Hadiah untukmu

1 Muharrom. Tahun Baru Islam. Alhamdulillah, akhirnya terbit juga buku “Sampah Pemikiran Mahasiswa” edisi PDF atau softcopy. Semoga bisa menjadi secuil inspirasi kesadaran diri, gerakan, dan juga komitmen akan pejuangan hidup.

SAMPAH PEMIKIRAN MAHASISWA (klik untuk download)

sampah pemikiran mahasiswa

DAFTAR ISI:

Kepadamu pemikiran ini kusampaikan.....................   1
Pembelajar seumur hidup.........................................    2
AKA: apa yang kita perjuangkan.............................     6
Tugas ini menantimu:...............................................    12
  • Dilema pendidikan vokasi Indonesia……………     15
  • Analis betapa bodohnya kita……………………….    20
  • Kebangkitan gerakan mahasiswa perindustrian   25
Serial kepemimpinan:
  • Khalifah fil ardh: #1……………………………………     27
  • Khalifah fil ardh: #2…………………………………..     34
  • Khalifah fil ardh: #3……………………………………     37
Sebuah upaya menumbuhkan kesadaran mahasiswa  41
Diagram aktivis mahasiswa.......................................     47
Platform mahasiswa AKA........................................     50
Yang berserakan:
  • Membangun motivasi pemuda dan karakter
Keindonesiaan.................................................      53
  • Perempuan: pendidik sejati generasi penerus
Bangsa..............................................................       57
  • Perkembangan Analisis Kimia dan
Perbandingan Mahasiswa Diploma Analis dan
SMK................................................................        63
  • Hubungan mahasiswa-direktorat AKA………      67
  • Satu Minggu Efektif………………………………….       72
  • Prosedur kerja: antara contekan dan keharusan
  • Dosa mahasiswa
  • Cerita bodoh organisasi mahasiswa
  • Membumilah……………………………………………      90
  • Pedoman Pengenalan Kampus AKA…………..     96
  • Daulat Mahasiswa……………………………………….   102
  • Budi Oetomo: Pelopor Kebangkitan Nasional?  107
  • Mahasiswa dan pembinaan diri………………………. 112
  • Etika Profesi Analis Kimia…………………………….. 119
Sumpah Mahasiswa Indonesia.................................    122
Inilah medan yang sebenarnya.................................   123
Ini Mimipiku kawan.................................................    128
Tentang Penulis.......................................................      134

 

Semoga Allah selalu membimbing kita dalam hidup. Karena Hidup adalah tentang Kebermanfaatan.

Arynazzakka.

Iklan

Pembelajar seumur hidup (1)

Oleh: Arynazzakka*

Untukmu yang sedang mencari jati diri, atau yang sedang mengembangkan kapasitas dan kualitas diri, tulisan ini tertuju padamu, juga pada diriku

Menengok diri

siapa kenal dirinya, maka kenal Tuhannya

Mendengar kata ‘belajar’, sebagian besar dari kita langsung akan tertuju pada sekolah.Sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dan juga perguruan tinggi. Dalam kondisi ini, kita mendefinisikan belajar sama dengan sekolah, atau  kita membatasi bahwa belajar itu hanyalah hal-hal yang berhubungan dengan pelajaran-pelajaran yang diajarkan di sekolah untuk diujikan dalam ujian.

“ujian tulisan hanya bagian kecil dari ujian kehidupan”

Sebagai contohnya, ketika menjelang ujian tengah dan akhir semester, seringkali kita mengeluh, “ah, belum belajar, euy? Mana nilai ujian kemaren kecil lagi.” Namun ketika menghadapi persoalan kehidupan, baik itu masalah kepribadian diri tentang masalah sosial, finansial, ataupun agama, jarang sekali dan bahkan tidak pernah kita anggap sebagai bahan belajar.

Kita tengok sholat kita. Misalkan sholat subuh sering kesiangan, kita tidak menjadikan hal itu sebagai sesuatu yang harus kita perbaiki di subuh berikutnya, layaknya belajar kita dari ujian tengah semester ke ujian akhir semester. Atau juga misalkan kepribadian diri kita yang tertutup dan kurang suka bergaul (lebih suka menyendiri), jarang sekali kita berfikir bagaimana caranya dari hari ke hari kita belajar untuk semakin pandai bergaul.

Sekolah (institusi pendidikan) hanya sekedar alat

“sekolah sejatinya adalah alat untuk mensistematisasi pengetahuan agar pengetahuan itu mudah dipahami dan dimengerti”

Penting bagi kita memahami bahwa insitusi pendidikan (SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, dan PT) hanyalah alat untuk mendekatkan kita pada ilmu –agar kita memahami ilmu. Maka, ketika kita telah memandang institusi pendidikan bukan satu-satunya alat, kita akan mencari ‘alat-alat’ lain yang mampu mendekatkan kita pada sumber ilmu. Prinsipnya sederhana: murid-guru. Kita sebagai murid dan selanjutnya kita butuh guru, guru yang mengajari ilmu yang kita butuhkan.

