambil sampel satu kali di Makasar dan mengklaim begitu saja bahwa kakao Indonesia tidak diproses secara higienis? Dan kau tahu apa akibatnya? Akibat dari status ini, sampai beberapa tahun, Amerika Serikat dapat membeli produk kakao Indonesia dengan harga yang jauh lebih rendah dari harga pasaran dunia. Kakao  Indonesia yang diklaim tanpa bukti ilmiah apapun oleh Singapura mengandung residu herbisida 2,4 D [COPAL Cocoa Info, 2009]. Kita pun hanya terdiam dan mengangguk.

Menyedihkan? Siapa yang seharusnya bertanggungjawab atas ini semua? Dengan berat hati, saya mengatakan Analis! Betapa bodohnya kita.

(bersambung, next: “Bagaimana seharusnya mahasiswa Analis berperan?”)

Oleh: Arynazzakka. Mahasiswa yang berniat mengembangkan Analis Indonesia melalui sistem metrologi. Saat ini sedang menekuni Fisika Analitik dan Instrumentasi analitik, terutama spektrofotometri dan electrochemical analysis