SUDUT PANDANG

“the illiterate of the 21th century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn, and relearn” Alvin Toffler dalam Future Shock, futurist

illiterate of 21 century

Alkisah, ada seorang mahasiswa di suatu kampus ternama. Ia mahasiswa biasa. Ya, hanya mahasiswa biasa yang tidak ingin sekedar melalui proses kuliah layaknya dulu ia sekolah. Masuk di kelas, praktikum, dan menjadikan organisasi hanya sekedar tempat berkumpul dan mencari pertemanan, atau yang lebih menarik, mencari pasangan.

Ia yang sadar sebagai kelompok kecil yang merasa diuntungkan dengan pendidikan tinggi yang diperolehnya, dimana belum tentu pemuda sedesa atau sedaerahnya mendapatkan kesempatan sepertinya. Maka, ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Singkat cerita, sebagai bagian dari almamaternya, ia ingin kampus tempat ia belajar terus maju dan mengikuti perkembangan zaman. Ia dapati pemikiran tersebut karena ia mengetahui akan adanya pemilihan pimpinan baru di kampus ia belajar. “Ini momentumnya”, demikian ia berfikir. Ia pun mencari cara, bagaimana agar ia sendiri, teman-temannya dan seluruh civitas akademika bahkan alumninya memiliki peranan dalam kemajuan kampusnya dan tahu momentum tersebut. Ia sadar, yang paling tahu pokok permasalahan adalah pimpinan kampusnya. Namun ia tetap berfikir, berbicara kemajuan kampus tidak sekedar tanggungjawab orang-orang yang akan menduduki posisi struktural kampus, namun adalah tanggungjawab seluruh civitas akademika.

Ia memulai aksinya, bahwa banyak yang harus dibenahi di kampus tempat ia belajar baik dari realisasi dana kemahasiswaan yang diberikan oleh kampus (karena ia rasakan ini sebagai salah satu sumber utama pertikaian tak berujung pada pembagian dana antar organisasi mahasiswa tempat ia terlibat), realisasi pelayanan atau fasilitas kampus terhadap dana yang dibayarkan yang tak sesuai, kesesuaian visi pimpinan kampus baru terhadap grand design yang telah dibuat, integrasi peranan organisasi mahasiswa, organisasi alumni, dan organisasi kampus. Dan, masih banyak dari deretan hal yang ia nilai penting untuk dicarikan solusinya secara bersama.

Benar saja, ia memulainya. Segala media yang berlaku di zaman ini ia gunakan. Meski akhirnya beberapa mencibir, menafsirkan sendiri tanpa mau mencari tahu dari sumber aslinya dan apa sebenarnya tujuan beserta maksud pesan yang ingin disampaikan. Sayangnya, cibiran itu bukan saja oleh rekan mahasiswa dan organisasi yang ia perjuangkan bersama, namun juga para senior-seniornya.

***

Piramida. Apabila dilihat dari atas saja, ia akan terlihat persegi. Dilihat dari samping saja, ia justru terlihat segitiga. Dilihat dari bawah, ia juga terlihat persegi. Demikian terjadi karena sudut pandang yang berbeda akan menghasilkan penyimpulan yang berbeda pula. Lantas, bagaimana cara mencari tahu kebenarannya? Yakni dengan cara melihatnya secara keseluruhan. Bukan dari satu sisi, melainkan semua sisi.

Diantara kesemuanya itu, hal yang paling penting adalah kelangsungan tujuan yang diinginkan. Tujuan penyampaian informasi tidak boleh terhenti hanya karena cara penyampaian yang bagi sebagian besar orang kurang dimengerti atau disalahpahami. Apabila kita salah dalam penyampaian atau dengan kata lain salah “caranya”, maka yang dievaluasi adalah “cara penyampaiannya”, bukan tujuan. Cara sangat beragam: “seribu jalan menuju Roma”, demikian kata pepatah.

Buta huruf masa kini

Di masa kini, orang yang buta huruf bukanlah orang yang tidak mampu baca tulis, melainkan orang yang tidak mau belajar, berhenti belajar, ataupun mempelajari ulang (sesuatu sesuai dengan perkembangannya). Pendapat tersebut telah diramalkan oleh futurist kenamaan Alvin Toffler hampir 40 tahun yang lalu dalam bukunya Future Shock.

