SUDUT PANDANG

“the illiterate of the 21th century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn, and relearn” Alvin Toffler dalam Future Shock, futurist

illiterate of 21 century

Alkisah, ada seorang mahasiswa di suatu kampus ternama. Ia mahasiswa biasa. Ya, hanya mahasiswa biasa yang tidak ingin sekedar melalui proses kuliah layaknya dulu ia sekolah. Masuk di kelas, praktikum, dan menjadikan organisasi hanya sekedar tempat berkumpul dan mencari pertemanan, atau yang lebih menarik, mencari pasangan.

Ia yang sadar sebagai kelompok kecil yang merasa diuntungkan dengan pendidikan tinggi yang diperolehnya, dimana belum tentu pemuda sedesa atau sedaerahnya mendapatkan kesempatan sepertinya. Maka, ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Singkat cerita, sebagai bagian dari almamaternya, ia ingin kampus tempat ia belajar terus maju dan mengikuti perkembangan zaman. Ia dapati pemikiran tersebut karena ia mengetahui akan adanya pemilihan pimpinan baru di kampus ia belajar. “Ini momentumnya”, demikian ia berfikir. Ia pun mencari cara, bagaimana agar ia sendiri, teman-temannya dan seluruh civitas akademika bahkan alumninya memiliki peranan dalam kemajuan kampusnya dan tahu momentum tersebut. Ia sadar, yang paling tahu pokok permasalahan adalah pimpinan kampusnya. Namun ia tetap berfikir, berbicara kemajuan kampus tidak sekedar tanggungjawab orang-orang yang akan menduduki posisi struktural kampus, namun adalah tanggungjawab seluruh civitas akademika.

Ia memulai aksinya, bahwa banyak yang harus dibenahi di kampus tempat ia belajar baik dari realisasi dana kemahasiswaan yang diberikan oleh kampus (karena ia rasakan ini sebagai salah satu sumber utama pertikaian tak berujung pada pembagian dana antar organisasi mahasiswa tempat ia terlibat), realisasi pelayanan atau fasilitas kampus terhadap dana yang dibayarkan yang tak sesuai, kesesuaian visi pimpinan kampus baru terhadap grand design yang telah dibuat, integrasi peranan organisasi mahasiswa, organisasi alumni, dan organisasi kampus. Dan, masih banyak dari deretan hal yang ia nilai penting untuk dicarikan solusinya secara bersama.

Benar saja, ia memulainya. Segala media yang berlaku di zaman ini ia gunakan. Meski akhirnya beberapa mencibir, menafsirkan sendiri tanpa mau mencari tahu dari sumber aslinya dan apa sebenarnya tujuan beserta maksud pesan yang ingin disampaikan. Sayangnya, cibiran itu bukan saja oleh rekan mahasiswa dan organisasi yang ia perjuangkan bersama, namun juga para senior-seniornya.

***

Piramida. Apabila dilihat dari atas saja, ia akan terlihat persegi. Dilihat dari samping saja, ia justru terlihat segitiga. Dilihat dari bawah, ia juga terlihat persegi. Demikian terjadi karena sudut pandang yang berbeda akan menghasilkan penyimpulan yang berbeda pula. Lantas, bagaimana cara mencari tahu kebenarannya? Yakni dengan cara melihatnya secara keseluruhan. Bukan dari satu sisi, melainkan semua sisi.

Diantara kesemuanya itu, hal yang paling penting adalah kelangsungan tujuan yang diinginkan. Tujuan penyampaian informasi tidak boleh terhenti hanya karena cara penyampaian yang bagi sebagian besar orang kurang dimengerti atau disalahpahami. Apabila kita salah dalam penyampaian atau dengan kata lain salah “caranya”, maka yang dievaluasi adalah “cara penyampaiannya”, bukan tujuan. Cara sangat beragam: “seribu jalan menuju Roma”, demikian kata pepatah.

Buta huruf masa kini

Di masa kini, orang yang buta huruf bukanlah orang yang tidak mampu baca tulis, melainkan orang yang tidak mau belajar, berhenti belajar, ataupun mempelajari ulang (sesuatu sesuai dengan perkembangannya). Pendapat tersebut telah diramalkan oleh futurist kenamaan Alvin Toffler hampir 40 tahun yang lalu dalam bukunya Future Shock.

Pesannya demikian. Di masa kini, tidak dapat setiap orang hanya mengandalkan pengalamannya untuk dikatakan “lebih tahu” atau “lebih benar”. Tidak juga setiap orang “lebih benar dan lebih tahu” hanya karena “lebih tua dan lebih senior”. Siapapun orangnya yang berhenti belajar dan tidak memperbaharui pengetahuannya, ia tertinggal. Ia seperti seorang buta huruf yang sebenarnya tidak tahu apa-apa: hanya mengira-ngira menurut persepsi yang dibuatnya sendiri.

