idealisme yang tergadai

 

Sebuah pengakuan

Sifat dasar manusia adalah ingin diperhatikan, ingin dihormati, dan salah satunya lagi adalah ingin diakui. Baik itu secara kekhasan yang dimiliki, kemampuan, ataupun prestasi.

Memang benar, yang namanya pengakuan merupakan salah satu wujud eksistensi yang salah satunya adalah untuk diteladani kebenarannya dan kebaikannya. Maka, ini pun dari dahulu manusia mengorganisasi dirinya dalam bentuk masyarakat, godaan akan perlunya pengakuan dari orang lain nyata adanya

sebuah Idealisme: gelora muda?

Idealisme, sebuah konsep ideal yang dicitakan dan menjadi sebuah orientasi dari kaum muda. Memang, kaum muda adalah mereka yang secara nyata dalam tindakan mengupayakan sikapnya yang bersih demi terwujudnya keadilan.

beberapa kali jika kita belajar dari sejarah, tak jarang dalam pihaknya sebagai pemuda penggerak perubahan yang anti kemapanan, idealisme adalah cita mutlak yang harus dicapai. Tapi sayang, seringkali, Idealisme ini hanya bertempat pada jiwa-jiwa yang muda.

Idealisme yang tergadai

Sistem yang berdosa akan melahirkan para pendosa yang masuk ke dalamnya, mulai dari merasa risih ketika di luar sampai pada menikmati ketika sudah sampai ke dalam. Begitu kiranya hal yang dapat menggambarkan sebuah sistem kotor dan penuh kepalsuan.

jika dikorelasikan dengan idealismenya pemuda, tentu akan sangat bertentangan. sementara sistem kotor tersebut ingin selalu berkubang dengan kepalsuaanya -tentunya dengan bantuan kroni-kroninya dan idealisme tetap dengan orientasi ingin membersihkan kotoran tersebuh.

Sayang, apalah daya, seringkali kita jumpai seorang yang telah memasuki sistem kotor dan berdosa itu akan mengikuti sistem tersebut dan menjadi pendosa baru -meskipun nurani menolak. Ya, nurani menolak, tapi raga tak bertindak melawan kelaliman.

Arynazzakka, analis Pergerakan Mahasiswa

Hidup Mahasiswa!!

Ex-Kim, technopreneur AKA

Enterpreneur, atau wirausaha memang kian populer di telinga kita. Bukan saja kata enterpreneur dikenal oleh kalangan elit atau pebisnis, namun juga marak dalam pembicaraan mahasiswa. Umumnya enterpreneur ini, seseorang dalam bahasa sederhanya menjual atau memasarkan sesuatu untuk mengambil keuntungan. Namun dunia kian maju, dan enterpreneur ini berkembang, mulai ada istilah writepreneur, yakni orang yang  menjadikan tulisan sebagai lahan memperoleh penghasilan, dan kini kita juga mengenal sebuah varian enterpreneur yang tidak asing lagi, technopreneur.

Apa sih technopreneur itu?

Technopreneur, gabungan dua kosa kata yaitu technology dan enterpreneur yang dipadukan kemudian membentuk kata technopreneur. Teknologi dan wirausaha, terlihat selama ini menjadi dua profesi yang berbeda. Bukan manusia kalau tidak bisa berkreasi dan menemukan celah untuk membuat dunia kita indah. Teknologi yang sarat dengan ilmu pengetahuan, bahkan umumnya hanya bisa dilakukan oleh orang yang telah merasakan pendidikan tinggi. Teknolog yang menjajakan barang hasil atau produknya. Ya, itulah technopreneur. Orang-orang yang berkreasi menghasilkan produk teknologi yang mampu diaplikasikan atau diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Suatu produk yang mampu mempermudah pekerjaan, suatu produk hasil olahan baru, suatu produk yang benar-benar menjadikan kenyataan apa yang sebelumnya hanya tervisualisasi di otak.

Analis, apa hubungannya?

Analis kimia, belajar bermacam-macam ilmu pengetahuan. Mulai dari analisa produk jadi sampai terkadang terkait ke proses pembuatan. Ini yang menjadi kunci. Pekerjaan analis yang menelusuri proses pembuatan suatu produk adalah potensi besar untuk menghasilkan produk lebih baik, lebih praktis.

Bidang ini tentunya sangat menyangkut banyak cabang ilmu pengetahuan, mulai dari fisika, biologi, lingkungan, pangan, dan kemudian sampai pula pada energi.

Analis, bisa buat produk apa?

Dari ilmu yang telah didapat, dari tingkat awal sampai tingkat akhir, kita diajarkan berbagai macam sub bidang dari ilmu kimia itu sendiri. Mulai dari kimia organik, kimia anorganik, kimia lingkungan, mikrobiologi, analisis fisik, kimia pangan, kimia farmasi, kimia polimer sampai pada kimia petroleum. Ini semua, sekali lagi, merupakan bahan mentah yang variatif yang cukup untuk diolah menjadi sebuah produk tepat guna dan aplikatif.