“….institusi pendidikan bukan satu-satunya alat, maka kita mencari ‘alat-alat’ lain lain yang mampu mendekatkan kita pada sumber ilmu. Sederhana: cari guru!”

Selanjutnya, sebagai pembelajar seumur hidup, kita tidak lagi memperdulikan guru dari segi umur, dari segi jenis kelamin, namun dari segi kapasitas –belajar dari ahlinya agar tidak sesat karenanya. Meski, sebagai pembelajar seumur hidup, kita juga harus pandang ilmu sebagai objek (apa yang dibicarakan) bukan subjek (siapa yang berbicara. Pada kondisi ini, bisa jadi seseorang pada satu waktu menjadi murid dan pada waktu yang lain menjadi guru. Misalkan, si A berguru bahasa Arab pada si B pada satu waktu, dan si B pun berguru pidato (public speaking) pada si A karena si A pandai pidato dan si B pandai bahasa Arab.

“…bisa jadi di kelas kita sebagai guru yang mengajar murid,namun ketika di luar kelas kita belajar dari murid kita karena kita tahu ia lebih mengetahui. Karena tidak ada keangkuhan dalam jiwa pembelajar seumur hidup”

Alat-alat untuk mendekatkan sumber ilmu yang lain adalah perkumpulan-perkumpulan baik yang bersifat mengikat (seperti organisasi) atau tidak mengikat (komunitas). Maka dalam jiwa pembelajar seumur hidup, tidaklah menjadi soal ketika dalam sekolah formal ia menuntut ilmu kimia di kelas sementara cita-citanya adalah Presiden direktur percetakan buku dan media masa. Atau juga, tidak menjadi soal jika seseorang terdaftar di sebuah perguruan tinggi dengan jurusan matematika namun ia mencurahkan sebagian besar waktunya mempelajari dan mempraktikan ilmu-ilmu manajemen dan sosial, karena cita-citanya adalah gubernur –yang akan memimpin dan mengatur masyarakat menuju adil sejahtera.

Maka dari itu, sudah saatnya kita pandang seluruh lingkungan sekitar kita adalah medan belajar. Insitusi pendidikan yang berwujud sekolahan hanyalah satu diantara banyak alat yang dapat kita gunakan untuk mendekatkan diri pada ilmu –sehingga belajar bukan lagi diartikan sebatas di ruang kelas, di laboratorium. Apa yang kita jumpai dan dimanapun kita, itulah laboratorium dan ruang kelas kita sebagai medah belajar. Saya selalu mencoba untuk melakukannya, kamu?

Salam pembelajar seumur hidup!

*penulis merupakan mahasiswa AKA Bogor angkatan 2010, sangat berminat dalam hal #Kepemimpinan dan Pengembangan diri dan semua bidang ilmu pengetahuan, bercita-cita menjadi ketua IKA-AKAB 2032 dan mendirikan Masyarakat Analis Kimia Indonesia, Ahli Teknik Kimia 2021 (akademis), Menteri Penerapan Teknologi 2039 (politik), Menteri Perindustrian 2044 (politik), Presiden Direktur Koran Mahasiswa Indonesia (wirausaha). Berniat mengajar di AKA Bogor  pada 2022 bidang Fisika, Capita Selecta Kimia, dan Eksperimen Kimia.

Perempuan: Pendidik Sejati Generasi Penerus Bangsa

karena perempuan adalah ibu bangsa

karena perempuan adalah ibu bangsa

Sejatinya, pembangunan Indonesia adalah pembangunan atas sumber daya manusianya. Indonesia memang negeri yang berlimpah ruah sumber daya alamnya. Namun selama ini, 67 tahun setelah kemerdekaan, dengan berbagai program pembangunannya, belumlah menunjukkan kemajuan yang signifikan.

Pembangunan sumber daya manusia, seakan terlupakan atau terpinggirkan. Basis yang selama ini menjadi motor adalah ekonomi yang masih juga ditunggangi kepentingan politik. Hakikat dari kemerdekaan seperti yang dicitakan para founding father kita adalah negeri yang adil dan makmur. Sayangnya, sampai sekarang kemiskinan di Indonesia masih merebak. Bahkan, penyakit ini menjangkiti berbagai lapis kalangan, dari yang tidak pernah mendapatkan kesempatan pendidikan sama sekali sampai yang telah menempuh pendidikan tinggi hingga sebutan pengangguran terdidik tidak asing lagi di telinga.

