Ex-Kim, technopreneur AKA

Enterpreneur, atau wirausaha memang kian populer di telinga kita. Bukan saja kata enterpreneur dikenal oleh kalangan elit atau pebisnis, namun juga marak dalam pembicaraan mahasiswa. Umumnya enterpreneur ini, seseorang dalam bahasa sederhanya menjual atau memasarkan sesuatu untuk mengambil keuntungan. Namun dunia kian maju, dan enterpreneur ini berkembang, mulai ada istilah writepreneur, yakni orang yang  menjadikan tulisan sebagai lahan memperoleh penghasilan, dan kini kita juga mengenal sebuah varian enterpreneur yang tidak asing lagi, technopreneur.

Apa sih technopreneur itu?

Technopreneur, gabungan dua kosa kata yaitu technology dan enterpreneur yang dipadukan kemudian membentuk kata technopreneur. Teknologi dan wirausaha, terlihat selama ini menjadi dua profesi yang berbeda. Bukan manusia kalau tidak bisa berkreasi dan menemukan celah untuk membuat dunia kita indah. Teknologi yang sarat dengan ilmu pengetahuan, bahkan umumnya hanya bisa dilakukan oleh orang yang telah merasakan pendidikan tinggi. Teknolog yang menjajakan barang hasil atau produknya. Ya, itulah technopreneur. Orang-orang yang berkreasi menghasilkan produk teknologi yang mampu diaplikasikan atau diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Suatu produk yang mampu mempermudah pekerjaan, suatu produk hasil olahan baru, suatu produk yang benar-benar menjadikan kenyataan apa yang sebelumnya hanya tervisualisasi di otak.

Analis, apa hubungannya?

Analis kimia, belajar bermacam-macam ilmu pengetahuan. Mulai dari analisa produk jadi sampai terkadang terkait ke proses pembuatan. Ini yang menjadi kunci. Pekerjaan analis yang menelusuri proses pembuatan suatu produk adalah potensi besar untuk menghasilkan produk lebih baik, lebih praktis.

Bidang ini tentunya sangat menyangkut banyak cabang ilmu pengetahuan, mulai dari fisika, biologi, lingkungan, pangan, dan kemudian sampai pula pada energi.

Analis, bisa buat produk apa?

Dari ilmu yang telah didapat, dari tingkat awal sampai tingkat akhir, kita diajarkan berbagai macam sub bidang dari ilmu kimia itu sendiri. Mulai dari kimia organik, kimia anorganik, kimia lingkungan, mikrobiologi, analisis fisik, kimia pangan, kimia farmasi, kimia polimer sampai pada kimia petroleum. Ini semua, sekali lagi, merupakan bahan mentah yang variatif yang cukup untuk diolah menjadi sebuah produk tepat guna dan aplikatif.

Mengingat juga sebagai mahasiswa diploma yang diunggulkan kompetensinya atau keahliannya pada terapan produk –tidak sekadar teoritis, tentunya adalah sebuah harapan besar untuk bisa merealisasikannya. Dalam bidang pangan kita dapat mengambil contoh pembuatan yoghurt dari susu kedelai, yoghurt dari kulit pisang. Ataupun dalam lingkungan kita bisa mengaplikasikan teknik pengolahan limbah sehingga dengan demikian dapat mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Energipun begitu, secara praktis dan mudah ditiru kita mampu membuat suatu energi alternatif semisal briket ataupun metana hasil dari kotoran hewani sehingga yang tadinya limbah bisa menjadi rupiah.

Technopreneur, jalan tol menuju wirausaha intelektual

Sinergisme intelektual dan logika perut rakyat, begitulah kira-kira sebuah solusi yang dilontarkan oleh Arya Shandy Yuda, seorang aktivis tahun 2000-an. Tri Dharma perguruan tinggi mengarahkan kita dalam tiga hal yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Selama ini, dalam ranah pengabdian, pendekatan yang kita pakai cenderung klasik dan itu-itu saja. Misalkan dalam melakukan pendekatan kepada masyarakat dalam usaha membantu pula, seringkali kita hanya mampu mengadakan sembako gratis, pasar murah masyarakat, dan hal lain yang tentu bisa dibilang kurang kreatif. Pendekatan ini juga seringkali membuat masyarakat manja karena merasa diberi, tanpa ada titik tekan memacu kerja dan kreativ dari masyarakat.

