Advokasi anggaran sebagai masa depan gerakan

anggaranParadox alokasi APBD untuk kongres HMI

Kongres HMI ke 29 yang menggunakan anggaran pemda Riau sebesar 3 Milyar mendapat kecaman dari berbagai pihak. Alasan-alasan dikemukakan baik atas dalih tidak mampunya mahasiswa dalam mempertanggungjawabkan dana yang besar itu, adanya isu penggelapan dana, bahkan sampai pada tidak etisnya penggunaan dana untuk kongres tersebut yang nominalnya jauh di atas alokasi anggaran untuk menghadapi “bencana nasional” kabut asap beberapa waktu yang lalu.

Alokasi APBD untuk kongres HMI memang paradox, sebuah prestasi sekaligus ironi. Disebut prestasi karena untuk menggoalkan alokasi dana untuk kongres yang hasilnya tidak dapat dinikmati langsung, angka “dana rakyat” 3 Milyar terbilang fantastis. Apalagi ditambah fakta bahwa tidak semua organ pergerakan kemahasiswaan memiliki kompetensi untuk “mengakses dana” seperti itu. Di lain pihak, disebut ironi karena  justru “kompetensi mengakses dana” tersebut, atau yang lebih elegan disebut dengan “advokasi anggaran” justru senyap dalam permasalahan-permasalahan nyata yang sedang dihadapi oleh masyarakat, sebagai contoh kabut asap, kekeringan lahan pertanian, perang terhadap rentenir dengan melakukan pendampingan usaha bersama ahli, ataupun kolaborasi dengan para pakar atau peneliti yang hasil penelitiannya sebetulnya sangat bermanfaat dan penting untuk masyarakat namun terganjal birokrasi ataupun kurangnya dukungan dari negara (mobil listrik sebagai salah satu contohnya).

Kebekuan wacana dan aksi pergerakan

Saya yakin, tidak sedikit yang mendukung pernyataan saya bahwa pergerakan mahasiswa di Indonesia beberapa tahun terakhir sampai saat ini mengalami kebekuan wacana dan aksi pergerakan. Kebekuan wacana dan aksi pergerakan ini dapat dilihat dari tidak adanya SATU pun tokoh pergerakan mahasiswa yang muncul dengan membawa solusi-solusi dan ide-ide untuk perbaikan bangsa. Dua tahun terakhir saya coba ketikkan di Google keyword “tokoh muda Indonsia”, ternyata yang muncul adalah nama Anies Baswedan, atau Budiman Sudjatmiko, dan nama-nama yang justru dianggap “senior”. Lebih parah lagi ketika diketikkan keyword “tokoh mahasiswa”, yang muncul lagi-lagi justru tokoh masa lalu, “Soe Hok Gie”. Tes kecil tersebut memang tidak representative, namun dapat dianggap tes kecil yang menunjukkan bahwa pergerakan mahasiswa masih mengalami kebekuan dan “linglung”.

Membicarakan pergerakan mahasiswa, nama-nama besar organisasi di kalangan aktivisnya pasti sudah saling mengenal, baik organisasi intrakampus BEM maupun nama besar organisasi ekstrakampus HMI, GMNI, KAMMI, PMKRI, GMKI, dan lain-lain. Dalam kondisi sekarang, memang pada faktanya organisasi-organisasi besar tersebut tidak “diam”. Ada yang masih berorasi di jalan sebagai parlemen jalanan. Ada juga yang berkeliaran dan membangun relasi dengan para birokrat, politisi, atau dengan LSM lainnya. Namun sekali lagi, nyaringnya bunyi-bunyian di jalan, ataupun lekatnya jalan-jalan bersama para birokrat dan politisi tersebut, tidak membuat aktivis dari organisasi-organisasi besar tersebut melakukan sesuatu yang berpengaruh bagi masyarakat, lebih-lebih berpengaruh pada kebijakan negara.

