Mengendalikan takdir

 

Ini adalah seperempat perjalanan. Dan di depan, telah ada persimpangan jalan dengan begitu banyak cabang. Ujung tujuannya sama -meski masih sebatas keyakinan. Sebenarnya, setiap waktu akan selalu menyediakan pilihan dan kesempatan.

Demikian hidup, setiap pilihan akan menanggung resiko -susah senang-, dan siapa yang bersungguh-sungguh berjuang, ia akan dipastikan sampai pada tujuan. Hukum alam yang dibuat Tuhan mengatur demikian.

Bagi anak muda, mencintai ketampanan dan kecantikan, kekayaan, ataupun mencicipi kesempatan kekuasaan di berbagai medan baik bisnis maupun pemerintahaan adalah suatu kewajaran. Setiap anak muda menginginkan semuanya itu. Meski pada akhirnya, keinginan itu akan diuji oleh kemauan bertindak sampai hal itu terwujud, atau hanya keinginan saja tanpa usaha yang berakhir menjadi angan-angan.

 

Tentang hal-hal yang perlu diperhatikan

Selama ini, saya terus menerus dalam pencarian mengenai sebenarnya apa bekal utama manusia dapat hidup mencapai kesuksesan puncak dan harmonis.

Begitu banyak pelajaran hidup orang-orang yang terkenal namun keluarganya berantakan. Ataupun orang pandai yang akhirnya bekerja seumur hidup untuk mencukupi kebutuhan. Juga orang kaya yang ternyata tidak tenang hidupnya karena banyak tekanan.

Dan setelah merenung-renungi sambil tetap menjalani hidup dengan penuh optimisme, saya menyimpulkan dua hal yang seharusnya diketahui dan dipersiapkan betul setiap anak manusia: 1. pandai dalam hubungan manusia, 2. pandai dalam keuangan.

Sematerialis itu? Sebentar, kita kupas sejenak.

 

Tentang kepandaian berhubungan antar manusia

Umum diketahui, bahwa seringkali orang menilai kepandaian manusia hanya secara pelajaran, akademik, atau melihat profesi yang ditekuni. Padahal, sepandai apapun manusia, bila ia tidak mempunyai “kecerdasan berhubungan antar manusia”, ia tidak akan sampai pada puncak kesuksesannya.

11425116_992719827428986_1935089190472434139_n

Setiap orang yang merasa dirinya sendiri pandai, ia akan merasa bahwa pekerjaan yang dilakoninya hanya akan baik bila ia sendiri yang kerjakan. Akibatnya, seringkali ia sendiri yang “terpaksa” harus turun tangan menyelesaikan masalah, dan kurang percaya untuk menyerahkan tugasnya pada rekan atau temannya. Seumur hidup, ia merasa dirinyalah paling hebat sehinga bisa timbul perasaan merendahkan lainnya. Seumur hidup, ia merasa dirinyalah yang patut mendapatkan bayaran tertinggi dari profesi yang ia lakoni. Sehingga, datangnya orang baru seprofesi dengan dia dan kedengarannya pandai, akan meresahkan hatinya.

Seumur hidup ia akan selalu bekerja untuk dirinya sendiri. Setiap waktu ia akan merasa terancam oleh rekan seprofesinya yang bisa-bisa mengungguli kemampuannya.

Dari orang-orang cerdas inilah kemudian, timbul ruang bagi orang-orang yang tidak lebih cerdas untuk memanage mereka. Timbullah apa yang disebut “jiwa enterpreneurship”. Pada akhirnya, siapa yang akan memperoleh banyak hasil kerja dari orang-orang cerdas tersebut? Ya tentu orang yang mempekerjakan mereka, yang pada kenyataannya mau merendahkan diri mereka di hadapan orang-orang cerdas tadi.orang-orang yang tidak lebih cerdas tadi adalah orang yang pandai berhubungan antar manusia.

Mari kita perhatikan sekitar kita, hampir dapat dipastikan orang-orang dalam profesi apapun yang telah mencapai puncak kesuksesannya adalah orang yang pandai dalam berhubungan antar manusia. Para top sales. Para CEO perusahaan. Para guru-guru dan dosen favorit. Mereka orang-orang yang suka menghargai orang sekecil apapun -bukan merendahkannya. Mereka orang-orang yang suka menebarkan senyum -tanpa menginginkan balas senyuman. Mereka para pembangun hubungan, penjaga hubungan baik.

 

Tentang pandai dalam keuangan

Hidup memang tidak melulu tentang uang. Namun pada kenyataannya, kekurangan uang menjadikan banyak orang khilaf dan menyerah pada kenyataan hidup: frustasi, bercerai, memutus silaturahmi, hingga ada yang menyewakan dirinya.

Adalah benar dari seorang pakar keuangan, bahwa pendidikan formal kita selama ini tidak pernah secara serius memahamkan hukum mengenai uang: bagaimana mencari uang, bagaimana memanage keuangan, hingga akhirnya bisa timbul mindset berpikir bahwa apapun yang kita lakukan baik kerja ataupun lainnya tidak melulu tentang mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar.

Pendidikan formal kita memang hanya mengajari kita bagaimana kita memahami ilmu, mencari nilai bagus, dan bekerja. Hukum mengenai uang yang disampaikan di atas akhirnya tidak pernah diajarkan, sehingga kita hanya tahu untuk mencari uang, kita harus kerja, hingga mendapat posisi yang bagus sehingga layak diberi uang tetap bulanan yang besar.

Ini mungkin yang menyebabkan juga orang bisa korupsi karena tidak mengetahui hukum mengenai uang. Komisi pemberantasan korupsi pun hingga kini hanya mengajarkan cara-cara dan mindset untuk tidak korupsi, dan belum sama sekali mengajarkan hukum mengenai uang seperti di atas (padahal nyata-nyata solusi agar orang tidak korup adalah mengajarkan hukum uang, bukan sekedar memberitahukan tidak bolehnya korupsi).

Kenyataan mengenai hukum uang selama ini memang hanya disadari oleh “orang kaya”, sehingga dari waktu ke waktu, tidak mengherankan bahwa orang kaya akan semakin kaya.

 

Pandai berhubungan dengan manusia, dan pandai dalam hal keuangan. Ini adalah formula lengkap yang perlu dipahami setiap orang yang menginginkan kesuksesan puncak dalam hidup. Orang yang selalu berusaha menjaga hubungan baik dengan manusia, secara otomatis akan menjaga hubungan baiknya dengan penciptaNya atau minimal menyadari kekuatan “Yang Maha” di luar kuasa dirinya. Ini sangat berhubungan dengan karakter dasar jujur dan mampu menjaga kepercayaan. Orang yang pandai dalam hal keuangan akan melalui hari-harinya dengan upaya mewujudkan impian-impiannya, mengajak banyak orang untuk merealisasikan impiannya, dan juga berbagi, menginginkan orang-orang disekitarnya untuk sama-sama mencapai kesuksesan.

 

Hukum alam yang dibuat Tuhan di dunia ini begitu adil. Setiap orang yang terus usaha tanpa menyerah, akan mampu mengendalikan takdirnya: saat harapan dan impian-impiannya bertemu dengan kehendak Tuhan yang akan teruji oleh waktu.

 

Salam,

Zakka

thanks