Pesannya demikian. Di masa kini, tidak dapat setiap orang hanya mengandalkan pengalamannya untuk dikatakan “lebih tahu” atau “lebih benar”. Tidak juga setiap orang “lebih benar dan lebih tahu” hanya karena “lebih tua dan lebih senior”. Siapapun orangnya yang berhenti belajar dan tidak memperbaharui pengetahuannya, ia tertinggal. Ia seperti seorang buta huruf yang sebenarnya tidak tahu apa-apa: hanya mengira-ngira menurut persepsi yang dibuatnya sendiri.

Setiap orang sekarang bisa belajar dari siapapun. Termasuk yang lebih muda. Tidak ada yang mutlak. Misalnya, si A menjadi “guru” si B dalam bidang Mikroskopi disatu waktu, namun di waktu yang lain justru si B yang menjadi “guru” si A dalam bidang Komunikasi. Dan sikap terbaik adalah tidak merasa “lebih tahu” dari yang lain. Semuanya saling belajar satu sama lain. Di atas semua manusia yang memiliki pengetahuan, ada Dia Yang Maha Tahu.

***

“Make mistakes faster”, buat kesalahan lebih cepat. Mahasiswa itu pun teringat pesan yang begitu populer yang dilontarkan oleh peletak budaya perusahaan chip terbesar dunia Intel Corp, Andrew Groove. Dan tetap saja, ia memiliki teman baik yang menasehatinya: bahwa setiap masukan itu baik baginya. Meski ia menyadari, terkadang hal baik yang dilakukannya tidak dipahami setiap orang. Meski ia menyadari, terkadang orang-orang yang mencibirnya karena telah memperoleh “kasta” yang lebih tinggi untuk ia sebut sebagai “senior” adalah orang-orang yang ketika dulunya berada pada posisi dia adalah orang yang tidak sedikitpun melakukan apa-apa. Yang tidak mau menanggung segala resiko untuk berurusan dengan pimpinan kampus (yang seringkali dianggap angker bagi sebagian besar mahasiswa). Seperti pula ia menyadari begitu banyaknya orang-orang dalam sidang-sidang mahasiswa berbicara keras-keras tanpa isi seolah ia telah melakukan begitu banyak hal. Seolah-olah ia telah berusaha membangun komunikasi dan bernegosiasi terhadap banyak pihak baik dari yang memiliki wewenang di kampusnya ataupun wewenang yang lebih tinggi di kampusnya, padahal sedikitpun ia tidak melakukan apa-apa, selain berkumpul dengan orang-orang sekomunitasnya.

***

Saudara, barangkali ada kemiripan kisah di atas dengan kejadian yang sekarang sedang dijalani. Hal terbaik yang bisa dilakukan alumni suatu perguruan tinggi (seperti saya ini) adalah menyambung kerjasama dengan rekan seluruh profesi yang bersangkutan baik dalam kerjasama bisnis, asosiasi, ataupun perhimpunan dengan tetap berusaha support almamater (apapun bentuknya). Industry apa saja yang akan kita realisasikan dan bertaraf dunia 10 sampai 20 tahun mendatang? Bagaimana cara untuk menjadi seperti Mochtar Riady ataupun Dr Tahir dalam membuat jaringan bisnis yang menggurita dan memiliki nilai social kemanusiaan? Tahap-tahap apa yang dibutuhkan untuk membangun bisnis seperti Filantrop Pangeran Al-Waleed yang kini secara bertahap menyedekahkan seluruh hartanya yang nilainya >400 Trilyun itu? Bagaimana cara membuat lab uji seperti Theranos yang membuat si cantik Elizabeth Holmes itu menjadi salah satu wanita muda terkaya di Amerika dengan usia <30 tahun? Nampaknya, bahasan-bahasan tersebut akan menjadi sangat menarik dan hidup dalam pandangan saya sebagai alumni.

Begitupun mahasiswa. Dalam pandangan saya, seringkali mahasiswa memiliki pandangan ke depan akan sebuah tujuan ideal, bahkan terkadang justru menjawab pertanyaan dari para orang-orang yang sedang memangku jabatan. Tetap ikutilah kata hatimu, wahai mahasiswa. Jangan bimbang hanya karena perkataan satu atau dua orang. Kebenaran atau kesalahan bukan sekedar banyak atau sedikitnya pendukung.

“Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life” (Steve Jobs)

Saudara, baik anda yang masih mahasiswa ataupun sudah menjadi alumni perguruan tinggi seperti saya, kita saling membutuhkan (we are interdependent). Atau paling tidak, saya membutuhkan anda untuk terus menerus saling menumbuhkan sikap hidup satu sama lain, ataupun membangun kerjasama-kerjasama bermanfaat di waktu-waktu mendatang.

Maka, apakah dengan mengatakan kebenaran aku harus menjadi musuhmu? (Galatia 4:16)

Bangkit IMAKA, Bangkit Indonesia

Hari itu, terjadi perubahan luar biasa dengan kampusku. Bukan perubahan fisik bangunan yang menjadi besar.

Pagi hari saat kuinjakkan kaki di gerbang, tidak jauh kulihat banyak mahasiswa telah datang. Mereka membuat forum-forum berupa lingkaran. Sungguh berbeda dengan yang biasa aku liat. Aku mendekat ke salah satu forum, ternyata mereka sedang mendiskusikan tentang Pergerakan Pemuda dan Mahasiswa dalam rangka mempersiapkan kebangkitan INdonesia yang sesungguhnya. MEreka terlihat begitu bersemangat dan antusias. Auranya dapat aku rasakan. Merekalah calon revolusioner kebangkitan Indonesia.

Kemudian aku beranjak ke forum yang lain, ternyata setelah aku saling memberi salam, mereka sedang mendiskusikan tentang perkembangan Sains saat ini, terutama perkembangan kimia modern. Diskusi mereka sangat mengagumkan. Aku bergumam,”Inilah calon-calon  Ilmuwan Kimia yang akan memimpin dunia”.

Kawan, kampus yang aku jalani sekarang penuh dengan semangat bertukar pikiran dari mahasiswanya

Langkah kakiku pun berlanjut memasuki turunan jalan menuju ke lobi kampus. Lagi-lagi, sungguh luar biasa kampusku sekarang. di Lorong-lorong jalanan, kuliat banyak mading-mading tertempel dan isinya pun berbeda-beda. Tertulis jelas tema di beberapa mading “SAINS HARI INI”, “PERGERAKAN KITA”, “KOLOM RUHIYAH”, “SAHABAT ALAM”, “SASTRA dan SENI”. Kulihat para penyumbang artikelnya adalah mahasiswa yang berbeda. ku ambil kesimpulan sejenak, Mahasiswa AKA sekarang aktif dalam hal menulis.

Kawan,  efektif belajar melalui baca- dan menuliskannya telah menjadi kultur mahasiswa AKA

sebentar lagi masuk kuliah, terlihat banyak kawan-kawanku bergegas masuk ke ruang kuliah. tak berselang lama, dosenpun masuk. Kebetulan matakuliah yang aku ikuti hari ini adalah Sejarah dan FIlsafat Kimia. setelah berdoa, ada pertanyaan khas yang dilontarkan dosen, “Diskusi kita pada hari i ni adalah tentang Filsafat Elektrokimia, ada yang ingin me ngajukan argumen tentang ini?” “Waw, Dahsyat, sekarang sistem kita bukan diajar, tetapi DISKUSI, diskusi 2 arah”. setelah sekian waktu berselang, banyak dari kawan-kawanku yang mengajukan argumen luar biasa, kuliah ditutup dengan pengambilan kesimpulan.

kawan, kuliah efektif metode diskusi 2 arah telah menjadikan kita belajar cerdas mengikuti perkembangan zaman

setelah kuliah Sejarah dan Filsafat Kimia, ada waktu kosong 1 jam sebelum aku kuliah lagi. aku manfaatkan waktu itu untuk keluar dan menikmati suasana kampus yang kurasa semakin menyenangkan. setelah beberapa menit aku berjalan, kulihat perpustakaan, saat aku memasukinya, ternyata bukan perpustakaan yang biasa aku kunjungi. kuteliti lagi buku-buku yang ada, teryata berisi tentang sastra, novel, Agama, dan pengetahuan umum lain. saat aku tanyakan pegawai perpusnya, ternyata ini adalah hasil dari sumbangsih mahasiswa yang peka melihat kondisi mahasiswa yang butuh hiburan, butuh suplemen lain selain dari buku-buku eksak yang menguras otak.