Hal ini sungguh berbeda dengan “perjuangan nyata” para pendahulunya. Sebagai contoh saya sebutkan Bp Alm Koesnadi Hardjosoemantri. Ketika beliau aktif dalam Dewan Mahasiswa 1955, melihat kondisi daerah-daerah masih banyak tertinggal dalam hal pendidikan, maka beliau bersama rekan-rekannya mengusulkan kepada pemerintah waktu itu untuk menyebar mahasiswa tingkat menengah atau akhir untuk pergi dan mengajar di daerah-daerah sebagai wujud bakti Tri Dharma Perguruan Tinggi juga pengabdian langsung untuk masyarakat yang telah membantunya sehingga dapat mengenyam pendidikan tinggi. Ide cemerlang tersebut lantas dijadikan program nasional untuk perguruan tinggi yang kini dikenal dengan nama Kuliah Kerja Nyata (KKN). Program nasional ini tentunya menggunakan anggaran nasional. Dalam tindakan seperti inilah (meski yang dilakukan oleh alm Prof Koesnadi Hardjosoemantri secara tidak langsung), “advokasi anggaran” oleh para kaum pergerakan menjadi penting, dan membela kepentingan rakyat.

Advokasi anggaran sebagai masa depan pergerakan

Perihal advokasi anggaran, buku dan pedoman yang ditulis sudah sangat banyak.  Baik advokasi anggaran tingkat daerah, nasional, bahkan sampai pada desa. Para kaum pergerakan pun sudah banyak yang mempraktikan, memberikan teladan, dan tulus dalam membela kepentingan rakyat. Meski sayangnya, kaum pergerakan yang saya maksud terakhir adalah para aktivis LSM.

Adapun, pergerakan mahasiswa masih sedikit yang memahami lebih-lebih menjalankan tipe gerakan advokasi anggaran. Diantara alasan-alasan yang menyelimuti antara lain tuduhan-tuduhan masuknya pergerakan mahasiswa dalam ranah politik, indikasi pergerakan mahasiswa yang haus akan uang, main proyek, dan lain sebagainya.

Gerakan advokasi anggaran disebut-sebut adalah tawaran medan baru yang tak pernah dijumpai pada masa lalu, sebut saja Soe Hok Gie, Cosmas Batubara, Akbar Tandjung, Hariman Siregar, Rizal Ramli, Anies Baswedan, Budiman Sudjatmiko, Anas Urbaningrum, hingga Anis Matta sekalipun. Gerakan advokasi anggaran adalah identias baru, demikian dalam pandangan Alamsyah Saragih (mantan KIP).

Penutup untuk KAMMI

Indonesia sebagai negara terbesar ASEAN dan negara yang paling diperhitungkan dunia sedang mengalami perkembangan kelas menengah yang signifikan, juga ditandai dengan banyaknya para professional yang kompeten di bidangnya, pembangunan infrastruktur yang luar biasa, geliat peneliti yang tak kalah semangatnya, masyarakat yang semakin melek teknologi dan informasi, juga diiringi oleh jutaan informasi yang saling bertentangan, kehebohan politik di pemerintahan, masih kurangnya support untuk riset, ketimpangan social ekonomi yang masih tinggi, disertai dengan “kebekuan wacana dan aksi pergerakan mahasiswa” karena dinilai tidak membumi, dan tidak memiliki solusi-solusi real dalam mengatasi persoalan.

Seluruh program pemerintah baik pusat ataupun daerah selalu identik dengan anggaran yang memiliki siklus tetap meski dengan rangkaian proses yang panjang dan melelahkan untuk diikuti. Semakin terprogramnya pemerintah dalam melaksanakan program berdasarkan perencanaan yang sistematis harus diiringi dengan kemampuan aktivis pergerakan untuk mengawasi secara sistematis pula, serta memberikan solusi yang tepat guna bagi permasalahan daerah maupun nasional sehingga basis DATA yang dimiliki menjadi dasar kuat untuk sebuah perjuangan yang mengatasnamakan rakyat.

Cara-cara bergerak bukan lagi hanya dari sumbangan donatur, aksi galang dana di jalan, dana kepemudaan pemda.

