Advokasi anggaran sebagai masa depan gerakan

anggaranParadox alokasi APBD untuk kongres HMI

Kongres HMI ke 29 yang menggunakan anggaran pemda Riau sebesar 3 Milyar mendapat kecaman dari berbagai pihak. Alasan-alasan dikemukakan baik atas dalih tidak mampunya mahasiswa dalam mempertanggungjawabkan dana yang besar itu, adanya isu penggelapan dana, bahkan sampai pada tidak etisnya penggunaan dana untuk kongres tersebut yang nominalnya jauh di atas alokasi anggaran untuk menghadapi “bencana nasional” kabut asap beberapa waktu yang lalu.

Alokasi APBD untuk kongres HMI memang paradox, sebuah prestasi sekaligus ironi. Disebut prestasi karena untuk menggoalkan alokasi dana untuk kongres yang hasilnya tidak dapat dinikmati langsung, angka “dana rakyat” 3 Milyar terbilang fantastis. Apalagi ditambah fakta bahwa tidak semua organ pergerakan kemahasiswaan memiliki kompetensi untuk “mengakses dana” seperti itu. Di lain pihak, disebut ironi karena  justru “kompetensi mengakses dana” tersebut, atau yang lebih elegan disebut dengan “advokasi anggaran” justru senyap dalam permasalahan-permasalahan nyata yang sedang dihadapi oleh masyarakat, sebagai contoh kabut asap, kekeringan lahan pertanian, perang terhadap rentenir dengan melakukan pendampingan usaha bersama ahli, ataupun kolaborasi dengan para pakar atau peneliti yang hasil penelitiannya sebetulnya sangat bermanfaat dan penting untuk masyarakat namun terganjal birokrasi ataupun kurangnya dukungan dari negara (mobil listrik sebagai salah satu contohnya).

Kebekuan wacana dan aksi pergerakan

Saya yakin, tidak sedikit yang mendukung pernyataan saya bahwa pergerakan mahasiswa di Indonesia beberapa tahun terakhir sampai saat ini mengalami kebekuan wacana dan aksi pergerakan. Kebekuan wacana dan aksi pergerakan ini dapat dilihat dari tidak adanya SATU pun tokoh pergerakan mahasiswa yang muncul dengan membawa solusi-solusi dan ide-ide untuk perbaikan bangsa. Dua tahun terakhir saya coba ketikkan di Google keyword “tokoh muda Indonsia”, ternyata yang muncul adalah nama Anies Baswedan, atau Budiman Sudjatmiko, dan nama-nama yang justru dianggap “senior”. Lebih parah lagi ketika diketikkan keyword “tokoh mahasiswa”, yang muncul lagi-lagi justru tokoh masa lalu, “Soe Hok Gie”. Tes kecil tersebut memang tidak representative, namun dapat dianggap tes kecil yang menunjukkan bahwa pergerakan mahasiswa masih mengalami kebekuan dan “linglung”.

Membicarakan pergerakan mahasiswa, nama-nama besar organisasi di kalangan aktivisnya pasti sudah saling mengenal, baik organisasi intrakampus BEM maupun nama besar organisasi ekstrakampus HMI, GMNI, KAMMI, PMKRI, GMKI, dan lain-lain. Dalam kondisi sekarang, memang pada faktanya organisasi-organisasi besar tersebut tidak “diam”. Ada yang masih berorasi di jalan sebagai parlemen jalanan. Ada juga yang berkeliaran dan membangun relasi dengan para birokrat, politisi, atau dengan LSM lainnya. Namun sekali lagi, nyaringnya bunyi-bunyian di jalan, ataupun lekatnya jalan-jalan bersama para birokrat dan politisi tersebut, tidak membuat aktivis dari organisasi-organisasi besar tersebut melakukan sesuatu yang berpengaruh bagi masyarakat, lebih-lebih berpengaruh pada kebijakan negara.

