LAB.OR.ID: Kaum pekerja membangun asset

ILO LabOr“Regular dan Buruh. Saya melihat potensinya ada di kekuatan jumlah massa. Bukan untuk mendemo, melancarkan tuntutan-tuntutan layaknya gerakan buruh pada umumnya. Saya melihat potensinya pada kecakapan/keterampilan yang dimiliki dalam menunjang berjalannya industry. Kecakapan/keterampilan tersebut sebenarnya merupakan ilmu yang mahal. Maka, sayang sekali apabila tidak dibagi, apalagi pengumpulan kekuatan hanya diarahkan pada aksi massa demonstrasi yang terkadang hanya dimanfaatkan para petinggi organisasi buruh untuk kepentingan pribadinya.

Secara sederhana, alumni AKA yang rata-rata menjadi analis kimia di indutri seharusnya dapat mencatat kegiatan hariannya dan memformulasikannya menjadi serangkaian ilmu. Apalagi, tempat bekerja yang beragam yakni bidang polimer, tambang, oil n gas, lingkungan, food and bavarages, farmasi, dll akan menjadi ilmu yang bermanfaat dan dapat dikonversi menjadi ladang penghasilan apabila diorganisir dengan baik. Sayangnya, belum ada yang serius melakukannnya.”-Kutipan akhir pada tulisan “Kesediaan untuk memulai

Kita: Buruh atau kaum pekerja. Sebutlah saja kaum pekerja untuk selanjutnya karena lebih terkesan enak didengar. Kali ini saya tidak membicarakan pandangan hidup kaum pekerja yang sarat ideology dan pernah menjadi basis massa utama ideology sosialis/komunis hingga popular dengan sebutan proletar (kaum proletariat melawan kaum borjuasi/borjuis yang dianggap agen kapitalis). Saya berusaha menjalin sebuah tawaran perjuangan hidup kaum pekerja.

Kaum pekerja, seperti kita, bisa disebut golongan mayoritas masyarakat yang ada. Kaum pekerja setiap Negara manapun menyumbang peranan besar dalam menumbuhkan perekonomian dunia karena ditangan merekalah proses produksi yang berakhir pada pemenuhan kebutuhan hidup manusia dijalankan. Namun sayang, sampai sekarangpun, kompensasi kerja (upah/gaji) yang diberikan penuh waktu (dengan waktu kerja harian rata-rata 8 jam) tidak setimpal dengan tenaga dicurahkan. Dan sebagian besar kompensasi kerja tersebut habis untuk kebutuhan harian dan sedikit untuk cadangan (tabungan). **saya tidak akan membahas pertentangan kelas antara pekerja dan pemilik modal** (saat ini saya berusaha mengumpulkan data untuk membuat thesis besaran ketimpangan yang diperoleh kaum pekerja, pemilik usaha, dan investor dan menyajikannya dalam sebuah laporan)

Apa yang kemudian dilakukan kaum pekerja untuk memenuhi kebutuhan lain bahkan keinginan-keinginan hidup lain? Sebagian besar akan menjawab “kerja sampingan”. Kerja sampingan ini sangat bervariasi, mulai dari menggelar dagangan, menjadi sales freelance, dan lainnya. Disisi lain, dunia kaum pekerja yang sebagian besarnya juga berikat, artinya adanya sebuah keharusan tergabung dalam serikat pekerja, tidak mampu membangun solusi nyata sebuah usaha membangun ekonomi. Perjuangannya pun dari masa ke masa monoton, berkisar pada tuntutan kenaikan gaji, jaminan social, kesehatan, hari tua yang ekspresinya berupa demonstrasi rutin di hari besar, mogok kerja, dan propaganda di media. Perjuangan seperti tersebut di atas juga tidaklah gratis. Harus ada sumbangsih materi (iuran rutin) untuk memperpanjang nafas perjuangan.

Pertanyaannya, apakah hal-hal diatas adalah satu-satunya cara efektif membangun kekuatan ekonomi yang merupakan salah satu hal pokok yang kaum pekerja perjuangkan? Saya menjawab tidak. Lantas, apa yang coba saya bangun, terutama untuk para pemuda kaum pekerja?

Mari kita bangun asset

Kaum pekerja harus membangun asset sedari muda. Asset apa? Membeli rumah memang merupakan asset, tanah, bangunan. Namun, karena focus saya sekarang adalah para analis ataupun pekerja laboratorium, asset yang paling nyata adalah menghimpun kompetensi/ilmu sesuai dengan bidang kerja yang ditekuni sekarang. Dan semua nantinya dapat dihimpun.

Bagaimana contohnya? Saya, di dunia kerja yang sekarang saya tekuni sebagai seorang sales application engineer instrument Raman, XRF, XRD, Thermal Analyzer, Particle Size Analyzer, dan seputar dunia sales marketing dan dunia pengujian atau analisis instrumental akan sharing terkait hal tersebut.