Mahasiswa-mahasiswa yang tidak pernah tergabung dalam pergerakan mahasiswa (sebagai individu) kini sudah banyak yang mampu menciptakan solusi-solusi real di masyarakat dengan kemampuan cipta intelektual berupa teknologi yang ekonomis, ataupun kemampuan menggerakkan masyarakat untuk bangkit bersama mengatasi masalah yang dialami masyarakat itu sendiri. Jangan sampai justru para aktivis pergerakan terjebak dengan gerakan “konvensional” membuatnya kalah saing dalam memberikan solusi dari individu-individu seperti tersebut di atas.

Buku “Ijtihad membangun Basis Gerakan” sejak 2010 telah menawarkan solusi sedemikian rupa sebagai bentuk pergerakan, lantas kenapa masih terombang-ambing?

Jakarta, 22 November 2015

ZK

KP PD KAMMI Bogor 2013-2015

Rentang

Gambar

Kehidupan pasang surut. Atau orang-orang sering mengumpamakannya dengan roda kehidupan yang berputar, kadang di bawah, kadang di atas. Dan yang perlu kita lakukan adalah berputar bersamanya. Apa maknanya?

Seperti kita tahu, setiap manusia yang hidup selalu menjalani takdir yang berbeda. Ada yang semenjak lahir dikelilingi harta yang melimpah. Ada yang serba kekurangan. Ada yang semenjak kecilnya dididik berdisiplin, ada juga yang selalu dimanja. Hal ini juga berlaku pada sifat-sifat manusia yang lain: dari egois sampai dengan peduli, dari pemarah sampai dengan tiada memiliki amarah sama sekali, dari yang senang bercanda sampai dengan suka ketawa. Semua adalah rentang sifat manusia.

Dari rentang sifat tersebut, dalam sebuah pengajian saya begitu kaget sekaligus tertarik ketika narasumber ketika menjelaskan tentang semangat hidup, beliau begitu semangat berapi-api, lantas tiba-tiba ketika alur cerita menuju pada sebuah tragedi, narasumberpun sampai menangis menjelaskan cerita. Tak berlalu begitu lama, dari kondisi menangis narasumberpun sumringah, sampai dengan tertawa karena peserta kajian memberikan pernyataan yang lucu untuk mencairkan suasana. Dalam kondisi lain, kita juga jumpai orang yang ketika melihat kesalahan langsung bertindak tegas sekaligus bijak menasehati, sementara di kesempatan yang lain ternyata suka bercanda dan membuat orang disekitarnya tertawa. Lantas, apa perlu kita pelajari?

Mungkin kini, kita memiliki semua sifat tersebut. Tegas. Dapat bercanda. Melankolis. Ataupun lainnya. Tapi cerita di atas memberi tahu pada kita bahwa segala sifat yang ada pada kita adalah tentang bagaimana kita menggunakannya pada saat yang tepat. Bisa saja kita beralasan “Tapi karakter saya sudah begini dari dulu, tidak bisa serius”. Maka, Inilah tantangannya. Kita sedang dalam tahap belajar. Semua rentang emosi perlu kita kuasai dan ekspresikan pada saat yang tepat.

Selain itu, kita juga tidak perlu takut dengan segala kondisi kehidupan yang sedang kita alami. Misalnya kita sedang mengalami kesulitan keuangan. Kita hanya perlu belajar bagaimana tetap tenang dan bersyukur menghadapi kondisi tersebut, kemudian berusaha bangkit. Begitupun ketika mental kita down, kita hanya perlu belajar tetap tenang akan kondisi tersebut.

kita hanya perlu tetap tenang dan bersyukur pada setiap kondisi…

Dengan tenangnya kita terhadap segala kondisi “kritis” yang sedang kita alami, kita menjadi tidak lepas kendali ketika kondisi kita baik. Celaan tidak akan menghentikan langkah atau cita-cita kita. Pujian juga tidak membuat kita terbuai. Begitupun kekayaan tak akan membuat kita sombong, dan kesulitan keuangan tak membuat kita minder.