kawan, kita butuh suplemen lain selain buku eksak agar otak kita senantiasa segar, ayo realisasikan

sejenak aku berada di dalam perpus, aku kembali mencari sumber inspirasi baru dengan kawan-kawankuSetiap langkah aku susuri jengkal kampusku, tak kutemui gurauan yang tak bermanfaat.  Baru saja aku temui kawanku TPL. Mereka yang menjadi “minoritas” di kampus seolah telah bangkit dari beberapa kepayahannya. Ya, kawan, baru saja mereka merasakan merdeka yang sesungguhnya. Mereka tidak mendapat “tekanan” akademik untuk membatasi diri dalam ranah Organisasi. Sekarang tidak ada larangan kawan-kawan TPL untuk memimpin sebuah organisasi kampus.

Ngomong-ngomong tentang ini kawan, aneh saja beberapa tahun ke belakang mahasiswa TPL yang notabenya perwakilan/utusan daerah, dengan sebuah ketidak jelasan tidak diperbolehkan memimpin organisasi, pindah jadwal, dan beberapa hal lain yang menurutku kurang jelas dan kuat alasannya. Tapi Syukur alhamdulillah, sekarang kendala itu sudah tertangani, bahkan aku dengar ada anak TPL yang berminat mencalonkan dirinya untuk memimpin kampus. Sebuah semangat yang patut di apreasi.

kulanjutkan alur hariku, bertemulah aku dengan kawan seperjuangan. diajaklah aku berdiskusi sejenak, tentang kampus, tentang indonesia…..

kuajukan argumen berikut:

“kawan, dulu sistem pembelajaran dan materi yang kurang relevan dengan perkembangan jaman, walaupun tidak sepenuhnya salah, agaknya kurang memacu kita untuk berkreasi. sistem ini, dulu telah mengungkung kita dan para pendahulu kita dengan membentuk kita menjadi pekerja keras, bukan pekerja cerdas.

kawan, dengan era globalisasi yang kian mempersempit ruang gerak kita seperti apa yang diungkapkan dalam buku “THe WOrld is flaT, menjadi pekerja keras hanya akan membuat kita sebagai budak iNdustri yang terus menerus akan bergantung padanya. Kemandirian kita tercekal. sifat kerjasama membangun bangsa sendiri kian jauh sehingga kita hanya memikirkan perut kita. Padahal jauh dari itu, kawan, bangsa ini membutuhkan kita sebagai pemudanya untuk membangun diri menuju bangsa madani.

Kawan, bangsa ini tidak akan pernah berteriak minta tolong kepada generasi penerusnya. bangsa dan tanah air ini malu dengan itu karena telah dilimpahi kekayaan alam yang luar biasa, sementara belum bisa memakmurkan kita.

Kawan, ingatkah kau ketika bangsa ini pernah sejajar dengan bangsa lain di dunia, kita pernah menjadi macan asia, gerak kita dinanti, langkah kita diwaspadai, kemajuan kita diawasi, kapan itu kan kembali?

Bukan aku mengajakmu bernostalgia dan bermimpi membumbung tinggi, aku ingin mengajakmu untuk mengajak yang lain juga untuk mempersiapkan diri kita, para generasi Soekarno, Natsir, HAMKA, Habibie, J.A Kattili dan masih banyak pejuang bangsa yang tidak muat apabila aku tulis satu persatu.

Ketika kita telah keluar dari kungkungan memikirkan diri sendiri, baik itu cita-cita sendiri ataupun kepentingan-kepentingan yang bersifat pribadi maupun kelompok dan beranjak ke zona yang lebih besar, memikirkan cita-cita Indonesia jauh ke depan, maka cita-cita dengan sendirinya telah terpenuhi.

 

Diskusi yang panjang lebar pun telah usai. kini beranjak aku berserah diri padaNya untuk menyegarkan nurani akal dan jasad.

 

tertanggal 25 Oktober 2011

telah dipublish di: http://www.facebook.com/notes/arynazzakka/bangkit-imaka-bangkit-indonesia/254250021288633

Presiden Mahasiswa IMAKA 2012-2013

Arynazzakka