Dengan semakin konsistennya mahasiswa terhadap gerakan technopreneur ini –tanpa memparsialkannya dengan gerakan sosial lain ataupun gerakan advokasi audiensi yang lebih menjurus aksi vertikal, keyakinan gerakan mahasiswa akan ruh gerakan barunya tidaklah khayal menjadi patron gerakan mahasiswa era ini.

Memang tak selamanya aksi harus turun ke jalan,

Tak dipungkiri juga untuk bisa menuntaskan permasalahan masyarakat,

Namun, kami –mahasiswa, adalah peduli

Kami coba apa yang dapat kami lakukan

Karena kontribusi adalah bahasa perjuangan kami,

Dimanapun itu, HIDUP MAHASISWA

Oleh: Arynazzakka (Presiden Mahasiswa IMAKA 2012-2013)

*penulis aktif menulis di blog wordpress, analis gerakan mahasiswa, koordinator BEM se-Bogor 2012

Dilema pendidikan vokasi Indonesia

Indonesia memang unik. Bangsa yang pernah memimpin peradaban lewat Sriwijaya dan Majapahitnya ini selalu mempesona dari berbagai aspek. Dimulai dari aspek ekonomi terkait  dengan tingkat kemakmuran rakyatnya yang berbanding terbalik dengan sumberdaya yang dimiliki sampai pada system pendidikan yang sampai sekarang masih menyisakan PR besar untuk generasi penerus bangsa, dan salah satunya adalah pendidikan vokasi. Apa itu?

Jalur pendidikan vokasi dan sarjana

Sarjana, siapa yang tak kenal dengan gelar yang satu ini. Masyarakat Indonesia secara umum berpendapat bahwa jalur pendidikan tinggi bergengsi setelah pedidikan menengah adalah sarjana.

Perbedaan yang mencolok dalam dua bidang ini yaitu seorang sarjana yang lebih dituntut untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan seorang ahli madya yang dituntut untuk terampil dalam aplikasinya (baik dalam kehidupan sehari-hari atau industri). Jenjang keilmuan (sarjana) lebih menggariskan siswa SMA secara idealnya sedangkan vokasi lebih ke siswa SMK.

Pada kenyataannya sangat jauh dari ufuk. Jenjang pendidikan yang sesuai jalurnya sangat jarang. Banyak dari siswa SMK yang langsung terjun dalam jenjang sarjana sementara ada juga siswa SMA yang loncat jalur ke dalam jenjang vokasi.

Kompetisi: sebuah pembelajaran

Sejak SD, tentulah untuk meningkatkan dan mengetahui potensi dari para putra bangsa, pemerintah melalui dinas pendidikan menyelenggarakan berbagai kompetisi/perlombaan dalam banyak bidang, yakni yang berkaitan dengan agama, keilmuan, seni, olahraga, serta ketrampilan atau aplikasi.

Sampai pada jenjang SMA, kompetisi ini tidak menemukan masalah berarti (dalam hal keikutsertaan peserta), beranjak pada pendidikan tinggi, agaknya dari segi keikutsertaan mengalami masalah yang tidak bisa dikatakan sepele.