Berbagai persoalan lain, yakni merosotnya moral pelajar dari waktu ke waktu mendapat perhatian besar dari masyarakat. Mengingat bahwa pelajar pada khususnya dan pemuda pada umumnya adalah cadangan masa depan bangsa, merekalah yang akan memegang tonggak peradaban Indonesia. Namun kenyataan pendidikan Indonesia, sebagai salah satu pilar pembangunan SDM Indonesia masih saja mencari format ideal. Disatu sisi pendidikan yang diselenggarakan pemerintah belum mendapatkan bentuk finalnya, juga peran serta orangtua dan masyarakat dewasa ini seolah terkikis. Atau bahkan, seolah orangtua terutama dengan adanya sistem pendidikan formal menganggap tanggungjawab pendidikan sudah ada pada guru.

“…seolah orangtua terutama dengan adanya sistem pendidikan formal menganggap tanggungjawab pendidikan sudah ada pada guru….”

Mengingat perannya, orangtua sebagai orang yang paling dekat dengan pelajar, sebagai anaknya, tentunya sangat memegang peranan besar. Dalam hal ini, ibu sangat memiliki peranan yang besar terhadap tumbuhnya pendidikan yang sebenarnya kepada anaknya. Sikap moral, semangat berprestasi dan belajar tidak mengenal waktu dan tempat adalah sangat besar bergantung dari upaya orangtua dalam hal ini ibu kepada anaknya.

Sampai saat inipun, rasanya dosa turunan mencontek saat pelajaran adalah hal lumrah yang seakan dimafhumi oleh semua pihak. Padahal jika ditilik dari segi fungsi dari ujian adalah mengukur kemampuan diri menyerap pelajaran yang diberikan, hal ini sangat jauh bertentangan dari tujuan yang diharapkan. Sikap menyontek salah satunya dapat diredam dengan sikap orangtua yang selalu menanamkan pikiran bahwa ujian bukan hanya karena pengharapan terhadap nilai yang tinggi, melainkan adalah melihat keberhasilan belajar. Kalaupun hasil belajar kurang, maka pola atau sistem belajar harus diperbaiki sehingga wejangan belajar seumur hidup akan berjalan. Dan stigma bahwa ujian hanya untuk dapat dilewati akan pupus perlahan-lahan. Sikap penanaman pola pikir seperti ini tentu saja bukan saja teman, guru ataupun yang lainnya. Hanya ada satu kata untuk mendidik anak, ibu.

……Hanya ada satu kata untuk mendidik anak, ibu…..

surga di telapak kaki ibu

surga di telapak kaki ibu

Dalam perannya kekinian, peranan perempuan Indonesia memang semakin luas karena mengikuti perkembangan pembangunan. Jika tugas mendidik anak adalah tugas wajib sejak dulu, maka kini ranah garapan perempuan Indonesia memang semakin bervariasi dan mulai masuk disegala bidang yang awalnya hanya menjadi ranah laki-laki. Wilayah ekonomi, politik, bahkan pertahanan tidak asing lagi diisi oleh perempuan. Dalam hal ekonomi misalnya, banyak sekali sekarang pemimpin bisnis perempuan. Pertahanan dan keamanan juga, misalnya polisi wanita juga tidak menjadi suatu yang aneh. Bahkan dalam konteks perpolitikan kekinian, perempuan mendapatkan porsi 30%. Yakni dalam kursi DPR/DPRD, atau juga dapat suatu struktural partai politik yang mengharuskan keberadaan perempuan dari tingkat daerah hingga pusat diisi oleh minimal 30% perempuan.

Melihat realitas yang telah bergeser, sempat beberapa waktu yang lalu muncul pembahasan rancangan Undang-Undang tentang kesetaraan gender yang mengatur tentang perempuan. Atau dalam bahasa yang digunakan adalah keadilan dari segala hal kepada perempuan dan kesejajaraanya dengan laki-laki.

“…Wanita Indonesia, kewajibanmu telah terang! Sekarang ikutlah serta mutlak dalam usaha menyelamatkan Republik, dan jika Republik telah selamat, ikutlah serta mutlak dalam usaha menyusun Negara Nasional” Bung Karno dalam buku Sarinah: Kewajiban Wanita Dalam Perjoangan Republik Indonesia

Dalam pembangunan Republik ini, dengan perannya yang luas ini, pemberdayaan perempuan Indonesia memang mutlak diperlukan dan harus menyasar dalam semua aspek pembangunan dengna catatan perempuan Indonesia tidak menghilangkan jatidirinya. Jati diri dalam konteks sifat asasinya sebagai perempuan.