Hal ini sungguh berbeda dengan “perjuangan nyata” para pendahulunya. Sebagai contoh saya sebutkan Bp Alm Koesnadi Hardjosoemantri. Ketika beliau aktif dalam Dewan Mahasiswa 1955, melihat kondisi daerah-daerah masih banyak tertinggal dalam hal pendidikan, maka beliau bersama rekan-rekannya mengusulkan kepada pemerintah waktu itu untuk menyebar mahasiswa tingkat menengah atau akhir untuk pergi dan mengajar di daerah-daerah sebagai wujud bakti Tri Dharma Perguruan Tinggi juga pengabdian langsung untuk masyarakat yang telah membantunya sehingga dapat mengenyam pendidikan tinggi. Ide cemerlang tersebut lantas dijadikan program nasional untuk perguruan tinggi yang kini dikenal dengan nama Kuliah Kerja Nyata (KKN). Program nasional ini tentunya menggunakan anggaran nasional. Dalam tindakan seperti inilah (meski yang dilakukan oleh alm Prof Koesnadi Hardjosoemantri secara tidak langsung), “advokasi anggaran” oleh para kaum pergerakan menjadi penting, dan membela kepentingan rakyat.

Advokasi anggaran sebagai masa depan pergerakan

Perihal advokasi anggaran, buku dan pedoman yang ditulis sudah sangat banyak.  Baik advokasi anggaran tingkat daerah, nasional, bahkan sampai pada desa. Para kaum pergerakan pun sudah banyak yang mempraktikan, memberikan teladan, dan tulus dalam membela kepentingan rakyat. Meski sayangnya, kaum pergerakan yang saya maksud terakhir adalah para aktivis LSM.

Adapun, pergerakan mahasiswa masih sedikit yang memahami lebih-lebih menjalankan tipe gerakan advokasi anggaran. Diantara alasan-alasan yang menyelimuti antara lain tuduhan-tuduhan masuknya pergerakan mahasiswa dalam ranah politik, indikasi pergerakan mahasiswa yang haus akan uang, main proyek, dan lain sebagainya.

Gerakan advokasi anggaran disebut-sebut adalah tawaran medan baru yang tak pernah dijumpai pada masa lalu, sebut saja Soe Hok Gie, Cosmas Batubara, Akbar Tandjung, Hariman Siregar, Rizal Ramli, Anies Baswedan, Budiman Sudjatmiko, Anas Urbaningrum, hingga Anis Matta sekalipun. Gerakan advokasi anggaran adalah identias baru, demikian dalam pandangan Alamsyah Saragih (mantan KIP).

Penutup untuk KAMMI

Indonesia sebagai negara terbesar ASEAN dan negara yang paling diperhitungkan dunia sedang mengalami perkembangan kelas menengah yang signifikan, juga ditandai dengan banyaknya para professional yang kompeten di bidangnya, pembangunan infrastruktur yang luar biasa, geliat peneliti yang tak kalah semangatnya, masyarakat yang semakin melek teknologi dan informasi, juga diiringi oleh jutaan informasi yang saling bertentangan, kehebohan politik di pemerintahan, masih kurangnya support untuk riset, ketimpangan social ekonomi yang masih tinggi, disertai dengan “kebekuan wacana dan aksi pergerakan mahasiswa” karena dinilai tidak membumi, dan tidak memiliki solusi-solusi real dalam mengatasi persoalan.

Seluruh program pemerintah baik pusat ataupun daerah selalu identik dengan anggaran yang memiliki siklus tetap meski dengan rangkaian proses yang panjang dan melelahkan untuk diikuti. Semakin terprogramnya pemerintah dalam melaksanakan program berdasarkan perencanaan yang sistematis harus diiringi dengan kemampuan aktivis pergerakan untuk mengawasi secara sistematis pula, serta memberikan solusi yang tepat guna bagi permasalahan daerah maupun nasional sehingga basis DATA yang dimiliki menjadi dasar kuat untuk sebuah perjuangan yang mengatasnamakan rakyat.

Cara-cara bergerak bukan lagi hanya dari sumbangan donatur, aksi galang dana di jalan, dana kepemudaan pemda.

Mahasiswa-mahasiswa yang tidak pernah tergabung dalam pergerakan mahasiswa (sebagai individu) kini sudah banyak yang mampu menciptakan solusi-solusi real di masyarakat dengan kemampuan cipta intelektual berupa teknologi yang ekonomis, ataupun kemampuan menggerakkan masyarakat untuk bangkit bersama mengatasi masalah yang dialami masyarakat itu sendiri. Jangan sampai justru para aktivis pergerakan terjebak dengan gerakan “konvensional” membuatnya kalah saing dalam memberikan solusi dari individu-individu seperti tersebut di atas.

Buku “Ijtihad membangun Basis Gerakan” sejak 2010 telah menawarkan solusi sedemikian rupa sebagai bentuk pergerakan, lantas kenapa masih terombang-ambing?