Mengingat juga sebagai mahasiswa diploma yang diunggulkan kompetensinya atau keahliannya pada terapan produk –tidak sekadar teoritis, tentunya adalah sebuah harapan besar untuk bisa merealisasikannya. Dalam bidang pangan kita dapat mengambil contoh pembuatan yoghurt dari susu kedelai, yoghurt dari kulit pisang. Ataupun dalam lingkungan kita bisa mengaplikasikan teknik pengolahan limbah sehingga dengan demikian dapat mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Energipun begitu, secara praktis dan mudah ditiru kita mampu membuat suatu energi alternatif semisal briket ataupun metana hasil dari kotoran hewani sehingga yang tadinya limbah bisa menjadi rupiah.

Technopreneur, jalan tol menuju wirausaha intelektual

Sinergisme intelektual dan logika perut rakyat, begitulah kira-kira sebuah solusi yang dilontarkan oleh Arya Shandy Yuda, seorang aktivis tahun 2000-an. Tri Dharma perguruan tinggi mengarahkan kita dalam tiga hal yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Selama ini, dalam ranah pengabdian, pendekatan yang kita pakai cenderung klasik dan itu-itu saja. Misalkan dalam melakukan pendekatan kepada masyarakat dalam usaha membantu pula, seringkali kita hanya mampu mengadakan sembako gratis, pasar murah masyarakat, dan hal lain yang tentu bisa dibilang kurang kreatif. Pendekatan ini juga seringkali membuat masyarakat manja karena merasa diberi, tanpa ada titik tekan memacu kerja dan kreativ dari masyarakat.

Dengan semakin konsistennya mahasiswa terhadap gerakan technopreneur ini –tanpa memparsialkannya dengan gerakan sosial lain ataupun gerakan advokasi audiensi yang lebih menjurus aksi vertikal, keyakinan gerakan mahasiswa akan ruh gerakan barunya tidaklah khayal menjadi patron gerakan mahasiswa era ini.

Memang tak selamanya aksi harus turun ke jalan,

Tak dipungkiri juga untuk bisa menuntaskan permasalahan masyarakat,

Namun, kami –mahasiswa, adalah peduli

Kami coba apa yang dapat kami lakukan

Karena kontribusi adalah bahasa perjuangan kami,

Dimanapun itu, HIDUP MAHASISWA

Oleh: Arynazzakka (Presiden Mahasiswa IMAKA 2012-2013)

*penulis aktif menulis di blog wordpress, analis gerakan mahasiswa, koordinator BEM se-Bogor 2012

Bangga aku jadi aktivis

Bangga aku, kawan

Terhadap satu gelar ini

Aktivis, seorang yang aktif

Memberi dan menginspirasi

Memotivasi dan menunjukkan prestasi

 

Ya, aktif

Aktif adalah sifat aktivis

Bukan pasif, karena

Pasif adalah senang

Diberi, dan diinspirasi

Dimotivasi

 

Bangga aku, kawan ketika

Mahasiswa menjadi labelku

Dan kata aktivis mengikutiku

Aku bukan mahasiswa yang hanya berhura-hura

Bukan juga mahasiswa yang terlalu banyak waktu luang

Bukan juga mahasiswa yang terus-terusan diam dikosan

Karena tidak ada pekerjaan

Bangga aku kawan

Jika mahasiswa biasa begitu bangganya bertemu pejabat

Pejabat kampus dalam civitas akademika

Namun, ku dapat lebih dari itu

Pejabat daerah jadi kawanku setiap waktu

Bahkan pejabat nasional bersapa aku tebiasa

 

Bangga aku kawan

Ketika mahasiswa hanya bisa berjumpa Master atau magister

Maka aku dengan mudah berjumpa dengan doktor Profesor

 

Bangga aku kawan seandainya engkau tahu

Apa yang sedang aku pikirkan

Bahkan aku ingin engkau merasakan

Pengalaman positif yang aku alami

Berdebat dan diskusi tiada henti

Berbicara tentang rakyat yang nafasnya terengah

Menunggu sang pahlawan dunia

Meski pengetahuanpun belum seberapa

 

Tapi ini tentang rasa

Bagaimana jiwa ini ikut iba

Tentang penderitaan miskin papa

Oh, aku harap engkau segera tahu kawan

Ini bukan tentang ingin jadi jagoan

Bukan juga mengharap sebuah imbalan

Apalagi sekadar terima kasih sebagai ucapan

Ini tentang perjuangan

 

AKTIF itu BAIK, maka jadilah AKTIVIS!!

 

oleh: Arynazzakka

analis pergerakan mahasiswa, mahasiswa AKA Bogor