Setiap orang sekarang bisa belajar dari siapapun. Termasuk yang lebih muda. Tidak ada yang mutlak. Misalnya, si A menjadi “guru” si B dalam bidang Mikroskopi disatu waktu, namun di waktu yang lain justru si B yang menjadi “guru” si A dalam bidang Komunikasi. Dan sikap terbaik adalah tidak merasa “lebih tahu” dari yang lain. Semuanya saling belajar satu sama lain. Di atas semua manusia yang memiliki pengetahuan, ada Dia Yang Maha Tahu.

***

“Make mistakes faster”, buat kesalahan lebih cepat. Mahasiswa itu pun teringat pesan yang begitu populer yang dilontarkan oleh peletak budaya perusahaan chip terbesar dunia Intel Corp, Andrew Groove. Dan tetap saja, ia memiliki teman baik yang menasehatinya: bahwa setiap masukan itu baik baginya. Meski ia menyadari, terkadang hal baik yang dilakukannya tidak dipahami setiap orang. Meski ia menyadari, terkadang orang-orang yang mencibirnya karena telah memperoleh “kasta” yang lebih tinggi untuk ia sebut sebagai “senior” adalah orang-orang yang ketika dulunya berada pada posisi dia adalah orang yang tidak sedikitpun melakukan apa-apa. Yang tidak mau menanggung segala resiko untuk berurusan dengan pimpinan kampus (yang seringkali dianggap angker bagi sebagian besar mahasiswa). Seperti pula ia menyadari begitu banyaknya orang-orang dalam sidang-sidang mahasiswa berbicara keras-keras tanpa isi seolah ia telah melakukan begitu banyak hal. Seolah-olah ia telah berusaha membangun komunikasi dan bernegosiasi terhadap banyak pihak baik dari yang memiliki wewenang di kampusnya ataupun wewenang yang lebih tinggi di kampusnya, padahal sedikitpun ia tidak melakukan apa-apa, selain berkumpul dengan orang-orang sekomunitasnya.

***

Saudara, barangkali ada kemiripan kisah di atas dengan kejadian yang sekarang sedang dijalani. Hal terbaik yang bisa dilakukan alumni suatu perguruan tinggi (seperti saya ini) adalah menyambung kerjasama dengan rekan seluruh profesi yang bersangkutan baik dalam kerjasama bisnis, asosiasi, ataupun perhimpunan dengan tetap berusaha support almamater (apapun bentuknya). Industry apa saja yang akan kita realisasikan dan bertaraf dunia 10 sampai 20 tahun mendatang? Bagaimana cara untuk menjadi seperti Mochtar Riady ataupun Dr Tahir dalam membuat jaringan bisnis yang menggurita dan memiliki nilai social kemanusiaan? Tahap-tahap apa yang dibutuhkan untuk membangun bisnis seperti Filantrop Pangeran Al-Waleed yang kini secara bertahap menyedekahkan seluruh hartanya yang nilainya >400 Trilyun itu? Bagaimana cara membuat lab uji seperti Theranos yang membuat si cantik Elizabeth Holmes itu menjadi salah satu wanita muda terkaya di Amerika dengan usia <30 tahun? Nampaknya, bahasan-bahasan tersebut akan menjadi sangat menarik dan hidup dalam pandangan saya sebagai alumni.

Begitupun mahasiswa. Dalam pandangan saya, seringkali mahasiswa memiliki pandangan ke depan akan sebuah tujuan ideal, bahkan terkadang justru menjawab pertanyaan dari para orang-orang yang sedang memangku jabatan. Tetap ikutilah kata hatimu, wahai mahasiswa. Jangan bimbang hanya karena perkataan satu atau dua orang. Kebenaran atau kesalahan bukan sekedar banyak atau sedikitnya pendukung.

“Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life” (Steve Jobs)

Saudara, baik anda yang masih mahasiswa ataupun sudah menjadi alumni perguruan tinggi seperti saya, kita saling membutuhkan (we are interdependent). Atau paling tidak, saya membutuhkan anda untuk terus menerus saling menumbuhkan sikap hidup satu sama lain, ataupun membangun kerjasama-kerjasama bermanfaat di waktu-waktu mendatang.

Maka, apakah dengan mengatakan kebenaran aku harus menjadi musuhmu? (Galatia 4:16)

Pandangan Hidup seorang kader gerakan

Setiap manusia memiliki tugas kader. Adapun pengertian kader adalah sekelompok kecil orang atau anggota masyarakat yang mampu menjadi tulang punggung masyarakat yang lebih besar, atau yang mampu menggerakkan masyarakat yang lebih besar. Dalam artian, oleh merekalah (kader), masyarakat itu bertindak secara bersama.