Jakarta, 22 November 2015

ZK

KP PD KAMMI Bogor 2013-2015

Interdependence, kesalingtergantungan

Independence, Kemandirian yang kini kita puji

Kemandirian adalah suatu kata yang menarik bagi siapapun. Bagi pemuda yang baru saja lulus kuliah, bagi organisasi yang sering anggotanya sering bertikai mengenai sikap organisasi, ataupun dalam wacana kebangsaan sebagai persepsi sebuah “keunggulan” ataupun kesejajaran dengan bangsa lain: kemandirian bangsa.

Bai seorang pemuda yang baru saja lulus kuliah, pilihan kemandirian biasa akan mengacu pada kemampuan diri untuk memiliki usaha sendiri sehingga juga mampu membuka lowongan pekerjaan, bukan mencari lowongan pekerjaan.

Bagi organisasi, kemandirian biasanya diukur dari upaya menentukan sikap dan arah organisasi tanpa dipengaruhi pihak manapun yang bukan berasal dari anggota organisasi (internal organisasi) sendiri. Kemandirian dilihat berdasarkan agenda-agenda yang dibuat dan diselenggarakan secara sendiri yang menunjukkan jati diri organisasi (atau simbol organisasi).

Bagi bangsa, kemandirian biasanya diidentikkan dengan kemampuan bangsa sendiri untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, dan hal-hal lain yang dibutuhkan dengan catatan: dikerjakan sendiri, selain juga penentuan sikap dan masa depan bangsa yang tidak mau dicampuri oleh “asing”.

Kemandirian, sebagai ekspresi dari “kemerdekaan” lantas mendapatkan tempat yang tinggi dalam persepsi kita. Seakan kemandirian adalah tujuan tertinggi, seakan kemandirian adalah bentuk utama dari sebuah perlawanan terhadap ketergantungan.

Bukankah kemandirian yang demikian adalah sebuah sikap yang reaktif? Sikap yang merupakan reaksi dari sebuah perlawanan terhadap ketergantungan? Lantas, sikap apalagi yang seharusnya kita miliki dan kita jadikan landasan efektif dalam pencapaian sebuah tujuan?

Interdependence, kesalingtergantungan yang sering kita abaikan

Secara umum usaha manusia memang diarahkan dari ketergantungan menuju kemandirian. Maka, setiap manusia yang lahir dan berusaha mencapai cita-citanya berusaha melepaskan diri dari ketergantungan-ketergantungan yang membelenggu hidupnya.

…..bersambung (dulu)

MEMETAKAN KEPENTINGAN

Kita yang menempati posisi tertentu dalam suatu kepengurusan wajib memetakan kepentingan kita. Memetakan kepentingan berarti membuat target jaringan terhadap pemangku kepentingan sesuai dengan bidang yang kita tempati. Sebagai contoh, apabila kita berada pada bidang sosial, maka seluruh pemangku kepentingan bidang sosial harus dekat dengan kita dan menjadi jaringan organisasi kita sehingga kita dapat berinteraksi secara intens.

 

Pengantar diskusi pembangunan Bogor 2014-

Pembangunan dan Anggaran

NOTULENSI KEBIJAKAN PUBLIK 2013-2015

DISKUSI PERAN PEMUDA dalam GLOBALISASI. Tempat: Sekre GMNI Cabang Bogor

Peserta KAMMI: Muh. Firmansyah , Arynazzakka, Rasoki Martua, Imran

Moderator: Jan Patrice (Jurnal Nasional), Bima Arya (Walikota Bogor terpilih), Iwan (KPA)

Isi Diskusi:

PENYAMPAIAN AWAL:

Sumpah pemuda harus menjadi refleksi kepemimpinan pemuda dalam membangun gerakan. Banyaknya gerakan yang berorientasi pada politik uang perlu disingkirkan jauh dalam gerakan mahasiswa karena berdampak pada sikap yang akan dibawa ketika benar-benar menjadi pemangku kepentingan di pemerintahan kelak.

Contoh format baru dalam refleksi sumpah pemuda adalah kemah kepemimpinan. Selain membina para kader, juga dapat diisi di dalamnya terjun langsung pada masyrakat, contohnya bersama masyarakat membersihkan sungai. (ini dilakukan tagana).

Kota bogor nantinya akan dijadikan 1kota cyber. Memberdayakan siswa SMK untuk mempromosikan jasa dan pariwisata di Bogor.

