Surat Cinta Pertama (Jilid I)

Kepada yang aku kasihi, jiwaku yang berada dalam genggamanNya.

Wahai diriku, ketahuilah, selama hidup di dunia ini, dirimu ada tiga (3) macam. Tiga macam itu ialah dalam bentuk Fisikmu (Jasad) , Akalmu (Aqli) , dan Jiwa (Ruh).

Ketiga macam rupa dirimu ini akan saling mendukung, tetapi juga bisa saling menjatuhkan (baca; membohongi). Wahai diriku, sesungguhnya kamu dapat aku katakan baik sampai kamu menyeimbangkan ketiganya. Ketahuilah, ketiga dari rupamu mempunyai kebutuhan, baik kebutuhan yang bersifat primer, sekunder, maupun tersier seperti kebutuhan hidupmu sehari-hari.

Wahai Jasad

Wahai diriku yang tercipta dalam bentuk Jasad (lahiriah; tampak), sesungguhnya engkau wajib mengakui dan bersyukur atas ni’mat Dzat Yang Telah Menciptakanmu. Dia menciptakan sesuai yang Dia Kehendaki, dan Dia lebih tahu segalanya. Ketahuilah, bahwa engkau telah diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya, oleh Dia Yang Maha Menciptakan.

Mungkin suatu ketika engkau tak puas terhadap pemberian yang Dia berikan terhadap dirimu, tetapi ketahuilah wahai diriku, bahwa yang engkau pikir baik menurut dirimu belum tentu baik menurut Dia Yang Menciptakanmu.

“Ingatlah selalu, mengeluh dengan kondisimu sekarang bukanlah hal yang akan mengubah dirimu, apalagi menyalahkanNya bukanlah dirimu termasuk orang yang bijak.”

Wahai Jasad, jika engkau masih tidak bersyukur dengan semua pemberian yang Ia berikan, ada yang salah mengenai cara pandangmu selama ini. Jiwamu ini merasakan bahwa cara pandang yang engkau pakai selalu ke atas hingga engkau lupa untuk melihat ke bawah. Engkau selalu menginginkan hal yang lebih dari yang engkau terima, padahal jika engkau mau sejenak melihat ke bawah, masih banyak dari saudara-saudaramu yang tidak mendapatkan ni’mat seperti yang engkau terima.

Wahai Jasad, engkau memang diciptakan dengan sifat keluh kesah. Tetapi, Dia tidaklah menginginkan itu darimu. Jika dilihat dari ni’mat yang telah engkau terima, mulai dari ni’mat penglihatan -misalnya-, jika engkau selalu menengok ke atas, pasti engkau akan mengeluh dan meminta dengan permintaan yang aneh-aneh, -mungkin warna lensa mata yang bewarna ataupun yang lain-. Berbeda halnya jika engkau melihat ke bawahmu, coba perhatikan -Berapa banyak dari saudaramu yang tidak diberi ni’mat penglihatan olehNya sejak lahir?- Belum bersyukurkah kamu dengan ni’mat penglihatan yang engkau punyai? Masihkah engkau menggunakannya untuk hal-hal yang tidak dibenarkan olehNya? apakah engkau meminta Ia untuk mencabut ni’mat penglihatan yang telah Ia titipkan untukmu?

Wahai Jasad, engkau juga telah diberi ni’mat olehNya untuk bertutur kata melalui lisan. Lisan yang Ia titipkan kepadamu bukanlah agar engkau menghujat saudaramu dengan itu, bukan juga untuk mendustai saudaramu, bukan untuk berkata kotor, bukan untuk mengumpat cela saudaramu, bukan untuk bercanda-tawa berlebihan, bukan untuk pamer bicara di depan umum sehingga engkau disegani, dan bukan juga agar engkau menjadi pelontar amanah dan sumpah dengan lisan yang mulia. Ia, yang Jasadmu berada dalam genggamanNya, memberi lisan kepadamu agar engkau bertutur kata yang baik, agar engkau menyampaikan kebenaran, agar engkau menyampaikan risalah, agar engkau saling nasehat-menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Sudahkah engkau -wahai jasadku- melakukan apa yang Ia perintahkan kepadamu melalui ni’mat lisan yang diberikan untuk tutur katamu?