Dalam tatarannya di kehidupan kaum intelektual (terutama mahasiswa), pemberdayaan ini mulai digalakkan dan dapat dikatakan memadai. Sebagai contohnya berbagai kompetisi ataupun komunitas wirausaha untuk perempuan, terlibatnya perempuan dalam sektor pergerakan, baik berbasis keilmuan, sosial, dan politik (etis). Di bidang keilmuan, peneliti-peneliti perempuan semakin banyak menunjukkan karyanya, begitupun juga pemberdayaan masyarakat oleh perempuan.

Dalam kendalanya, permasalahan sosial berupa pemberdayaan praktis perempuan (ibu-ibu) di masyarakat sangat memerlukan perhatian lebih. Karena dalam perannya, masih banyak perempuan yang melakukan tugas ganda, yakni sebagai pendidik anak dan juga tulangpunggung keluarga. Hal ini biasanya terjadi di desa tertinggal atau dalam masyarakat pinggiran perkotaan. Belum lagi dalam kondisi yang demikian, akhirnya para ibu ini juga menuntut anaknya untuk lebih memprioritaskan hidupnya untuk memenuhi kehidupan pokoknya –makan, agar dapat bertahan hidup. Ini tentunya membutuhkan solusi nyata.

“…….akhirnya para ibu ini juga menuntut anaknya untuk lebih memprioritaskan hidupnya untuk memenuhi kehidupan pokoknya –makan………”

Tuntutan pembangunan semakin membutuhkan aktor pembangunan yang banyak. Peran perempuan sudah tidak dapat dipungkiri. Solusi dari segala permasalahan bangsa juga membutuhkan langkah bertahap dan komprehensif sehingga dalam menjalankan perannya, selayaknya perempuan tetap menjadikan prioritas pendidikan kepada generasi penerus sebagai yang utama bagaimanapun background dan spesialisasi bidang keahlian yang ditekuni. Maka, kesataaraan yang kini diperdebatkan sudah tidak perlu diperpanjang karena hakikat dari perempuan sebagai partner atau pasangan dari laki-laki adalah sama-sama berkontribusi dalam pembangunan dengan karakter dan jatidirinya masing-masing.

Pendidikan adalah kunci. Semakin luas sektor pembangunan negeri ini, mempersiapkan generasi tangguh dan unggul adalah solusi nyata, dan peran itu terutama ada di tangan perempuan Indonesia. Bagaimanapun, kejayaan atau kebobrokan suatu negeri dilihat dari pemudanya. Semoga perempuan Indonesia adalah perempuan yang melahirkan dan mempersiapkan generasi-generasi tangguh itu.

Oleh: Arynazzakka, mahasiswa Akademi Kimia Analisis bogor.

ditulis dalam rangka WomenPreneur Summit 2013@UI

AKA Fair 2013: tunjukkan peranmu, bahwa kamu benar mahasiswa

AKA fair 2013: tunjukan peranmu, bahwa kamu benar mahasiswa

“…awal 2011 kita mengenal Chemistry Fair, kemudian 2012 disusul dengan IMAKA Fair. Dan sekarang adalah AKA Fair 2013…”

AKA Fair 2013

AKA Fair 2013

Organisasi mahasiswa pada dasarnya bukan hanya wahana pengembangan diri, namun juga sarana kita berkontribusi. Salah satunya adalah mengangkat citra kampus. Dan sebagai mahasiswa AKA, wajib hukumnya mengangkat citra kampus AKA. Atas dasar itulah AKA Fair 2013 ada.

AKA Fair 2013, terdiri berbagai rangkaian agenda secara beruntut. Yaitu ada Lomba Karya Tulis Ilmiah, Lomba Karya Cipta bidang Kimia, Essay tentang Bogor, Pemilihan Mahasiswa Berprestasi AKA Bogor, Sarasehan Alumni-civitas akademika, Workshop IMAKA, Simposium Nasional Pendidikan Vokasi, IKM Expo, Bedah Buku, dan ada juga bazar buku Book Fair.

Acara utama adalah Simposium Nasional yang bertujuan sebagai wahana Pencerdasan untuk masyarakat terutama pelajar dan orangtua pelajar (calon mahasiswa terutama) agar mengetahui tentang perbedaan Pendidikan Vokasi/Diploma dan Sarjana sehingga dalam pemilihan melanjutkan ke pendidikan tinggi tidak salah. Juga, agar mahasiswa (vokasi terutama) tahu apa yang bisa diperbuat, misal karya cipta atau terapan ilmu dalam kehidupan sehari-hari, terutama untuk penyelesaian masalah-masalah umum dan sederhana. Sehingga menjadi mahasiswa tidak hanya berangkat kuliah, duduk manis di kelas, ujian, kemudian selesai begitu saja sampai lulus. Namun mahasiswa vokasi mampu membuat karya nyata sebagai terapan ilmu. Selain dari itu, juga pelajar/orangtua/mahasiswa/pendidik tahu prospek kerja mahasiwa vokasi, dan skill apa saja yang bakal di tempa mahasiswa vokasi dalam menjalani pendidikan tingginya.