Pada intinya, untuk pemuda: kuatkan kompetensi sehingga aktivis gerakan tidak hanya “menjadi tukang palak”, dan bisa hidup meski nanti ketika menjadi politisi berhenti dari jabatan-jabatan politik. Dengan kompetensi kita tidak mencari nafkah di ranah politik karena dengan kompetensi kita bisa mencari nafkah dengan kompetensi kita, sementara dalam politik adalah tempat memperjuangkan rakyat. _BIMA ARYA

Globalisasi pada dasarnya telah lama terjadi. Contohnya jalur sutera. Namun, yang membedakan sekarang adalah globalisasi telah terinstitusikan. Indonesia dikatakan tidak siap menghadapi globalisasi. Penyebab utamanya reforma agraria tidak diterapkan. Dengan reforma agraria, dapat menciptakan bank Tani. Di Thailand, dengan reforma agraria dapat mengganti petani yang dulunya menanam opium, menjadi mawar.

Konsep agraria perkotaan dinamakan urband land reform. _IWAN

Hasil diskusi dua arah:

Setelah dilantik, Bima Arya akan melakukan 2renegoisasi terhadap semua kebjakan  yang berpotensi melanggar perda dengan pihak ke-3 yang terlibat dalam perjanjian. Amaroossa kalau bisa diratakan dengan tanah. Peraturan indonesia masih menyedihkan karena belum ada peraturan yang mengatur masa tenggang transisi kepemimpinan sehingga pemerintah incumbent dapat berbuat apa saja. 3Pendataan aset juga akan dilakukan, yang meliputi upaya 4pembuatan ruang terbukan hijau sebesar 20%, Bogor 5sebagai kota pendidikan, jasa, dan pariwisata.

Dalam upaya membentuk karakter terhadap pemuda/pelajar, akan 6dibuat MoU dengan perusahaan atau berbagai lembaga yang dapat memberikan beasiswa. Pemuda juga akan diberikan 7ruang kreasi anak muda.

*NOTULENSI 28 Oktober 2013

Hadiah untukmu

1 Muharrom. Tahun Baru Islam. Alhamdulillah, akhirnya terbit juga buku “Sampah Pemikiran Mahasiswa” edisi PDF atau softcopy. Semoga bisa menjadi secuil inspirasi kesadaran diri, gerakan, dan juga komitmen akan pejuangan hidup.

SAMPAH PEMIKIRAN MAHASISWA (klik untuk download)

sampah pemikiran mahasiswa

DAFTAR ISI:

Kepadamu pemikiran ini kusampaikan.....................   1
Pembelajar seumur hidup.........................................    2
AKA: apa yang kita perjuangkan.............................     6
Tugas ini menantimu:...............................................    12
  • Dilema pendidikan vokasi Indonesia……………     15
  • Analis betapa bodohnya kita……………………….    20
  • Kebangkitan gerakan mahasiswa perindustrian   25
Serial kepemimpinan:
  • Khalifah fil ardh: #1……………………………………     27
  • Khalifah fil ardh: #2…………………………………..     34
  • Khalifah fil ardh: #3……………………………………     37
Sebuah upaya menumbuhkan kesadaran mahasiswa  41
Diagram aktivis mahasiswa.......................................     47
Platform mahasiswa AKA........................................     50
Yang berserakan:
  • Membangun motivasi pemuda dan karakter
Keindonesiaan.................................................      53
  • Perempuan: pendidik sejati generasi penerus
Bangsa..............................................................       57
  • Perkembangan Analisis Kimia dan
Perbandingan Mahasiswa Diploma Analis dan
SMK................................................................        63
  • Hubungan mahasiswa-direktorat AKA………      67
  • Satu Minggu Efektif………………………………….       72
  • Prosedur kerja: antara contekan dan keharusan
  • Dosa mahasiswa
  • Cerita bodoh organisasi mahasiswa
  • Membumilah……………………………………………      90
  • Pedoman Pengenalan Kampus AKA…………..     96
  • Daulat Mahasiswa……………………………………….   102
  • Budi Oetomo: Pelopor Kebangkitan Nasional?  107
  • Mahasiswa dan pembinaan diri………………………. 112
  • Etika Profesi Analis Kimia…………………………….. 119
Sumpah Mahasiswa Indonesia.................................    122
Inilah medan yang sebenarnya.................................   123
Ini Mimipiku kawan.................................................    128
Tentang Penulis.......................................................      134

 

Semoga Allah selalu membimbing kita dalam hidup. Karena Hidup adalah tentang Kebermanfaatan.