Maka, sebagai seorang kader gerakan seperti penjelasan di atas, wajib memiliki sebuah pandangan hidup. Namun seringkali, kita sebagai manusia terjebak dengan jargon atau sebutan atau istilah pandangan hidup itu sendiri, bukan terhadap makna berikut penjelasannya. Misalkan bahwa seorang itu pandangan hidupnya Pancasila, Islam, Sosialis, ataupun yang lainnya. Ketika ditanya, apa pandangan hidupnya, maka dengan tegas dan tanpa ragu menjawab: “Pancasila”, yang lain menjawab: “Islam”, dan sisanya menjawab: “Sosialis”.

Namun sayang, ketika ditanya pandangan hidup Pancasila itu yang seperti apa, apa yang menjadi dasar pandangan hidup tersebut, dan apa yang harus dilakukan selama hidupnya ketika menjadikan Pancasila sebagai pandangan hidupnya. Dihadapkan pada berbagai rangkaian pertanyaan tersebut, penganut pandangan hidup Pancasila sebagian besar terdiam, dan kurang mampu menjelaskan. “Pokoknya Pancasila, kekal, dan abadi!” Maka dalam hal ini, Pancasila sekadar menjadi Simbol tanpa nyawa.

Demikian pula yang terjadi pada sebagian penganut pandangan hidup “Islam”, “Sosialis”, ataupun lainnya.

Islam, sebagai agama kaum berpikir, mengajak kita menggali makna-makna kehidupan, terkait juga cara kita memaknai agama dan menjalankan hidup dengan semestinya.

Pernah ada suatu masa pedoman-pedoman pemaknaan hidup yang menjadi pegangan begitu banyak kaum muda, sebut saja Pustaka Kecil Marxis, Fundamental Value of Social Democratic, Nilai Dasar Perjuangan, Kredo Gerakan.

Dari kesemuanya itu, saya paling puas kepada Khittah Perjuangan Himmpunan Mahasiswa Islam. Silakan download dan baca di link berikut:

Pandangan Hidup Kader Gerakan

Pembahasan dan perbandingannya menyusul.

Oleh:
Arynazzakka

ttd zakka

Pekerjaan jaringan

Connecting the dot

Connecting the dot

menjadi manusia sebelum apapun

Manusia terlebih dahulu harus menyadari bahwa sebelum apapun ia adalah manusia. Bukan yang ia anggap seperti dirinya kini: dokter, sales, teknisi, guru, dosen, office boy, satpam, dan lainnya. Kita seringkali terjebak mengidentikkan diri dimanapun, kapanpun, dan kepada siapapun sesuai profesi utama yang sedang kita jalani. Akibatnya kita seringkali terjebak hanya belajar dan tertarik pada hal-hal mendukung profesi utama kita saja. Padahal, seandainya saja kita sadar bahwa kita adalah manusia sebelum apapun, maka dalam hal apapun kita akan tertarik dan belajar. Belajar dari mana saja dan apa saja meski kita juga terus mempertajam terhadap hal yang berkaitan dengan profesi utama.

jaringan

Jaringan, bahasa kerennya networking. Seorang menjadi mahasiswa bertemu dengan mahasiswa lainnya, itu jaringan. Ia bertemu banyak dosen, itu jaringan. Ia mengikuti wadah organisasi minat bakat, lembaga, organisasi daerah, organisasi lintas wilayah, itu jaringan. Ia mengikuti pengajian yang disitu ada berbagai peserta dari berbagai background profesi, itu jaringan. Ia menjadi seorang analis di laboratorium, memiliki atasan, itu jaringan. Ia ingin memiliki website dan menghubungi temannya meminta tolong membuatkan website dan dikenalkan dengan seorang web designer, itu jaringan. Ia belanja ke pasar dan mengetahui berbagai produk beserta perbandingan harga antar pedagang, itu jaringan. Ia terlibat dalam perpolitikan daerah, berinteraksi dengan berbagai kelompok kepentingan, itu jaringan.

Dan jaringan adalah kekuatan.

Jaringan adalah titik temu antar manusia dalam beragam aspek atau segi. Bisa satu, dua, tiga, ataupun lebih. Manusia memang memiliki beragam pandangan. Namun, keberagaman pandangan atau perbedaan itu bukanlah sebuah halangan untuk menjalin jaringan karena dibalik perbedaan, selalu ada persamaan atau titik temu dalam hal-hal lain.

perihal ekonomi

Pertumbuhan ekonomi dunia begitu pesat. Disamping adanya gap lebar antara si kaya dan si miskin ataupun masih banyak masyarakat yang memiliki penghasilan rendah, namun untuk jalan untuk mencari tambahan penghasilan begitu banyak dan ‘mudah’.

Revolusi teknologi informasi menyajikan suatu profesi baru yang menjanjikan: pengerjaan cepat dengan hasil yang ‘besar’. Misalkan saja webdesigner. Profesi lain yang bisa dikerjakan paruh waktu dan menjanjikan penghasilan yang besar ialah sales and marketing, terutama sales asuransi dan sales property. Disamping itu ada tantangan menggiurkan dari berbagai brand produk dengan mengandalkan sistem MLM yang menjanjikan passive income. Ya, rasanya hanya dibutuhkan kunci tekun dan kerja keras untuk menjalaninya: ketahanan.

sales

Sebagian besar masyarakat kita sampai sekarangpun (apalagi di pedesaan) masih menganggap miring profesi sales. Dalam benak mereka, sales adalah seorang yang dari pintu ke pintu menawarkan barang yang kadang dapat terjual dan selebihnya menghadapi penolakan, atau terkadang cacian.