Wahai Jasad, Sesungguhnya ni’mat tangan dan kaki yang Ia berikan untukmu juga semua Ia tujukan agar engkau menggunakannya dengan baik. Sudahkah engkau gunakan ni”mat tangan untuk membantu saudaramu? atau malah engkau gunakan untuk mendzoliminya? Sudahkah engkau gunakan kakimu untuk memperbanyak mendatangi kebaikan untuk engaku kerjakan dan mendatangi keburukan untuk engkau luruskan? Sudahkah kau gunakan ni’mat itu untuk bersilaturrahmi sejenak kepada saudaramu?

Wahai Jasad, bagaimana hubunganmu dengan akal?

bersambung ketulisan : Wahai akal

10 Ciri Pribadi Unggul

Manusia Unggul

Awali segala sesuatu dengan Bismillah

10 CIRI PRIBADI UNGGUL:

1. Salimul ‘Aqidah
Maksudnya, untuk menjadi manusia dengan pribadi unggul , konsep yang harus tertanam kuat adalah memiliki kelurusan akidah, yang diperoleh dengan pemahaman terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan benar. Dengan pemahaman yang benar akan menimbulkan pedoman yang kuat untuk orang lain dan juga dirinya sendiri sehingga tidak sesat dan menyesatkan.
2. Shahihul Ibadah
Pemahaman akidah yang lurus harus dibarengi dengan Ibadah yang benar yang sesuai tuntunan yang tidak bisa dilakukan secara sembarangan dengan penambahan, pengurangan, maupun modifikasi.
3. Matinul Khuluq
Pribadi yang unggul dituntut untuk memiliki ketangguhan akhlaq sehingga mampu mengendalikan hawa nafsu dan syahwat yang ada dalam dirinya. Sesungguhnya jihad terbesar adalah jihad melawan dirimu sendiri.
4. Qadirun ‘alal Kasbi
Selanjutnya, pribadi unggul harus mampu menunjukkkan potensi dan kreativitasnya dalam kerja, menjadi insan yang produktif, mandiri secara ekonomi dan tidak bertumpu pada orangn lain.
5. Mutsaqqaful Fikri
Pengetahuan yang luas merupakan ciri pribadi unggul selanjutnya, artinya seorang yang ingin menjadi pribadi unggul harus mau mengembangkan wawasan pengetahuannya sesuai kapasitasnya.
6. Qowiyyul Jismi
Intelek saja tidaklah cukup untuk menjadi seorang pribadi unggul. Diperlukan tubuh yang sehat dan kuat sehingga mendukung segala aktivitasnya.
7. Mujahidun linafsihi
Kebaikan dan kemungkaran adalah dua hal yang saling berdekatan. Maksudnya jika kita tidak mengerjakan kebaikan, berarti kita sedang mengerjakan kemungkaran. Seorang pribadi unggul dituntut untuk sadar dan dapat memerangi hawa nafsunya sehingga senantiasa selalu mengarahkan dirinya dalam kebaikan.
8. Munazhzamun fi Syu’unihi
Dengan segala bekal yang telah dipaparkan di atas, belumlah cukup dikatakan seorang menjadi pribadi unggul sampai ia dapat mengatur segala urusan-urusannya dengan baik. Dengan kerja yang teratur dan terorganisir akan membawa kita menjadi seorang perencana dan eksekutor yang hebat.
9. Haritsun ‘ala waqtihi
Setelah mampu mengatur segala urusan, senantiasa pribadi unggul dapat menghargai waktu-waktu yang dimilikinya, artinya mengisi setiap waktu luangnya dengan kegiatan yang bermanfaat.
10. Nafi’un li Ghairihi
9 poin di atas tidaklah berarti jika kita tidak bermanfaat bagi yang lain. Jadi penekanan terakhir untuk menjadi seorang pribadi unggul adalah dengan bermanfaat kepada orang lain.
“sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi yang lainnya” –Al-hadist-