Arynazzakka.

apa tugas gerakan mahasiswa bernama KAMMI?

Logo BOgor kotaDinamika politik Bogor semakin lama akan mencapai puncaknya hingga 2014. Berpaling sejenak dari isu permasalahan nasional, KAMMI Bogor yang telah memiliki walikota terpilih bersiap mengawal segala tawaran konsep perbaikan kota Bogor.

Masalah yang sedang santer terlontar di Bogor adalah liarnya perizinan bangunan. Kita mengetahui Amaroossa yang merusak pemandangan tugu kujang, makin maraknya mall, dan yang terakhir adalah sengketa terkait “optimalisasi” terminal Baranang Siang. Sebagai aktivis gerakan, tuntutan gerakan membimbing kita menolak segala bentuk kebijakan pemkot Bogor yang melanggar tata ruang yang melanggar perda (sesuai rencana tata ruang kota Bogor 2031).

Sebagian besar dari kita sebagai kader KAMMI mungkin saja prihatin dan ingin bergerak jika mengetahui hal tersebut di atas. Namun, menyikapi permasalahan di atas, seringkali eksekusi isu cenderung hanya dimiliki (atau diminati) kaum elit pengurus KAMMI. Beberapa diantaranya karena adanya ketabuan gerakan dalam menafsirkan “transaksi gerakan” yang bersifat pragmatis, ataupun pertimbangan efiensi waktu eksekusi. Akibat hal ini, maka seringkali –sekali lagi, eksekusi hanya dimiliki kaum elit pengurus. Hal ini dapat menimbulkan gap atau jurang pemisah pencerdasan mengenai “bagaimana” gerakan dijalankan.

Maka kemudian, tugas gerakan KAMMI bukan sekedar sukses melakukan eksekusi gerakan dan tepat sasaran isu yang telah menjadi target utama. Membuat kader secara merata mengetahui bagaimana gerakan dijalankan, menggerakkan kader untuk turut bersama melakukan eksekusi persiapan dari pelaksanaan isu, termasuk mencari bahan (bisa berupa silaturahmi atau audiensi dengan orang atau kelompok kepentingan) adalah tugas wajib KAMMI sebagai pengejawantahan pengkaderan. Hal ini dengan catatan, harus ada tranparasi hasil apa saja yang diperoleh dalam silaturahmi/audiensi berupa pemberitahuan kepada kepala departemen terkait atau ketua umum sehingga dapat diketahui oleh semua kader –terkecuali hal-hal yang memang pada dasarnya boleh diketahui kader dengan kualifikasi tertentu.

Kader KAMMI harus dekat dengan semua pemangku kepentingan di Bogor, sehingga “jaringan politik” KAMMI tidak hanya dimiliki oleh elit pengurus saja karena dapat berpotensi adanya manuver personal. Semoga tidak terjadi.

Kepala Departemen Kebijakan Publik PD KAMMI Bogor 2013-2015

Pembelajar seumur hidup (1)

Oleh: Arynazzakka*

Untukmu yang sedang mencari jati diri, atau yang sedang mengembangkan kapasitas dan kualitas diri, tulisan ini tertuju padamu, juga pada diriku

Menengok diri

siapa kenal dirinya, maka kenal Tuhannya

Mendengar kata ‘belajar’, sebagian besar dari kita langsung akan tertuju pada sekolah.Sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dan juga perguruan tinggi. Dalam kondisi ini, kita mendefinisikan belajar sama dengan sekolah, atau  kita membatasi bahwa belajar itu hanyalah hal-hal yang berhubungan dengan pelajaran-pelajaran yang diajarkan di sekolah untuk diujikan dalam ujian.

“ujian tulisan hanya bagian kecil dari ujian kehidupan”

Sebagai contohnya, ketika menjelang ujian tengah dan akhir semester, seringkali kita mengeluh, “ah, belum belajar, euy? Mana nilai ujian kemaren kecil lagi.” Namun ketika menghadapi persoalan kehidupan, baik itu masalah kepribadian diri tentang masalah sosial, finansial, ataupun agama, jarang sekali dan bahkan tidak pernah kita anggap sebagai bahan belajar.