Jadi pada intinya…

Setiap kondisi yang dialami manusia adalah pelajaran untuk merasakan seluruh rentang keadaan , baik pada tingkat kritis atau terendah sampai pada tingkat tertinggi. Misi hidup harus tetap terlaksana dan dilaksanakan bagaimana kondisi dan keadaan yang sedang menimpa

Pengantar diskusi pembangunan Bogor 2014-

Pembangunan dan Anggaran

NOTULENSI KEBIJAKAN PUBLIK 2013-2015

DISKUSI PERAN PEMUDA dalam GLOBALISASI. Tempat: Sekre GMNI Cabang Bogor

Peserta KAMMI: Muh. Firmansyah , Arynazzakka, Rasoki Martua, Imran

Moderator: Jan Patrice (Jurnal Nasional), Bima Arya (Walikota Bogor terpilih), Iwan (KPA)

Isi Diskusi:

PENYAMPAIAN AWAL:

Sumpah pemuda harus menjadi refleksi kepemimpinan pemuda dalam membangun gerakan. Banyaknya gerakan yang berorientasi pada politik uang perlu disingkirkan jauh dalam gerakan mahasiswa karena berdampak pada sikap yang akan dibawa ketika benar-benar menjadi pemangku kepentingan di pemerintahan kelak.

Contoh format baru dalam refleksi sumpah pemuda adalah kemah kepemimpinan. Selain membina para kader, juga dapat diisi di dalamnya terjun langsung pada masyrakat, contohnya bersama masyarakat membersihkan sungai. (ini dilakukan tagana).

Kota bogor nantinya akan dijadikan 1kota cyber. Memberdayakan siswa SMK untuk mempromosikan jasa dan pariwisata di Bogor.

Pada intinya, untuk pemuda: kuatkan kompetensi sehingga aktivis gerakan tidak hanya “menjadi tukang palak”, dan bisa hidup meski nanti ketika menjadi politisi berhenti dari jabatan-jabatan politik. Dengan kompetensi kita tidak mencari nafkah di ranah politik karena dengan kompetensi kita bisa mencari nafkah dengan kompetensi kita, sementara dalam politik adalah tempat memperjuangkan rakyat. _BIMA ARYA

Globalisasi pada dasarnya telah lama terjadi. Contohnya jalur sutera. Namun, yang membedakan sekarang adalah globalisasi telah terinstitusikan. Indonesia dikatakan tidak siap menghadapi globalisasi. Penyebab utamanya reforma agraria tidak diterapkan. Dengan reforma agraria, dapat menciptakan bank Tani. Di Thailand, dengan reforma agraria dapat mengganti petani yang dulunya menanam opium, menjadi mawar.

Konsep agraria perkotaan dinamakan urband land reform. _IWAN

Hasil diskusi dua arah:

Setelah dilantik, Bima Arya akan melakukan 2renegoisasi terhadap semua kebjakan  yang berpotensi melanggar perda dengan pihak ke-3 yang terlibat dalam perjanjian. Amaroossa kalau bisa diratakan dengan tanah. Peraturan indonesia masih menyedihkan karena belum ada peraturan yang mengatur masa tenggang transisi kepemimpinan sehingga pemerintah incumbent dapat berbuat apa saja. 3Pendataan aset juga akan dilakukan, yang meliputi upaya 4pembuatan ruang terbukan hijau sebesar 20%, Bogor 5sebagai kota pendidikan, jasa, dan pariwisata.

Dalam upaya membentuk karakter terhadap pemuda/pelajar, akan 6dibuat MoU dengan perusahaan atau berbagai lembaga yang dapat memberikan beasiswa. Pemuda juga akan diberikan 7ruang kreasi anak muda.

*NOTULENSI 28 Oktober 2013

Hadiah untukmu

1 Muharrom. Tahun Baru Islam. Alhamdulillah, akhirnya terbit juga buku “Sampah Pemikiran Mahasiswa” edisi PDF atau softcopy. Semoga bisa menjadi secuil inspirasi kesadaran diri, gerakan, dan juga komitmen akan pejuangan hidup.