Lomba Karya baik tulis maupun cipta di bidang Kimia dan Essay Bogor adalah salah satu upaya nyata dalam menghimpun pemikiran dan karya keilmuan dengan harapan mampu menginspirasi dan sedikitnya memberi solusi terhadap permasalahan Bogor dan kontribusi keilmuan di masyarakat. Sehingga kebermanfaatan ilmu jelas dan terasa.

Mahasiswa Berprestasi AKA, sebuah langkah awal untuk memulai ekspansi mahasiswa AKA dibidang prestasi. Program ini telah ada dan setiap tahun diadakan oleh Dinas Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan Nasional. Semoga mahasiswa AKA ke depan mampu menunjukkan karya nyatanya sekaligus prestasi keilmuannya sehingga mampu memberi inspirasi kepada mahasiswa yang lain.

Workshop IMAKA bertujuan untuk menyaring aspirasi mahasiswa AKA dalam menuangkan pemikirannya untuk kepengurusan organisasi satu tahun ke depan. Harapan besar menghasilkan satu program yang akan dijalankan secara bersama dengan rasa kepemilikan yang sama sehingga dalam program tersebut, kontribusi mahasiswa AKA dengan organisasinya benar-benar terasa dan menginspirasi.

Sarasehan Alumni-civitas akademik diharapkan mampu menjalin koordinasi dan saling mengisi lahan kontribusi masing-masing. Saling memberi masukan sehingga kejelasan kinerja ketiganya yang berwadah dalam IKA AKAB-AKA-IMAKA benar-benar nyata, transparan,  terstruktur, dan konstruktif.

Bedah buku sebagai wahana pencerdasan tentang isu terkini yang patut diketahui dan akan diramaikan dengan bazar buku Book Fair, karena sejatinya berpengetahuan dalam bentuk membaca adalah kebutuhan. Untuk itulah Book Fair adalah wahana apresiasi membaca agar semua masyarakat tetap dapat berpengetahuan (membaca) tanpa takut kehabisan dana.

Semoga AKA Fair 2013 sukses, mengena, dan bermanfaat.

Platform Mahasiswa AKA

 

 

Kaderisasi Mahasiswa

Kaderisasi Mahasiswa

 

Pada dasarnya, Organisasi Mahasiswa (ormawa) adalah wahana penempaan diri. Penempaan diri ini diharapkan menghasilkan suatu Profil/Platform yang akan bermanfaat untuk masyarakat jika mahasiswa telah memasuki kehidupan realnya sebagai masyarakat.

Secara umum, profil mahasiswa akan mengacu pada spesialisasi keahlian masing-masing, sesuai dengan basis keilmuan yang mahasiswa pelajari. Meskipun akan terspesialisasi pada keahlian masing-masing, tempaan softskill lain juga sangat diperlukan sehingga tercipta kepemimpinan yang komprehensif (Syamil-mutakamil).

Proses penempaan diri ini kemudian disebut kaderisasi.

4 Profil Mahasiswa utuh

4 Profil Mahasiswa utuh

Dari ke empat profil mahasiswa tersebut, Leadership-Analyst-Jurnalism-Enterpreneur merupakan suatu karakter yang mewakili kepemimpinan komprehensif mahasiswa yang diharapkan akan menjadi profil/produk dari proses kaderisasi.

Dibentuklah IMAKA Life School -Academy of Leader- untuk mengawali proses tersebut:

IMAKA Life School

IMAKA Life School

IMAKA Life School (ILS)  menampung 4 komunitas, diantaranya Komunitas IT AKA, Komunitas Diplomat, Komunitas IMAKA Peduli Masyarakat, dan Komunitas Wirausaha Muda. ILS tidak menutup kemungkinan membuka komunitas baru yang mampu menaungi bakat dan kompetensi mahasiswa AKA yang belum mampu terwadahi Ormawa (Organisasi Mahasiswa) AKA.

Dalam sebuah kaderisasi mahasiswa, track record kaderisasi haruslah sistematis dan berkelanjutan. Dalam artian, profil mahasiswa yang diharapkan adalah grade jenjang bertahap, misalkan profil mahasiswa tahun pertama seperti apa, begitupun tahun kedua, ketiga, hingga menjadi mahasiswa paripurna (utuh) ketika lulus dan mempersiapkan diri menjadi bagian dari masyarakat yang sesungguhnya.

Akan diperlukan perasan pikiran dari berbagai elemen.