Kita tengok sholat kita. Misalkan sholat subuh sering kesiangan, kita tidak menjadikan hal itu sebagai sesuatu yang harus kita perbaiki di subuh berikutnya, layaknya belajar kita dari ujian tengah semester ke ujian akhir semester. Atau juga misalkan kepribadian diri kita yang tertutup dan kurang suka bergaul (lebih suka menyendiri), jarang sekali kita berfikir bagaimana caranya dari hari ke hari kita belajar untuk semakin pandai bergaul.

Sekolah (institusi pendidikan) hanya sekedar alat

“sekolah sejatinya adalah alat untuk mensistematisasi pengetahuan agar pengetahuan itu mudah dipahami dan dimengerti”

Penting bagi kita memahami bahwa insitusi pendidikan (SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, dan PT) hanyalah alat untuk mendekatkan kita pada ilmu –agar kita memahami ilmu. Maka, ketika kita telah memandang institusi pendidikan bukan satu-satunya alat, kita akan mencari ‘alat-alat’ lain yang mampu mendekatkan kita pada sumber ilmu. Prinsipnya sederhana: murid-guru. Kita sebagai murid dan selanjutnya kita butuh guru, guru yang mengajari ilmu yang kita butuhkan.

“….institusi pendidikan bukan satu-satunya alat, maka kita mencari ‘alat-alat’ lain lain yang mampu mendekatkan kita pada sumber ilmu. Sederhana: cari guru!”

Selanjutnya, sebagai pembelajar seumur hidup, kita tidak lagi memperdulikan guru dari segi umur, dari segi jenis kelamin, namun dari segi kapasitas –belajar dari ahlinya agar tidak sesat karenanya. Meski, sebagai pembelajar seumur hidup, kita juga harus pandang ilmu sebagai objek (apa yang dibicarakan) bukan subjek (siapa yang berbicara. Pada kondisi ini, bisa jadi seseorang pada satu waktu menjadi murid dan pada waktu yang lain menjadi guru. Misalkan, si A berguru bahasa Arab pada si B pada satu waktu, dan si B pun berguru pidato (public speaking) pada si A karena si A pandai pidato dan si B pandai bahasa Arab.

“…bisa jadi di kelas kita sebagai guru yang mengajar murid,namun ketika di luar kelas kita belajar dari murid kita karena kita tahu ia lebih mengetahui. Karena tidak ada keangkuhan dalam jiwa pembelajar seumur hidup”

Alat-alat untuk mendekatkan sumber ilmu yang lain adalah perkumpulan-perkumpulan baik yang bersifat mengikat (seperti organisasi) atau tidak mengikat (komunitas). Maka dalam jiwa pembelajar seumur hidup, tidaklah menjadi soal ketika dalam sekolah formal ia menuntut ilmu kimia di kelas sementara cita-citanya adalah Presiden direktur percetakan buku dan media masa. Atau juga, tidak menjadi soal jika seseorang terdaftar di sebuah perguruan tinggi dengan jurusan matematika namun ia mencurahkan sebagian besar waktunya mempelajari dan mempraktikan ilmu-ilmu manajemen dan sosial, karena cita-citanya adalah gubernur –yang akan memimpin dan mengatur masyarakat menuju adil sejahtera.

Maka dari itu, sudah saatnya kita pandang seluruh lingkungan sekitar kita adalah medan belajar. Insitusi pendidikan yang berwujud sekolahan hanyalah satu diantara banyak alat yang dapat kita gunakan untuk mendekatkan diri pada ilmu –sehingga belajar bukan lagi diartikan sebatas di ruang kelas, di laboratorium. Apa yang kita jumpai dan dimanapun kita, itulah laboratorium dan ruang kelas kita sebagai medah belajar. Saya selalu mencoba untuk melakukannya, kamu?

Salam pembelajar seumur hidup!

*penulis merupakan mahasiswa AKA Bogor angkatan 2010, sangat berminat dalam hal #Kepemimpinan dan Pengembangan diri dan semua bidang ilmu pengetahuan, bercita-cita menjadi ketua IKA-AKAB 2032 dan mendirikan Masyarakat Analis Kimia Indonesia, Ahli Teknik Kimia 2021 (akademis), Menteri Penerapan Teknologi 2039 (politik), Menteri Perindustrian 2044 (politik), Presiden Direktur Koran Mahasiswa Indonesia (wirausaha). Berniat mengajar di AKA Bogor  pada 2022 bidang Fisika, Capita Selecta Kimia, dan Eksperimen Kimia.