Sales adalah bisnis penolakan. Namun profesi ini bagi banyak orang adalah kunci percepatan dari penghasilan, apalagi jika didukung sistem passive income. Sekali closing langsung mendapat sekian persen selama sekian tahun.

Profesi sales memang membutuhkan berbagai macam ilmu (teori dan nantinya akan matang di lapangan/praktek). Mulai dari pengetahuan umum menjual, negosiasi, product knowledge sampai hal-hal yang bersifat psikologis: menghadapi bermacam karakter manusia.

Teknik menjual di setiap segmen berbeda: direct selling (face to face), selling to distributor, ataupun business to bussines.

Hal yang membuat saya tertarik dengan profesi ini adalah karena baru diprofesi ini saya menemukan orang-orang sangat antusias menjalani hidup, saling memompa semangat, memberi masukan dan pengembangan karakter diri secara tim. Ya, bisa jadi hal ini tidak akan saya temukan di tempat lazimnya seorang lulusan analis.

Dan sales adalah pekerjaan jaringan.

organisasi

Bahwa segala tujuan bersama akan lebih mudah tercapai jika diorganisasi dengan baik. Dari hal tersebut, organisasi  menawarkan harapan, bagi anggotanya ataupun simpatisannya.

Organisasipun kemudian melakukan branding: profit dan non-profit, yang orientasinya keuntungan (materi) dan bukan orientasi keuntungan. Biasanya organisasi non-profit berorientasi sosial. Sebutlah contoh organisasi mahasiswa. Organisasi yang diisi oleh darah-darah segar para pemuda.

Namun meski sama-sama diiisi oleh darah segar pemuda, organisasi non-profit terlihat lebih “susah” mencapai target dan tujuannya dari pada organisasi profit. Malahan, organisasi profit sering lebih mendominasi dalam hal pengaruh: bahkan sampai tingkat dunia.

Sebagai contoh organisasi profit ini (saya ambil yang popular) adalah Apple dan Microsoft. Dua buah organisasi yang sama-sama didirikan dan dipimpin oleh seorang yang sangat muda. Apalagi kalau sekarang kita sebut tokoh-tokoh revolusioner dalam perkembangan teknologi informasi yakni Google, Yahoo, Facebook, Instagram, Twitter, Xiaomi dan masih banyak lagi. Dan saya belum mendengar gaung dari organisasi non-profit yang dipimpin oleh seorang muda, kalaupun ada terdengar lirih dan itu hanya menjadi cerita.

Apakah memang lebih berat untuk menjalankan organisasi non-profit daripada organisasi profit?

Padahal jika dilihat dari segi modal (capital), organisasi non-profit sangat mengutamakan modal manusia (atau sebutan kader): social capital. Dalam pandangan klasik, organisasi profit cukuplah kalau ada modalnya berupa materi meski juga tidak abai dalam hal SDM (namun mengikuti perkembangan organisasi).

Di zaman ini, modal sosial menjadi sama-sama penting bagi organisasi profit dan non-profit, bahkan ketika organisasi baru dimulai. Lantas, dimanakah letak masalahanya sehingga organisasi non-profit cenderung lambat berkembang jika tidak dipimpin oleh superman?

……………..bersambung……………….

Rentang

Gambar

Kehidupan pasang surut. Atau orang-orang sering mengumpamakannya dengan roda kehidupan yang berputar, kadang di bawah, kadang di atas. Dan yang perlu kita lakukan adalah berputar bersamanya. Apa maknanya?

Seperti kita tahu, setiap manusia yang hidup selalu menjalani takdir yang berbeda. Ada yang semenjak lahir dikelilingi harta yang melimpah. Ada yang serba kekurangan. Ada yang semenjak kecilnya dididik berdisiplin, ada juga yang selalu dimanja. Hal ini juga berlaku pada sifat-sifat manusia yang lain: dari egois sampai dengan peduli, dari pemarah sampai dengan tiada memiliki amarah sama sekali, dari yang senang bercanda sampai dengan suka ketawa. Semua adalah rentang sifat manusia.

Dari rentang sifat tersebut, dalam sebuah pengajian saya begitu kaget sekaligus tertarik ketika narasumber ketika menjelaskan tentang semangat hidup, beliau begitu semangat berapi-api, lantas tiba-tiba ketika alur cerita menuju pada sebuah tragedi, narasumberpun sampai menangis menjelaskan cerita. Tak berlalu begitu lama, dari kondisi menangis narasumberpun sumringah, sampai dengan tertawa karena peserta kajian memberikan pernyataan yang lucu untuk mencairkan suasana. Dalam kondisi lain, kita juga jumpai orang yang ketika melihat kesalahan langsung bertindak tegas sekaligus bijak menasehati, sementara di kesempatan yang lain ternyata suka bercanda dan membuat orang disekitarnya tertawa. Lantas, apa perlu kita pelajari?