 

“Untuk mereka yang terus memikirkan bangsanya

untuk mereka yang ingin terus berkontribusi meskipun masih dalam penempaan diri…

HIDUP MAHASISWA,

Presiden Mahasiswa Ikatan Mahasiswa AKA Bogor 2012-2013,

Arynazzakka.

 

 

 

Bangkit IMAKA, Bangkit Indonesia

Hari itu, terjadi perubahan luar biasa dengan kampusku. Bukan perubahan fisik bangunan yang menjadi besar.

Pagi hari saat kuinjakkan kaki di gerbang, tidak jauh kulihat banyak mahasiswa telah datang. Mereka membuat forum-forum berupa lingkaran. Sungguh berbeda dengan yang biasa aku liat. Aku mendekat ke salah satu forum, ternyata mereka sedang mendiskusikan tentang Pergerakan Pemuda dan Mahasiswa dalam rangka mempersiapkan kebangkitan INdonesia yang sesungguhnya. MEreka terlihat begitu bersemangat dan antusias. Auranya dapat aku rasakan. Merekalah calon revolusioner kebangkitan Indonesia.

Kemudian aku beranjak ke forum yang lain, ternyata setelah aku saling memberi salam, mereka sedang mendiskusikan tentang perkembangan Sains saat ini, terutama perkembangan kimia modern. Diskusi mereka sangat mengagumkan. Aku bergumam,”Inilah calon-calon  Ilmuwan Kimia yang akan memimpin dunia”.

Kawan, kampus yang aku jalani sekarang penuh dengan semangat bertukar pikiran dari mahasiswanya

Langkah kakiku pun berlanjut memasuki turunan jalan menuju ke lobi kampus. Lagi-lagi, sungguh luar biasa kampusku sekarang. di Lorong-lorong jalanan, kuliat banyak mading-mading tertempel dan isinya pun berbeda-beda. Tertulis jelas tema di beberapa mading “SAINS HARI INI”, “PERGERAKAN KITA”, “KOLOM RUHIYAH”, “SAHABAT ALAM”, “SASTRA dan SENI”. Kulihat para penyumbang artikelnya adalah mahasiswa yang berbeda. ku ambil kesimpulan sejenak, Mahasiswa AKA sekarang aktif dalam hal menulis.

Kawan,  efektif belajar melalui baca- dan menuliskannya telah menjadi kultur mahasiswa AKA

sebentar lagi masuk kuliah, terlihat banyak kawan-kawanku bergegas masuk ke ruang kuliah. tak berselang lama, dosenpun masuk. Kebetulan matakuliah yang aku ikuti hari ini adalah Sejarah dan FIlsafat Kimia. setelah berdoa, ada pertanyaan khas yang dilontarkan dosen, “Diskusi kita pada hari i ni adalah tentang Filsafat Elektrokimia, ada yang ingin me ngajukan argumen tentang ini?” “Waw, Dahsyat, sekarang sistem kita bukan diajar, tetapi DISKUSI, diskusi 2 arah”. setelah sekian waktu berselang, banyak dari kawan-kawanku yang mengajukan argumen luar biasa, kuliah ditutup dengan pengambilan kesimpulan.

kawan, kuliah efektif metode diskusi 2 arah telah menjadikan kita belajar cerdas mengikuti perkembangan zaman

setelah kuliah Sejarah dan Filsafat Kimia, ada waktu kosong 1 jam sebelum aku kuliah lagi. aku manfaatkan waktu itu untuk keluar dan menikmati suasana kampus yang kurasa semakin menyenangkan. setelah beberapa menit aku berjalan, kulihat perpustakaan, saat aku memasukinya, ternyata bukan perpustakaan yang biasa aku kunjungi. kuteliti lagi buku-buku yang ada, teryata berisi tentang sastra, novel, Agama, dan pengetahuan umum lain. saat aku tanyakan pegawai perpusnya, ternyata ini adalah hasil dari sumbangsih mahasiswa yang peka melihat kondisi mahasiswa yang butuh hiburan, butuh suplemen lain selain dari buku-buku eksak yang menguras otak.

kawan, kita butuh suplemen lain selain buku eksak agar otak kita senantiasa segar, ayo realisasikan

sejenak aku berada di dalam perpus, aku kembali mencari sumber inspirasi baru dengan kawan-kawankuSetiap langkah aku susuri jengkal kampusku, tak kutemui gurauan yang tak bermanfaat.  Baru saja aku temui kawanku TPL. Mereka yang menjadi “minoritas” di kampus seolah telah bangkit dari beberapa kepayahannya. Ya, kawan, baru saja mereka merasakan merdeka yang sesungguhnya. Mereka tidak mendapat “tekanan” akademik untuk membatasi diri dalam ranah Organisasi. Sekarang tidak ada larangan kawan-kawan TPL untuk memimpin sebuah organisasi kampus.