SAMPAH PEMIKIRAN MAHASISWA (klik untuk download)

sampah pemikiran mahasiswa

DAFTAR ISI:

Kepadamu pemikiran ini kusampaikan.....................   1
Pembelajar seumur hidup.........................................    2
AKA: apa yang kita perjuangkan.............................     6
Tugas ini menantimu:...............................................    12
  • Dilema pendidikan vokasi Indonesia……………     15
  • Analis betapa bodohnya kita……………………….    20
  • Kebangkitan gerakan mahasiswa perindustrian   25
Serial kepemimpinan:
  • Khalifah fil ardh: #1……………………………………     27
  • Khalifah fil ardh: #2…………………………………..     34
  • Khalifah fil ardh: #3……………………………………     37
Sebuah upaya menumbuhkan kesadaran mahasiswa  41
Diagram aktivis mahasiswa.......................................     47
Platform mahasiswa AKA........................................     50
Yang berserakan:
  • Membangun motivasi pemuda dan karakter
Keindonesiaan.................................................      53
  • Perempuan: pendidik sejati generasi penerus
Bangsa..............................................................       57
  • Perkembangan Analisis Kimia dan
Perbandingan Mahasiswa Diploma Analis dan
SMK................................................................        63
  • Hubungan mahasiswa-direktorat AKA………      67
  • Satu Minggu Efektif………………………………….       72
  • Prosedur kerja: antara contekan dan keharusan
  • Dosa mahasiswa
  • Cerita bodoh organisasi mahasiswa
  • Membumilah……………………………………………      90
  • Pedoman Pengenalan Kampus AKA…………..     96
  • Daulat Mahasiswa……………………………………….   102
  • Budi Oetomo: Pelopor Kebangkitan Nasional?  107
  • Mahasiswa dan pembinaan diri………………………. 112
  • Etika Profesi Analis Kimia…………………………….. 119
Sumpah Mahasiswa Indonesia.................................    122
Inilah medan yang sebenarnya.................................   123
Ini Mimipiku kawan.................................................    128
Tentang Penulis.......................................................      134

 

Semoga Allah selalu membimbing kita dalam hidup. Karena Hidup adalah tentang Kebermanfaatan.

Arynazzakka.

Membumilah

-Gagasan itu setinggi langit-

Gagasan

“Sebuah pemikiran akan terwujud manakala kuat rasa keyakinannya, ikhlas berjuang di jalannya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya. Semuaitu hanya ada dalam diri seorang pemuda.” -H. al Bana

Pemikiran dan tindakan merupakan sebuah karya. Hanya perbedaannya terletak pada tempatnya, pemikiran masih berada di ruang non materiil dan tindakan berada di ruang real. Tindakan adalah buah dari pemikiran. “saya berfikir, maka saya ada” begitulah kira-kira Descartes memberi petunjuk pada kita.

Pemikiran juga dapat disebut dengan gagasan. Gagasan yang baik akan menimbulkan tindakan yang baik. Meskipun biasanya, hasil dari sebuah tindakan yang berlandaskan gagasan tersebut tidak akan 100% sesuai dengan ekspektasi (harapan) dari gagasan awal.

Melihat kondisi kekinian, karena disebabkan seringnya tindakan (atau action) yang kurang sesuai dengan gagasan, kita menjadi takut untuk menelurkan gagasan atau pemikiran yang WAH, melangit. Sehingga dikarenakan orientasi dari tindakan adalah agar sesuai dengan gagasan, kita menjadi menurunkan grade gagasan/pemikiran kita sejauh pertimbangan apa yang bisa kita lakukan dan realitas optimalisasi kerja yang dapat kita lakukan.

Hal demikian sah-sah saja, namun bila sampai hanya karena alasan kesesuaian tindakan dan gagasan awal tadi menjadikan kita takut mengeluarkan gagasan yang tinggi, jangka panjang, atau yang biasa disebut dengan gagasan tinggi membumbung ke langit, ada yang salah dengan pemikiran kita.