Sebagai informasi, saya telah membuatkan wadah sebagai asset digital kita di: www.lab.or.id, (meski dalam proses perbaikan tampilan dll, web tsb tetap bisa diakses) sehingga harapannya setiap sumbangsih kawan-kawan lintas kompetensi di dunia industry ataupun pendidikan bisa lebih terkoordinir dengan baik.

Maka, tugas pertama kita adalah: buat satu tulisan berisikan hal yang berkaitan dengan kompetensi kawan masing-masing. Suatu hal yang kawan-kawan tertarik dan merasa perlu untuk membaginya dengan yang lain. Bentuk tulisan bebas. Kalau sudah selesai kontak saya. Ingat, waktunya satu minggu ya, ditunggu hari sabtu depan. Saya juga mengerjakan hal yang sama sambil menyambung tulisan ini.

**

Bersambung…….

Sabtu, 27 Juni 2015, pkl 10.00-11.08

oleh:

Arynazzakka

ttd zakka

Iklan

2015: Apa yang bisa kita kerjasamakan di masa depan?

Theranos Lab

Theranos Lab

Ada sebuah kisah yang inspiratif dari seorang wanita muda dan cantik bernama Elizabeth Holmes. Ia merupakan Triliuner wanita paling muda di dunia saat ini setelah memutuskan keluar dari kampusnya Stanford University pada semester 3 (pada umur 19 tahun). Masuk dalam daftar orang terkaya nomor 111 di dunia dalam umurnya yang baru 30 tahun. Adalah perusahaan lab uji darah bernama Theranos yang mengantarkan dirinya seperti sekarang ini. Tujuan awalnya sangat mulia: ia ingin mempersingkat waktu pengujian darah dari pasien dari beberapa hari menjadi beberapa jam saja, dan yang biasanya mengambil darah dengan syringe (jarum suntik) yang membuat ngeri sebagian orang digantikan dengan satu kali jentikan yang hanya butuh 1-2 tetes darah saja untuk mengetahui hasil.

Seharusnya kita juga mampu. Bukan untuk menjadi Elizabeth Holmes selanjutnya, namun melampauinya. Satu-satunya jalan adalah membangun kerjasama di antara kita. Ya, kita harus merencanakan kerjasama untuk masa depan kita.

Masing-masing diantara kita telah memilih kegiatan atau pekerjaan yang berbeda, namun ada hal-hal yang membuat jalan hidup kita sama. Yang bekerja di laboratorium bagian Quality Control tentunya mendapatkan banyak pembelajaran mengenai teknik uji terkini dan lebih efisien dari yang pernah dipelajari sewaktu di kampus. Begitu pun bagian Quality Assurance, bagian Aplikasi, bagian operator alat, teknisi instrument, bahkan di bidang sales marketing.

Terkadang kita merasa nyaman dengan kondisi sekarang, yakni dengan pekerjaan yang kita jalani sekarang. Kesetiaan pada profesi, atau loyalitas perusahaan adalah penting. Hal lain yang juga lebih penting adalah kita juga bisa memberdayakan talenta-talenta masa depan: adik-adik kita yang juga akan menjalani profesi seperti kita sekarang. Sekali lagi, kita harus membuat kerjasama di masa depan: bisa jadi sebuah laboratorium uji, bisa jadi sebuah lembaga pelatihan kompetensi, bisa jadi sebuah lembaga sertifikasi, atau malahan sebuah industry.

Kilasan-kilasan berita yang terpampang dalam media massa baik Kompas, Tempo, Bisnis, DW DE dan lainnya menunjukkan potensi hilirisasi industry sangatlah besar, dan ini belum termasuk inovasi pengolahan dan inovasi produk akhir yang bisa dibuat. Ini potensi besar.

Selentingan-selentingan wacana mungkin saja pernah kita dengar, atau kita tahu di media social, bahkan terkadang dalam hati sendiri. Meski kini baru wacana, namun apabila kita bangun upaya terus menerus, maka wacana akan menjadi kerja nyata.

Saat ini saya sedang focus belajar selling dan marketing instrument berikut aplikasi beberapa instrument analisis: Thermal Analyzer (TG-DTA, DSC, TMA, TG-DTA-GC-MS/PIMS), Raman, Particle Size Analyzer, XRF dan XRD. Di lain hal juga belajar perdagangan internasional (ekspor, impor dan kelengkapannya). Bagaimana denganmu kawan?

Maka, kapan kita akan memulainya?

Puji Syukur pada Allah yang telah memberikan segala nikmat tak terhitung pada kita. Semoga kita selalu dapat bersyukur dengan mengoptimalkan nikmat yang telah diberikan oleh-Nya.

Di sela-sela meeting awal tahun, Cisarua, 12 Januari 2015

Arynazzakka

Salam Analis, Salam Kerjasama.