Mungkin kini, kita memiliki semua sifat tersebut. Tegas. Dapat bercanda. Melankolis. Ataupun lainnya. Tapi cerita di atas memberi tahu pada kita bahwa segala sifat yang ada pada kita adalah tentang bagaimana kita menggunakannya pada saat yang tepat. Bisa saja kita beralasan “Tapi karakter saya sudah begini dari dulu, tidak bisa serius”. Maka, Inilah tantangannya. Kita sedang dalam tahap belajar. Semua rentang emosi perlu kita kuasai dan ekspresikan pada saat yang tepat.

Selain itu, kita juga tidak perlu takut dengan segala kondisi kehidupan yang sedang kita alami. Misalnya kita sedang mengalami kesulitan keuangan. Kita hanya perlu belajar bagaimana tetap tenang dan bersyukur menghadapi kondisi tersebut, kemudian berusaha bangkit. Begitupun ketika mental kita down, kita hanya perlu belajar tetap tenang akan kondisi tersebut.

kita hanya perlu tetap tenang dan bersyukur pada setiap kondisi…

Dengan tenangnya kita terhadap segala kondisi “kritis” yang sedang kita alami, kita menjadi tidak lepas kendali ketika kondisi kita baik. Celaan tidak akan menghentikan langkah atau cita-cita kita. Pujian juga tidak membuat kita terbuai. Begitupun kekayaan tak akan membuat kita sombong, dan kesulitan keuangan tak membuat kita minder.

Jadi pada intinya…

Setiap kondisi yang dialami manusia adalah pelajaran untuk merasakan seluruh rentang keadaan , baik pada tingkat kritis atau terendah sampai pada tingkat tertinggi. Misi hidup harus tetap terlaksana dan dilaksanakan bagaimana kondisi dan keadaan yang sedang menimpa

Sekedar cerita (bagian 1)

Mari kita bicara tentang kehidupan.

Ada banyak sekali tujuan ketika manusia merasakan dirinya hidup. Sukses, kaya, ataupun yang lainnya. Bukan ingin berfilsafat, tapi agaknya memang dalam setiap sisi kehidupan kita menarik untuk di bahas.

Masa bermain

Masa ini sangat kental dengan identias anak-anak (jadi yang merasa masih dominan ingin main terus-terusan berarti?). Ingat ketika dahulu kita selalu bermain, tidak mengenal waktu entah itu pagi, siang, atau sore. Kalau mengingat masa-masa itu, seakan ingin sekali kembali karena di kehidupan itu, seolah tidak ada beban kehidupan. Sekedar cerita, dahulu, saya menjalani kehidupan masa kecil diwarnai dengan pembelajaran intensif. Diluar permainan tak kenal waktu itu juga ada waktu menuntut ilmu. Bukan saja di sekolah dasar berbasis pengetahuan duniawi, namun juga sekolah madrasah berbasis ukhrowi (akhirat/agama). Pagi untuk sekolah dasar, siang sampai sore untuk sekolah madrasah. Bosen? Tidak pada saat itu.

Tentang belajar

Dalam perjalanan hidup, makna dari belajar selalu bergeser, yah ini ceritaku. Dahulu waktu sekolah dasar, belajar ya bagaimana caranya kita dapat rangking, kita dapat unjuk gigi dengan teman-teman lainnya. Walau terkadang karena terbujuk teman, akhirnya saling contek-mencontek asal nilai baik. Alhamdulillah, dalam sekolah dasar, kelas 1 SD mendapat rangking 5, kelas 2 SD mendapat rangking 4, dan pada kelas 3 SD mendapatkan juara 1. Ini berlanjut sampai dengan lulus SD.  Dalam pembelajaran selanjutnya, makna bergeser. Dari hanya mendapat rangking ke dapat mengikuti berbagai kompetisi atau perlombaan. Maka pada saat itu, tepatnya kelas 5 SD diamanhi untuk mengikuti perlombaan. Ingat pada saat itu lomba Bahasa Indonesia, membuat cerpen dan bercerita. Begitu bahagianya pada saat itu. Pada saat bercerita, saatnya menunjukkan kemampuan kita walau jantung dag-dig-dug tak karuan. Setelah itu juga diberi kesempatan mengikuti lomba agama tingkat kecamatan. Kompetisi dan berbaur dengan siswa lain sekolah memang sesuatu yang menarik. Setelah mengikuti perlombaan, pemaknaan pembelajaran juga bergeser. Yaitu, bagaimana caranya kita juga bisa aktif mengikuti kegiatan-kegiatan lain. Organisasi, itu kini aku kenal. Nah, pada saat itu tepatnya juga kelas 5 SD mulai aktif ikut pramuka. Latihan baris-berbaris setiap hari minggu, belajar berbagai sandi, tali-temali, mendirikan tenda, sampai lagu-lagu yang bisa bikin kita semangat.