-Rekonstruksi kepemimpinan-

Dimulai dengan model kepemimpinan merakyat prophetic (kepemimpinan nabi), model kepemimpinan berkembang menjadi kepemimpinan bertingkat yang kita kenal dengan birokrasi. Melihat hal ini, dua model kepemimpinan di atas tidak ada yang salah.

Model kepemimpinan merakyat prophetic merupakan model kepemimpinan yang memandang bahwasannya pemimpin juga bagian dari rakyat, maka secara kedudukan juga sama –tidak ada yang istimewa. Hanya secara tanggungjawab pemimpin model ini mempunyai hal lebih. Menurut model kepemimpinan ini, jika ada suatu keadaan yang harus dikerjakan atau diselesaikan, selagi masih bisa dan sesuai kemampuannya, pemimpin juga akan melaksanakannya. Tentunya bukan pemimpin saja yang menyelesaikan, tetapi rakyat bersama pemimpin sama-sama terjun langsung.

Dalam hal ini, penulis mencontohkan peristiwa penggalian parit pada perang Khandaq. Pada perang tersebut, Muhammad sang nabi sekaligus pemimpin negara dan perang ketika menerima siasat penggalian parit sebagai pertahanan kota madinah dari serangan jahiliyah Mekah, beliau langsung terjun bersama prajurit dan masyaraktnya untuk menggali parit pertahanan. Bahkan ketika beliau sempat terlelap dan pada saat itu prajuritnya tidak enak hati membangunkannya, ketika beliau terbangun, malahan menegur prajuritnya tadi yang tidak enak hati membangunkannya. Beliau ingin bersama merasakan kelelahan bersama rakyat untuk sebuah peradaban kebaikan.

Model kepemimpinan bertingkat atau birokrasi merupakan model kepemimpinan secara umum sama dengan model kepemimpinan kerakyatan prophetic, hanya saja dikarenakan masyarakatnya yang begitu luas dan juga kompetensi kepemimpinan yang tidak sempurna –dalam hal ini kompetensi suatu bidang hanya dimiliki oleh individu-individu tertentu. Maka, untuk mengoptimalkan sekaligus memberdayakan individu-individu dengan kompetensi khusus tadi, dibuatlah penanggungjawab suatu bidang tertentu yang dimandatkan kepada individu-individu tadi. Kewenangan ini bermacam-macam, ada yang diberikan wewenang penuh, ada juga sebagian, atau bisa saja hanya sebagai bahan pertimbangan utama.

Dalam perjalanannya, kepemimpinan bertingkat inilah yang dipakai karena kondisi yang menuntut demikian dan secara konsep akan dapat berjalan optimal. Seiring berjalannya waktu, kepemimpinan bertingkat ini menemui banyak kendala, beberapa diantaranya adalah lambatnya mekanisme pengambilan keputusan, dan juga pemimpin yang terlalu menjaga jarak dengan bawahan. Kendala ini terakumulasi sehingga menimbulkan kesan bahwa kepemimpinan ini dinilai tidak pro-rakyat. Sehingga perlu model kepemimpinan yang dekat dengan rakyat sehingga diharapkan kendala-kendala akibat model kepemimpinan yang diterapkan akan terminimalisir.

Suara rakyat mewakili suara Tuhan, begitu kiranya demokrasi mengajarkan kita. Efek dari hal ini, rakyat ibarat raja. Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Jika dahulu orang engan mengambil kepemimpinan karena besarnya amanah yang harus dipikul (bukan saja di dunia, tapi juga ada pertanggungjawaban akhirat), maka kini malahan kepemimpinan menjadi suatu perebutan. Hal ini tidak menjadi masalah, selama niat memimpin* adalah menebar kebaikan, mencegah kemungkaran, dan membuat kemashlahatan (dalam bahasa kerennya, kesholehan sosial).

-Membumilah…-

Membumi, dekat dengan rakyat, mendengar suara rakyat, begitu kiranya jargon atau harapan kita kepada pemimpin. Pemimpin yang dekat adalah pemimpin yang mengayomi rakyatnya. Tahu kondisi permasalahan rakyatnya dan berusaha mencari jalan keluarnya. Dan masih banyak lagi harapan-harapan kita kepada pemimpin.