Ngomong-ngomong tentang ini kawan, aneh saja beberapa tahun ke belakang mahasiswa TPL yang notabenya perwakilan/utusan daerah, dengan sebuah ketidak jelasan tidak diperbolehkan memimpin organisasi, pindah jadwal, dan beberapa hal lain yang menurutku kurang jelas dan kuat alasannya. Tapi Syukur alhamdulillah, sekarang kendala itu sudah tertangani, bahkan aku dengar ada anak TPL yang berminat mencalonkan dirinya untuk memimpin kampus. Sebuah semangat yang patut di apreasi.

kulanjutkan alur hariku, bertemulah aku dengan kawan seperjuangan. diajaklah aku berdiskusi sejenak, tentang kampus, tentang indonesia…..

kuajukan argumen berikut:

“kawan, dulu sistem pembelajaran dan materi yang kurang relevan dengan perkembangan jaman, walaupun tidak sepenuhnya salah, agaknya kurang memacu kita untuk berkreasi. sistem ini, dulu telah mengungkung kita dan para pendahulu kita dengan membentuk kita menjadi pekerja keras, bukan pekerja cerdas.

kawan, dengan era globalisasi yang kian mempersempit ruang gerak kita seperti apa yang diungkapkan dalam buku “THe WOrld is flaT, menjadi pekerja keras hanya akan membuat kita sebagai budak iNdustri yang terus menerus akan bergantung padanya. Kemandirian kita tercekal. sifat kerjasama membangun bangsa sendiri kian jauh sehingga kita hanya memikirkan perut kita. Padahal jauh dari itu, kawan, bangsa ini membutuhkan kita sebagai pemudanya untuk membangun diri menuju bangsa madani.

Kawan, bangsa ini tidak akan pernah berteriak minta tolong kepada generasi penerusnya. bangsa dan tanah air ini malu dengan itu karena telah dilimpahi kekayaan alam yang luar biasa, sementara belum bisa memakmurkan kita.

Kawan, ingatkah kau ketika bangsa ini pernah sejajar dengan bangsa lain di dunia, kita pernah menjadi macan asia, gerak kita dinanti, langkah kita diwaspadai, kemajuan kita diawasi, kapan itu kan kembali?

Bukan aku mengajakmu bernostalgia dan bermimpi membumbung tinggi, aku ingin mengajakmu untuk mengajak yang lain juga untuk mempersiapkan diri kita, para generasi Soekarno, Natsir, HAMKA, Habibie, J.A Kattili dan masih banyak pejuang bangsa yang tidak muat apabila aku tulis satu persatu.

Ketika kita telah keluar dari kungkungan memikirkan diri sendiri, baik itu cita-cita sendiri ataupun kepentingan-kepentingan yang bersifat pribadi maupun kelompok dan beranjak ke zona yang lebih besar, memikirkan cita-cita Indonesia jauh ke depan, maka cita-cita dengan sendirinya telah terpenuhi.

 

Diskusi yang panjang lebar pun telah usai. kini beranjak aku berserah diri padaNya untuk menyegarkan nurani akal dan jasad.

 

tertanggal 25 Oktober 2011

telah dipublish di: http://www.facebook.com/notes/arynazzakka/bangkit-imaka-bangkit-indonesia/254250021288633

Presiden Mahasiswa IMAKA 2012-2013

Arynazzakka

Hubungan mahasiswa-direktorat AKA

Seringkali menjadi suatu permasalahan dalam bertindak, yakni hubungan seperti apa yang seharusnya dibangun antara mahasiswa (dalam hal ini lembaga mahasiswa) dengan direktorat. Dalam sejarahnya, hubungan ini sangat variatif dan cenderung mengikuti sikap dari pimpinan lembaga kemahasiswaan menghadapi variasi kepemimpinan direktorat.

Hubungan yang dijalin bisa digambarkan dengan hubungan ‘perang-damai’. Dalam artian, kadangkala mahasiswa menekan dan di lain hal mahasiswa mendukung. Meskipun demikian, hubungan ini seringkali dapat berupa ‘perang’ berkepanjangan ketika cara pandang mahasiswa terhadap kebijakan yang tidak pro mahasiswa. Juga, hubungan ini tak jarang ‘damai’ karena kemampuan mahasiswa menjalin hubungan ini dan juga kondisi dari pihak direktorat yang dinilai tidak ‘bermasalah’.