Pembelajaran bukan sampai disini saja. Berlanjut ke SMP, kompetisi semakin ketat. Jaringan teman mulai luas. Mulai kenal dengan Masa Orientasi Sekolah (MOS). Dikerjain kakak kelas ini itu. Tapi alhamdulillah, SMP tempat saya belajar memiliki kakak kelas yang baik. Tidak ada senioritas yang keterlaluan. Sikap terbuka menerima segala pendapat. Saya suka. Nah, disini juga semangat belajar semakin tinggi. Terpacu, karena baru pertama kalinya setiap mata pelajaran diajar oleh guru yang berbeda. Apalagi di SMP, kondisi sekolahan yang lebih baik dengan pernak-pernik tertentu, taman, mading sekolah, semakin menawan dan menarik. Melihat mading sekolah membayangkan diri kalau suatu saat tulisan sendiri akan tertempel dan dibaca oleh seluruh pelajar. Indah memang.

SMP, dengan variasi pelajaran dan pendalaman materi agaknya ada kesulitan tersendiri. Namun, ini adalah tantangan. Hebatnya orangtuaku, dalam memacu semangat belajar dengan menawari hadiah yang kumahu jika bisa mendapatkan juara pertama. Semester satu, masih ingat, aku masuk SMP dengan peringkat 49, kemudian pengumuman rapor menunjukkan bahwa raporkulah yang memiliki nilai tertinggi, bukan hanya di kelas, tapi seangkatan. Uniknya, di SMP ku dulu, kelas dibagi dalam kasta, artinya kelas A dianggap kelas terbaik, kelas B baik, dan seterusnya. Karena peringkat masukku 49 sementara jumlah siswa tiap kelas kalau tidak salah 45 atau 48, maka aku masuk kelas B. Namun, hasil rapor semester awal nampaknya meruntuhkan dogma kasta tersebut. Bayangkan, siswa yang masuk dalam kelas B menjuarai peringkat pertama. Luar biasa dan betapa bersyukurnya aku pada saat itu. Teringat pada saat itu, proses pembelajaran di SMP lumayan ketat dengan guru yang tegas dan kadang ‘ganas’. Namun, ketegasan dan keganasannya itulah yang membuat siswa memacu belajarnya…

(bersambung)

Dilema pendidikan vokasi Indonesia

Indonesia memang unik. Bangsa yang pernah memimpin peradaban lewat Sriwijaya dan Majapahitnya ini selalu mempesona dari berbagai aspek. Dimulai dari aspek ekonomi terkait  dengan tingkat kemakmuran rakyatnya yang berbanding terbalik dengan sumberdaya yang dimiliki sampai pada system pendidikan yang sampai sekarang masih menyisakan PR besar untuk generasi penerus bangsa, dan salah satunya adalah pendidikan vokasi. Apa itu?

Jalur pendidikan vokasi dan sarjana

Sarjana, siapa yang tak kenal dengan gelar yang satu ini. Masyarakat Indonesia secara umum berpendapat bahwa jalur pendidikan tinggi bergengsi setelah pedidikan menengah adalah sarjana.

Perbedaan yang mencolok dalam dua bidang ini yaitu seorang sarjana yang lebih dituntut untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan seorang ahli madya yang dituntut untuk terampil dalam aplikasinya (baik dalam kehidupan sehari-hari atau industri). Jenjang keilmuan (sarjana) lebih menggariskan siswa SMA secara idealnya sedangkan vokasi lebih ke siswa SMK.

Pada kenyataannya sangat jauh dari ufuk. Jenjang pendidikan yang sesuai jalurnya sangat jarang. Banyak dari siswa SMK yang langsung terjun dalam jenjang sarjana sementara ada juga siswa SMA yang loncat jalur ke dalam jenjang vokasi.

Kompetisi: sebuah pembelajaran

Sejak SD, tentulah untuk meningkatkan dan mengetahui potensi dari para putra bangsa, pemerintah melalui dinas pendidikan menyelenggarakan berbagai kompetisi/perlombaan dalam banyak bidang, yakni yang berkaitan dengan agama, keilmuan, seni, olahraga, serta ketrampilan atau aplikasi.

Sampai pada jenjang SMA, kompetisi ini tidak menemukan masalah berarti (dalam hal keikutsertaan peserta), beranjak pada pendidikan tinggi, agaknya dari segi keikutsertaan mengalami masalah yang tidak bisa dikatakan sepele.