Jelas sekali, penerapan model kepemimpinan bertingkat ala birokrat sekarang cenderung tidak disukai karena image yang terlanjur negatif. Model kepemimpinan kekinian akan kembali kepada model kepemimpinan kerakyatan prophetic. Artinya, sifat dari pemimpin yang sangat diharapkan adalah yang bersama-sama dengan rakyat menyelesaikan permasalahan bersama, bukan hanya sekedar memberi klu-klu yang seringkali tidak dipahami rakyat. Juga pemimpin yang berbicara dengan bahasa kaumnya, bukan bahasa langitan yang seringkali digunakan dalam forum-forum temu dengan pemimpin lainnya. Ya, pemimpin perlu membumi, maka membumilah.

-Semua butuh kejelasan-

Era informasi memang merupakan suatu keuntungan sendiri disamping efek negatif yang ditimbulkan. Dengan penyebaran informasi yang begitu cepat, muatan informasi dapat menjadi tersebar lebih merata. Maka, kejelasan dalam era ini adalah hal mutlak yang dibutuhkan, selama itu juga merupakan kepentingan rakyat atau bersama.

Dalam banyak hal, kejelasan sangat diperlukan. Dalam konteks ini (kepemimpinan), kejelasan mengenai perbaikan apa yang akan dilakukan atau yang biasa kita sebut dengan program adalah mutlak diketahui rakyat sehingga rakyat juga tahu apa yang akan dilaksanakan pemimpin. Dengan ini, pemimpin tidak akan bekerja sendirian layaknya Superman, tapi kerjasama pemimpin dan rakyatlah yang sesungguhnya akan membuahkan hasil yang baik, sebuah peradaban kebaikan.

-Jangan hanya berharap pemimpin yang baik-

Sebagai rakyat, wajar bila kita sangat mendambakan dan berharap bahwa pemimpin yang memimpin kita adalah pemimpin yang baik. Sebagai rakyat, tentunya wajib pula kita menyiapkan diri kita untuk menjadi rakyat yang baik.

“…tidak ada jamaah (perkumpulan/ organisasi) tanpa pemimpin, tidak ada pemimpin tanpa rakyat yang taat” –Umar ibn Khattab

Suatu kesadaran bahwa kerja kebaikan ini bukan saja kerja pemimpin wajib kita ketahui. Pemimpin adalah pemandu rakyat. Dan pemimpin bersama rakyatlah yang mengerjakan. Bukan hanya pemimpin, bukan juga hanya rakyat. Tetapi adalah kebersamaan antara pemimpin dan rakyat.

Sebuah kisah menarik dari Shahabat nabi tentang masa kekhalifahan ‘Ali, pada saat itu ada rakyat yang mengadu dengan khalifah ‘Ali, “Hai khalifah ‘Ali, mengapa pada zaman kekhalifahanmu keadaan kacau balau sementara pada zaman Abu Bakar dan Umar keadaan begitu tenteram?” jawab sang khalifah dengan tenang, “bagaimana tidak tenteram pada saat zaman Abu Bakar dan Umar jika semua rakyatnya adalah seperti aku. Sementara  pada zaman ku sekarang, rakyatku adalah sepertimu”.

pemimpin-prajurit

Ini adalah sebuah pengingat, bahwa mengharapkan kepemimpinan yang baik, bukan saja mengandalkan seorang pemimpin yang baik, namun juga rakyat yang baik pula. Karena pemimpin adalah cerminan rakyatnya.

oleh: Arynazzakka, mahasiswa AKA Bogor 2010

idealisme yang tergadai

 

Sebuah pengakuan

Sifat dasar manusia adalah ingin diperhatikan, ingin dihormati, dan salah satunya lagi adalah ingin diakui. Baik itu secara kekhasan yang dimiliki, kemampuan, ataupun prestasi.