Namun, bagaimanapun hubungan ‘perang-damai’ ini telah lama terjalin, nampaknya juga belum muncul suatu kesadaran akan hubungan sinergis yang tidak saling mencurigai, dan sikap mau dikritik untuk kinerja lebih baik. Sampai saat ini pun, mahasiswa dan pihak direktorat masih saja dengan pandangannya sendiri. Pihak mahasiswa yang menginginkan ormawa (baca: Organisasi Mahasiswa) tidak dicampuri sedikitpun oleh pihak direktorat dan menuntut juga keterbukaan direktorat terkait hal-hal yang berkaitan dengan ormawa, sementara pihak direktorat memandang dirinya sebagai pihak yang berkuasa penuh karena merupakan pemegang kebijakan institusi dimana mahasiswa ada di dalamnya. Akhirnya, tak jarang pandangan hubungan direktorat-mahasiswa lebih kepada pengusaha dan buruh, mengutip pendapat Muhammad Syaiful Anam, Presiden KM ITB 2005-2006 (dalam artikel Ridwansyah Yusuf Achmad Presiden KM ITB 2009-2010, hubungan mahasiswa dengan rektorat). Pihak direktorat dalam hal ini berperan sebagai pengusaha dan mahasiswa sebagai buruhnya, dalam artian buruh harus mentaati semua peraturan dari pengusaha tempat ia bekerja. Jika buruh dinilai kerjanya buruk, maka sah-sah saja pengusaha menghukum sesuai kebijakannya.

…nampaknya juga belum muncul suatu kesadaran akan hubungan sinergis yang tidak saling mencurigai, dan sikap mau dikritik untuk kinerja lebih baik…

Disini, perlu ditegaskan bahwasannya mahasiswa dalam perannya dalam sistem akademis dan secara kelembagaan mahasiswa dengan pihak direktorat jika diumpamakan merupakan dua buah bola yang saling beririsan. Irisan ini merupakan irisan kepentingan dimana memang ada hal-hal yang terkait kebijakan direktorat yang tidak bisa diganggu gugat oleh mahasiswa, pun sama dengan ada hal-hal yang terkait kebijakan lembaga kemahasiswaan (dalam hal ini ormawa) yang juga tidak bisa diganggu gugat oleh pihak direktorat. Namun selain dua hal tersebut, ada sebuah irisan yang mempertemukan dua buah kepentingan antara pihak mahasiswa dan direktorat yang dapat dikompromikan.

 ……. Irisan ini merupakan irisan kepentingan…..

1.       Kebijakan direktorat yang tidak dapat diganggu gugat oleh mahasiswa

Ini memiliki arti bahwasannya mahasiswa memiliki hak untuk menyuarakan pendapat –pendapat perspektif mahasiswa, sementara keputusan akhir tetap berada pada pimpinan direktorat. Jadi, secara kekuatan dalam mempengaruhi keputusan, mahasiswa disini hanya menyalurkan pendapat. Contohnya adalah perubahan kurikulum akademik.

2.       Kebijakan ormawa yang tidak dapat diganggu gugat oleh direktorat

Sama dengan kondisi di atas, setiap kebijakan mahasiwa dalam menentukan sikap dan arah organisasinya sama sekali bebas dari tekanan direktorat. Direktorat diperkenankan untuk memberikan masukan, namun hasil akhir tetap pada mahasiswa melalui pimpinan kelembagaannya atau musyawarah antar mahasiswa. Contohnya dalam kebijakan menjalin hubungan dengan organisasi mahasiswa lain, organisasi daerah ataupun lainnya yang menyangkut sistem internal organisasi mahasiswa.

3.       Kepentingan mahasiswa dan direktorat yang dapat dikompromikan

Kepentingan mahasiswa dan direktorat dalam hal ini menyangkut urgensinya pada suatu hal yang sama namun ada dua hal berupa kepentingan yang diusahakan tercapai. Disini perlunya komunikasi yang intens yang disertai kelegowoan saling memahami dan upaya agar dua kepentingan ini sama-sama dapat tercapai tanpa mengesampingkan kepentingan yang lain. Tentunya kepentingan ini bukan suatu kong-kalikong berstatus negatif. Contoh dalam hal ini adalah pengenalan kampus. Dalam hal ini ormawa berkepentingan dalam kaderisasi mahasiswa dan di lain pihak, direktorat mengupayakan pembentukan mahasiswa yang sesuai dengan dasar kompetensi awal yang diharapkan (di lain pihak, juga direktorat menghindari perpeloncoan yang biasa terjadi pada pengenalan kampus).

 

Taat bukan berarti tidak menentang

Cinta bukan berarti tanpa kritik dan cela

Diam bukan berarti tak bertindak, kami tegaskan bahwa:

Yang kami benci adalah ketidakjelasan

Yang kami musuhi adalah penindasan

Yang kami lakukan hanya mengingatkan

Sedikitpun kami tidak berharap pujian

Hadiah dan sanjungan, apalagi

Sekedar ucapan terimakasih

 

Oleh: Arynazzakka, Presiden Mahasiswa AKA 2012-2013