Tengok saja mengenai bidang ilmiah/ pembuatan karya cipta terapan/ aplikasinya –tanpa bermaksud menyudutkan berbagai pihak- pendidikan vokasi terutama mengalami permasalah internal dan juga eksternal. Dari segi internal agaknya menjadi kendala utama adalah soal pola pikir yang dibangun. Pola pikir itu adalah bahwa pendidikan vokasi hanya bertujuan untuk  lulus cepat dan kerja. Belajar 1, 2, atau tiga tahun (kursus), sudah itu kerja, makmur, nikah, selesai. Dan ternyata pola pikir itu begitu menancap kuat di benak mahasiswa vokasi, orang tua para siswa, dan masyarakat awam, bahkan seantero dunia

Akibatnya, menjadi sebuah kebiasaan yang akhirnya berujung pada tradisi bahwa kuliah adalah bagaimana mendapat nilai bagus, lulus cepat, dan langsung kerja. Sungguh naif mengingat Tri Dharma Perguruan tinggi yakni Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian yang selalu digembar-gemborkan ternyata dalam praktik nyatanya, hal yang terjadi adalah bertentangan.

Doktrin sesat dan menyesatkan

“kalau nanti kalian sudah bekerja di perusahaan A, maka kalian harus bekerja dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab”, begitulah kiranya pesan dosen dengan berbagai variasi pengucapan kepada mahasiswa vokasi didikannya. Dinilai dari segi pengaruh, kata-kata tersebut dapat dikategorikan pesimistis karena doktrin yang dibangun adalah doktrin pekerja. Entah sudah berapa banyak mahasiswa Indonesia yang tersihir oleh doktrin tersebut sehingga begitu kerasnya belajar sampai lupa perannya secara utuh.

Doktrin pesimistis, bangsa pekerja, selalu terhembus dalam benak mahasiswa vokasi. Melihat dari segi tujuan dibentuknya pendidikan ini yang bertujuan untuk menyuplay kebutuhan industri, dalam satu pihak memang tidak dapat disalahkan. Namun, berhenti pada tujuan suplay kebutuhan industri pada pendidikan vokasi tanpa mau berfikir lebih adalah pemikiran yang sempit dan menyesatkan. Bagaimana tidak, seandainya terus menerus bangsa ini hanya memikirkan bagaimana agar industri di indonesia bergerak (padahal sebagian besar industri besar indonesia adalah milik asing), maka selama itu pula bangsa kita selalu menjadi budak asing.

Membangun mindset positif, selain mahasiswa yang harus menyadarkan dirinya, peran pengajar dalam hal ini dosen juga sangat besar. Dosen, sebagai pengajar sehari-hari seharusnya memberi pengarahan dan motivasi untuk lebih –tidak sekadar menjadi pekerja. Dengan keahlian yang lebih ditekankan pada pendidikan vokasi, maka keyakinan untuk lebih dari seorang pekerja, menjadi wirausaha dan motivasi mandiri seharusnya lebih ditekankan, bukannya hanya sekadar pengantar akhir dari sebuah kuliah atau malah hanya selingan pengisi canda tawa.

…..pengarahan dan motivasi untuk lebih –tidak sekadar menjadi pekerja

Vokasi yang sebenarnya

alhamdulillah, Kementrian Pendidikan baru-baru ini telah ada kesepakatan dengan kementrian lain yang juga menyelenggarakan pendidikan tinggi. Ini merupakan momentum perubahan yang perlu diakomodir. Dalam artian, jangan sampai momentum ini hanya atas dasar kepentingan tertentu.  Keterampilan dan keahlian yang berujung pada profesi yang telah menjadi ciri khas pendidikan vokasi diharapkan menemukan ruh pembelajarannya. Pembelajaran yang bukan hanya orientasi pengejar nilai, pembelajaran yang bukan juga hanya orientasi kerja. Namun, ruh vokasi adalah pengkaryaan, dan kemandirian. Semoga pendidikan vokasi indonesia menemukan ruh pembelajarannya.

vokasi: ruh pengkaryaan, kemandirian

Oleh:

Arynazzakka

Analis, mahasiswa AKA, motivator Inspirasi Sukses

Etika profesi Analis kimia

Berbicara tentang sejarah

Berbicara tentang analis kimia, perlu ditinjau dari segi sejarahnya. Analis kimia, dahulu, muncul sejak adanya pertentangan antara pekerja dan pemilik tambang. Pekerja menginginkan hasil tambang sedikit mungkin yang dapat diberikan kepada pemiliki tambang, sementara itu pemilik tambang menginginkan hasil sebanyak mungkin dari tambang yang dihasilkan. Sebelum adanya analis, terjadi pertentangan antara dua belah pihak ini. Pekerja tentunya selalu berusaha meyakinkan bahwa memang tambang yang dihasilkan adalah sekian dan sekian, namun karena pemilik tambang menuntut hasil sebanyak mungkin hasil sementara ternyata hasil yang diberikan oleh pekerja tidak sesuai dengan harapannya, maka muncullah analis sebagai penengah.

Analis, yang merupakan pihak ketiga sebagai penengah berusaha netral dari kedua belah pihak yang sedang berselisih. Jadi, disinilah analis kimia benar-benar berperan untuk memberikan bukti secara nyata jumlah sebenarnya dari komposisi tambang yang dimiliki oleh pemilik tambang. Hasil yang apa adanya sangat ditekankan kepada kerja analis tanpa data yang diubah-ubah (manipulasi) karena hal ini merupakan jalan tengah perselisihan antara pekerja yang menginginkan hasil tambang sedikit mungkin yang dapat diberikan kepada pemilik tambang sementara tuntutan pemilik tambang yang menginginkan hasil sebanyak-banyaknya. Sejak itu, karena peran analis meyakinkan ke dua belah pihak untuk meyakini hasil sebenarnya yang sepatutnya diperoleh, profesi seorang analis sangat dibutuhkan1).

Analis merupakan penengah antara pekerja yang menginginkan hasil sesedikit mungkin dan pemilik yang menginginkan hasil sebanyak mungkin

 

 

 

 

 

Arti penting etika profesi analis kimia

Etika, dalam bahasa sederhanya merupakan tingkah laku perbuatan manusia yang dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal2).

Profesi, atau yang dapat disebut sebagai kelompok profesional merupakan kelompok yang berkeahlian dan kemahiran yang diperoleh dari proses pendidikan dan pelatihan yang berkualitas dan berstandar tinggi yang dalam menerapkan keahlian dan kemahirannya dikkontrol dan dinilai dari dalam oleh rekan sejawat, sesama profesi sendiri.

 

Etika profesi merupakan etika sosial, artinya tidak hanya menyangkut individu (diri sendiri) namun juga kedudukannya sebagai umat manusia. Kode etik profesi diperlukan untuk menjaga martabat serta kehormatan profesi dan di sisi lain melindungi masyarakat dari segala bentuk penyimpangan maupun penyalahgunaan keahlian3) . oleh karenanya, sebuah profesi hanya dapat memperoleh kepercayaan dari masyarakat, bilamana dalam diri para profesional tersebut ada kesadaran kuat untuk mengindahkan etika profesi pada saat memberikan jasa keahlian profesi kepada masyarakat yang memerlukannya.

Tanpa etika profesi profesi, semua yang dikenal sebagai sebuah profesi yang terhormat akan  jatuh terdegradasi menjadi sebuah pekerjaan pencari nafkah biasa (atau biasa disebut okupasi) yang sedikitpun tidak diwarnai dengan nilai-nilai idealisme dan ujung-ujungnya akan berakhir, atau setidak-tidaknya tidak adanya kepercayaan dari masyarakat kepada profesi tersebut.

 

 

Catatan kaki:

1) Diskusi dan Talkshow tentang Analis kimia beserta perkembangannya: dahulu dan sekarang, oleh Noviar Dja’var, AKA Bogor

2) Etika menurut Drs Sidi Gajalba dalam Sistematika Filsafat

3) Eignjosoebroto, 1990

 

Referensi:

R. Rizal Isnanto, ST, MM, MT. 2009. Buku Ajar Etika Profesi Program Studi Sistem Komputer Fakultas Teknik UNDIP

Oleh: Arynazzakka, mahasiswa AKA angkatan 2010 (AKA 52)