Memang benar, yang namanya pengakuan merupakan salah satu wujud eksistensi yang salah satunya adalah untuk diteladani kebenarannya dan kebaikannya. Maka, ini pun dari dahulu manusia mengorganisasi dirinya dalam bentuk masyarakat, godaan akan perlunya pengakuan dari orang lain nyata adanya

sebuah Idealisme: gelora muda?

Idealisme, sebuah konsep ideal yang dicitakan dan menjadi sebuah orientasi dari kaum muda. Memang, kaum muda adalah mereka yang secara nyata dalam tindakan mengupayakan sikapnya yang bersih demi terwujudnya keadilan.

beberapa kali jika kita belajar dari sejarah, tak jarang dalam pihaknya sebagai pemuda penggerak perubahan yang anti kemapanan, idealisme adalah cita mutlak yang harus dicapai. Tapi sayang, seringkali, Idealisme ini hanya bertempat pada jiwa-jiwa yang muda.

Idealisme yang tergadai

Sistem yang berdosa akan melahirkan para pendosa yang masuk ke dalamnya, mulai dari merasa risih ketika di luar sampai pada menikmati ketika sudah sampai ke dalam. Begitu kiranya hal yang dapat menggambarkan sebuah sistem kotor dan penuh kepalsuan.

jika dikorelasikan dengan idealismenya pemuda, tentu akan sangat bertentangan. sementara sistem kotor tersebut ingin selalu berkubang dengan kepalsuaanya -tentunya dengan bantuan kroni-kroninya dan idealisme tetap dengan orientasi ingin membersihkan kotoran tersebuh.

Sayang, apalah daya, seringkali kita jumpai seorang yang telah memasuki sistem kotor dan berdosa itu akan mengikuti sistem tersebut dan menjadi pendosa baru -meskipun nurani menolak. Ya, nurani menolak, tapi raga tak bertindak melawan kelaliman.

Arynazzakka, analis Pergerakan Mahasiswa

Hidup Mahasiswa!!

Bangga aku jadi aktivis

Bangga aku, kawan

Terhadap satu gelar ini

Aktivis, seorang yang aktif

Memberi dan menginspirasi

Memotivasi dan menunjukkan prestasi

 

Ya, aktif

Aktif adalah sifat aktivis

Bukan pasif, karena

Pasif adalah senang

Diberi, dan diinspirasi

Dimotivasi

 

Bangga aku, kawan ketika

Mahasiswa menjadi labelku

Dan kata aktivis mengikutiku

Aku bukan mahasiswa yang hanya berhura-hura

Bukan juga mahasiswa yang terlalu banyak waktu luang

Bukan juga mahasiswa yang terus-terusan diam dikosan

Karena tidak ada pekerjaan

Bangga aku kawan

Jika mahasiswa biasa begitu bangganya bertemu pejabat

Pejabat kampus dalam civitas akademika

Namun, ku dapat lebih dari itu

Pejabat daerah jadi kawanku setiap waktu

Bahkan pejabat nasional bersapa aku tebiasa

 

Bangga aku kawan

Ketika mahasiswa hanya bisa berjumpa Master atau magister

Maka aku dengan mudah berjumpa dengan doktor Profesor

 

Bangga aku kawan seandainya engkau tahu

Apa yang sedang aku pikirkan

Bahkan aku ingin engkau merasakan

Pengalaman positif yang aku alami

Berdebat dan diskusi tiada henti

Berbicara tentang rakyat yang nafasnya terengah

Menunggu sang pahlawan dunia

Meski pengetahuanpun belum seberapa

 

Tapi ini tentang rasa

Bagaimana jiwa ini ikut iba

Tentang penderitaan miskin papa

Oh, aku harap engkau segera tahu kawan

Ini bukan tentang ingin jadi jagoan

Bukan juga mengharap sebuah imbalan

Apalagi sekadar terima kasih sebagai ucapan

Ini tentang perjuangan

 

AKTIF itu BAIK, maka jadilah AKTIVIS!!

 

oleh: Arynazzakka

analis pergerakan mahasiswa, mahasiswa AKA Bogor