Khalifah fil ardh. #1

Oleh: Arynazzakka*

@elangGROUP

Sebagai seorang  Muslim, yang mendapat amanah sebagai khalifah fil ardh, pemimpin di muka bumi ini harus dapat menggabungkan seluruh potensi yang ada. Apalagi seorang #MuslimNegarawan, potensi politik dan ekonomi merupakan bagian tak terpisahkan. Ia bagai keping mata uang, yang memiliki dua sisi tak terpisahkan.

Jaulah wirausaha bersama #Tim Ekonomi KAMMI Daerah Bogor ke #Elang Gumilang (17/5/2013) sosok bersahaja, low profile, bisa saya sebut sebagai patron pengusaha muda muslim. Di tengah kesibukannya, beliau masih saja menyempatkan waktu untuk meladeni kita yang notabene tidak ada untungnya jika ditilik dari keuntungan bisnis. Tapi, pesan beliau bahwa bisnis itu bukan hanya tentang bagaimana menghasilkan uang, bisnis adalah tentang apa yang kita persembahkan untuk Allah dan bermanfaat untuk orang lain. Jika kita hanya menilik bisnis dari untung-rugi, kalau rugi bisa jadi membuat kita kufur. Namun, bila bisnis kita persembahkan untuk Allah, maka untung atau rugi, tetap itu kita persembahkan untuk Allah. Innamal amalu bin niyyat. –sesungguhnya amal itu tergantung dari niatnya.

Berbicara mengenai bisnis, beliau sampaikan bahwa bisnis itu tentang Risk (kalau dalam bahasa inggris berarti risiko). Namun sesungguhnya, Risk itu berasal dari kata Rizki (arti: Rezeki, dalam bahasa Arab). Artinya, siapa ingin Rizki yang besar atau banyak, maka ia harus berani menanggung Risk/ risiko yang tinggi.

Bisnis itu tentang Risk. Siapa berani menanggung Risk yang tinggi, insyaAllah Rizki juga besar

Ada seorang bertanya, “apa yang harus kita lakukan saat muda ini, sementara kita sebagai mahasiswa yang menjalani proses pendidikan menuju profesi kita dan minat wirausaha kita sangat tinggi, apakah kita jalani saja aneka macam jenis usaha sesuai peluang dan sebagai ajang pelatihan kita atau kita memang benar-benar harus menyusun bisnis dari awal sesuai yang kita tuju nanti (sesuai profesi)?” dengan tenang beliau jawab, “setelah berusaha, minta petunjuk dari Allah, sholat istikharah, karena sholat istikharah bukan hanya untuk jodoh, atau untuk ujian saja. Usaha pun perlu, agar kita ditunjuki-Nya. insyaAllah jika kita sesuai jalur-Nya, kita akan dibimbing oleh-Nya”.

“….karena sholat istikharah bukan hanya untuk jodoh, atau untuk ujian saja. Usaha pun perlu, agar kita ditunjuki-Nya…”

Ketika kita berbicara tentang bisnis, tidak bisa dipungkiri, pengusaha Muslim Indonesia sangat sedikit sehingga sektor ekonomi belum dapat dijadikan sarana untuk kemashlahatan ummat. “bisnis adalah tentang dakwah” ujar beliau. Bagaimana tidak, bisnis sebagai alat dakwah, membudayakan budaya-budaya Islam, seperti contoh ketika waktu Sholat, kita sebagai pimpinan bisnis mengajak seluruh karyawan laki-laki untuk sholat berjamaah tanpa kecuali. beliau sambil menunjuk Televisi yang tergantung di dinding menyampaikan bahwa kapan lagi kita bisa memanfaatkan media untuk kebaikan, isinya ayat-ayat tausiyah, bukannya telenovela atau tontonan-tontonan lain.

#Elang Gumilang, pemuda yang tinggi motivasi, semangat, dan kinerjanya. Beliau juga aktif, dalam upaya meningkatkan kapasitas dirinya, baik di bidang tembak-menembak, memanah, berkuda. Bahkan beliau tawarkan kepada kita –kader KAMMI, siapapun yang berminat latihan kuda, dengan senang hati beliau wakafkan dua kudanya berikut track lintasan kudanya (yang akan dibangun dibelakang kantornya) untuk ummat. Lumayan buat kita yang senang dan ingin meningkatkan kemampuan berkuda. Beliau juga sampaikan bahwa beliau siap menjadi #mentorBisnis rutin untuk kelompok-kelompok #Mastermind bisnis KAMMI. Berminat? Beliau hanya menanti keistiqomahan kita.

Sebagai catatan: saat ini, #Elang Gumilang sedang mengikuti kuliah Pasca Sarjana di STEI TAZKIA. Beliau berniat membuat Tesis tentang sosok pebisnis-ulama dari Saudi Arabia yang mengembangkan bisnis Bank Syariah (tentunya dengan penerapan yang benar-benar syar’i). Sebelumnya, beliau telah diterima di #HARVARD Bussines School, namun beliau tidak jadi mengambilnya. Beliau berniat menimba ilmu di Madinah tahun depan. Kita doakan. Dan kita juga berdoa untuk kesuksesan kita. Aamiin.

Mari jadi generasi Islam yang Mandiri, kuat secara ekonomi, bagaimanapun variasinya profesi yang akan kita jalani kelak. #SalamPengusahaMuslim.