Tengok saja mengenai bidang ilmiah/ pembuatan karya cipta terapan/ aplikasinya –tanpa bermaksud menyudutkan berbagai pihak- pendidikan vokasi terutama mengalami permasalah internal dan juga eksternal. Dari segi internal agaknya menjadi kendala utama adalah soal pola pikir yang dibangun. Pola pikir itu adalah bahwa pendidikan vokasi hanya bertujuan untuk  lulus cepat dan kerja. Belajar 1, 2, atau tiga tahun (kursus), sudah itu kerja, makmur, nikah, selesai. Dan ternyata pola pikir itu begitu menancap kuat di benak mahasiswa vokasi, orang tua para siswa, dan masyarakat awam, bahkan seantero dunia

Akibatnya, menjadi sebuah kebiasaan yang akhirnya berujung pada tradisi bahwa kuliah adalah bagaimana mendapat nilai bagus, lulus cepat, dan langsung kerja. Sungguh naif mengingat Tri Dharma Perguruan tinggi yakni Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian yang selalu digembar-gemborkan ternyata dalam praktik nyatanya, hal yang terjadi adalah bertentangan.

Doktrin sesat dan menyesatkan

“kalau nanti kalian sudah bekerja di perusahaan A, maka kalian harus bekerja dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab”, begitulah kiranya pesan dosen dengan berbagai variasi pengucapan kepada mahasiswa vokasi didikannya. Dinilai dari segi pengaruh, kata-kata tersebut dapat dikategorikan pesimistis karena doktrin yang dibangun adalah doktrin pekerja. Entah sudah berapa banyak mahasiswa Indonesia yang tersihir oleh doktrin tersebut sehingga begitu kerasnya belajar sampai lupa perannya secara utuh.

Doktrin pesimistis, bangsa pekerja, selalu terhembus dalam benak mahasiswa vokasi. Melihat dari segi tujuan dibentuknya pendidikan ini yang bertujuan untuk menyuplay kebutuhan industri, dalam satu pihak memang tidak dapat disalahkan. Namun, berhenti pada tujuan suplay kebutuhan industri pada pendidikan vokasi tanpa mau berfikir lebih adalah pemikiran yang sempit dan menyesatkan. Bagaimana tidak, seandainya terus menerus bangsa ini hanya memikirkan bagaimana agar industri di indonesia bergerak (padahal sebagian besar industri besar indonesia adalah milik asing), maka selama itu pula bangsa kita selalu menjadi budak asing.

Membangun mindset positif, selain mahasiswa yang harus menyadarkan dirinya, peran pengajar dalam hal ini dosen juga sangat besar. Dosen, sebagai pengajar sehari-hari seharusnya memberi pengarahan dan motivasi untuk lebih –tidak sekadar menjadi pekerja. Dengan keahlian yang lebih ditekankan pada pendidikan vokasi, maka keyakinan untuk lebih dari seorang pekerja, menjadi wirausaha dan motivasi mandiri seharusnya lebih ditekankan, bukannya hanya sekadar pengantar akhir dari sebuah kuliah atau malah hanya selingan pengisi canda tawa.

…..pengarahan dan motivasi untuk lebih –tidak sekadar menjadi pekerja

Vokasi yang sebenarnya

alhamdulillah, Kementrian Pendidikan baru-baru ini telah ada kesepakatan dengan kementrian lain yang juga menyelenggarakan pendidikan tinggi. Ini merupakan momentum perubahan yang perlu diakomodir. Dalam artian, jangan sampai momentum ini hanya atas dasar kepentingan tertentu.  Keterampilan dan keahlian yang berujung pada profesi yang telah menjadi ciri khas pendidikan vokasi diharapkan menemukan ruh pembelajarannya. Pembelajaran yang bukan hanya orientasi pengejar nilai, pembelajaran yang bukan juga hanya orientasi kerja. Namun, ruh vokasi adalah pengkaryaan, dan kemandirian. Semoga pendidikan vokasi indonesia menemukan ruh pembelajarannya.

vokasi: ruh pengkaryaan, kemandirian

Oleh:

Arynazzakka

Analis, mahasiswa AKA, motivator Inspirasi Sukses

Satu Minggu Efektif

Kuliah oh kuliah, aktivitas yang senantiasa menjadi rutinitas kita. Dari hari senin sampai jum’at, kegiatan bernama kuliah ini tak pernah alpa dari agenda kita.  Setiap hari selama kuliah selalu diwarnai dengan materi yang berbeda-beda. Dari rutinitas yang kita jalani ini, seolah kegiatan ‘masuk kelas dan mendengarkan materi dari dosen’ ini menjadi sebuah kewajiban yang wajib dilaksanakan (tentang wajibnya masuk kelas…, lihat catatan “Dosa mahasiswa”).

Dalam satu semester perkuliahan, biasanya terbagi dalam delapan minggu yang dijabarkan menjadi enam minggu sampai tujuh minggu perkuliahan masuk kelas ‘tatap muka’ dan satu minggu tenang dilanjutkan dengan ujian, Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS). Seluruh kegiatan dari enam sampai tujuh minggu kuliah ‘tatap muka’  terdiri dari penjabaran materi  awal sampai akhir yang akhirnya pada minggu-minggu terakhir sebelum ujian disebut kisi-kisi materi.

Perkuliahan tatap muka 

Dengan adanya perkuliahan tatap muka ini, diharapkan antara mahasiswa dan dosen dapat menjalin tukar-menukar informasi efektif. Yang biasa terjadi -dan menjadi acuan- adalah dosen memberikan secara penuh -atau sebagian saja- inti dari materi perkuliahan yang dibahas. Selanjutnya sesi diskusi berlangsung, dan pertanyaan demi pertanyaan pun terlontar dari beberapa mahasiswa -yang haus akan pengetahuan-, ataupun tidak ada pertanyaan sama sekali sehingga dosen mengakhiri kuliah dengan ucapan pamungkas, “baik, kalau tidak ada pertanyaan, maka kuliah pada hari ini kita akhiri, wassalamu’alaikum wr. wb.”

Minggu demi minggu berjalan, diiringi dengan perkembangan materi perkuliahan yang kian rumit, menurut sebagian besar mahasiswa. Dalam perjalanannya, banyak juga yang sedikit -atau bahkan  banyak- putus asa karena mengganggap dirinya tidak mampu melanjutkan materi kuliah yang kian melesat dengan cepatnya. Masalah ini pun kian merebak, dari mata kuliah satu ke  mata kuliah lainnya sehingga terbesit ide kreatif mahasiswa, -mengandalkan kawanyang faham untuk mengajari-.

Kawan, buat aku mengerti seperti engkau mengerti

“Tadi caranya gimana ya?” “ia..ia…gue juga ga ngerti ni…!” “susah banget ni materi, ajarin gue dong!” Begitulah kiranya sepenggal dialog yang terjadi antara mahasiswa-mahasiswa yang belum faham materi yang telah disampaikan dosen dengan kawannya yang -dianggap- faham.

Dari kejadian yang baru saja dipaparkan, muncul pertanyaan unik, ” kalau akhirnya materi-materi yang disampaikan dosen tidak kita fahami, dan kita cenderung faham ketika yang mengajar adalah kawan kita, lantas apa peran dosen di kelas yang dengan powerful menjelaskan kepada kita?”

Terjawab oleh hati nurani kalian sendiri, kuliah yang selama ini kita lakukan hanya bertujuan mencegah bangku kosong dan mencegah absen bolong. Ya, benar kawan, tanpa kalian memberitahukan secara langsung, itulah kenyataannya. Dengan hadirnya kita di kelas, mungkin, kita berusaha menghormati dosen dan memberikan sumbangan tertawa ketika dosen kita sedang melawak. ha…ha..

“Kawan, dengan hadirnya diri kita di kelas dengan kekosongan jiwa, memang betul kita telah menghargai dosen kita, tetapi kita melalaikan satu hal, kita tidak menghargai diri kita sendiri.”

Satu minggu efektif

Kejadian di atas dapat penulis ambil kesimpulan bahwa kuliah tatap muka yang selama berminggu-minggu dijalani dinyatakan kurang efektif (jika keadannya demikian, seperti apa yang telah dipaparkan). Jika kuliah tatap muka berakhir, tibalah saat yang ditunggu-tunggu, Ujian. Pada saat-saat seperti ini, timbul gejolak yang sangat dinamis dari para mahasiswa. Bagaimana tidak, belum dikuasainya materi sementara ujian -yang dapat didefinisikan sebagai  ajang pembuktian pemahaman melalui nilai yang nantinya tercetak dalam sebuah transkrip- haruslah menuntut para mahasiswa untuk mengerti materi (walaupun secara paksa).

Jurus pamungkas pun dipakai sebagai satu-satunya jurus ampuh untuk menannggulangi ini semua. Jurus itu dapat penulis sebut, Satu minggu efektif belajar. Dengan pemberdayaaan kawan yang dianggap telah menguasai materi, minggu-

Yang harus diperbaiki

Absah saja jika kita menggunakan metode satu minggu efektif, tetapi kekurangan dari metode ini, kita terlalu mengandalkan kawan kita sehingga kita mencerna mentah-mentah materi yang diberikannya. Jika hal ini berlangsung secara terus-menerus, kita hanya akan membuang waktu kita dalam pertemuan tatap muka. Dan akhirnya, validitas ilmu kita kurang kuat (namanya juga dari kawan sendiri yang sama-sama baru belajar).

“Kawan, mari kita buat bumi pertiwi ini bangga pada kita. Bangga bahwa generasi penerusnya adalah orang-orang yang haus akan ilmu dan menghormati para gurunya”

Sukses untuk kita semua. Karena kita adalah generasi penerus bangsa. Karena kita peduli akan bangsa ini, dan karena kita cinta Ilmu pengetahuan, cinta Indonesia.

Penulis: Arynazzakka

(mahasiswa AKA Bogor)