*: Arynazzakka, mantan ketua BEM AKA 2012-2013. Sangat tertarik di bidang #kemandirian (bisnis), selain Politik-Teknologi-Sains dan Pemikiran. Ahli Teknik Kimia Spesialisasi Persenjataan 2022. Bercita-cita menjadi Menteri Penerapan Teknologi 2049.

Iklan

Ex-Kim, technopreneur AKA

Enterpreneur, atau wirausaha memang kian populer di telinga kita. Bukan saja kata enterpreneur dikenal oleh kalangan elit atau pebisnis, namun juga marak dalam pembicaraan mahasiswa. Umumnya enterpreneur ini, seseorang dalam bahasa sederhanya menjual atau memasarkan sesuatu untuk mengambil keuntungan. Namun dunia kian maju, dan enterpreneur ini berkembang, mulai ada istilah writepreneur, yakni orang yang  menjadikan tulisan sebagai lahan memperoleh penghasilan, dan kini kita juga mengenal sebuah varian enterpreneur yang tidak asing lagi, technopreneur.

Apa sih technopreneur itu?

Technopreneur, gabungan dua kosa kata yaitu technology dan enterpreneur yang dipadukan kemudian membentuk kata technopreneur. Teknologi dan wirausaha, terlihat selama ini menjadi dua profesi yang berbeda. Bukan manusia kalau tidak bisa berkreasi dan menemukan celah untuk membuat dunia kita indah. Teknologi yang sarat dengan ilmu pengetahuan, bahkan umumnya hanya bisa dilakukan oleh orang yang telah merasakan pendidikan tinggi. Teknolog yang menjajakan barang hasil atau produknya. Ya, itulah technopreneur. Orang-orang yang berkreasi menghasilkan produk teknologi yang mampu diaplikasikan atau diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Suatu produk yang mampu mempermudah pekerjaan, suatu produk hasil olahan baru, suatu produk yang benar-benar menjadikan kenyataan apa yang sebelumnya hanya tervisualisasi di otak.

Analis, apa hubungannya?

Analis kimia, belajar bermacam-macam ilmu pengetahuan. Mulai dari analisa produk jadi sampai terkadang terkait ke proses pembuatan. Ini yang menjadi kunci. Pekerjaan analis yang menelusuri proses pembuatan suatu produk adalah potensi besar untuk menghasilkan produk lebih baik, lebih praktis.

Bidang ini tentunya sangat menyangkut banyak cabang ilmu pengetahuan, mulai dari fisika, biologi, lingkungan, pangan, dan kemudian sampai pula pada energi.

Analis, bisa buat produk apa?

Dari ilmu yang telah didapat, dari tingkat awal sampai tingkat akhir, kita diajarkan berbagai macam sub bidang dari ilmu kimia itu sendiri. Mulai dari kimia organik, kimia anorganik, kimia lingkungan, mikrobiologi, analisis fisik, kimia pangan, kimia farmasi, kimia polimer sampai pada kimia petroleum. Ini semua, sekali lagi, merupakan bahan mentah yang variatif yang cukup untuk diolah menjadi sebuah produk tepat guna dan aplikatif.

Mengingat juga sebagai mahasiswa diploma yang diunggulkan kompetensinya atau keahliannya pada terapan produk –tidak sekadar teoritis, tentunya adalah sebuah harapan besar untuk bisa merealisasikannya. Dalam bidang pangan kita dapat mengambil contoh pembuatan yoghurt dari susu kedelai, yoghurt dari kulit pisang. Ataupun dalam lingkungan kita bisa mengaplikasikan teknik pengolahan limbah sehingga dengan demikian dapat mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Energipun begitu, secara praktis dan mudah ditiru kita mampu membuat suatu energi alternatif semisal briket ataupun metana hasil dari kotoran hewani sehingga yang tadinya limbah bisa menjadi rupiah.

Technopreneur, jalan tol menuju wirausaha intelektual

Sinergisme intelektual dan logika perut rakyat, begitulah kira-kira sebuah solusi yang dilontarkan oleh Arya Shandy Yuda, seorang aktivis tahun 2000-an. Tri Dharma perguruan tinggi mengarahkan kita dalam tiga hal yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Selama ini, dalam ranah pengabdian, pendekatan yang kita pakai cenderung klasik dan itu-itu saja. Misalkan dalam melakukan pendekatan kepada masyarakat dalam usaha membantu pula, seringkali kita hanya mampu mengadakan sembako gratis, pasar murah masyarakat, dan hal lain yang tentu bisa dibilang kurang kreatif. Pendekatan ini juga seringkali membuat masyarakat manja karena merasa diberi, tanpa ada titik tekan memacu kerja dan kreativ dari masyarakat.

Dengan semakin konsistennya mahasiswa terhadap gerakan technopreneur ini –tanpa memparsialkannya dengan gerakan sosial lain ataupun gerakan advokasi audiensi yang lebih menjurus aksi vertikal, keyakinan gerakan mahasiswa akan ruh gerakan barunya tidaklah khayal menjadi patron gerakan mahasiswa era ini.

Memang tak selamanya aksi harus turun ke jalan,

Tak dipungkiri juga untuk bisa menuntaskan permasalahan masyarakat,

Namun, kami –mahasiswa, adalah peduli

Kami coba apa yang dapat kami lakukan

Karena kontribusi adalah bahasa perjuangan kami,

Dimanapun itu, HIDUP MAHASISWA

Oleh: Arynazzakka (Presiden Mahasiswa IMAKA 2012-2013)

*penulis aktif menulis di blog wordpress, analis gerakan mahasiswa, koordinator BEM se-Bogor 2012